Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
39 : Eldania


__ADS_3

“.....................” Eldania hanya diam membisu. Dia terus menatap lurus pria tersebut tanpa memperdulikan senjatanya sekarang sudah ditodongkan ke depan kepalanya.


Apa yang sedang ada di dalam pikirannya?.


Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang sedang ada di pikirkan gadis ini ketika tatapan matanya terus berubah tanpa kenal waktu. 


Hal tersebut, membuat Arga pun angkat bicara. “ Kenapa diam? Sebegitu terkejutnya kah sampai tidak bisa bicara?“ ucap Arga sekali lagi. Dia sekarang bereaksi serius melihat gadis di depannya itu benar-benar tidak terlihat terkejut sedikitpun bahkan gadis itu terus memandangnya dengan tatapan datar, seakan ancamannya tidak berlaku sama sekali.


“................, “ Awalnya Eldania hanya memberikan ekspresi wajah datar dengan mata terus menatap Arga. Tapi semua itu berubah seolah menjadi candaan untuk gadis ini sendiri. " Pfft… "


Eldania seketika menahan tawa kecilnya yang digantikan dengan senyuman tipis bersanding dengan helaan nafas pendek dan kasar. Dan hal itu sukses membuat Arga mengernyit seperti waspada.


" Diam di mulut bukan berarti otakku diam. Tadi aku hanya ingin memperhatikanmu lebih dari biasanya, apakah itu mengganggu? “ kata gadis ini sambil sedikit memiringkan kepalanya dan memberikan senyuman konyolnya kepada laki-laki ini. 


Tawa yang tidak ada arti lain selain meremehkan. 


Eldania melakukannya untuk menunjukkan pada laki-laki ini, bahwa dia tidak takut sama sekali dengan ancamannya saat ini. Hanya karena tiba-tiba saja menodongkan pistol ke arahnya bukan berarti hal itu akan membuatnya terkejut. 


“ Tapi aku akui. Semangatmu boleh juga, langsung memberikan ancaman seperti ini kepadaku setelah mengambil senjataku. “ kata Eldania sekali lagi. “ Malahan, aku benar-benar kagum denganmu. Tidak ada seorangpun yang pernah membuatku harus menghadapi senjataku sendiri seperti saat ini. “ tambahnya. Wajahnya cukup tenang untuk menghadapi ancaman remeh itu. 


Ya...bisa saja laki-laki di depannya langsung menembaknya begitu saja tanpa perlu mendengar ocehannya. Namun Eldania tidak begitu peduli apa yang akan terjadi, karena dia memiliki satu keyakinan sendiri setelah memperhatikan Arga beberapa saat tadi.


[ Apa yang terjadi?! ] Dari kejauhan, Evan langsung turun dari tembok dan berusaha berlari mendekati mereka berdua.


Dan di saat yang sama pula, Eldania mengambil satu langkah lebar ke depan, sehingga jarak antara kepala dengan moncong pistol nya cukuplah dekat. 


Memberikan tatapan penuh harap, Eldania kembali berkata. “ Aku jadi ingin, kau melihat kegembiraan dimataku. 


Seperti yang kau tahu aku memiliki kekuatan suci. Artinya aku bisa menyembuhkan lukaku sendiri. Dengan sedikit menarik pemicunya dari jarimu, kau bisa memberikanku apa yang paling aku inginkan saking penasarannya. 


Tapi yang aku takutkan adalah, bila kau kehilangan target. Tapi kau pasti bisa, kan? Kau adalah ksatria berpedang yang handal, jadi memainkan mainan kecil seperti itu, pasti tidak akan meleset, kan? "  ucap perempuan ini dengan wajah penuh harap.


[ Wanita ini! ] Disisi lain Everst semakin dibuat kesal sendiri. Dengan jarak seperti seperti itu, Everst masih mampu mendengar apa yang diucapkan oleh Eldania.


Di dunia ini kekuatan suci adalah segelintir anugerah yang diturunkan dari dewa untuk manusia pilihan agar bisa digunakan untuk membantu segala permasalahan dari segala penyakit ataupun luka penderitaan yang diderita umatnya.


Tapi Everst justru cukup marah dengan tindakan yang dilakukan oleh Eldania yang justru mengungkapkan kata dan ekspresi ingin dari rasa ‘penasaran’.


Dengan kata lain, Eldania ingin bereksperimen.


Apakah kekuatan sucinya bisa bekerja terhadap kepala yang langsung di tembak dengan senjatanya sendiri?. 


Itu sama saja dengan bunuh diri.


Di tempat Everst berada, dia tengah menepis segala tangan dari manusia-manusia di sekitarnya yang ingin menyentuh tubuhnya sekaligus memberikan mereka semua tatapan membunuh yang cukup kuat.


Dia mulai meyakini dengan apa yang ingin dilakukannya, jika permintaan dari gadis itu dituruti oleh manusia bernama Arga itu.


Kembali di posisi awal. Eldania terus melanjutkan ucapannya. 


“ Bagaimanapun juga, kau akan terbunuh. Kalau begitu, paling tidak cobalah senjata yang sedang kau pegang itu. Cukup mematikan untuk sekali tembakan dalam gerakan ringan. " kata Eldania, dia terus memberikan penawaran yang melebihi tindakan Arga saat ini. Yaitu membunuhnya.


“ Hentikan Eldania!. “ Ucap Everst dengan menggunakan kekuatan telepatinya. 


[....................! ] Meski mendengar jangkauan ucapan Everst berkat telepatinya, tapi Eldania tetap menghiraukan peringatan yang diucapkan Everst. “ Ayolah, bawalah aku bersamamu. 


Kau pasti kesal denganku yang memotong rambut panjangmu itu kan?, lalu kau hampir terbunuh karena aku menembak target yang tidak kau ketahui sebanyak dua kali.


Setidaknya, cobalah balaskan dendam yang ada di hatimu itu dengan membangunkan aku dari oksidasi dunia ini. “ kata Eldania untuk terakhir kalinya dan tatapan matanya pun menatap Arga dengan lembut disertai senyumannya juga.


Everst yang dimana salah satu kakinya masih terikat itu langsung  mengibarkan kedua sayapnya selebar-lebarnya sambil berteriak. “ Eldania!. “ teriak Everst di dalam pikirannya.


Dan di saat yang sama pula. Arga mulai menarik ujung jarinya, dan…..

__ADS_1


DOORRR………..


Suara itu pun kembali mengisi suasana diantara mereka semua. 


Banyak pasang mata menoleh ke arah sumber suara. Tidak terkecuali dengan Evan yang langsung membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat orang yang Evan kenal justru menembak seorang gadis di depannya. 


Evan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi pemandangan ini jelas terlihat salah di mata Evan.


KWAKK…….


Apalagi setelah tiba-tiba saja Evan mendengar teriakan burung dengan keras, di detik berikutnya sebuah benda yang melesat cepat dari arah belakangnya menuju tempat dimana Arga berada. Dan di saat itu pula, benda itu langsung menusuk punggung Arga secara sadis tanpa memberikan jeda sedikitpun.


JLEBB…….


“ Uhuk………” Arga memuntahkan darahnya dari mulut setelah mendapatkan serangan mendadak dari belakang.


Pistol yang dipegang Arga langsung terjatuh ke tanah dan sedikit meluncur ke depan, sehingga senjata itu pun berhenti tepat di depan kaki Eldania.


SYUHH………..


Terpaan angin secara kasar dan bayangan besar langsung menyapa mereka semua dalam sekelebat mata.


Di langit….


“ Itu…?!. “ Seketika semua orang tercengang.


Semuanya tercengang setelah mereka melihat dengan jelas yang terbang di atas mereka adalah seekor burung yang cukup besar. Burung tersebut langsung melesat cepat ke depan seorang gadis yang masih saja berdiam diri disana, namun yang menjadi targetnya adalah Arga. 


Burung itu mencengkram tubuh Arga dan membawanya jauh-jauh dari sana dengan terbang lebih tinggi dari keberadaan burung hantu yang masih terbang dengan ketinggian normal.


“ Apa itu tadi?. Aku tidak salah lihat kan?. Itu burung yang sangat besar. “ Gumam Irine sambil mengernyitkan matanya. Saat mendongak ke atas langit yang masih menyilaukan matanya, akhirnya tanpa sengaja dia melihat seekor burung raksasa yang melintasi atas tenda nya sesaat tadi dengan cepat.


“ Kau tidak salah lihat. Dari pada disini, apakah kau tadi mendengar pohon tumbang?. Lihat apakah di belakang sana ada korban jiwa. “ kata Duke Avrel memberikan perintah pada gadis yang sudah ia anggap anaknya sendiri, walaupun bukan anak kandung.


“ Kau lakukan saja sana tugasmu. Nanti aku ceritakan detailnya padamu. “ kata Duke Avrel lagi, membujuk gadis itu agar cepat-cepat pergi.


Walaupun tidak terima seolah diusir, tapi Irine akhirnya tetap menuruti perintahnya. Sebab bagaimanapun Irine tahu betul posisinya tidak bisa membantah ucapan dari bos majikannya itu.


“ Baik..baik. Tapi janji, ceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun. “ ucap Irine mengingatkan, setelahnya Irine bergegas pergi ke tempat tujuannya.


Seperginya Irine, Duke Avrel pun bergegas untuk melihat situasi yang sebenarnya terjadi dari atas tembok.


[ Aku sudah menduganya, burung itu bukanlah burung biasa. Tapi siapa yang menyangka kalau dia bisa berubah menjadi sebesar itu!?. Dari mana perempuan itu bisa mendapatkan makhluk itu?. ] Duke Avrel tersenyum getir. Dia merasa tidak habis pikir, bahwa ada hari dimana dia bisa melihat burung sebesar itu dengan mata kepalanya sendiri.


Duke Avrel, dia sebenarnya mempunyai satu rahasia kecil lainnya di masa remajanya dahulu. 


Saat sebelum dia mendapatkan jabatan menjadi duke, dia hanyalah seorang remaja yang dipanggil tuan muda Avrel.


Waktu itu dia berumur lima belas tahun. Setelah tiga tahun mengembara, di tahun terakhirnya saat berumur lima belas tahun itu, Avrel berlayar untuk perjalanan pulangnya. Namun ada satu hal yang terjadi, karena badai besar yang menerjang perahu yang dinaikinya, perahu itu pun rusak dan akhirnya tenggelam di tengah laut. Hal itu membuatnya terbawa arus laut hingga akhirnya terdampar di pantai.


Avrel berada di tempat yang tidak diketahui karena tidak terdapat di dalam peta benua miliknya.


[ Dan dalam waktu tiga bulan, aku  mencoba menjelajah ke semua tempat di pulau itu. Jika bukan karena untuk bertahan hidup, aku sebenarnya tidak mau repot-repot berkeliaran di sana. ] Duke Avrel tersenyum pahit saat dimana dirinya pernah berkeliaran di wilayah belantara seorang diri. 


Itu adalah waktu terkeras dalam hidupnya untuk bertahan demi mewujudkan keinginannya kembali ke rumah.


Tidak sesuai dengan yang dipikirkan, Avrel seolah menjelajah di satu wilayah yang melebihi kota kekaisaran, karena saking luasnya.


Sampai Avrel pernah berpikir, dia tidak ada di pulau, melainkan di negara lain.


Kenapa sampai berpikir demikian?.


Itu karena ia secara tidak sengaja menemukan bekas reruntuhan dari suatu kota besar yang dikelilingi oleh dinding tinggi dan besar sepanjang wilayah tepat di tengah-tengah tanah dataran yang luas.

__ADS_1


[ Saat itu aku jadi merasa berada di tempat kota reruntuhan kuno. ] Avrel mengernyit, dia mengingat betul saat kakinya akhirnya melangkah dan menjelajah sampai ke jantung kota.


Dan akhirnya dia menemukan sisa reruntuhan yang memiliki banyak undakan tangga yang cukup tinggi layaknya sebuah istana. Bangunan tinggi yang lebih mencolok dan sangat mudah ditemukan, bahkan saat Avrel berdiri dari pintu gerbang masuk kota.


Avrel saat itu memasuki reruntuhan yang diduga istana tersebut dan disanalah Avrel secara kebetulan menemukan sebuah cetakan tanah seperti lempengan keramik di atas sebuah kursi singgasana. 


Hanya saja lempengan tanah tersebut memiliki berbagai macam tulisan dan gambar simbol yang tidak Avrel mengerti. 


Tetapi sayang seribu sayang, cetakan tanah yang Avrel temukan itu langsung hancur dan berubah menjadi butiran tanah halus.


Maka dari itu, tidak ada yang bisa Avrel lanjutkan lagi karena di saat itu pula sebuah insiden lain mendatanginya lebih cepat dari kedipan matanya.


[ Bayangan gelap yang langsung melahap tubuhku dari belakang kala itu…… ] Avrel lagi-lagi kembali dibuat untuk berpikir keras. 


Di dalam memorinya, dia sebenarnya melihat bayangan dari sosok yang tinggi dan besar dari belakang tubuhnya. Tapi yang lebih menariknya lagi adalah saat ciri-ciri dari bayangan hitam yang ada di belakangnya adalah bayangan dari makhluk yang menyerupai burung yang besar.


[ Dan ketika aku menoleh ke belakang untuk melihat makhluk apa itu, dalam sekejap mata, aku justru terbaring di dalam kuil lama Asrenda. ]


Kuil Asrenda adalah bangunan dari sebuah kuil lama yang sudah tidak digunakan selama Tujuh puluh delapan tahun ini. Dan letaknya di pinggir pantai selatan dari kekaisaran Ledora. 


Itulah mengapa setelah membuka matanya, Avrel sempat kebingungan setengah mati. Seakan bahwa semua yang ia alami selama ini dari menjelajah segala tempat dimana ia terdampar, hingga kota reruntuhan yang Avrel jelajahi itu hanyalah sebuah mimpi belaka.


__________


Sedangkan tempat dimana Everst membawa manusia di salah satu kakinya dengan cakar tajamnya.


Everst terus mengibarkan sayapnya, menerjang hembusan angin dengan terus terbang ke atas dengan kecepatan tinggi. Kecepatan yang membuat manusia di cengkraman kakinya akhirnya berteriak.


“ Akh….apa yang kau lakukan burung sialan!. “ ronta Arga. Meski sudah tertusuk oleh pedang coklat yang asalnya dari sehelai bulu milik Everst, Arga masih bisa mempertahankan kesadarannya setelah mendapatkan serangan telak seperti itu karena yang ada di dalam diri Arga sekarang, bukanlah Arga yang sebenarnya. 


Mendengar kata 'sialan' keluar dari mulut manusia itu, seketika membuat Everst menjeling kebawah dengan tajamnya sambil berkata. “ Harusnya akulah yang tanya manusia rendahan. Tidak...kau adalah roh yang masuk ke dalam tubuh ini kan?. Apa yang serangga tak kasat mata sepertimu inginkan, sampai beraninya tangan kotormu menggunakan senjata yang bahkan tidak cocok untukmu?!. “ ujar Everst dengan dingin.


Kini dia tidak menyembunyikan apapun dari manusia yang sedang Everst cengkram di kakinya, karena lawan bicaranya saat ini adalah roh, jadi ia berbicara layaknya manusia. 


" Karena kau mengusik nya, jadi aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja. " tambahnya.


“ Apa?. Aku cu…. arghh…….” Belum sempat sepenuhnya menjawab, tubuhnya kembali mendapatkan rasa sakit yang luar biasa saat pedang yang masih menusuk tubuhnya bergerak dengan sendirinya menusuk semakin dalam tubuhnya. Hal tersebut membuat tubuhnya mengalami pendarahan setelah beberapa saat tadi berhasil menghentikan pendarahannya sendiri.


Sebagai roh yang harusnya sudah berada di alam yang berbeda, kini dia akhirnya mendapatkan rasa sakitnya kembali dengan cara yang lebih ekstrim dari perkiraannya.


“ Cuma?. “ Everst balik tanya dengan tatapan mata yang semakin tajam serta nada yang lebih dingin dari sebelumnya.


Itu benar-benar mengintimidasi roh yang mendiami tubuh Arga.


“ Ah..ya ya ya…...akan aku katakan. Jadi berhenti mencengkram dan lepaskan pedang ini dariku. “ pintanya.


Mendengar hal tersebut, Everst langsung tersenyum puas. Dia pun langsung melepaskan cengkramannya hingga akhirnya tubuh Arga langsung terjun bebas. 


“...........!. “ Arga seketika tersentak kaget saat burung besar itu justru  benar-benar melepaskan cengkramannya. " Aargh…!, burung gila….kenapa kau justru menjatuhkan ku?!. " teriak roh ini yang masih mendiami tubuh Arga.


“  Apa kau bodoh?!. Aku justru mengabulkan yang kau inginkan. Jadi menderitalah dalam keputusasaan dirimu itu, karena kau sudah mengganggu orang yang seharusnya tidak kau usik. “ sela Everst di sela-sela rasa takut dari raut wajah Arga yang terlihat jelas di matanya.


[ B-bodoh?!. ] Tercengang untuk pertama kalinya dikatai bodoh oleh seekor burung. 


Everst kini sudah menyamakan kecepatan jatuh dari korban mainannya saat ini.


Tidak sampai disitu saja. Setelah membuat tubuh Arga sekarang dalam posisi terjun bebas, Everst pun memberikan satu hal yang akan membuat roh yang merasuki tubuh itu akan dibuat kembali tercengang.


“ Satu hal lagi. Kau jangan harap bisa kabur. Pedang itu akan membuatmu terjebak dalam tubuh itu. Selagi tidak bicara, rasakan penderitaan itu. “ Dan Everst akhirnya kembali menarik sudut bibirnya. Membuat ekspresi yang dimiliki oleh burung jadi-jadian ini semakin menakutkan.


[ Pantas saja dari tadi aku tidak bisa mengalihkan kesadaranku dengan dia. Ah…. burung ini benar-benar mengerikan. ] Pikir roh ini dengan tatapan mata yang merasa takut akan terkena imbas terus jika tidak menuruti permintaannya. 


" Ingat…..aku tidak akan melupakanmu semudah kicauan kalian. " Everst kembali memperingatkannya dengan tegas, lalu dia terbang sedikit menjauhinya dan berkeliaran di langit dengan gayanya sendiri sambil terus mengawasidi

__ADS_1


__ADS_2