
“ KKHAK….!. “
Suara bersin itu langsung mengganggu Eldania yang sedang tertidur. Dengan mata masih mamai, Eldania melirik ke sebelah kanan. “ Ehmm……, ternyata burung sepertimu bisa bersin juga. “ gumam Eldania kepada Everst yang baru saja bersin di dalam pelukannya. “ Kelihatannya…...ada yang tidak menyukaimu, tuh. “ ucap Eldania dengan selamba.
[ Bukan ada, tapi memang ada banyak. ] Everst menatap datar apa yang ada di depannya. Matanya benar-benar disambut oleh leher jenjang yang terlihat menawan itu.
“ Nona Eld…..apa anda sudah bangun?. “ Di luar tenda, Evan sedang berdiri menunggu.
“ ………?, iya. “ Eldania yang hendak memejamkan matanya lagi untuk melanjutkan tidurnya, langsung mengurungkan niatnya itu karena ada tamu malam-malam. “ Masuk saja. “
Dengan polosnya, Evan menerima ajakan untuk masuk. Jadi Evan pun masuk begitu saja. “ Kebetulan ada yang ingin saya berikan pada anda. Kalau begitu saya masuk. “ Dengan sopan, Evan sedikit menundukkan kepalanya saat melewati pintu tenda, sambil mengucapkan. “ Permisi. “
“ Jadi apa barang yang ingin kamu berikan?. “ Tanya Eldania dengan tiba-tiba tepat saat Evan baru saja mengambil dua langkah masuk.
“ .............?!. “ Evan yang sedikit menahan keterkejutannya itu, langsung dibuat menoleh ke samping kiri sambil menjawab. “ Saya hanya ingin memberikan ini kepada anda. “ Menyodorkan selembar kertas ke Eldania.
“ Apa ini?. “ Eldania langsung menerima gulungan kertas itu dan langsung membacanya.
“..................!. “ Evan yang baru sadar dengan apa yang dilihatnya saat ini ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh Eldania cukup minim, saat itu juga Evan langsung memunggungi gadis itu dan berkata. “ Sebaiknya kenakan pakaian anda dulu. “
“ Apa?. Bukannya aku sudah memakai pakaianku?. “ jawab Eldania tanpa melihat lawan bicaranya. Karena ada yang lebih menarik dari sekedar membahas pakaian yang sedang dikenakannya, yaitu membaca suratnya. [ Memangnya aku sedang telanjang apa?. Tapi ini menarik….. kenapa orang itu memberikanku uang sebanyak ini?. ] Matanya terbuka lebar saat melihat adanya banyak angka nol di belakang angka empat di tengah-tengah banyaknya kalimat yang tertera di surat tersebut.
" Tapi itu seperti pakaian dal-..... " Evan langsung menghentikan mulutnya untuk berbicara lebih.
" Ini memang dalaman, tapi bukan pakaian dalam juga. " jawab Eldania sekali lagi dengan nada selamba. " Hei Everst…..lihatlah….. " Dengan wajah sumringah, Eldania memanggil namanya dengan senang.
Everst segera terbang dan mendarat di bahu Dania. Kepalanya kemudian menilik selembar kertas yang dia lihat di depannya.
" Bukankah disini banyak angka nol?. " ucap Dania sambil merentangkan kedua tangannya ke depan sambil menjembreng lebar-lebar kertas yang dipegangnya itu.
" Kelihatannya begitu. Tapi apa kau terlihat bangga dengan uang sedikit itu?. " tanyanya.
__ADS_1
" Hmm!. Karena uang tetaplah uang. Kau tidak bisa menikmati hidup tanpa uang, kan?." jawab Eldania dengan menggunakan pikirannya.
Memang, tanpa uang pun Eldania bisa hidup. Tapi uang adalah objek yang membuatnya dapat menikmati hidupnya lebih mewah. Jadi tidak masalah apakah itu sedikit atau banyak, karena sekarang ia bisa mendapatkan sejumlah uang untuk ia kumpulkan.
Maka dari itu, dia tidak peduli dengan kata sedikit yang diucapkan oleh Everst. Karena ada satu kebanggaan tersendiri, uang yang Dania peroleh adalah hasil kerja kerasnya sendiri.
" Kenapa ada banyak angka nol?. Yang aku ingat, pekerjaan sebagai prajurit bayaran dan ditambah pekerjaanku yang satunya lagi, paling tidak hanya 3000 koin emas. Tapi ini……, 40 juta?. " matanya seketika mengernyit. Dia mencoba mengoreksi kembali berapa banyak nol yang tertera di atas kertas.
Eldania merasa tidak ada masalah dengan penglihatannya, tapi itu benar-benar empat puluh juta!.
" Bukannya anda sudah mengerjakan pekerjaan paling penting dari masalah kami yang tidak kunjung selesai selama bertahun-tahun ini?. " jawab Evan, masih memunggungi Eldania karena tetap berusaha untuk menjaga sopan santunnya sebagai laki-laki.
" Maksudmu tentang makhluk besar itu?. Durandal?. "
" Benar. Jika bukan karena anda, sampai detik ini pun kami pasti masih harus membasmi para monster sampai kewalahan. Ditambah lagi, sekarang sudah tidak banyak prajurit bayaran yang mau menerima tawaran dari tuan duke, mau seberapa banyak tawaran yang sudah kami berikan. “
[ Pertanyaanku tadi sebenarnya hanyalah formalitas belaka, karena aku sudah tahu akan dibayar banyak. Tapi siapa yang menyangka akan sebanyak ini!?. ] dalam hatinya dia menang besar.
Selagi mengumbar senyum untuk dirinya sendiri, diam-diam Evan melirik ke belakang. Melihat kedua tangan Dania yang benar-benar telanjang sampai memperlihatkan bahunya, perutnya juga turut terlihat, dan juga celana pendek di atas lutut yang Evan kira itu adalah ****** *****.
Tapi…….
".............. " Evan melihat kedua lengan gadis itu terbungkus dengan perban.
" Sir Evan, tuanmu itu tidak salah tulis angka kan?. "
" Apa anda tidak percaya dengan yang apa sudah tertulis di surat?. "
" Bukan begitu….. " Dania kemudian melipat kertas tersebut menjadi lipatan kecil, dan menyimpannya di dalam saku celana pendek yang dipakainya. " Aku hanya mengkonfirmasi pertanyaanku ini. "
__ADS_1
Evan kembali memunggunginya dan menjawab. " Itu benar, karena anda sudah berkontribusi besar, jumlah itu adalah imbalan yang pantas untuk anda dapatkan. " Kemudian Evan menambahkan. " Tapi ada satu hal yang ingin saya tanyakan sebelum saya pergi. "
" Apa itu?. "
" Saya sebenarnya penasaran dari dulu, kenapa anda bicara santai kepada kami semua?. "
[ Apa?!. Kenapa dia malah tanya pertanyaan seperti itu?. Bukan kenapa aku punya burung yang bisa berubah jadi besar, atau kenapa aku punya banyak keahlian, atau bisa juga, kenapa aku pintar memasak makanan yang tidak pernah mereka makan. ] dan tanpa pikir panjang, Eldania segera menjawab. " Ehm...itu, yang pertama di tempatku aku sudah terbiasa dengan cara bicaraku ini, yang kedua karena wajah kalian terlihat muda dari umur kalian sebenarnya, itu juga salah satu pemicu caraku berinteraksi pada kalian. Juga…...bagiku bicara formal itu, bukannya sangat melelahkan?. "
" Hm..anda terlalu jujur. "
[ Bukannya kau ingin aku menjawab jujur?!. ] perempatan siku di dahinya langsung muncul.
" Lalu...seperti yang nona katakan petang tadi soal ksatria Arga. Dia sudah menunggu anda di depan. Saya tidak akan ikut campur dalam pembicaraan kalian, jadi selamat malam dan semoga perjalanan anda besok lancar sampai tujuan.“ Evan pun berjalan keluar tanpa menatap lawan bicaranya yang tidak diberi kesempatan untuk menjawab ucapan selamat malamnya itu.
“ Ya...selamat malam. “ Eldania menjawab dengan tatapan datar. “ Kenapa dengan orang itu?. Dia terlihat buru-buru. “
“ Apa kau tidak mengerti. Pakaianmu saat ini merusak idealisme orang itu. “ jawab Everst. “ Jadi ada baiknya pakai pakaianmu sekarang. ;
“ Ha..?. Kenapa hari ini kau menjadi burung yang cerewet?. Suka-suka aku mau pakai apa, aku punya hak sendiri menentukan pakaianku. “ Eldania langsung membalas ucapannya Everst dengan tegas.
Tapi karena itulah, Eldania ketika mendapatkan hadiah dari Everst.
TEPLAK…
“ Ahw…” rintih Eldnia, saat kepalanya dipukul oleh Everst dengan sayapnya itu.
“ Kenapa kau tidak patuh?. Ini demi kebaikanmu. “ kata Everst dengan tegas. [ Juga demi kebaikanku. ] dan Everst menjeling tajam ke arah dibalik pintu tenda. Disana benar-benar ada seseorang yang sedang berdiri untuk menunggu Dania.
[ Dia memukul kepalaku dengan keras?!. Apa dia balas dendam karena aku memukul kepalanya tadi?. Tapi aku hanya memukulnya dengan ringan, tapi dia….. ] Eldania masih menjeling Everst dengan tajam karena masih tidak puas hati dengan tindakannya barusan.
“ Apa kau tidak mendengarkanku?. Pakai pakaianmu se.ka.rang. “ ucap Everst dengan penuh penekanan.
__ADS_1
“ Iya..iya...dasar berisik. “ gumam Eldania mengutuk, tidak suka dengan semua yang dilakukan Everst hari ini kepadanya.
Tapi meski tidak suka, pada akhirnya Eldania menuruti ucapannya. Meski hati dan pikirannya masih merasakan kesal dan jengkel, anehnya Eldania menyadari kalau tubuhnya secara naluriah malah menuruti ucapannya begitu saja.