Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
75 : Eldania


__ADS_3

Di sela-sela ujian antara tim Neizel dengan tim Mericta yang sudah berlangsung 1 jam dan hampir di puncak penyelesaian, anggota lain dari tim nya Azel dengan Caster pun mulai diadakan.


" Hutan sudah di bagi menjadi dua bagian, tidak akan ada siapa pun yang menerobos ke wilayah sisi lain hutan ini. " beritahu sang burung hantu kepada semua murid.


Dengan dinding pembatas yang sengaja dibuat oleh pihak juri, maka tidak akan ada orang yang akan berpindah ke sisi lain agar tidak terjadi konflik antara regu yang satu dengan regu yang lain.


" Ehem....pertandingan ujian antara tim Caster dengan tim Azel akan segera dimulai 4 menit lagi." burung hantu tersebut pun segera terbang tinggi mencari tempat posisi yang tepat untuk menyaksikan kedua tim tersebut. “ Silahkan persiapkan diri kalian masing-masing dan temukan kemenangan kalian!. “ tambahnya.


Tim Caster.


" Akulah yang akan melawan iblis itu. Sisanya.....terserah dengan taktik apa yang akan kalian lakukan, tapi aku perintahkan kalian untuk melawan wanita itu!. " Perintah Caster seraya merentangkan tangannya ke depan mereka semua, para manusia yang sudah berani ingin menjadi bawahannya dalam artian ' Budak ' nya.


" Mereka hanya berdua?. " tanya salah satu di antara mereka.


" Kalau kita ber enam melawan satu orang, pasti kita langsung menang. Lagi pula mereka kan kalah jumlah " jawab yang lainnya. Percaya diri bahwa dengan menyerangnya secara bersamaan, maka pemenang sudah bisa ditentukan dengan mudah.


Mendengar mereka percaya diri dengan keputusan seperti itu, Caster mulai berkata lagi. " Aku akan memperingati kalian, otak kalian harus dibawa juga. Meski dia sendirian, jangan asal meremehkan orang lain. Karena justru mereka berdua ini yang harus kalian waspadai. 


Dengan percaya diri cuma ada dua orang di timnya, berarti tidak ada yang mustahil baginya untuk menang dari kita. Apa kalian paham?!. " Caster langsung memberikan sebuah peringatan dengan tiap kalimat yang suka menusuk perasaan orang lain ini, banyak diantara mereka dengan mudahnya diambil hati.


[ Dia...., apa ucapannya tidak bisa di kontrol lagi?. Harusnya aku tidak usah ikut tim nya dia. ] Pikirnya, laki-laki ini merasa menyesal karena berada di tim nya Caster, sebab tiap kata yang keluar dari mulutnya selalu sebuah kalimat yang berakhir dengan hinaan.


" Kalau ada yang menyesal ikut dengan tim ku, masih ada sisa waktu 2 menit sebelum dimulai. Kalian bisa pindah ke tim nya, itu pun~, jika mereka mau." kata Caster sebelum berjalan meninggalkan mereka semua.


"....................." All.


Semua orang saling pandang satu sama lain. Diantara mereka memang menyesal karena satu tim dengan Caster yang mulutnya tidak dapat disaring terlebih dahulu, tapi ini soal waktu dan kemenangan. Mau tidak mau mereka diharuskan bertahan dalam satu timnya Caster. 


Tidak ada yang angkat bicara untuk sekedar mengundurkan diri ataupun bertanya, Caster kembali berkata. " Aku anggap jawaban kalian adalah tidak. " Caster berjalan ke depan memimpin mereka berenam untuk pergi ke hutan yang lebih dalam.


" Lalu, bagaimana dengan strategi?. "


" Kalian itu berenam, jangan memikirkan hal yang mudah dilakukan dengan bertanya pada orang lain." Ucap Caster sekali lagi, sambil berjalan menoleh ke belakang untu melihat wajah mereka semua. [ Aku tidak peduli jika kalah, yang terpenting adalah Iblis itu. ] Caster hanya punya satu target sekarang, yaitu Azel. Caster di buat penasaran dengan sosok Azel yang terlihat sombong dengan berbagai ucapan yang tidak pernah mengerti kata penyesalan atau ketidakmungkinan.


__________


[ Ternyata aku hanya bisa mengelabui mata dia untuk sementara saja. ] Neizel tidak pernah menyangka jika plan A untuk strateginya kali ini sudah tidak berguna untuk digunakan lagi. Neizel pun tidak lagi menggunakan sihir ilusinya.


" Akhirnya muncul. " ucap Mericta, sekarang akhirnya ia mendapatkan umpan besar yaitu berhasil menemukan Neizel. [ Meskipun dia bisa menggunakan teknik ilusinya, tapi tidak menutup bau tubuhnya sebagai seorang manusia. Hahaha...aku ini Iblis, mau seberapa hebat kau sebagai manusia untuk menutupi aromamu, tetap saja akan ketahuan. ] Pikir Mericta yang dalam diam tertawa penuh kemenangan, karena berhasil lolos dari ilusi yang digunakan oleh Azel. 


Alasannya itulah kenapa meski Neizel dapat mempermainkan mata iblis nya, namun daya penciumannya yang tajam juga tidak dapat dianggap enteng.


Mereka berdua saling berhadapan, Mericta yang berada di atas pohon pun akhirnya turun menemui Neizel.


" Kamu terlihat tenang. " ucapan di mulut, lain di pikiran. [ Sampai aku tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan sekarang ini. ] alisnya mulai bertautan, karena tidak bisa membaca ekspresi wajahnya itu.


Sudah tidak mau basa-basi lagi, Mericta menautkan kesadarannya lagi. Meski dia di tempat, Mericta sebenarnya sedang membuat sihirnya yaitu...


" Dor...! " Dengan telunjuk menunjuk ke depan, satu sihir dilepaskan ke arah Neizel namun Neizel dapat menangkisnya.


" ARGHH..... " Disisi lain terdengar teriakan keras, teriakan yang terdengar sangat memilukan terjadi di belakang Neizel.


[ Suaranya bukan berasal dari orang-orang ku. ] sambil berpikir siapa yang sedang berteriak, Mericta memulai sihir untuk memunculkan pedangnya. Tangan kanannya ia julurkan ke depan lalu.... [ Pencipta segalanya, berikan tanganku, pedang besar. ] 


Muncul satu pedang berwarna biru, pedang cukup besar namun bisa dibawa dengan mudah oleh gadis bernama Mericta ini.


Neizel bersiap dengan pedang sihirnya. [ Badai es. ] sesuai dengan pikirannya, muncul lingkaran sihir di depan ujung pedangnya.


Angin besar dengan suhu sangat dingin keluar dari lingkaran sihir itu, mengarah langsung ke arah Mericta. Mericta tak akan membiarkan Neizel mengalahkannya, dia menangkis semua kristal es yang berhembus ke arahnya dengan pedang.


Sembari berlari menangkis kristal es tersebut, dia berkata, " Percuma Neizel. " setelah itu melompat ke atas sambil mengayunkan pedangnya dari atas kepala lalu...


Neizel langsung mendongak ke atas dengan tatapan tanpa ekspresinya. Gerakkan Mericta dengan memegang pedang di atas kepalanya tentu saja jika tidak di hindari, dirinya akan terbelah menjadi dua.


" Bersiaplah. !" Kata Mericta.


TAP...


TAP...


TAP...


Ada satu orang lagi yang datang, dengan jari telunjuk ditunjukkan ke depan seolah-olah dia akan...


Mericta merasakan ada seseorang dibelakangnya sedang bersiap dengan sihirnya. Mericta pun melirik ke belakang dan seketika matanya membulat..


[ Apa?!, dia?.- ] kalimatnya tidak bisa berlanjut ketika saat melihat sosok siapa yang ada di belakangnya. " Lalu yang di depan ini siapa?. " kembali menatap ke depan untuk satu detik, dan bergumam dengan nada lirih.


SLASSHHH......


" Akhh... !" Satu tembakan akhirnya tepat mengenai lengannya Mericta, disaat yang sama saat pedangnya menebas sosok Neizel di depannya rupanya itu hanyalah ilusi.


Dan tersangka yang sebenarnya menembak Mericta dari belakang yaitu...


Neizel......


" Ke..napa, bisa- " Mericta tidak puas hati karena ditipu lagi. Tangannya terasa mati rasa karena baru saja mendapatkan satu tembakan sihir.


" Tentu saja bisa. " jawabnya singkat. Neizel terus berjalan mendekati Mericta yang terduduk di tanah.

__ADS_1


"................." Mericta mendongak ke atas, ketika melihat wajah Neizel lebih dekat, ia merasa matanya begitu indah dan mempesona sesuai dengan wajahnya. Tapi Mericta tiba-tiba jadi salah tingkah sendiri saat manusia di depannya itu tiba-tiba menunduk ke arahnya dan semakin mendekatkan wajahnya itu. Sehingga Mericta sempat merasakan nafasnya yang sedikit menyapa wajahnya.


Selagi Mericta terpaku ke arahnya, tangannya Neizel pun melepas pita yang terikat di lengan Mericta.


" Eh...?! " Mericta seketika tercengang. [ Sialan, aku terpesona oleh wajahnya. ] kutuk Mericta pada dirinya sendiri karena gara-gara terpesona oleh wajah laki-laki di depannya itu, hal tersebut membuat pita yang terikat di lengannya dicuri saat Mericta sendiri lengah seperti itu.


" Terima kasih. " Neizel melambai-lambaikan pita berwarna biru yang sudah berada di tangannya tepat di depan mata Mericta.


Mericta yang hendak merebut pitanya dari tangan Neizel, Neizel langsung kembali berdiri sempurna dan mengangkat tinggi-tinggi pita itu.


Merica mengutarakan rasa protesnya. " Cu..curang?!. " sambil menunjuk ke arah Neizel dengan wajah sipu malu.


" Curang?, oh....aku memang curang karena menggunakan sihir ilusi. " jawab Neizel dengan polosnya.


[ BUKAN ITU BEGO!. ] Teriak Mericta dalam hati. " Tapi...curang karena wajahmu itu. " gerutu Mericta sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain.


Mendengar Mericta bergumam, Neizel menoleh ke belakang atau bawah dimana Mericta masih terduduk di tanah. " Jika mau, kita bertanding di lain waktu dengan jujur dan aku tidak akan menggunakan sihir ilusi ku saat pertandingan selanjutnya. Bagaimana?. " ujar Neizel, lalu mengulurkan tangannya ke depan Mericta dengan maksud untuk membantu Mericta Mericta


"...................! " Mericta terpana, ada seseorang yang mau mengulurkan tangannya kepada iblis sepertinya. Mericta akhirnya menerima uluran tangan yang diberikan Neizel itu dan ia pun berdiri. " Aku terima tantanganmu. " jawab Mericta dengan penuh semangat. “ Jika saat itu juga kau masih saja menggunakan sihir ilusimu, dan meskipun aku sudah mampu menghadapi sihirmu itu, aku akan membuatmu berlutut di hadapanku sambil mencium kakiku. “ jelas Mericta dengan wajah sombongnya.


" Hm...apa kau yakin dengan itu?. Mencium kakimu?. Bukan mencium bagian lain?. “ tanya Neizel. Meskipun masih mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar seperti dinding, tapi ucapannya berhasil membuat Mericta bereaksi lebih jelas dari sebelumnya.


“...............!. “ Mericta tentu saja seketika di buat tercengang, karena ucapan Neizel membuat otaknya berpikir dua kali. Yaitu, [ Di tempat lain?. A-apa yang dia maksud dengan tempat lain itu?. ]


[ Melihat dari reaksinya, dia ternyata hanyalah wanita yang masih polos. ] Pikir Neizel saat udah mendapatkan reaksi wajar yang biasanya para perempuan perlihatkan dari pikirannya yang membayangkan hal lain. 


“ Jadi untuk sekarang aku yang menang. " sambil tersenyum tipis dengan menunjukkan kemenangannya tepat di depan Mericta.


" Tch....manusia picik. " kutuk Mericta, ekspresinya langsung berubah sangat cepat. Meski begitu, entah mengapa di dalam hatinya tidak ada dendam dengannya. Alasannya adalah karena manusia ini menawarkan pertarungan sportif, apa lagi sudah berjanji tidak menggunakan sihir ilusinya untuk pertarungan berikutnya.


" Aku bukan licik, tapi cerdik. " jawab Neizel dengan ketukan pelan di pelipisnya dengan jari telunjuknya.


" Ehh...ternyata kamu bisa sombong juga. Aku kira hanya punya wajah dinginmu itu. " ujar Mericta, tersenyum sinis melihat Neizel ternyata bisa berkata demikian yang terdengar seperti sedang menyombongkan dirinya. 


" Pemenang di pertandingan kali ini didapatkan oleh tim Neizel!. Para murid untuk segera meninggalkan hutan, dinding pembatas akan segera dihilangkan untuk pertandingan tim dari kelas lain. " Tutur burung hantu tersebut setelah melihat pemenang dari pertandingan yang ke 4 itu.


Memperingatkan kalau tim Neizel dan Mericta harus segera meninggalkan arena, sebab dinding yang awalnya digunakan untuk pembatas untuk dua pertandingan sekaligus sekarang akan segera dihilangkan karena hanya tinggal dua tim yang tersisa yaitu tim Azel dan Caster.


" Kita harus segera pergi dari sini. " tutur Neizel memperingatkan Mericta.


" Memangnya aku tuli?, aku dengar perintahnya tadi. " sela Mericta dengan perasaan yang masih tidak puas hati karena kekalahannya cukup membuat Mericta sendi kesal sendiri. 


Lapisan dinding sihir yang tadi digunakan untuk memisahkan satu tempat menjadi dua kini akhirnya menghilang.


SRINGGG..........


" Ca...cahaya apa itu?. " bisik Mericta tepat saat dinding pembatas yang menjadi pemisah hutan tadi, sudah menghilang sepenuhnya.


" Kita harus pergi sekarang!. " perintah Neizel.


WHUSSHH.....


Ada satu benda terbang menuju ke arah mereka berdua dengan kecepatan tinggi. Neizel segera membuat sihir sebuah dinding pelindung. 


CTANG........


Suara nyaring dari dentingan pedang besi yang menabrak sihir pelindung Neizel langsung membuat dua pasang mata itu membulat sempurna.


" Whahaa.., hampir saja. " Mericta tersenyum tawar dan merinding sendiri, memang dia terselamatkan berkat sihir dari Neizel, namun siapa yang akan menyangka jika pedang itu menembus dinding yang dibuat Neizel dan sekarang separuh pedangnya masuk ke dalam hampir mengenai matanya!. “ Gara-gara ini, aku jadi punya hutang dengan manusia ini. “ Sekaligus menyindir seseorang yang ada di sebelyindir


Karena kejadian itu benar-benar membuat Mericta terkejut sampai membuat tubuhnya jatuh terduduk.


" Kamu tidak apa-apa?."


" Ekhemm...aku tidak apa-apa. " Mericta buru-buru berdiri dan langsung mengambil sikap tenang kembali seolah-olah tidak ada hal yang terjadi kepadanya.


" Mereka melakukan pertarungan sengit. " ucap Neizel, ia menjeling ke arah dari 200 meter tempat ia berdiri.


Disana dengan jelas ada kilatan cahaya yang sebentar muncul dan sebentar menghilang.


Tapi, daripada itu.....


Ada seseorang datang mendekat. Dia meluncur dengan posisi ke belakang, sembari terbang ke belakang dia sempat melihat dua orang berada di bawahnya, jadi sekalian saja ia berkata. " Apa yang sedang kalian lakukan disitu?. Disini bukan tempat yang tepat untuk kencan. " sindir Azel dengan senyuman mengejek pada Neizel dan Mericta.


" A...a..apa?!, kencan?!. " Mericta tercengang setelah mendengar kalimat 'kencan' dengan serta merta keluar dari mulut Azel.


" Sebaiknya kalian pergi sebelum jadi tusuk sate olehnya. " wajah Azel yang terpaku ke depan memancing Neizel untuk melihat ke depan.


Satu orang dengan rambut pirang tengah berjalan ke arahnya. 


Caster sekarang ini dia hanya terobsesi pada orang ini yaitu Azel sebagai lawan tim, meski ia tetap mengeluarkan sihirnya di depan mereka berdua tanpa segan.


SRINGG......


Hanya dengan mengayunkan tangan kanannya ke arah kanan, ada 10 cahaya muncul di belakang remaja bersurai pirang itu.


Beberapa detik kemudian muncul,.....


SYUHH......

__ADS_1


CTANG...


CTANG...


CTANG....


CTANG....


Dengan durasi yang bersamaan, Caster mengeluarkan pedang miliknya dari dimensi lain.


[ Aku tidak bisa menahannya begini terus. ] Neizel yang terbawa dalam permainan mereka, segera mengaktifkan sihir teleportasinya dan membawa Mericta keluar dari wilayah itu.


____________


Di sisi lain.


" ...............? " Eldania melihat ke sekelilingnya. " Apa kalian ingin mengeroyokku?. " Dia merotasikan arah pandangannya dari kanan ke kiri.


Ke 6 orang ini mengelilingi Eldania seakan kalau dirinya adalah buronan yang baru saja melarikan dsaj dari penjara.


" Kami ingin menyelesaikannya dengan cepat, sebaiknya berikan pita mu. " tutur salah satu di antara mereka.


" Kenapa aku harus mendengarkan perintahmu?. " Dengan tatapan malasnya, Eldania berpikir sambil menggeleng kepala dengan pelan. [ Bukankah justru kalian sendiri yang mendatangiku untuk menyerahkan pita kalian?. ] dan senyumannya membuat mereka semua terpancing.


“ Apa yang lucu?!. “ 


“ Tentu saja lucu. Karena kalian datang sendiri kepadaku. “ jawab Eldania dengan santainya. Di Matanya tidak terselip rasa takut, karena posisinya saat ini benar-benar sangat membuat Eldania merasakan nostalgia di kehidupan lalunya. 


“ Apa..?. “


“ Kalian mendatangiku bukan bermaksud untuk mengambil pitaku, tapi sebaliknya….. “ Eldania langsung memberikan ekspresi dengan sorotan mata jenaka kepada mereka semua. “ kalian akan memberikan pita itu kepadaku. Apa kalian paham dengan maksud dari tawaku tadi?. "


“ Dia ini…..” perlahan mereka mulai terprovokasi.


" Perempuan murahan!. " seru salah seorang perempuan kepada Eldania.


" Siapa yang kau maksud murahan?. " tanya Eldania balik.


" Ya...tentu saja kamu, sampai mau bekerja sama dengan iblis sepertinya. Meskipun tampan, tapi dia tetap iblis musuh manusia. Kau diperbudak olehnya. " sindirnya lagi.


" Aku tidak berpikir seperti itu, karena dia adalah temanku. Dan sekalipun aku memang diperbudak, bukannya kalian juga mendapatkan nasib yang sama?. " jawab Eldania, alasan yang langsung saja terlontar begitu saja tanpa banyak pikir.


Karena Azel menganggapnya teman maka ia tidak pernah berpikir kalau dirinya di perbudak. Jika di perbudak sekalipun harusnya dia sering melakukan perintah ini dan itu, namun nyatanya justru kebalikannya, Azel memberikan sesuatu yang tidak pernah didapatkannya selama disini. Itulah kebenaran hubungannya dengan Azel sebagai iblis.


Dan perdebatannya terus membuat Eldania berhasil memancing amarah semua orang di depannya.


Eldania sendiri sejujurnya sangat menikmatinya. Dia menikmati ketika lawan dari permainannya kali ini membuat ekspresi yang dimatanya justru terlihat lucu.


" Teman-teman……. serang dia!. " perintahnya kepada semua teman-temannya.


“ Dan aku...paling sebal hal seperti ini. "  Di saat yang sama rasa kesalnya pun muncul. Karena lagi-lagi kejadian seperti ini membuatnya merasakan deja vu lagi untuk kesekian kalinya.


Satu orang bergerak maju, merentangkan tangan kanannya ke depan dengan pikiran sedang membaca mantra lalu dia menjentikkan jari.


WHUSHH......


Ada hembusan angin datang menerpa Eldania, angin cukup kencang membuat Eldania harus memasang lengan tangannya untuk dijadikan tameng agar debu yang sedang berterbangan itu tidak masuk ke dalam matanya.


Adanya angin yang hanya mengelilingi di sekitarnya, ternyata merupakan dalih untuk membuat ikatan pita di langannya terlepas.


[ Gawat. ] Eldania tidak mengira akan ada hal seperti ini juga, belajar sihir dari pengalaman yang seperti ini memanglah hal yang terbaik untuk tidak membuat kesalahan lagi.


Pita berwarna merah terlepas dari lengan nya dan terbang perlahan menuju orang yang baru saja melepaskan sihir angin, dia sedang membuka telapak tangannya untuk menangkap pita itu.


" Kita akan menang. " tutur salah satu dari mereka lagi.


[ Aku tidak akan membiarkannya. ] Tekadnya menjadi bulat, Eldania kemudian mengeluarkan belati yang sering tersimpan di balik roknya, meski ada angin yang mengganggunya, Eldania segera melempar senjata kecilnya itu ke depan.


SYUHH........ --------->>


Insting, ia menggunakan instingnya untuk memperkirakan dimana pitanya itu.


" WAHH..! " teriaknya karena tiba-tiba ada senjata hampir menyerempet tangannya.


JLEBBB........


Pita tersebut terbawa oleh ujung belati yang dilemparkan Eldania tadi dan langsung menancap ke batang pohon. Akhirnya pitanya pun menggantung di antara batang pohon dan terjepit oleh ujung pisau.


" Dapatkan pitanya!. " seru mereka.


Ketika 2 orang berlari menuju pohon itu, sisanya bersiaga mengamankan Eldania agar tidak kabur dari tempatnya.


Tidak boleh berdiam diri begitu saja ketika barang miliknya hendak dicuri oleh orang lain maka ia akan melindunginya terlebih dahulu. Maka dari itu, ia ikutan berlari sebelum akhirnya melompat terlebih dahulu saat ada satu lapisan es hendak membekukan kakinya tadi.


Satu serangan dari mereka berhasil di lewatinya, namun ada satu lagi yang menghalanginya.


CTANG........


[ Dia bisa menangkis seranganku?!. ] Pikir pria berseragam biru ini, tatkala dirinya sedikit terpental ke belakang karena tangkisan dari gadis yang sudah memegang belati yang satunya lagi. Tetapi dia justru menyunggingkan senyuman tipisnya. [ Dari tadi dia hanya mengandalkan kekuatan fisiknya, berarti benar, soal dia kurang mahir dengan sihirnya. ] terka pria ini, karena mereka semua memang belum pernah melihat Eldania menggunakan sihirnya, jadi banyak yang beranggapan seperti itu.

__ADS_1


Beranggapan bahwa nilai ujian sihir milik Eldania paling rendah di antara mereka semua, apalagi di antara para murid yang mengenakan seragam putih, maka membuat Eldania adalah menjadi manusia dengan kemampuan penggunaan sihir yang buruk.


__ADS_2