
"TEMBAK!" Sebuah teriakan yang berisi perintah langsung dilaksanakan oleh mereka semua.
DHUAR.......
DHUAR.....
DHUAR......
DHUAR.....
Puluhan meriam langsung tersulut dan ditembakkan ke arah depan sana, sebuah kawanan musuh yang tidak ada habisnya ingin melintasi sebuah dinding pertahanan.
CRASZHH..........
CRASZHH.........
CRASZHH........
Suara daging yang terpotong menjadi suara pendamping di antara banyaknya suara auman, erangan dan pedang yang saling menyapa lawannya. Bahkan suara tembakan seperti tadi tetap tidak ada habisnya terus berdatangan dari waktu ke waktu.
Dinding pertahanan adalah dinding yang di bangun setinggi lebih dari dua puluh meter, yang kini sedang di pertahankan oleh orang-orang yang memakai seragam biru yang notabene adalah para kesatria, sedangkan sisanya yang tidak memakai seragam adalah mereka si prajurit bayaran.
Tujuannya apa lagi kalau bukan menghalau dari para kawanan monster yang terus berdatangan dari arah utara.
Dalam dunia ini karena banyaknya monster yang berkeliaran akibat pertumbuhan populasi tidak terkontrol membuatnya tidak sebanding dengan pembasmiannya, maka untuk menekan keberadaan monster ada kalanya pihak penguasa wilayah akan menyewa tentara bayaran untuk membantu para ksatria sebagai pasukan tambahan dalam misi penting seperti itu.
CRASSHH........
GOARAHH...........
"TEMBAK!" Teriakan dari satu perintah langsung kembali dilakukan. Hasilnya sebuah ledakan lagi dan lagi terjadi.
DI tengah-tengah kekacauan yang terjadi di luar benteng, seorang perempuan muda tiba-tiba datang menyapa para pria yang sedang bersitegang dengan monster yang terus datang.
"Kalian terlihat sudah kelelahan." Tutur seorang perempuan muda berambut panjang berwarna putih yang sedang berdiri di atas dinding bersama dengan para kesatria lainnya. Rambut putihnya bukanlah karena rambut yang menunjukan usianya yang sudah tua, melainkan karena gen yang dimilikinya itu.
Satu orang kesatria yang berdiri di samping, langsung berbicara. "Meski kami lelah, kami masih tetap berusaha memukul mundur para monster, nona!"
"Memang sih. Tetapi....... " Perempuan ini terus merotasikan pandangannya ke segala arah yang dapat dijangkau. Bau busuk, anyir dari darah yang bercampur antara manusia maupun monster dan bau daging yang terbakar, menjadi oksigen paling buruk untuk mereka. "Terlihat jelas kalau semangat para prajurit bayaran itu sudah mulai menghilang. Pasti mereka punya protes, agar upahnya mau dinaikkan, kan?" Tebak gadis ini pada kesatria di sampingnya.
Kesatria ini langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. "Iya, tapi pilihannya tuan besar tidak akan menaikkan harga jasa mereka."
Perempuan ini menghela nafas dengan pelan, sambil tersenyum lemah dia berbicara lagi. "Yah...bagaimanapun jika keinginan mereka dikabulkan, mereka justru akan semakin sombong. Suruh mereka mundur, gelombang kedua dan ketiga akan datang. Aku akan mengatasi mereka semua dengan sekali serang." Pinta gadis ini.
"Baik nona." Dia menunduk hormat lalu berlari ke tempat lain untuk membunyikan bel sebagai tanda untuk mereka semua yang sedang di medan perang untuk segera mundur.
DUNGG.........
DUNGG..........
DUNGG...........
DUNGG...........
Suara yang keras langsung menggema ke segala arah memberikan sebuah peringatan jelas kepada mereka.
"Itu tanda mundur!" Salah satu kesatria yang berada di tengah medan perang langsung berteriak selepas mendengar bunyi yang sama sebanyak empat kali. Bagi mereka yang tahu, kode ini ditujukan untuk mundur dari medan perang mereka.
CRASSHH........
__ADS_1
Yang baru saja menebas tangan dari satu monster berwarna merah dengan bentuk bagai kadal segera berlari mundur dan tetap waspada dengan monster sekitar yang belum tumbang.
"Sial....., bekerja seperti ini tidak ada habisnya! Tingkat bahayanya juga tinggi, seharusnya orang itu menaikkan upah kami!" Pria barbar ini kembali mengayunkan pedangnya lagi, dan saat ada tangan dari satu monster mulai datang tanpa aba-aba dia langsung menebasnya lagi.
"Semuanya mundur!" Teriak seseorang lagi memberikan perintah sekaligus peringatan agar segera mundur. "Nona akan menggunakan sihir skala besar!" Teriaknya lagi.
DRAP............DRAP..........DRAP.............
Semuanya berbondong-bondong melarikan diri menghindari monster yang masih berdiri dan yang mulai berdatangan.
"Heh....baiklah, pada dasarnya peranku adalah memberikan kalian kesempatan istirahat selama lima belas menit." Ucap perempuan ini.
Agar bisa berkonsentrasi penuh, dia mulai memejamkan matanya lalu tangan kanannya dia angkat ke atas. Apa yang dia rasakan sekarang adalah 'mana' yang cukup lembut itu mengelilingi tubuhnya. Manusia biasa tidak akan melihat aliran 'mana' yang mengelilinginya, namun lain lagi jika yang melihatnya adalah penyihir juga. Orang tersebut bahkan dapat melihat warna dari pemilik 'mana' tersebut.
WUSHH......
Bongkahan batu yang tersebar di tanah luas itu mulai terangkat. Dari batu kecil sampai batu besar tidak ada yang terlewati semuanya melayang di udara.
KRAKK........
Semua batu tersebut pecah dan berubah bentuk menjadi pecahan tajam yang memanjang seperti jarum.
GROARHH....!
Erangan dari monster mulai menggema arahnya dari hutan yang ada di seberang sana. Gelombang ke dua dari kelompok monster pun datang berlari tanpa ada tanda-tanda berhenti sekalipun mereka sudah melihat sihirnya.
"Tusuk mereka semua." Ucap perempuan ini sembari menurunkan tangan kanannya ke arah depan, memerintahkan semua batu yang sudah dikumpulkan itu terbang dan tujuan nya untuk menerjang ke arah para monster tersebut.
GROAHH....!
Dalam jangka waktu kurang dari 15 detik batu-batu tersebut pun langsung....
JLEB........ JLEB.......JLEB............
Auman demi auman juga teriakan yang begitu memekikan telinga kembali terdengar karena rasa sakit yang langsung para monster terima.
Dari monster yang datang dalam jumlah lebih dari tiga peleton, hanya tersisa dua puluh yang masih bertahan untuk berdiri.
Tapi tidak lama kemudian batu yang sudah bersarang di dalam tubuh mereka semua langsung berubah menjadi batu panas yang langsung membakar organ-organ tubuh mereka.
Dengan arti lain, mereka bahkan tidak punya kesempatan untuk menyentuh dinding batu ini.
"Hahh~" Gadis ini menghela nafas lega, karena bagaimanapun mengkombinasikan dua sihir dalam waktu yang bersamaan dengan jumlah besar itu cukup menguras tenaganya. "Gelombang ketiga akan datang!" Teriaknya.
Para kesatria maupun tentara bayaran yang sedang berdiri persis di depan dinding banyak diantara mereka mendongak ke atas. Mereka melihat seorang gadis yang terlihat hanya berdiri saja, tapi gadis tersebut sudah bisa menjadi peran utama dalam perang antara manusia dan monster yang tiada akhir itu.
"Berapa kali pun aku melihatnya, itu adalah sihir yang hebat!" Ucap orang ini. Berperan menjadi prajurit bayaran membantu pasukan utama untuk membasmi monster.
"Benar. Nona Irine memang hebat." Pujian kembali datang dari seorang kesatria.
"Dengan begini, kita bisa istirahat sejenak. Hahh..! Tapi kapan selesainya!" Sebuah pujian disamping dengan rasa frustasi karena pekerjaannya tidak pernah berakhir pun terucap juga oleh orang ini.
Sehingga kini darah merah segar kembali menodai tanah, daging baru dengan aroma berbeda dari tiap jenis monster yang berbeda pula. Tanah lapang itulah menjadi tempat akhir, kuburan untuk mereka semua.
|
|
Lima belas menit pun berlalu.
__ADS_1
Tapi dari lima belas menit, berubah menjadi dua jam.
Dalam kurun waktu yang lumayan tidak singkat itu perempuan ini pun sudah mengerahkan banyak sihir yang dapat dikerahkan hanya untuk membasmi monster yang terus berdatangan tiada henti.
Para kesatria yang terluka dan kelelahan, mereka semua diganti dengan pasukan yang baru. Hal itu dilakukan demi menghindari korban yang lebih banyak. Dan yang masih bisa bertahan kembali ke medan pertempuran mereka.
"Hah......hah..........hah!" Nafasnya terengah-engah dengan keringat yang membasahi wajahnya, dia tiba-tiba tersenyum miring sambil menyeka dahinya dengan punggung tangannya.
Wajah dengan penuh rasa penat, gadis yang belum lama menginjak usia delapan belas tahun ini akhirnya menemukan batasannya setelah mengerahkan sihirnya dalam jumlah besar demi memukul mundur para monster.
"Mereka monster yang cukup keras kepala." Gumam gadis ini dengan senyuman masam tersungging di bibirnya.
Satu orang kesatria ini hanya tersenyum tawar melihat gadis di sampingnya itu justru terlihat menikmati pertarungannya dengan para monster yang tidak akan ada habisnya itu. "Maka dari itu sekarang anda istirahat saja. Jika tidak, gaji kami bisa-bisa dipotong oleh tuan besar, sebab anda menguasai medan tempur ini seorang diri terus. Dan kata anda hanya lima belas menit saja kan? Ini sudah dua jam lebih anda membantu dengan kekuatan sihir anda. Sebaiknya anda istirahat, kami sudah mempersiapkan semua keperluan dan sudah mengganti kesatria juga prajurit yang terluka dengan pasukan yang baru." Jelas kesatria ini kepada perempuan bernama Irine.
" ..................., benar juga." Akhirnya gadis ini tersadar dari nikmatnya membuang-buang sihirnya demi bermain dengan para monster yang sudah kembali berdatangan. "Aku sudah berlebihan, bahkan di antara kalian pasti sudah cukup tidur kan?"
Mereka yang berdiri di atas dinding yang mendengar pernyataan dari nona muda-nya, hanya tersenyum tawar. Tidak ada yang mau mengganggu ketika nona muda mereka sedang menikmati pertarungannya seorang diri dengan sihir yang dimilikinya itu, maka dari itu hal tersebut dijadikan kesempatan besar untuk mereka semua bisa beristirahat dalam dua jam penuh.
Memang egois, tapi mana ada yang mau meninggalkan kesempatan besar seperti itu.
Bagi mereka, istirahat adalah sesuatu yang berharga sebab selama dua puluh empat jam mereka harus bersiaga penuh dengan semua keadaan yang ada. Itulah takdir mereka menjadi pasukan sekaligus penduduk di wilayah Helion yang dipenuhi dengan para monster.
"Gara-gara aku terbuai membunuh mereka, aku sampai tidak sadar kalau sudah membasmi mereka sampai dua jam. Bagianku sudah selesai, sekarang giliran kalian." Ucapnya, sekaligus sebuah perintah kepada mereka bahwa hari ini sesi untuk membantu para kesatria Helion sudah selesai. "Aku tinggal dulu. Selamat bekerja keras." Ucap gadis ini sambil melambaikan tangan kanannya kepada mereka.
"Baik. Terima kasih atas kerja keras anda juga." Ucap semua orang yang ada di sana.
Irine adalah gadis yang sudah populer di kalangan para kesatria karena setiap hari gadis ini selalu datang dan membantu mereka dengan kekuatan sihir yang dimilikinya itu. Maka dari itu, semua orang memperlakukannya dengan ramah sebab jasa nya yang tidak akan pernah mereka lupakan.
"Baik nona, serahkan saja pada kami." Menunduk hormat, kesatria ini mendapati nona penyihir bernama Irine sudah pergi turun dari dinding.
"Tuan, apa pintunya sekarang sudah boleh dibuka?" Tanya salah satu seorang kesatria yang pangkatnya lebih rendah dari pria di depannya itu. Dan sebuah anggukan menjadi sebuah jawaban untuknya.
Ksatria ini kemudian berbalik, dan mengucapkan kalimat teriakan. "Siapkan diri kalian! Karena nona sudah mengulur waktu sampai dua jam lamanya, hadiahkan sebuah kemenangan untuk nona! Jangan biarkan mereka menerobos dinding ini! Sekarang buka pintunya!" Teriakan akan kalimat penuh semangat.
"YAAA......!"
Dan kedua pintu gerbang segera terbuka, para kesatria dengan wajah baru keluar dengan membawa senjata mereka.
DRAP.........DRAP........DRAP.......DRAP........
Derap langkah yang begitu dominan akhirnya mengisi suara yang terus bersaing dengan derap langkah dari para monster yang kembali berdatangan.
Hari-hari mereka terus dipenuhi dengan aktivitas rutin mereka yang tidak lain adalah membasmi para monster ini.
"Mereka tidak ada habisnya." Tutur kesatria pertama, mulai memegang pedang yang masih tersimpan di dalam sarung pedang.
"Ya...sepertinya sekalipun kita sudah menjadi kakek, mereka akan tetap terus ada." Ucap kesatria kedua, membalas ucapan rekannya itu menjadi sebuah cibiran.
Faktanya sejak pertama kali mereka ditugaskan, tugasnya bukanlah perang untuk merebut wilayah kekuasaan yang baru, melainkan berperang dengan makhluk buas yang melebihi akal sehat manusia pada umumnya.
Para monster besar dengan bentuk dan spesies yang berbeda. Itulah tugas mereka sejak awal masuk sampai saat ini.
"Miris sekali ya, mereka akan jadi PR anak cucu kita nanti."
"Hahahaha......!" Beberapa orang diantara mereka tertawa karena lelucon yang tadi mereka dengar akan menjadi kenyataan. Karena hari ini saja, melihat medang tempur mereka sudah bergelimpangan dengan para mayat monster terlihat jauh lebih banyak dari biasanya.
GROAAHH.....!
"Hyaah.....!" Menarik pedangnya, kesatria ini pun berlari lalu melompat ke satu monster berwarna hitam.
__ADS_1
Dengan pengalaman yang dimilikinya, serangan pertama dia lakukan di beberapa titik vital, sebelum akhirnya memotong segala daging yang bisa membuat monster itu mati dalam waktu singkat.
CRASSSHH........