Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
89 : Eldania


__ADS_3

Apa yang akan Ethan harapkan, jika sudah tahu gadis ini masih bisa mengingat nama 'Ethan'? Yang kini nama itu sudah menghilang dari ingatan orang lain yang mengenalnya.


Apa yang bisa dilakukannya kali ini?


Ketika dia sendiri tidak punya satu petunjuk apa pun untuk mengetahui di mana saudaranya sekarang berada. Apakah masih hidup, atau benar-benar sudah menghilang dari dunia ini?


[Selanjutnya apa?] Pikir Ethan.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Angela yang masih dalam kondisi terbaring, terbatuk-batuk setelah mendapatkan tenaganya pelan-pelan mulai pulih dan bisa bernafas dengan benar. 


Ethan yang merasa keadaan Angela sudah baikan, segera memindahkan tubuh Angela untuk duduk bersandar ke pohon.


[Apa yang akan aku lakukan padanya jika dia memang benar-benar mengingat namaku?] Ethan tidak bisa mengalihkan pikirannya untuk berpikir mengenai apa yang akan terjadi kedepannya.


Di kala Ethan masih menatap Angela yang belum sadar, namun kondisinya sudah lebih baik ketimbang sebelumnya, Ethan menatap ke arah dimana Eldania tadi pergi.


______________


DRAP......! DRAP......! DRAP.....!


Eldania berlari mengikuti sosok yang belum diketahuinya dan dia pun sebenarnya sedang dipancing pergi menuju hutan. 


Itu lebih bagus, untuk menghindari kekacauan di tengah kota.


[Aku masih merasakan keberadaannya, tapi di mana dia?] Eldania berhenti berlari.


Dia segera merotasikan pandangannya ke segala penjuru, tepat beberapa detik itu dia melihat sosok yang samar di balik pohon yang berada di jarak 30 meter di depan sana, tapi tidak begitu lama langsung menghilang begitu saja.


Tidak meninggalkan sikap waspadanya, pedang yang sudah Eldania pegang dia genggam dengan erat, dan segera menunjukkan raut wajah seriusnya ke arah depan, tetapi hal itu tidak berlaku lagi.


SYUHHTT..........


Secara tiba-tiba datang satu gelombang angin ke arahnya, dan di jarak 5 meter sosok dari seorang wanita berambut panjang dengan senjata di tangannya langsung menyerang Eldania.


CTANG........


Wanita tadi melewatinya begitu saja dengan kecepatan tinggi setelah senjatanya berhasil saling beradu untuk beberapa detik tadi.


Eldania memutar tubuhnya ke belakang, dari sini Eldania akhirnya melihat untaian rantai yang panjang tersambung dengan senjata milik dari wanita itu.


Seorang wanita dewasa, memiliki rambut ungu yang cukup panjang, sepanjang tinggi dari tubuh yang dimilikinya itu, dan sebuah kacamata berwarna ungu yang melekat menutupi sepasang matanya, dari situ terlihat ada satu simbol di dahi wanita ini. 


Kacamata itu, bukanlah kacamata biasa, tapi mirip seperti topeng yang digunakan untuk menyegel sepasang matanya.


Di sini dia kurang mengerti kenapa, tetapi Eldania tertarik pada satu hal, sampai-sampai dia tersenyum getir yaitu karena dia, [Tubuhnya, dia sangat membuatku iri.] 


Eldania merasa iri setelah melihat kemolekan dari tubuh wanita itu. Pakaian yang cukup seksi yang hanya membalut tubuhnya, karena panjang pakaiannya dari bawah ketiak hingga 15 cm dari atas lutut, sehingga pakaiannya benar-benar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.


Yah....tidak hanya itu saja, postur tubuh yang sangat ideal, sampai belahan dadanya terlihat karena cukup berisi, membuat Eldania melirik ke bawah. 


Dia sudah berpikir, bahwa miliknya kalah jauh dengan wanita misterius ini. 


[Tapi aura apa ini? Apa dia bukan manusia?] Eldania kembali menatap serius sosok dari wanita tersebut. Dania sejujurnya merasakan aura dari sebuah roh. 


Di depan matanya, mungkin memang yang dia lihat adalah seorang wanita dengan tubuh serba sempurna, tapi Eldania tidak merasa bahwa wujudnya adalah tubuh yang asli, tubuh asli dari manusia.


Setelah memasang kuda-kuda karena serangan pertama tadi, wanita berambut panjang ini langsung melesat, melompat ke atas dan langsung menghilang.


Sepasang mata Eldania mengikuti arah gerakan wanita tadi. 


[Dia menghilang?] Sambil mendongak ke atas. 


Tapi itulah, awal dari permulaan serangan yang Eldania dapatkan lagi.


Serangan kejutan, sebuah tombak lagi-lagi datang ke arahnya dari atas!


Walau keberadaannya di samarkan, Eldania langsung melompat ke belakang, sehingga serangan kedua tadi, meleset dan menancap ke tanah.


JLEBB........


Hasilnya tanah dan debu di sekitarnya berterbangan, tapi tidak membuat Eldania kehilangan kewaspadaannya, apa lagi setelah da akhirnya mendengar suaranya.


"Sulit ku percaya, kau merelakan tanganmu terluka demi melindungi seorang iblis." Ucap wanita ini, dia sedang berjongkok di atas salah satu pohon, sambil mengamati Eldania yang ada di bawah.


"Sayangnya itu hanya refleks, aku tidak punya niat melukai tanganku, tapi karena salahku sendiri tidak sadar senjatamu bisa di manipulasi seperti itu, jadinya seperti ini." Jelas Eldania. 


Dia awalnya ingin menangkis serangannya, tapi tidak sesuai ekspektasi luka lah yang dia dapatkan.


"Oh. Berbeda dengan masterku, kau memang manusia yang cukup berani." Ucapnya lagi, dengan sedikit bumbu pujian. 


[Master, apa dia seorang-] Eldania lagi-lagi penasaran dan sebuah dugaan status dari wanita misterius ini segera muncul, yaitu seorang pelayan yang melayani tuannya.


"Ya...., seperti yang kamu duga, aku bukanlah manusia, melainkan Servant." Akhirnya wanita berambut ungu panjang ini memberitahu jati dirinya kepada Eldania.


[Servant? Aku baru pertama kali mendengarnya, tapi jika dia adalah Servant berarti apakah dia makhluk panggilan?] Mengingat tidak ada yang yang mustahil di dunia ini, jadi bisa dibilang, cukup wajar.


"Kalau begitu, karena kau cukup mengganggu, biar ku selesaikan dengan cara lain." Ucap wanita ini lagi. Dengan sebuah senyuman sinis, wanita ini menggenggam senjatanya dengan semakin kuat. " Akan aku bunuh kamu............, dengan kelembutanku." 


Wanita ini pun memasang kuda-kuda memberikan tumpuan ke sepasang kakinya, dia langsung melesat dari batang pohon menuju Eldania yang masih memasang sikap waspadanya.


Eldania langsung berbalik dan segera menerima serangan yang dia terima lagi dengan pedangnya.


CTANG........!

__ADS_1


Pedang dengan sebilah tombak kecil saling beradu. 


Karena serangan yang dia terima cukup kuat, Eldania jadi sedikit terdorong mundur ke belakang, tapi di situ justru dijadikan sebuah kesempatan oleh servant ini.


Servant ini langsung memutar tubuhnya, dan melayangkan salah satu kakinya ke arah Eldania. Eldania segera menunduk ke bawah, Servant tersebut kembali menggunakan kakinya untuk menendang tubuhnya Eldania, tapi sebelum itu terjadi, dia kembali menghindarinya. 


Berhasil menghindari tendangannya, servant ini kembali memutar tubuhnya dan langsung melayangkan rantai yang terhubung dengan tombaknya itu, ke arah Eldania.


Tidak bisa terus-terusan menghindar, Eldania menahan rantai yang panjang itu dengan pedangnya, sehingga menghasilkan bunyi besi yang cukup panjang.


Tak lama Eldania segera mengayunkan pedangnya itu ke samping kiri. 


"Hyah...!" Sehingga rantai tadi langsung terhempas.


"Hah!" Wanita ini langsung terkejut, karena dengan tangan yang terluka seperti itu, berhasil menghindar dan menangkis tiap serangannya tadi.


"Bagaimana, apa masih mau lanjut?" Eldania justru menawarkan diri, bagaimanapun harus membalas perbuatan dari wanita ini.


Servant ini sesaat terdiam, tangan kirinya menurunkan senjatanya dia menjawab. "Tentu saja, sebab disinilah hidupmu akan berakhir." Lalu secara tiba-tiba tangan kanannya terangkat ke depan, dan menambahkan. "Lagi pula sejak awal.........., kamu sudah berada di genggamanku." Dalam seketika, wanita ini langsung menarik rantai tak kasat mata itu.


“............!" Melihat hal tersebut, rantai yang ditarik oleh wanita itu langsung berdampak pada tangan kanannya Eldania yang ternyata sudah terikat, sehingga tubuhnya otomatis tertarik ke atas, karena rantai itu sudah melilit ke salah satu batang pohon di belakangnya.


Tetapi dengan teknik yang dia miliki, pedang yang Eldania genggam di tangan kanannya segera dihilangkan. 


Setelah itu tangan kanannya mencengkram rantai yang menjerat tangannya itu, melakukan akrobatik dengan mengayunkan tubuhnya ke atas, hingga akhirnya Eldania berhasil mendaratkan tubuhnya di atas batang pohon tersebut dengan mulus.


Kemudian dengan rantai yang masih melilit di tangannya itu, justru Eldania gunakan sebagai senjata makan tuan. 


Eldania langsung terjun ke bawah lagi di sertai tenaga yang dikerahkan, membuat tekanan yang besar pada batang pohon, hal itu membuat Eldania sukses mematahkan batang pohon tersebut.


Dan secara otomatis, rantai yang melilit di batang tersebut ikut terbawa meluncur ke bawah.


Setelahnya Eldania lempar ke arah Servant itu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya...


BRUKHH.....


Eldania menggunakan batang pohon tersebut untuk menghantam tubuh Servant itu. Tapi Servant tersebut berhasil menghindar.


Karena tangannya masih terlilit rantai, tidak ambil pusing lagi Eldania bergerak mengikuti arah batang pohon yang dia lempar tadi. Dan disebabkan batang pohon tersebut sudah hancur setelah menerjang pohon lainnya, secara rantainya itu sudah tidak terikat apapun, kecuali masih di tangannya.


Servant ini, melihat perempuan di depannya itu datang ke arahnya dengan cepat.


Wanita ini langsung ikut melesat ke depan dan datang dengan arah secara berlawanan, lalu senjata di tangannya pun sudah siap untuk bersarang di tubuhnya Eldania.


Setidaknya itulah yang Servant ini ekspektasikan.


SYUHT...


Sedangkan Eldania. 


Tepat di jarak 3 meter sebelum mereka berdua beradu kekuatan, justru di detik itu, Eldania yang awalnya bergerak maju ke depan, langsung bertolak arah dengan melompat ke atas.


"Apa?" Servant ini mendongak ke atas, melihat Eldania kini sudah berada di atasnya.


Dengan rantai yang masih menjerat tangannya Eldania, dengan keahliannya itu, saat Eldania masih berada di udara dia segera sedikit menggerakkan rantai tersebut dengan arah berputar, sehingga rantai tersebut langsung mengikat leher Servant ini, tepat saat wanita ini mendongak ke atas.


CRANK...... ( Suara rantai. )


KRRTTT.......


Eldania langsung menarik rantai yang sudah dia cengkram itu dengan erat. 


[Tepat sasaran!] Batin Eldania.


"Arghh…!" Rintih wanita ini, sambil menahan rantai yang melilit di lehernya.


Tepat saat mendarat, satu rantai yang saling mengikat di antara mereka berdua, membuat Eldania tersenyum dengan penuh kemenangan.


Bagaimana tidak, jika awalnya Eldania di katai sudah berada di genggaman Servant ini, justru sekarang kondisinya sudah terbalik.


Sekarang Servant itulah yang sudah berada di genggaman tangannya.


"Pfft......kau pikir aku akan mengandalkan kekuatan saja?" Eldania mengejek wanita ini.


Meski kalah dalam hal fisik karena wanita di depannya itu terlihat seorang yang sudah dewasa, tapi, dalam pertarungan, yang di butuhkan bukanlah kekuatan saja, melainkan siasat yang bisa di gunakan untuk melawan balik musuh. 


"Jadi sekarang, apa kau mau jujur?” Tanya Eldania kepada servant tersebut.


Satu rantai dengan adu kekuatan tarik dan menarik, siapa yang bisa menahan tarikan kuat, ketika ujung rantai memilih daerah vital seseorang?.


"Jadi sekarang-" Eldania masih mengeratkan cengkramannya terhadap rantai yang berhasil menjerat leher Servant ini. "Beritahu apa tujuanmu." Dengan sorotan mata yang dingin, Eldania semakin menjerat leher Servant ini.


"Hahaha! Apa kau punya hak menanyai tujuanku?" Masih bisa mengulas senyuman di wajah yang kian menderita, Servant ini mau tak mau menarik paksa rantai yang dia dapat dengan mengerahkan segenap kekuatannya.


CRANG..................


Eldania yang sempat terbawa suasana dengan nuansa membunuhnya, pada akhirnya kehilangan targetnya, karena sang target dengan begitu lihai, langsung menyembunyikan keberadaannya dengan cara menghilang. 


Ya...bahkan rantai yang Eldania cengkram sudah ikut menghilang dari genggamannya.


Itulah Servant, sebuah roh yang hanya bisa terwujud jika sang master sudah menjalin kontrak dengan roh ini. Dan servant itu bisa muncul dan sesuka hati menghilang, karena wujud yang Servant ini miliki, berasal dari seorang master yang memiliki sihir.


Dengan kata lain, julukan master di tunjukkan kepada sang penyihir.

__ADS_1


[Pertemuan pertama kita, sudah pasti menjadi syarat untuk pertemuan berikutnya.] Batinnya, sambil melihat kedua tangannya yang sudah kotor itu.


DRAP.....! DRAP......! DRAP.......!


Suara derap langkah yang Eldania dengar kian mendekat.


Dania menoleh ke belakang, siapa lagi kalau bukan Ethan.


"Hei! Apa kau baik-baik saja?!" Dengan nada sedikit tinggi Ethan berlari ke arah dimana Eldania sedang berdiri seorang diri di tengah hutan. 


Eldania terdiam. [ Moodku sedang tidak baik. Satu hari yang melelahkan, ditambah dia dan wanita tadi. Apa aku magnet dari segala masalah?]  Batin Eldania.


Dia menyadari apa yang sudah terjadi dalam satu hari ini, dan itu benar-benar membuat Eldania dalam kondisi kelelahan karena mental.


Apa alasannya adalah karena semua pertemuannya dengan mereka semua.


Erich, Caster, Ethan, dan sudah menjalankan sesi dua pertarungan dalam satu hari ini.


Eldania kemudian melirik ke samping kanan. Dia melihat wajah khawatir yang Eldania lihat dari wajah Ethan yang memang seperti Iblis, karena memiliki rupa wajah yang lumayan rupawan.


Ketika Ethan menatap ke arah tangan kanannya, Ethan berkata lagi. "Tanganmu, kau harus diobati dulu." 


[Apa dia orang yang seperhatian itu?] Eldania hanya melihat tingkah Ethan yang tiba-tiba mengangkat tangan kanannya Eldania yang masih berlumuran dengan darah.


[Kelihatannya dia memang habis bertarung. Tapi tangannya ini.....?!] Ethan diam membeku. Ethan memang melihat darah masih menodai tangan dari perempuan ini, tetapi ada yang salah. [Lukanya, sudah tidak ada?]


Ethan sontak ada dalam kebingungannya sendiri.


Eldania langsung menarik tangannya dengan kasar. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku tidak butuh yang namanya pengobatan." Ucapnya, segera menarik segala perhatian Ethan yang dari tadi terpaku pada tangan kanannya Eldania. [Yang aku butuh hanyalah istirahat dari bertemu dengan kalian semua!] Pikir Eldania.


Untuk sesaat, dia ingin pergi berlibur dari bertemunya dengan para laki-laki beracun penuh masalah dan siasat, motif yang terkadang tidak dapat Eldania tahu alias Eldania baca seperti Caster itu.


"Tapi, bagaimana bisa kau menolongku tadi?" Tanya Ethan.


Eldania meraba pergelangan tangan kanannya dengan tangan kirinya, itu sangatlah benar, lukanya benar-benar sudah tidak ada, dan hanya tersisa darah yang mengotori lengan bajunya itu.


"Menemui bahaya di dekatku, membuatku refleks bereaksi untuk melawan serangannya." Jelasnya. [Lalu bisa di bilang, tanganku memang bergerak secara refleks dengan sendirinya, jadi aku hanya memikirkan hal yang harus aku perbuat untuk menangkis serangannya dengan mengeluarkan pedangku, dan hasilnya memang jadinya seperti itu.]


[Tapi tangannya, lukanya sudah sembuh seperti itu, apa dia memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri? Pasti itu adalah kekuatan suci!] Ethan akhirnya tahu, maksud dari ucapan ‘aku manusia dan kau iblis’. [ Dia memang punya niat untuk menolong Angela, tapi karena dia seorang manusia yang memiliki kekuatan suci, hasilnya justru akan memperburuk kondisi Angela, jadi karena itu dia memberikanku batu itu kepadaku yang merupakan sesama Iblis!] 


"Lalu, aku tadi bertemu dengan seseorang yang hendak menyerangmu. Tapi aku tidak bisa mendapatkan jawaban dari tujuannya, karena dia keburu menghilang." Ujar Eldania, selagi memegang lengan bajunya yang sudah robek itu. 


"Kenapa kau menolong iblis seperti kami? Memberikanku batu 'mana', dan menghadang serangan yang harusnya menargetkanku! Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Ethan tidak mengerti isi pikiran dari perempuan dari kaum manusia di depannya itu.


"Apa? Memangnya menolong orang butuh alasan? Tapi jika kau tetap mau jawaban dariku, aku akan menjawab kalau aku tidak ingin melihat apa yang ada di depan mataku mati begitu saja."


"Terus, apa maksud dari ekspresi wajahmu tadi saat kita bertemu di tengah jalan?" Tanya Ethan dengan wajah seriusnya. 


Dia sangat tidak tahan dengan bayang-bayang ekspresi perempuan ini saat di tengah jalan tadi, dengan tatapan jijik, jadi mau tidak mau, harus menanyakan alasannya secara langsung kepada orang yang bersangkutan.


[Dia begitu penasaran dengan ekspresi wajahku?] Dengan ekspresi wajah terheran, Eldania menjawabnya dengan jujur saja. "Soalnya aku sedikit menderita, dengan wajah kalian semua." Sambil memejamkan matanya, seolah tidak tahan.


"Kalian semua, memangnya ada apa dengan wajahku?" 


"Apa kalian tidak sadar?" Dengan nada selamba, Eldania sedikit menambahkan ucapannya tadi. "Aku sebagai seorang perempuan, merasa wajah kalian cukup beracun untuk menodai mataku." Dan kalimatnya langsung beralih ke pikirannya. [Aku memang harus bersyukur, bisa cuci mata dengan wajah rupawan kalian. Tapi terkadang wajah kalian bisa menjadi racun untukku, konsentrasiku kadang menghilang jika sudah terbayang wajah kalian di saat yang tidak tepat.]


[Apa-apaan dengan perempuan ini. wajahku beracun? Tampan seperti ini, dibilang beracun? Apa dia tidak mengerti arti dari anugrah punya wajah seperti in-] Ethan terkesiap ketika sepasang matanya menangkap perempuan ini malah memandangnya dengan wajah bosan karena lelah, disertai...


"Hoaamm.....!” Eldania refleks menguap sebab mengantuk. "Selamat tinggal." Eldania tiba-tiba berbalik begitu saja dengan mata sayunya itu. 


"Tunggu! Namaku Ethan, siapa namamu?" 


Mengurung niatnya untuk mengambil langkah pertama, Eldania melirik Ethan dengan sorotan mata dinginnya, yang ditambah dengan iris mata yang dia miliki itu berwarna merah. "Eldania."


"Eldania, bagaimana kau masih bisa mengingat namaku?"


".................., aku-" Kembali menatap ke depan, Eldania menjawabnya. "Juga tidak tahu. Apa alasannya, aku tetap tidak tahu. Kenapa tanya?" Eldania mendongak ke atas, langit hitam dengan satu kedipan cahaya dari bintang, sudah muncul.


"Satu kali lagi, apa kamu bisa membantuku menemukan saudaraku, Nathan?"


"Bukannya, kau sendiri yang namanya Nathan?"


[Kenapa lagi dia ini? Jelas tadi dia memanggil namaku Ethan, kenapa tiba-tiba jadi Nathan lagi?] Ethan merasa bingung. Jadi dia bertanya lagi. "Aku Ethan bukan Nathan, jelas tadi kau memanggilku Ethan kenapa jadi Nathan?"


"Apa kau yakin dengan namamu sendiri adalah Ethan?" 


"Kenapa malah balik bertanya?" 


"Biasanya nama seseorang bisa dimanipulasi ataupun ditukar. Dan menurut informan yang aku miliki, namamu yang sebenarnya adalah Nathan, bukan Ethan" Eldania mengedikkan bahu, dan berjalan menjauh.


Tetapi Ethan segera menarik tangan Dania.


"Apa maksudmu?!" 


"Maksudku, bagaimana jika cari tahu sendiri, terutama orang tuamu? Menurut sudut pandangku, biasanya nama awal seseorang menunjukkan identitas mereka, apakah itu kakak, ataupun.........adik. Apa kau sudah paham?" Eldania pun langsung menepis tangannya Ethan. 


Ethan yang mendengar penjelasan dari Eldania, dengan sudut pandangnya sendiri membuatnya tidak bisa mencegah perempuan yang sudah kelihatan sudah menemui jalan panjangnya dalam seharian ini dia tahan lagi, jadi Ethan sengaja membiarkannya pergi.


[Apa maksudnya aku dan saudaraku bertukar nama? .............. Tunggu, apa pentingnya itu, hanya sekedar nama, di tukar atau tidak bukanlah masalah. Yang jadi masalah, dia mengelabuiku untuk berpikir demikian, agar dia bisa pergi begitu saja?!] Ethan yang merasa dicurangi buru-buru mengekori keberadaan perempuan itu yang sudah berada di jarak 100 meter. 


Sedangkan Eldania sendiri, yang berhasil keluar pergi dari jangkauan pria itu hanya tertawa cekikikan. 


[Pfft....... Dia lambat berpikir. Cuma sekedar nama, karena sudah tercatat di catatan kelahiran, itu tidak bisa mengubah identitas mereka. Sekalipun nama kalian sudah tertukar, tapi bagiku kalian tidaklah beda jauh dari saudara kembar yang lahir sama-sama di detik yang sama. Tidak ada kata kakak atau adik. Memang menyedihkan jika di beda-bedakan, tapi apa boleh buat, sudah jalan kalian dengan nama kalian itu.] Pikir Eldania. 

__ADS_1


Dan Eldania pun tetap melanjutkan perjalanan pulangnya.


__ADS_2