Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
52 : Eldania


__ADS_3

Setelah masuk melewati gerbang utama pulau Manisphure, gadis ini terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan. 


Dia berjalan dalam diam. 


Sebuah keheningan dimana tidak ada pembicaraan diantara mereka bertiga. Yaitu Eldania, Everst, dan si burung hantu bernama Ownel.


Ownel tidak peduli dengan keheningan itu, tapi tidak dengan Everst yang tidak tahan dengan suasana itu.


“ Apa kau sedang memikirkan perkataan mereka tadi?. “ Tanya Everst berusaha memecah keheningan di antara mereka.


“ Tidak. Aku lebih memikirkan tentang, bagaimana aku bisa mencabut bulu sampai seperti ini. Lihat ini...ada darah disini. “ Eldania memperlihatkan sehelai bulu yang dia pegang kepada Everst. Ada beberapa tetes darah yang masih tertinggal di bulu itu. “ Coba sini aku periksa. “


Saat Eldania hendak melihat bagian mana dari tubuh Everst yang terluka, Everst justru menepis tangan itu dengan sedikit kasar. 


“.................!. “ Eldania yang tahu akan kesalahannya sendiri itu, tidak akan memaksa Everst untuk memperlihatkan luka dari bulu bagian mana yang sudah tercabut itu. Jadi dia memutuskan untuk diam. 


Everst melirik perempuan yang kini kembali terdiam. Dia melihat ekspresi dari wajah Eldania yang cukup datar. Ekspresi wajah dari orang yang terlihat sedang banyak pikiran. 


_______________


“ Tiga…...kau merasakannya juga kan?. “ 


Iblis yang dipanggil dengan sebutan tiga pun menoleh ke belakang setelah berhasil memeras seragamnya dari air laut, yang beberapa waktu lalu di buang oleh Everst. “ Kenapa tuan bertanya?. “ tanya iblis ini kepada sang ketua yang terlihat masih memiliki rasa penasaran terhadap manusia tadi.


Setelah kepergian Eldania dari tempat mereka. kelima iblis bersaudara itu langsung kembali melakukan pekerjaannya masing-masing. 


Karena alasan untuk memudah penyebutan dari lima iblis bersaudara itu, maka mereka memutuskan untuk memanggilnya dalam penyebutan nomor.


“ Jawab saja pertanyaanku tadi. “ perintah sang ketua kepada Tiga dengan sedikit ketus. 


Tiga menghela nafas pelan dan kemudian menjawab. “ Ya. Aku merasakan aroma unik dari perempuan itu. Kalau di perumpamakan, itu seperti buah cherry yang diberi saus coklat dengan campuran setetes darah. Bahkan untuk yang sudah menyadari aromanya, itu masih cukup samar. “ Mencoba mengingat kembali saat dimana wajahnya beberapa waktu lalu di sapa oleh rambut manusia untuk pertama kalinya.


Namun lain hal dengan satu iblis yang ini. 


“...............!. “ Iblis ini langsung membekap mulutnya sendiri saat mengingat kembali aroma yang dia rasakan saat mencium aroma dari undangan milik Eldania beberapa saat lalu.


“ Tuan…..mata anda… “ Tiga segera menutup mulutnya sendiri saat hendak membahas mata milik ketuanya terlihat bersinar untuk beberapa detik tadi.


“ Rahasiakan apa yang kau lihat barusan. “ ucapnya dengan nada memerintah dan langsung berlalu pergi dari sana. [ Padahal selama ini aku tidak pernah terganggu dengan aroma manusia. 


Tapi yang tadi itu, aku benar-benar bereaksi dengan aromanya. Kapan terakhir kalinya aku merasa terangsang dengan aroma manusia yang punya aroma sama seperti ini?. 


Ahhh~........ ] Iblis ini semakin berwajah serius, yang kemudian bergumam lirih. “ Aku jadi menginginkannya. ………….!, cih...sial. “


Segera tersadar dari hasr*t yang timbul dari lubuk hati dan pikirannya, iblis ini langsung mengambil satu botol kecil berwarna ungu yang tersimpan di dalam saku celananya. Dia segera membuka dan meminum cairan berwarna ungu pekat itu dalam dua kali tegukan.


“ Hah…..hah….., gawat. Pikiranku kacau karena ulahku sendiri yang mencium aroma itu meski dari undangannya saja. “ Iblis ini pun mengutuk dirinya sendiri. [ Untung saja aku selalu membawa obat penangkalnya. Jika telat sedikit, aku pasti akan memburunya sampai dapat. ] dan mulut itu kian mengembang menjadi senyuman yang akhirnya berubah menjadi tawa yang hebat. “ Hahahaha……”


“ ………………….” Ke lima iblis kembar ini saling pandang satu sama lain setelah mendengar gelak tawa yang menggelegar dari ketua nya. 


“ Jangan karena baumu itu, membuatku kehilangan kontrol manusia!. Ahahaha….aku tidak akan terpengaruh sedikitpun denganmu itu!. Aku akan menjaga prinsipku ini!. “ teriaknya lagi dengan tawa yang masih terdengar keras. 


“ ………..?. “


“ Ada apa dengan ketua?. “ kata iblis kedua.

__ADS_1


“ Akhirnya tuan bertingkah gila. “ tutur iblis ketiga.


“ Pasti gara-gara pekerjaannya. “ ucap iblis ke empat.


Sedangkan iblis yang ke lima hanya diam membisu sambil menyebut [ Lapar. ] di dalam hatinya. 


_____________


Langit Dilshade menjadi muram setelah beberapa saat lalu terang benderang. Warna kelabu dari gulungan awan yang mengkilap oleh sambaran kilat di baliknya perlahan bergerak menuju tenggara dan membuat para pejalan kaki bersiap menghadapi hujan dengan mencari tempat berteduh atau mempercepat langkahnya untuk mencapai tempat tujuannya.


Pemandangan cakrawala hari itu tidak lebih dari kanvas raksasa yang dihiasi dengan berbagai jenis warna kelabu dengan sedikit titik warna lain yang berasal dari lampu-lampu kecil yang menghiasi kota Dilshade.


Sudah bukan pertama kalinya Eldania merasakan sensasi adrenalin ketika berada di atas burung untuk mencapai suatu tempat dengan cepat tapi juga bisa sembari menikmati pemandangan di bawahnya.


Mantel yang dipakainya membuat nampak si pemakainya terlihat mungil, lalu helaian rambut berwarna aram-temaram yang begitu mencolok diantara pemandangan hitam-putih di sekitarnya bergerak kasar saat terbawa hembusan angin berbau air hujan yang datangnya dari belakang sana.


Dengan dipandu burung kecil abu-abu yaitu Ownel, perjalanannya selama seminggu hari lebih akhirnya membuahkan hasil.


Eldania menghembuskan uap air dari mulutnya akibat suhu dingin sambil menatap langit yang memiliki percampuran ungu, jingga, dan kelabu. Angin yang berhembus mengenai wajahnya dan membuat setiap helai rambut menari.


" Hah..! "


Tangannya masuk ke dalam saku mantel yang ia pakai, lalu dia mengeluarkan satu bungkus permen dan kemudian memakannya.


Dia mencoba menenangkan pikirannya dengan memakan makanan manis. Karena itu adalah solusi terbaiknya saat ini, seperti itulah pendapatnya agar bisa lebih santai.


" Kota Dilshade sudah terlihat. " 


Itulah yang dia dengar dari burung hantu kecil itu.


Eldania yang mendengarnya pun sedang tidak ingin menanggapinya, sehingga tanpa tanya lagi apa alasannya, Eldania pun melompat dari burung yang sudah membawanya sampai sejauh ini.


Entah kenapa, Eldania merasa kalau burung berbalut bulu berwarna coklat ini terkadang jadi terlihat asing dan tidak seperti dulu.


Apakah karena efek antara kontraknya membuat burung itu jadi berubah dengan sifat seperti manusia atau apa, Eldania sendiri tidak tahu.


Selama bisa diajak kerjasama untuk membantu ketika di situasi darurat, dia tidak mempermasalahkan semua hal yang disembunyikan oleh Everst. 


Karena pada akhirnya, hubungan yang dijalin dengan burung itu adalah demi keuntungan belaka.


" Anda harus melewati pintu gerbang utama dan baru masuk ke academy. Karena tugas saya sudah selesai, saya tinggal. " ucap Ownel sebelum akhirnya pergi.


Langkah terakhirnya akhirnya, langsung melompat dari ketinggian dan berhasil mendarat dengan sempurna di permukaan tanah dengan karpet berupa rumput hijau itu.


" Hahh... " menghela nafasnya lega.


Degupan jantungnya sendiri pun sangat terasa. Perjalanan lama yang membutuhkan waktu dan tenaga akhirnya membuahkan hasil.


Hanya tinggal 100 meter lagi, itulah gerbang utama keluar masuknya manusia dari dan ke dalam kota Dilshade.


Tidak ingin menunggunya terlalu lama lagi, Eldania berjalan ke depan dan menghadapi para penjaga pintu untuk memverifikasi identitas untuk di data siapa yang akan masuk.


Karena memperlihatkan surat serta undangan kepada mereka, ia pun dipersilahkan masuk.


" ................. " 

__ADS_1


Pemandangannya tidak jauh berbeda dari rumah penduduk pada umumnya. berjejer rapi membentuk barisan mengelilingi pusat kota, yaitu sebuah bangunan besar seperti istana.


Namun dari sekian bangunan kuno yang sering dilihatnya, disini..


[ Agak sedikit modern. ] Ada toko dengan menggunakan jendela besar, dan tingginya bisa melebihi dua bahkan tiga meter.


Terlihat lebih maju ketimbang yang ia pikirkan. Hanya saja, keberadaannya itu seperti. [ Berjalan sendiri, membuatku jadi seperti orang hilang. Hanya berjalan lurus ke depan, bukankah rutenya sangat mudah?. ]


Memang sangat mudah. Tapi ada satu hal lagi yang dipikirkannya, yaitu


[ Dimanakah aku akan tinggal?. Aku melupakan hal penting sebelum aku berpisah dari burung hantu itu. ]


Tidak ada penjelasan mengenai tempat tinggal, apakah akan ada asrama atau harus mencari penginapan?.


Ia baru saja sadar seperti orang bodoh karena tidak bertanya pada burung hantu itu sebelum pergi. 


[ Yang terpenting sekarang hanya masuk ke gedung berwarna coklat kemerahan dengan atap hijau itu. Lagi pula dalam surat tidak ada waktu pasti kapan masuknya jadi hanya bersikap santai sebelum menghadapi mereka. ] benak hati Eldania lagi. 


Orang baru.


" Berjuanglah Nelin!, semangat!, semangat!. " teriak pria paruh baya kepada gadis perempuan berambut silver. 


Gadis muda itu memutar tubuhnya ke belakang, melihat seorang pria berteriak keras menyerukan semangatnya kepada gadis tersebut.


Lalu dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju pintu gerbang Academy.


Eldania hanya melihat tingkah orang tua itu sebelum akhirnya sama-sama berjalan lagi.


" Terlihat seperti Academy biasa, tapi banyak bangsawan yang diundang. " gumamnya.


DUK..


" Ah.. " Karena seseorang menabraknya, undangan yang Eldania pegang pun jatuh ke jalan.


[ Bukannya minta maaf, tapi orang itu benar-benar tidak sadar sudah menabrak ku. ]  Eldania memandangi undangannya yang terjatuh, lalu di saat hendak mengulurkan tangannya untuk mengambil barangnya, tiba-tiba ada satu tangan lainnya yang datang membantu mengambilkannya.


" Eldania. " tuturnya. Eldania pun mendekat, membuat orang ini menebak. " Jadi kau orangnya?. " mengembalikan suratnya kepada si empu.


" Terima kasih. " jawab Eldania sembari menerima amplop dari tangan pria itu. [ Dia juga tampan. ] hatinya Dania memuji pria tinggi bersurai hitam ini.


Pria tinggi ini memiliki tinggi lebih tinggi 20 cm dari dirinya, lantas warna mata hitamnya juga menjadikan pria ini terlihat menawan, suara berat namun tiap kalimat yang diucapkannya selalu terdengar tegas sangatlah memukau.


" Azel!....semangat!, kamu pasti bisa?! "


"............? " Eldania menoleh ke belakang, kedua kalinya ia mendengar suara teriakan semangat dari dua orang tua kepada anaknya.


[ Azel?. ] Melirik ke sampingnya.


" Mereka berdua terlihat semangat. " tutur pria yang dipanggil Azel ini.


" Mengikuti ujian sambil di antar orang tua, sejak kapan Academy ini menjadi taman kanak-kanak?. " Ejeknya, menyindir dua orang yang diantar orang tua ke Academy.


Bohong kalau Eldania tidak jengkel dengan ucapan orang ini, tapi yang dikatai saja tidak marah jadi dirinya hanya berusaha menutupi rasa jengkelnya, dan bersikap biasa saja karena dirinya tidak ada kaitan mengenai diantar orang tua itu.


[ Ha...tapi apa-apaan dengan telinganya itu?. Runcing seperti Elf, tapi sayangnya kepribadiannya buruk. Dilihat sepintas, dia pasti akan mencari gara-gara. Sebaiknya aku menghindari pertengkaran yang tidak perlu. ] Batin Eldania. 

__ADS_1


Dia pun mencoba mengabaikan keberadaannya dengan tidak memperdulikan ucapannya tadi. 


__ADS_2