
Langit yang seakan tertelan bayangan gelap untuk sementara, akhirnya batu besar yang hendak menghantam dirinya bisa dia hindari.
BRAKK....
Eldania berhasil melompat ke belakang, dan sekaligus melihta batu sebesar itu sudah pecah menjadi kepingan yang lebih kecil.
" ………………….” Untuk sesaat Eldania membayangkan dirinya baru saja menjadi anak nakal yang kemudian dilempari batu. [ Bukannya sebaiknya aku pergi dari sini sebelum mengganggu pertarungan mereka?. ] Itulah yang Eldania pikirkan.
Eldania pun berjalan ke arah lain, untuk menghindari titik yang menjadi kemungkinan untuk menjadi tempat medan perang untuk orang lain.
Eldania mengangguk-angguk tanda setuju dengan pendapatnya sendiri.
Dari arah lain, ada dua orang terlibat adu kekuatan...
BRUAKKHH.......
Ada satu pohon besar bergetar hebat setelah dihantam oleh sesuatu. Untungnya tidak sampai tumbang, tapi hal itu sudah cukup di jadikan sebagai bahan acuan, kalau suara hantaman tadi benar-benar cukup keras dan itu cukup kuat, dan kekuata itu bisa untuk merobohkan dinding.
Di satu sisi lain.
Satu orang sedang dalam kondisi duduk bersandar ke pohon setelah mendapatkan serangan dari musuhnya ini. Dia adalah orang yang baru saja tubuhnya menghantam pohon di belakangnya dengan sangat keras.
Dalang dari semua keirbutan yang terjadi, adalah mereka berdua.
" Jika kau tidak segera berdiri, maka aku akan membuat orang terdekatmu menderita. " ucap seseorang dengan nada dingin, penuh ancaman dan di tambah sebuah aura membunuh yang cukup jelas dan terasa, bahkan jika itu hanya sekedar ucapan saja...
Maka Eldania segera merasakannya.
".................." Refleks saja Eldania berpikir ke arah lain, bahwa di sini ada pertarungan karena perasaan pribadi yang dimana melibatkan sebuah kekuatan besar.
Bukan sekedar pertarungan dengan adu fisik saja, tapi sudah mengikutkan kekuatan sihir yang berakhir dengan fenomena penghancuran bagai bom!.
Tidak terima dengan ucapan lawannya ini, manusia ini sedikit berteriak. " Diam....., jika kau melakukan itu...." namun ayatnya segera menghilang ketika...
SHRAKKK......
Seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih serius setelah mendapatkan serangan dari sebuah kilatan berwarna merah yang muncul dalam beberapa detik 10 cm tepat di atas kepalanya.
Itu adalah serangan berupa ancaman.
Dan serangan yang hampir saja menebas kepala berharganya, adalah bertujuan untuk membuat pohon yang dijadikan korban hantaman tadi segera tumbang ke belakang.
" Terlambat bocah. " kata terakhirnya, setelah melancarkan aksinya kepada lawannya yang masih terduduk di tanah.
Pemuda ini menyeringai, berhasil. Berhasil untuk apa?.
Karena tujuan dari serangannya bukan untuk lawannya itu, melainkan orang lain yang kebetulan ada di sekitar mereka berdua.
Siapa?.
Eldania baru mengerti setelah ini, yang dimaksud orang terdekat yang barusan dia dengar tadi, tidak lain adalah tidak lain adalah Eldania sendiri, yang kebetulan ada di sekitar mereka berdua!.
[ Hah......, apa aku jadi sasaran sampingannya?. ] Eldania menahan tawa dengan ekspresi konyolnya.
Sekarang pohon di depannya itu sedang tumbang menuju ke arahnya. Apa lagi, yang tumbang bukan sekedar satu atau dua pohon, melainkan empat pohon besar secara bersamaan!.
" Dunia dan isinya memang sama-sama gila. " Eldania benar-benar bersumpah serapah dengan apa pun yang ada di sekitarnya sangatlah di luar imajinasi manusia normal di dunianya dulu.
Mendengar sebuah sumpah serapah tak mengenakan, orang ini langsung tersadar dari rasa sakit tubuhnya sendiri setelah tadi dihantam ke pohon.
"..................!. " orang ini seketika menoleh ke belakang. Di area hutan ini ternyata bukan ada mereka berdua saja yang sedang sibuk bertarung, karena rupanya, [ Dia bukan mengincarku, tapi…...orang yang ada di belakangku. ]
Lalu pohon yang sudah di tebas ini, akan segera tumbang ke arahnya.
Eldania, ketika jarak antara untuk menghindar sudah tidak sempat lagi, maka pilihan keduanya adalah untuk menghadapi keempat pohon itu dengan memotongnya saja.
Oh...sejujurnya tangannya sudah gatal ingin memotong sesuatu dengan pedangnya.
Tapi lagi-lagi....
[ Siapa lagi ini?!. ] Eldania segera menjeling bayangan hitam yang agak samar itu bergerak secepat kilat ke arahnya. Dan dalam kurun waktu tersebut pula, saat ujung ranting itu akan menusuk tubuhnya, sebuah tangan terasa sedang mendorong bahunya, kemudian sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di bawah kakinya dan langsung aktif. [ Teleportasi?!. ] detik hatinya.
Dalam sekejap mata, mereka berdua menghilang dari sana.
“....................” Dan dalang dari semua itu, hanya menatap diam dua orang yang sudah kabur dari permainannya.
_____________
" Apa kamu sudah buat tim?. " tanya salah satu murid berseragam putih kepada teman sekelasnya.
" Sudah, bagaimana denganmu?. " ia tanya balik kepadanya.
" Belum, mereka benar-benar tidak mau menerima orang dengan seragam putih. Padahal diantara mereka ada satu teman dekatku, karena dia bangsawan sekarang dia tidak mau menolongku, hanya karena tidak mau mendapat hinaan dari teman barunya. " jelasnya, seorang teman dekat yang beberapa waktu sebelum masuk akademi dianya sangat akrab dengannya, sekarang justru menghindarinya demi tidak diremehkan oleh kaum bangsawan lainnya. Itulah yang membuat dirinya sedih.
" Sayangnya kelompokku sudah penuh, bagaimana jika kau me- " Ayatnya seketika menggantung ketika tak sengaja mereka berdua melihat cahaya dan sekaligus suara orang jatuh?.
BRUKKHH.....
" Ahhh.... " rintih perempuan tersebut.
" Si...siapa mereka berdua?. " tanya salah satu murid berseragam putih tersebut, setelah melihat dua orang baru saja muncul secara mendadak di hadapan mereka berdua.
Dua orang tersebut adalah Eldania dan satu orang asing lagi.
__ADS_1
Sebab beberapa waktu lalu Eldania terdorong oleh orang asing ini, akhirnya setelah perpindahan tempatnya itu, dia jatuh tersungkur ke atas jalan dalam posisi terlentang.
Namun sayangnya kali ini tubuhnya tertindih seseorang yang lantas membuat dirinya merasa terbebani dengan beban berat lebih dari 55 kg itu.
[ Akhirnya...aku malah lari dari pertarunganku. ] Pikir pria berambut perak ini, sedikit menyesali tindakan pengecutnya ini.
[ Sesak... ] masih memejamkan matanya, tapi tubuhnya tetap saja bereaksi, dan tahu bahwa seseorang baru saja menimpanya dengan suka hati.
" Eh..... " pikirannya kembali sadar saat telapak tangannya merasakan sesuatu yang sedikit licin. Namun sisi kesadaran lainnya adalah ketika tubuhnya menyadari sesuatu yang lain. [ Aku menindih seseorang?. ] Ia mengangkat tubuhnya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan.
" Uhh!. Apa kau puas sudah menindihku?. " Rintihnya dengan suara lirih lagi. Tubuhnya terasa sakit semua, tapi lumayan sebagai stimulasi harian, bahwa sakit memanglah seperti ini. " Kenapa kau seenaknya mendorongku?!. "
[ Huh?, rambut coklat?. ] hal pertama yang ia lihat tangannya ternyata menindih sebuah rambut yang berwarna coklat. " Aku hanya mencoba menyelamatkanmu. " Dan lantas laki-laki ini membalikkan paksa orang yang berada di bawahnya.
" Apa?!. " rutuk Eldania karena ada orang sembarangan menyentuh tubuhnya. " Aku bisa mengurus pohon itu, jadi aku tidak perlu diselamatkan. " Eldania kesal karena tidak jadi memotong pohon, gara-gara ada satu orang yang berhasil mendorongnya dan berteleportasi ke tempat lain.
" Neizel?. " panggilnya.
[ Neizel?, siapa lagi yang dia panggil itu?. ] dengan wajah datarnya Eldania terheran kenapa orang di attasnya itu malah memanggilnya Neizel.
Meskipun malas mendengar panggilan seseorang yang dikira dirinya ‘Neizel’ , namun jika melihat dengan seksama pria di hadapannya itu, Eldania akhirnya menyadari rupa dari orang ini.
[ Dia memiliki rambut perak dan.....] Kini akhirnya mata kedua orang ini saling bertembung. [ Dia punya iris mata biru juga. ] meski berwarna biru seperti lapis lazuli, tapi warna matanya jernih dan begitu memikat. ".............!, Lagi?!. " Ucap Eldania dengan sedikit lantang.
Mulutnya refleks berteriak seperti itu karena gara-gara orang yang ada di atasnya.
Lagi-lagi seorang laki-laki, padahal juga baru semalam menggendong laki-laki bernama Nathan itu, dan dua hari lalu si Azel. tapi kini ada lagi pertemuan semacam ini!.
" Dada mu.." dengan nada sedikit berbisik, dan tatapannya tetap tidak teralihkan dengan hal tersebut.
Eldania mengangkat salah satu alisnya, sedikit bertanya-tanya. " Apa?. Kenapa kau menatapku seperti itu?. " tanyanya kepada pria tersebut yang masih menatap ke arahnya.
" Kau sedang menyamar jadi wanita?. " tutur pria bersurai perak ini tanpa tahu malu.
[ Aku memang wanita, kenapa seolah aku menyamar menjadi seorang wanita?. Padahal aku sukanya menyamar jadi laki-laki. Pertanyaan aneh macam apa itu?. ] Pikir Eldania, ketika menemukan pertanyaan aneh lainnya dari pertanyaan pertama tadi.
" Wah....romantisnya?. Apa mereka sedang pamer kemesraan?. Aku jadi iri " melihat dua orang dalam posisi sangat dekat membuat para sepasang mata memandang mereka berdua.
[ ................!, ho~.......apakah begini rasanya?. ] Eldania menjeling ke arah sekitarnya, terus dilanjutkan dengan keberadaannya yang berada di posisi di bawah pria ini. Eldania menyadari situasinya sendiri saat ini. " Bukannya jika mau melakukan itu, harusnya di tempat lain?. " ucap Eldania secara tiba-tiba.
Kemudian kedua tangannya mendorong dada pria tersebut dengan pelan ke belakang, yang dimana tindakannya seolah menemukan sebuah makna lain yang tersirat dengan sangat dalam.
Itu bukan sebuah tolakan, tapi lanjutan dari tindakan yang seharusnya dilakukan.
Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Terutama wajah tercengang mereka semua yang melihat Eldania sedang mendorong pelan laki-laki berambut perak itu dengan tatapan menggodanya.
"...................!. " Tentu pria ini sadar dengan godaan dan perbuatannya itu, laki-laki ini segera buru-buru berdiri sedikit menjauh. " Apa kau sedang menggodaku setelah menyamar jadi perempuan?. "
Eldania tidak mengerti apa yang ada di otak orang itu sampai masih saja salah mengira bahwa dirinya adalah ‘ Neizel ‘
Kecuali ada satu hal yang tercetus di dalam pikirannya. Yaitu Eldania mirip dengan seseorang yang di panggil ‘ Neizel’ itu.
“ Kalau iya, kenapa?. Apakah sekarang kau sudah tergoda olehku?. “ Tanyanya lagi. Eldania pun mengusap pipi orang di depannya dengan manja, meski ekspresi wajah dari orang ini berubah menjadi serius.
“ Berhenti, kau membuatku merinding. “ pinta pemuda ini kepada Eldania dengan ekspresi melihatnya dengan rasa jijik sambil menepis tangan ramping itu dari wajahnya yang berharga.
Eldania yang masih menahan kesabarannya, kembali menjawab. " Ah~.......memangnya kenapa jika aku menyamar jadi perempuan?. " Tindakannya sekaligus sedang sengaja untuk mencoreng nama Neizel itu. " Apakah masalah?. " tambahnya lagi. ekspresinya langsung berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya. [ Ha~....sayang sekali, dia tidak menggunakan otaknya dengan benar. Masih menganggapkau sebagai orang yang dia kenal.
Dan dia bilang menyuruhku berhenti?.
Maksudnya itu menyuruhku berhenti menjadi perempuan?.
Yang benar saja. Jika aku berhenti jadi perempuan saat ini, maka apa artinya aku yang tergila-gila dengan semua laki-laki tampan?. Dia mau membuatku seorang gay?. ]
Menerima tatapan yang dingin dari orang yang dianggap kenal, pria berambut perak ini menjawab dengan ragu. “ T-tidak…..tapi ka-.. “
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ucapannya langsung dipotong oleh Eldania. “ Kalau tidak masalah, bukankah berarti aku terlihat cocok menjadi seorang perempuan?. “ tanya Eldania kepada laki-laki berambut perak itu sambil menyibak poninya dengan tangan kanannya sedikit ke belakang dan membuat rambutnya sesaat berkibar.
Dan jelas saja, pria berambut perak ini langsung memperhatikan Eldania dari atas sampai ke bawah. [ Sebentar….kenapa dia terlihat cocok dengan penampilannya?. Jangan-jangan saudaraku punya rahasia yang tidak aku ketahui, bahwa dia sebenarnya punya dua jenis kelamin?!. ] Batinnya.
Selagi masih memperhatikan Eldania yang masih dianggap sebagai Neizel yang dia kenal, sepersekian detik itu pula suara memilukan langsung terdengar dari bahu Eldania.
KREKK......
" Cih........." Eldania merintih sakit setelah memperbaiki sendi bagian bahu kirinya yang baru saja terkena dislokasi bahu.
"...................!, kau terkilir?!. " ketika hendak menggapai tangan Eldania yang dikira Neizel ini, dia langsung mendapatkan..
PLAKK........
Tangannya ditepis dengan keras.
" Jika bukan karenamu, aku tidak akan kena dislokasi bahu." Eldania memperingatkannya. Dia segera berdiri dan menatap dingin orang yang ada di depannya. Hingga tanpa sepatah katapun lagi, Eldania segera pergi menghindari orang ini dengan langkah lebarnya.
Sebuah perubahan 180 derajat. Awal yang menggoda berakhi dengan kebencian.
“ Tunggu Neizel!. “ Saat hendak mengekori orang yang dia kira Neizel, dia juga langsung mendapatkan penolakan keras.
“ Sebaiknya jangan mengikutiku. “ perintah Eldania dengan nada sedingin Es.
__ADS_1
Hanya saja dengan patuhnya, laki-laki bersurai perak ini langsung menuruti perintah itu dan tidak jadi mengikuti kepergiannya.
[ Meskipun aku sudah sering mendapatkan luka, tapi dislokasi bahu tetaplah menyakitkan.
Dan orang tadi, apa dia benar-benar bicara tanpa menggunakan otaknya?.
Aku……?, dikira menyamar jadi perempuan padahal aku sendiri perempuan tulen.
Padahal dia sendiri laki-laki, tapi tidak tahu ciri khas laki-laki itu seperti apa. Dasar….hanya modal tampang. ] Eldania bersumpah serapah lagi dalam hatinya.
___________
[ Bagaimana dia bisa lolos dari tempat itu?. Dari ekspresi dan tingkahnya, dia tidak menunjukkan kelainan seperti depresi atau apa pun itu. Apa yang sudah terjadi?. Aku harus melihat tempatnya. ] Pikir Millie dengan raut wajah berpikir keras.
Sebenarnya Millie sedang merasakan kecemasan setelah melihat keberadaan manusia rendahan itu bisa duduk di kelas dengan tenang seolah tidak terjadi apa pun.
Siapa lagi kalau bukan Eldania.
[ jIka dia baik-baik saja, kira-kira bagaimana dengan saudara kembarnya Ethan?. ] Millie mencoba berpikir kembali mengenai Nathan yang sudah dia jebak dalam permainannya dua hari yang lalu.
Maka dari itu, setelah jam mengajarnya selesai, dia pergi ke suatu tempat.
Langkah awalnya adalah, dia pulang ke rumah, dan di satu ruangan tersembunyi di dalam kamarnya terdapat tempat khusus lagi yang dimana lantainya dihiasi oleh pola dari lingkaran sihir teleportasi yang akan mengantarkannya ke satu tempat yang lain.
Setelah Millie berteleportasi, dia akhirnya sampai di depan sebuah pintu besi yang terlindung oleh sebuah sihir. Sebuah sihir penghalang yang fungsinya untuk menyamarkan keberadaan tempat ini dari orang lain.
Tempat yang dia tuju itu berada di satu pegunungan yang jauh dari Academy.
Setelah memperhatikan sekitarnya, Millie akhirnya merentangkan tangan kanannya ke depan, dan mulutnya pun merapalkan sebuah mantera. Hingga selesai mengucapkan mantra tersebut, kedua pintu besi yang dihiasi tanaman rambat itu pun perlahan terbuka.
Membuat udara dari dalam menyelinap keluar dan memberikan sensasi aroma batu dari sebuah debu yang khas, bahwa pintu itu lama tidak dibuka.
Millie mengambil langkah dengan pelan, menembus lorong ke bawah tanah yang awalnya gelap.
Tapi seketika lorong tersebut menjadi lebih terang selepas satu per satu obor yang menempel di dinding menyala secara berurutan.
Tidak sampai 30 meter, satu pintu besi menjadi penghalang langkahnya saat ini.
Millie hanya mengucapkan mantra singkat dan pintu besi itu lagi-lagi terbuka secara otomatis.
Setelah melewati pintu itu, akhirnya Millie pun sampai di tempat tujuannya. Tapi dalam seketika dia diam seperti patung dengan wajah tercengang.
" Apa-apan ini?!. " Millie hanya melihatnya sekilas, tapi cukup menyakitkan tubuhnya. [ Kenapa tempat ini bisa seterang ini?!. ] Harusnya tempatnya gelap, dan jika terang maka itu adalah karena obor yang menyala.
Tetapi, semuanya berbeda dari yang dibayangkan. Lantainya ternyata berlubang dengan suara air bawah tanah terdengar sangat jelas.
Lalu yang menjadi pusat perhatian adalah, bahwa ruangan luas dengan deretan pahatan pintu dari bawah sampai ke atas bagai menara.
Pahatan pintu yang menyimbolkan setiap roh iblis yang terkurung di sana, ruangan yang merupakan altar ini, yang harusnya terlihat suram dengan hawa dingin yang sangat menekan, sudah tidak ada lagi.
" Ah...!, bahaya!. " Millie segera mundur dengan cepat, alias segera keluar dari tempat itu sebelum cahaya terang yang menyilaukan itu melemahkan tubuhnya.
Jadi buru-buru Millie menutup pintu besi itu lagi.
Apa alasannya?.
Alasannya tentu saja sangat sederhana. Itu karena Millie adalah seorang iblis.
Jadi dia tidak bisa bertahan lama-lama di ruangan tersebut. Karena ruangan tersebut sudah terselimuti percikan batu yang mampu mengeluarkan cahaya suci.
Cahaya suci yang paling dia benci karena kekuatan itu adalah musuh alami dari iblis.
[ Kenapa harus jadi seperti ini?. Jika sudah seperti ini, aku tidak akan mendapatkan tambahan mana sihir lagi. ] Millie merutuki nasibnya sendiri dalam diam.
Demi mendapatkan kekuatan yang lebih besar, dia menggunakan cara berisiko untuk mendapatkan mana sihir. Dan caranya sebenarnya cukuplah sederhana. Iblis dapat meningkatkan energi sihir yang lebih banyak dari rasa takut korbannya.
Ketakutan, keputusasaan, dendam, semua itu adalah bahan utama yang menciptakan energi baru yang mampu meningkatkan energi sihir untuk iblis.
Dan salah satunya Millie.
Tapi apa yang diperbuat Millie sekarang ini adalah tindakan yang sudah di anggap ilegal.
Dengan kata lain Millie sudah melanggar aturan.
Kenapa?.
Karena metode seperti dilarang demi mencegah adanya penyalahgunaan kekuatan yang memungkinkan adanya perselisihan lebih lanjut, baik antara sesama iblis maupun dengan manusia.
" Hah...hah....hah...siapa yang bisa melakukan semua ini?!. " rutuk MIllie, dengan kesialannya. [ Mana mungkin anak itu bisa melakukan semua ini.
Aku ingat kalau manusia rendahan itu punya nilai ujian sihir paling rendah diantara murid lainnya, pasti ada yang membantunya keluar dengan aman seperti itu.
Apalagi cahaya suci tadi cukup membuatku kelelahan, dan membuat .pandanganku jadi sedikit kacau. Ah...sialan, karena seperti ini aku tidak bisa lanjut menggunakan metode itu untuk menambah kekuatanku.
Aku harus menyembuhkan mataku dulu. ]
Millie tidak bisa berbuat banyak, mau tak mau keluar dari istana tersembunyinya itu, tidak....itu sudah bukan lagi tempat rahasianya, karena sudah ternodai oleh cahaya suci, dan lagi pula.....Millie sudah tidak merasakan keberadaan akan roh iblis yang bersemayam disegel dalam sana.
Jadi sudah pasti………..
[ Sudah pasti, mereka semua musnah karena cahaya suci itu. ] MIllie, memantapkan pikirannya itu.
Tap............Tap..........Tap...........
__ADS_1
Millie akhirnya keluar dengan tangan kosong. Dia tidak mendapatkan apapun hari ini, dan justru dia kehilangan hal yang sudah dia miliki selama beberapa tahun ini. [ Aku akan membalasnya nanti. Tunggu saja. ]