
[ Kenapa dia menatapku tadi?. ] Setelah beberapa detik tadi mata mereka berdua saling bertemu satu sama lain, Eldania buru-buru mengalihkan tatapannya ke satu buah pedang yang dari awal masih belum tercabut itu.
Eldania berusaha fokus untuk kembali memfokuskan dirinya pada satu pedang yang dari awal tidak bisa dicabut dengan mudah ini.
Dia memandang pedang itu lagi dengan wajah seriusnya. Kali ini dia akan serius dengan hal yang ada di depan matanya dulu, itulah yang terpenting untuk saat ini.
Tangannya kembali memegang gagang dari pedang yang tertancap itu dengan perlahan.
Di awal percobaannya, sejujurnya Eldania menggunakan tenaganya saja tanpa menggunakan sihir penguatan. Tapi kali ini dia akan mencoba hal tersebut, karena merasa bahwa itu patut di coba.
[ Erhh....!. ] satu tujuan, dia harus ikut dalam turnamen itu demi mendapatkan nilai tambahan.
Memang, saat ini yang Eldania dapatkan adalah seragam putih pemilik dari status orang rendahan. Tapi dengan ini dia mencoba untuk berharap banyak. Eldania mencoba membuktikan bahwa sekalipun di pandang manusia rendahan hanya karena gara-gara warna seragam, bukan berarti bahwa jati dirinya ikut rendahan juga, atau bisa dibilang orang lemah yang berdiri di barisan paling belakang.
Dia akan membuktikannya semua pemikiran itu itu salah.
Memperlihatkan bahwa jika manusia seperti dirinya dipandang rendahan dan juga lemah oleh mereka para kaum bangsawan, itu sama artinya dengan mereka semua iri.
Eldania selalu memiliki sudut pandang tersendiri tentang itu. Yaitu mereka iri bahwa posisi lemah dari para pemakai seragam putih saat ini, suatu hari bisa melampaui mereka semua.
" Benar..." Eldania mulai menyemangati dirinya lagi dan kini dia pun sudah mulai mengaktifkan sihir penguatan.
Satu dua detik itu........
".....................!. "
Pedang itu berubah menjadi pedang berwarna hitam, dalam artian itu adalah pedang iblis.
" Kenapa baru berubah?. " Eldania bertanya heran dengan apa yang sedang dia lihat ini, sedang yang dia pilih rupanya adalah pedang iblis?!.
KRAKK........
"..............!. "
Semua orang segera mengalihkan pandangan mereka ke arah satu gadis yang baru saja membuat suara tadi.
Eldania berhasil menjadi pusat perhatian di dalam arena tersebut.
[ Ha...?!. Apa yang terjadi?. ] Eldania terheran dengan apa yang ada di tangannya saat ini.
Apakah ini lulus?, atau tidak?.
Dua pertanyaan segera muncul di dalam otak kecilnya.
_____________
" Ternyata aku salah meremehkanmu tadi, tapi hasilnya cukup memuaskan membuat mereka memasang wajah yang lucu. " Azel berkata demikian setelah melihat semua orang di kelas ini, membuat ekspresi terkejut secara serentak hanya karena baru melihat ada manusia yang berhasil mencabut pedang.
Tapi yang dicabut bukan pedang suci!.
Itu adalah pedang kaum mereka!, pedang Iblis!.
Dan tatapan mereka semua terhadap gadis di sebelahnya menjadi wakil kalimat mereka yang sama pula, yaitu..
' Bagaimana dia bisa melakukan itu?!. '
Semua orang mungkin hanya sedang memikirkan satu hal yang sama itu, namun lain hal dengan Eldania sendiri.
Dia sedang memikirkan hal yang berbeda dari mereka semua.
[ Kenapa dia masuk ke kelas ini juga?. ] Eldania membuat wajah berpikirnya. Dia sedang melihat pria berambut pirang itu sekarang ada di depan sana, berdiri bersama dengan Bu Millie.
" Apa kau mengenalnya?. " Tanya Azel, segera merubah topik pembicaraannya karena yang menjadi pusat di segala penjuru kelas hanya Eldania, tapi Eldania sendiri malah memusatkan matanya pada satu orang yang baru muncul itu.
" Entah. " Sebuah jawaban yang tidak pasti.
Eldania sendiri memang sedang tidak pasti dengan kenyataan ini. Bahwa aura dan aroma yang terakhir kali dia ingat saat dia tidak sengaja tidur di kamar Erich waktu itu, sebuah suara dari sapaan akan berbagai pertanyaan dan jawaban, lalu bayangan samar pertemuannya dengan seseorang di malam itu, semuanya terasa cocok dengan sosoknya saat ini.
" Hmmm…… " Matanya semakin mengernyit karena semakin keras berpikir.
" Silahkan perkenalkan dirimu. " pinta Millie kepada laki-laki tinggi, menawan, seperti bangsawan kelas atas.
" Aku akan singkat saja, namaku Lan Caster. " ketusnya.
Millie tercengang, kinj ada satu orang bangsawan dengan karakter sombongnya. Tapi memang seperti itulah kebanyakan bangsawan yang bersikap sombong dan percaya diri, jadi Millie hanya berusaha tetap bersikap memihak melindungi bangsawan dari para rakyat biasa.
" Ah...ya, Caster dia murid baru yang kemarin aku ceritakan. Tapi Caster...dengan kekuatanmu, kamu bisa menjadi ketua tim kan?. Beberapa hari lagi akan diadakan ujian tim, kau bisa menjadi ketua dari salah satu kelompok disini. " Tawar Millie kepada murid baru itu. Menawarkan kesempatan untuk murid baru ini, bahwa sebentar lagi juga ada sesi ujian lainnya yang mengharuskan mereka membuat sebuah tim.
" Aku, ketua tim mereka?. " Caster mulai menimbang-nimbang tawaran dari Bu Millie dengan melirik ke arah sekumpulan orang berseragam biru dan merah. " Aku menerima tawaranmu. " jawabnya, namun masih tidak percaya jika bergabung dengan kumpulan manusia bangsawan itu.
Lalu dia berjalan menuju kursi yang masih kosong, dan yang masih kosong ada diantara seragam putih.
[ Aku harusnya duduk memerintah orang, tapi sekarang malah mendengar ceramahnya.] Melihat Millie menjelaskan materi pelajaran, Caster hanya bisa menahan kebosanan di kelas, kebetulan di barisan paling belakang ada orang yang menarik perhatiannya jadi tak masalah untuk duduk santai selama empat jam ke depan. "..............."
Mendengar pembelajaran di kelas, buat sebagian besar murid adalah hal yang sangat membosankan, namun di antara mereka itu ada juga yang menyukainya karena menambah wawasannya.
Salah satunya Rael, iblis ini senantiasa mendengarkan apa yang dijelaskan gurunya, entah siapapun itu ia tetap menyimaknya dengan baik.
Rael adalah iblis ber status bangsawan, dia salah satu klan iblis berdarah murni jadi tentu saja banyak yang menghormatinya. Selain cantik, juga.....
" Aku akan jadi ketua tim, jika ada yang mau ikut tim aku silahkan. " juga arogan. Dialah Rael Eurare.
__ADS_1
" Kapan ujian kompetisi tim selanjutnya?. " tanya Azel kepada Eldania di sebelahnya..
" 2 hari lagi. " jawab Eldania singkat.
Ujian kompetisi yang diadakan secara berkelompok, karena banyaknya tim yang bertanding, maka setiap kelas sudah diberikan jadwalnya masing-masing.
" Cukup mepet dengan turnamen pedang. " mengingat, turnamen pedang di adakan 1 minggu lagi.
" Apa kau mau buat tim juga?. "
" Tentu saja. " sambil menyangga kepalanya, Azel memperhatikan mereka semua yang sedang mengerumuni tim nya Caster, dan Rael. " Jika mau masuk salah satu tim mereka, silahkan. "
" Jika aku bergabung dengan mereka, kau sendirian. Bukan tim namanya jika hanya ada satu orang sebagai ketua tanpa bawahan. " Lugas Dania, jadi dengan begitu dirinya ikut tim nya Azel.
" Benar, jadi kau mau menjadi bawahanku?. " jawab Azel dengan singkat.
Eldania sedikit memiringkan kepalanya sambil melirik ke arah Azel. " Hanya sekedar bawahan, bagiku tidak masalah. "
______________
Keesokan harinya.
" Hei....., manusia rendah, kau sudah menumpahkan minumanmu pada bajuku!. " tuturnya, mencibir manusia yang baru saja bertabrakan dengan dirinya.
" Ma..maaf, aku tidak sengaja. " jawabnya dengan perasaan gugup dan bersalah yang besar, karena tidak sengaja minuman yang dibawa sudah tumpah dan mengotori baju milik murid lain.
Perempuan ini menunduk sambil berkata " Kalau mau minta maaf, maka kau harus membersihkan bajuku. " Dengan jari telunjuknya digunakan untuk mengangkat dagu manusia yang sedang terduduk di lantai " Apa lagi, sepatuku. " sambungnya lagi, sepatu yang dikenakannya langsung dihadapkan dia daratkan ke atas pangkuan perempuan itu.
TAP.....
TAP......
TAP.......
" Ho~.., pertengkaran sepele. Kalian benar-benar memperburuk pemandangan tempat aku berjalan. "
Satu suara sindirian itu lantas memperkejut mereka berdua.
Wanita ini merasa terpancing dengan ucapan seseorang yang ada di belakangnya. Jadi ia segera memutar tubuhnya ke belakang sambil berbicara.
" Kau tidak usah ikut ca- " Kalimatnya terpotong ketika mendapatkan orang yang baru dilihatnya ternyata memiliki aura yang bersinar.
" Aku tidak akan ikut campur dalam urusan kalian. Karena aku memiliki urusan yang lebih penting daripada menyingkirkan kerikil kecil yang tergeletak di atas lantai. " Dan Caster pun berjalan melewati mereka berdua, di mana kedua wanita yang awalnya bertengkar jadi kehilangan mood melanjutkan pertengkarannya.
" Bukankah dia keren?. " ekspresinya segera berubah dengan aura bahagianya, dia tersenyum lebar ditambah dengan sorotan mata penuh minat.
" Ya...ya... " jawab wanita berdarah manusia dengan polosnya. Gadis ini pun ikut terpesona dengannya dan mengabaikan amarah dari gadis iblis ini.
" Ma..maaf kan saya, saya akan segera mem- " saat hendak menyentuh sepatu itu, tangannya segera di tepis dengan kaki.
" Tidak usah, sana....jangan sampai aku melihat wajahmu lagi. " sarkas perempuan ini pada manusia barusan.
" Ba...baiklah. " gadis ini pun mencoba berdiri, lalu mengambil botol air yang dibawanya dan bergegas pergi dari hadapannya.
_____________
Dari luar terlihat dua orang pria, yang satu berambut silver dan satunya lagi dengan warna coklat.
Jika dilihat dari pandangan orang awam, mereka seperti teman dekat atau kerabat dekat sebab memiliki perawakan yang sama, hanya saja ada satu perbedaan diantara mereka yaitu warna mata.
Pria berambut perak memiliki warna mata biru cerah, sedangkan yang satunya lagi berwarna kuning.
" Bagaimana pendapatmu dengan apa yang aku ceritakan beberapa hari lalu?. " tanya laki-laki berambut silver ini.
" Bagaimana?, aku tidak mau membahas itu untuk sekarang. Dua hari lagi tim aku akan bertanding, jadi jangan tanya pertanyaan konyol. " Jawab pria bersurai coklat dengan dingin. Dia tidak ada keinginan untuk mencari tahu ataupun tertarik dengan cerita dari laki-laki di sebelahnya itu.
" Neizel!. "
Si empu tidak menghiraukan panggilan laki-laki bersurai perak, dan pemilik dari nama Neizel pun tetap melangkahkan kakinya meninggalkan orang tersebut.
[ Dia tetap tidak mau mendengarkanku. Dasar keras kepala. ] batinnya, melihat kelakukan Neizel yang tak acuh.
" Arden!. "
Yang dipanggil Arden pun langsung menoleh ke belakang, dia menghampiri Arden dengan wajah letih seperti sedang di kejar hantu.
" Kenapa wajahmu kelihatan memprihatinkan?. " tanya Arden pemilik rambut perak dengan iris mata biru ini kepada temannya yang baru saja berlari ke arahnya dengan penampilan yang sedikit berantakan.
" Jangan membuat wajah menyindir!. Tentu saja karena gara-gara mencarimu. " jawab remaja bersurai biru tua, kepada Arden dengan mata terbelalak, jeri payahnya mencari Arden akhirnya membuahkan hasil, walau harus berusaha keras demi mencari laki-laki ini.
" Iya~, jadi kenapa mencariku sampai seperti ini?. " Arden melirik tampilan temannya yang kelihatan lusuh itu.
" Aku......pinjam uangmu, dua hari lagi aku kembalikan. " sambil tersengih, alias tersenyum tawar. Tujuannya mencari laki-laki bernama Arden ini, tidak lain adalah untuk meminjam sejumlah uang untuk keperluannya yang mendesak.
Arden mengangkat salah satu alisnya tidak percaya. " Ha?, kau mencari ku sampai seperti ini demi meminjam uang kepadaku?. " Arden merasa tak masuk akal dengan tingkah temannya ini yang tidak tahu malu. Mencari dirinya hanya karena butuh uang?.
" Uangku hilang di tengah jalan, padahal...padahal....aku mau mengajak kencan pacarku siang ini!. " Remaja ini sengaja membuat muka memelas kepada Arden agar mau meminjamkannya uang, demi kencan tak berpenghalang ia sampai rela memohon-mohon pada saudagar kaya ini, yaitu Arden.
Terlihat jelas, Arden jadi terpojok di tengah situasi dimana banyak orang mulai memandang mereka berdua.
" Aku bukan brankas mu, setidaknya lepaskan pelukanmu ini. " pintanya lagi, melihat tangan kanannya masih saja dipeluk oleh teman tak bertanggung jawab itu.
__ADS_1
" Ma..maaf. " langsung beranjak dua langkah ke belakang dari tempatnya tadi.
Arden menghela nafas pelan, ia merogoh saku jas nya dan memberikan kantong kecil berisi 10 keping emas kepada sahabatnya itu. " Tidak usah dikembalikan, aku tidak semiskin yang kamu kira sampai menagih hutang padamu. "
TRING...
Bunyi logam mulia itu membuat suasana hatinya menjadi senang lagi. " Aku tahu kok, tapi aku akan membalas jasa mu ini lain hari. "
" Aku akan menunggu hari itu. " jawab Arden, melihat kepergian temannya itu, setelah memberikan uang pada sahabatnya tadi akhirnya bisa merasa damai. Ketika hendak memejamkan mata untuk kata ‘damai’ , ia tiba-tiba dia ingat akan satu hal lagi. " Hahh..... " menepuk kepalanya sendiri sambil berkata. " Aku masih ada hutang bersalah dengan gadis itu."
Kesalahan membuat orang lain terluka dan bertindak tak tahu malu. Itulah masalah Arden saat ini, selepas membuat kesalahpahaman dengan orang yang Arden kira adalah Neizel yang sedang berpura-pura menjadi seorang perempuan.
[ Dimana aku bisa bertemu dengannya lagi?. ] PIkir Arden.
_________________
“ Kemana wanita itu pergi?. “ Caster celingukan. Selagi berkeliling , dia sebenarnya sedang mencari keberadaan Eldania yang langsung menghilang setelah bel istirahat berbunyi.
“ Walah...walah. LIhat ini, ada manusia rendahan yang tadi membuat gempar seluruh kelas, karena berhasil mencabut pedang iblis. “
“ Hihihi….aku kira manusia itu dari kalangan bangsawan, ternyata dari rakyat jelata. Ditambah…. warna matanya itu, bukannya sangat hina?. “
“ Ya...kau pasti anak haram yang dirumorkan selama ini. “
[ Pemandangan yang tidak terduga. ] Caster berhasil menemukan sekumpulan iblis yang sedang mengelilingi orang yang sedang Caster cari.
Eldania, dia sedang menjadi bahan pembicaraan para iblis yang ada di sekitarnya.
“ Apa?!. Kenapa kau menatapku seperti itu?!. “ wanita dari klan iblis ini marah, karena di tatap oleh Eldania.
“ Bukannya lebih bagus kita congkel saja itu mata?. “ temannya menyarankan pendapatnya.
“ Mau mencongkel?. “ Kini Eldania mulai menanggapi ucapan mereka dengan lebih serius setelah keterdiamannya beberapa saat. “ Hanya……..” Eldania berjalan mendekat pada ketiga wanita iblis ini. “ Karena mataku berwarna merah?. “ tanya Eldania.
Padahal Eldania hanya berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. Tapi ketiga iblis itu justru secara tidak sadar berjalan mundur seiring Eldania berjalan ke depan.
“ K-kau mau apa?. “ tanyanya, dengan nada gagap.
TAP……...TAP……….TAP………
“ ………………… “ Eldania menatap mereka bertiga secara bergantian dan kembali berkata. “ Jika karena merasa terganggu karena mataku ini, kenapa bukan mata kalian saja yang dicongkel. Kan kalian sendiri yang merasa terganggu dengan ini. “ Jari telunjuk tangan kanannya menunjuk matanya sendiri.
“ Kau sedang mengancam kami?. “ akhirnya salah satu diantara mereka bertiga berani bertanya. Sorotan matanya yang berani itu menatap bengis Eldania yang menatapnya dengan tatapan dingin.
“ Bukan. “ Eldania langsung berbalik memunggungi mereka bertiga. “ Itu bukan ancaman. Tapi memberitahu solusi terbaik, karena kalian sendiri yang mengancamku duluan. “
“ Itu sama saja-…… “ merasa terhina dengan kepergiannya, Iblis ini langsung pergi secepat yang dia bisa untuk menyerang Eldania dengan sebilah pedang yang dia bawa itu.
SYUHHT……..
Eldania yang merasakan adanya kehadiran seseorang di belakangnya, dengan kecepatan yang masih mampu Eldania baca itu, dia langsung berbalik dan sedikit menghindari pedang yang hampir menyapa wajahnya itu.
Dengan wajah datarnya, Eldania pun kemudian segera menangkap tangan kanan iblis ini dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya Eldania gunakan untuk merangkul pinggang wanita tersebut.
Dan hasilnya…..
KLONTANG……..
Pedang yang dipegang oleh wanita Iblis itu seketika terjatuh dari tangannya, tepat saat dia menyadari posisinya sendiri yang sekarang ini justru terasa ambigu.
“ Wah….., kau sangat tidak sabaran sekali. “ bisik Eldania kepada iblis yang sedang dia peluk itu.
Tangan kirinya berusaha melepaskan rangkulan dari tangan Eldania yang masih melingkar di pinggangnya. Tapi usahanya sia-sia, karena cukup kuat.
“ Lepaskan. “
“ Kenapa aku harus melepaskanmu?. “ Dengan sedikit menunduk, dia kembali berbisik, tapi kali ini mulutnya sedikit lebih dekat dengan telinga wanita dari klan iblis itu. “ Tiba-tiba datang menghinaku. Bukankah artinya kau ingin lebih dekat denganku?. “ ucap Eldania dengan nada suara yang sedikit diubah, jadi suaranya terdengar seperti laki-laki yang menggoda.
Suara laki-laki dengan suara yang berat, yang terdengar seperti godaan untuknya.
“ …………..!. “ Wanita ini langsung tercekat kaget dengan perubahan suara yang terdengar rendah tapi cukup maskulin. Membuatnya seketika itu segera mendorong tubuh Eldania dengan tangan kirinya dengan sedikit kasar.
Tapi sebelum di dorong kasar oleh wanita iblis ini, Eldania segera melepaskan pelukannya.
“ A-apa?. “
“ Hei...itu. “
Para pasang mata yang tidak sengaja melihat pemandangan itu juga-juga sama terkejut. Setelah melihat seorang wanita-memeluk wanita dengan gaya yang cukup terlihat romantis.
Adegan yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka. Karena ada yang mampu menanggapi hinaan tadi menjadi adegan menarik.
“ Dia mampu merubah keadaan. “ ucap laki-laki dengan seragam berwarna merah, setelah melihat kejadian tersebut.
“ Walaupun dia manusia, kenapa ekspresinya bisa sekeren itu?. Apa dia benar-benar seorang perempuan?. “ seorang iblis dengan seragam putih, bergumam dengan sebuah pujian yang keluar dari mulutnya. Dia sama-sama terpana dengan apa yang baru saja dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Perasaan campur aduk kembali menghantui wanita iblis ini, setelah mendapatkan pelukan tidak terduga dari Eldania.
“ Awas saja..” dengan tatapan sengit, wanita iblis ini mengambil pedang yang tadi jatuh ke lantai, kemudian berjalan pergi untuk menghindari berbagai ucapan yang tidak mengenakkan di telinganya. “ Ayo…, kita pergi.” wanita ini memerintah kedua temannya untuk ikut pergi juga dari sana.
Di satu sisi, Caster yang sedang bersandar ke dinding yang kebetulan terhalang oleh sebuah tiang yang besar, tiba-tiba tersenyum tipis.
__ADS_1
[ Dia selalu bisa mengatasinya dengan mudah. ] Pikir Caster, setelah melihat cara Eldania mengatasi orang-orang yang mengganggunya tadi, cukuplah mengesankan.