Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
60 : Eldania


__ADS_3

GRAAAAH.....


Semuanya mengerang hebat, mengisi kekosongan ruangan tersebut.


" Arghh........!, berisik...berisik.....aku...tidak kuat...lagi. " teriak laki-laki ini.


Eldania menatapnya penuh dengan rasa simpati pada iblis yang meringkuk di lantai batu yang dingin  itu.


[ Apa yang diperbuat mereka sampai menjadi seperti ini?. ] Pikirnya. Eldania yang penasaran itu, membuat altar di tempat tersebut seketika aktif.


Mengakibatkan aura semakin mencekam, dan area di sekitarnya perlahan berubah.


Bukan lagi ruangan kosong dengan dinding seperti sumur, tapi .......


' Matilah..... ' ucapan dari keinginan untuk membunuh.


Sebuah bangunan terbengkalai yang tidak lain adalah gudang, terlihat dengan jelas. Itu adalah sebuah ingatan miliknya dari kehidupan sebelumnya yang dimiliki oleh Eldania. 


' Kau pengkhianat. Dan pengkhianat harus dihukum. ' setelah seorang laki-laki paruh baya berbicara seperti itu, sebuah pisau segera menyayat lehernya.


' Arghh!, jangan bunuh aku....!. ' berteriak histeris sembari mundur ke belakang, namun langkah kaki yang terus mendekat itu tidak membuatnya bisa lolos dengan mudah dari jangkauan...


DORRR......( Suara tembakan yang langsung membunuh targetnya. )


‘ Ahahaha….tangisan yang merdu. Dia seperti kambing di potong. ‘ ucap wanita muda dengan seragam sekolah yang masih di pakainya. Tapi seragam itu sudah ternodai dengan cipratan darah dari korbannya.


Perlahan ingatan yang muncul di dalam kepala, langsung masuk dengan acak lagi.


Gambaran yang tertangkap di dalam ingatan di kepalanya memperlihatkan semua kejadian. Baik dari kejadian dimana tangannya bersimbah darah dari orang lain dari masa lalunya Eldania, maupun gambaran tentang monster yang sedang kini dia lihat itu.


‘ Arghh...t-tolong.ja..ja..jangan..makan akhh….!. ‘


' GORROAHH....! ' Mencabik musuhnya dengan sekali ayunan kaki. Darah dalam tubuh korban seketika itu juga berceceran.


Tidak hanya satu dua orang, tapi puluhan orang sudah tergeletak di tanah.


Lalu gambaran di dalam kepalanya kembali berubah.


Kini sebuah lautan manusia bertumpuk menggunung dengan berbagai senjata menusuk tubuhnya.


Dan puluhan hewan menginjak-injak mayat itu tanpa belas kasih. Karena pada akhirnya mayat yang mulai membusuk itu....dicakar, lalu di koyak dengan mulutnya hingga dimakan sebagai pengisi perut para monster.


' Tolong!. Tolong!. '


' Arghh!. '


' Sakit!. '


Sebuah teriakan demi teriakan terus mengisi kepalanya tanpa ampun.


[ Apakah ini.......] Eldania tidak jadi berpikir. " Ugh........." Eldania mengernyitkan matanya dan merintih sedikit sakit.


Teriakan dan erangan yang sangat berisik memenuhi isi kepalanya dengan suara yang sangat keras. Itu yang membuat kepalanya terasa sakit.


[ Campuran dari ingatanku dengan mereka semua yang ada di sini?. ] Lalu tekanan yang begitu kuat itu membuat tubuhnya sedikit terhuyung. itu bukan ingatan dari satu atau dua monster, tapi semuanya.......


Bagai di hujani kilatan petir, karena semua ingatan di paksa masuk secara bersamaan, itu yang membuat kepalanya seperti hendak pecah, dan....


" BERISIK!. " teriak Iblis ini dengan sangat lantang.


“..................!. “ Karena suaranya yang begitu menggelegar, teriakan itu pun sukses untuk membuat Eldania terkejut setengah mati. 


Teriakannya berbeda dengan Everst beberapa hari lalu yang meneriakan amarah kepadanya. Karena teriakan kali ini berasal dari laki-laki remaja yang membuat jantungnya berhasil berdegup lebih kencang seperti naik roller coaster. 


[ Sial…….dia membuatku terkejut setengah mati. Kalau itu candaan, sudah aku cekik lehernya agar diam. ] Eldania seketika berusaha menata hati dan degupan jantungnya yang kena serangan kejut dari iblis itu. 


Dan karena mendengar suara teriakan yang keras dengan jelas dari satu-satunya iblis yang sedang menahan derita dari kepalanya yang sama-sama dipenuhi dengan keberisikan, Eldania jadi tersadar dengan semua ilusi dari ingatan-ingatan yang buruk itu.


Bahwa, yang dia alami saat ini...hanyalah ingatan masa lalu mereka semua dan dirinya.


[ Dan kalian benar-benar.......] Menggertakkan giginya dengan kuat. [ Ingin membuat kepalaku pecah ya?!. ] Detik itu juga, matanya membulat lebar.


Dia bukan berada di berbagai tempat entah berantah yang mengerikan itu, tapi di dalam ruangan gelap, penuh dengan kegelapan, hawa dingin, dan tekanan akan amarah serta ketakutan yang sangat kuat.


"...............!. " Sampai tidak sengaja melihat saku di dalam roknya ada benda yang bersinar, dia segera merogoh saku tersebut dan mengeluarkan benda yang ternyata adalah, [ Bloodstone. ] Bisiknya di dalam hati.


Bloodstone adalah batu yang biasa digunakan sebagai lampu penerangan. Dimana batu itu akan menyerap cahaya saat pagi sampai sore dimana ada terik sinar matahari, dan akan mengeluarkan cahaya saat malam hari datang, bahkan hingga menjelang subuh.


[ Batu ini...........] Adalah batu kesayangannya, karena memiliki warna merah darah yang cantik seperti matanya. Awalnya dia mau berniat untuk membuat aksesoris dengan batu ini.


Tapi tidak jadi, karena di saat penting seperti ini, hanya batu ini yang dibutuhkan sebagai katalis....


Katalis untuk mengikat sedikit kekuatan suci yang sedang Eldania keluarkan, dan memasukkannya ke dalam batu Bloodstone.


" Argh...., cahaya apa itu?. " tanya salah satu di antara mereka yang menyadari cahaya menyilaukan dari Bloodstone yang dipegang Eldania, bagi mereka sangatlah mengganggu.

__ADS_1


Padahal untuk Eldania sendiri, itu seperti senter yang terbuat dari satu titik lampu LED.


Apa sebegitu berpengaruhnya?.


Melihat kenyataan kalau makhluk hitam dengan mata merah bersinar yang merupakan roh iblis sangat terganggu dengan batu yang sedang di pegang itu, Eldania akhirnya menemukan sebuah pencerahan untuk masalahnya kali ini.


Jadi....


Ini adalah kesempatan besarnya.


" Menyilaukan!. " mereka berteriak tidak nyaman.


“ Menjauhlah dari kami!. “


“ Buang itu...manusia!. “


" Buang batu itu....!. "


Mereka berteriak protes dengan keberadaan Bloodstone yang Eldania pegang.


Di saat sudah penuh, Eldania segera berdiri. Entah apa yang ada di atasnya karena gelap, dia langsung melemparnya begitu saja ke atas.


Karena kegelapan itu pula, seketika itu.....Bloodstone mengeluarkan cahaya yang cukup terang.


Tapi tidak hanya sampai disitu saja. Karena cahaya saja tidak akan berefek lama, jadi tangan kanannya buru-buru mengambil pistolnya yang tersimpan di bawah ketiaknya.


Eldania mengangkatnya ke atas, dan...


DHARRR.....


 


Pecahan dari Bloodstone menyebar ke segala penjuru ruangan, menyentuh keberadaan makhluk dari bayangan hitam yang hendak pergi menyerang Eldania. 


Tapi sayangnya mereka kalah cepat dengan kecepatan pecahan batu tersebut, karena pecahan itu membuat mereka semua langsung menghilang.


SHWAAHH~...


" ............." 


Mendapatkan penerangan kembali, sebab semua obor kembali menyala, dan ditambah pecahan Bloodstone tetap mengeluarkan cahaya, membuat penglihatannya menjadi lebih jelas ketimbang sebelumnya.


" Apa mereka semua sudah benar-benar menghilang?. " gerutu Eldania saat mengamati semua ukiran pintu yang ada di segala penjuru dinding.


Sekarang sudah tidak ada siapapun lagi kecuali dirinya seorang dan satu lagi yang sedang terkapar di lantai gara-gara ada pecahan Bloodstone menimpuk ke kepala laki-laki ini.


Eldania tersenyum tawar setelah melihat derita dari iblis ini akhirnya terselesaikan bersamaan dengan mulutnya yang sudah tidak berteriak lagi.


[ Hehehe.........jadi..bisa dibilang, aku adalah bom berjalan untuk mereka semua. ] yaitu kaum iblis. 


Eldania bangga dengan dirinya sendiri, bisa mendapatkan hal menarik di samping mendapatkan kesialannya di hari pertamanya.


WUSSHH~


Angin dengan membawa debu tiba-tiba muncul, datang dan menerpa tubuhnya. 


Di dalam pusaran angin itu, suara dari roh iblis tadi kembali muncul.


" Kenapa kau tidak ada rasa takut pada kami?. " tanya makhluk ini kepada Eldania. 


Eldania terdiam sesaat untuk melihat situasinya.


" Itu yang sudah pernah aku alami, dan lagian....kalian adalah roh yang terjebak di sini kan?. " tanya balik Eldania kepada makhluk tersebut.


 


" Siapa kau~. " dengan suara berat, bagi yang mendengarnya...bulu kuduk langsung berdiri saking merindingnya.


" Aku manusia. " celetuk Eldania.


" Aku tahu bodoh. Yang aku tanyakan adalah namamu. "


" Apa itu pertanyaan yang harus aku jawab?. " Tanyanya.


" Tentu saja. Sebagai manusia yang membebaskan kami dari belenggu kegelapan di sini, kami harus mengetahui namamu. Apa kau mengerti manusia?. “ kata makhluk ini. Tanpa wujud dan tanpa adanya aura yang mencekam seperti sebelumnya. 


" ......................" sedikit memiringkan kepalanya, Eldania kemudian menjawab.


" Namaku.......Eldania. "


" Bukan, tapi nama aslimu. "


" Kenapa pula?. Yang penting bukannya  aku sudah memberitahu namaku padamu?. “ 


" Baiklah. Eldania......."

__ADS_1


" Ya?. "


" Kau...benar-benar bisa berwajah polos ya?. “ ucap makhluk ini, mencibir Eldania yang bersikap seperti wanita polos yang tidak mengerti apapun.


" Apa masalahnya?. "


" Hahh, itu bisa menjadi senjatamu untuk mengelabui orang lain. Tapi dari pada itu......apa tujuanmu ke sini adalah kesengajaan?. "


Angin terus berputar di sekelilingnya, seolah sedang di dalam penjara angin, dan suara yang bertanya padanya pun selalu berbeda.


" Karena penasaran. Rasa penasaran itulah yang membuatku datang ke sini. " sebuah jawaban yang singkat dan padat.


Sudah cukup menjadi alasan untuk mereka semua...dalam sekumpulan wujud angin ini.


" Eldania. Kami berterima kasih kepadamu. Jika bukan karena rasa penasaranmu yang membawamu datang ke sini dan menghadapi kami, akan ada lebih banyak korban lagi.


Rasa takut dari kalian, adalah energi untuk iblis. Dan keberadaan kami ada untuk menakuti orang yang punya rasa takut mendalam, dan hasilnya, jiwa kami tidak bebas, lalu energi dari ketakutan itu terkirim ke seseorang yang menjadi dalang di balik ini semua. " jelasnya.


Siapa dalangnya?, kalau bukan Millie!.


Itu yang langsung terlintas di dalam kepalanya.


" Aku terima ucapan terima kasih kalian. " tutur Eldania. Menerima ucapan terima kasih dari makhluk gaib!.


Sejujurnya Eldania tidak habis pikir, ada saatnya dia sendiri terasa seperti menjadi orang gila, karena bicara dengan makhluk lain. 


Hanya saja, dia harus terbiasa dengan semua keadaan baru yang sudah dialaminya selama reinkarnasinya ini.


" Ada satu hal yang membuat kami penasaran. 


Kebaikan dan kejahatan, pada dasarnya tidaklah berbeda jauh. Kau sudah mengalaminya, seperti apakah perasaanmu tentang dua hal yang terdengar saling bertentangan itu?. " tanya makhluk ini kepada Eldania.


Eldania terdiam sesaat.


Perasaan?.


Apakah saat menjadi baik?. 


Atau saat menjadi jahat?.


Kejahatan yang di maksud adalah kejahatan yang dilakukan demi kebaikan, tapi ada pula kebaikan yang diam-diam digunakan sebagai kejahatan.


Maka dari itu, dua hal tersebut terbilang tidak jauh berbeda.


" Sebenarnya keduanya sama. Tapi, ada kalanya, saat melakukan kebaikan, hatiku merasakan kehangatan. "


" Itu bangga diri. " ketusnya.


Tidak puas hati, Eldania menjawab lagi.


" Ya sudah. Jika itu kesimpulanmu. Aku tidak tahu lagi. Peranku ada di saat aku punya keinginan untuk memuaskan keingintahuan aku pada hal yang membuatku penasaran. “


" Kau gadis yang aneh. Wajah polosmu itu bisa jadi tempat persembunyian kelakuanmu yang sebenarnya. Aku suka manusia sepertimu, Eldania. 


Lalu rasa penasaran yang membangkitkan keberanian itu….., jangan sampai membuatmu masuk ke dalam jurang perangkap yang lebih berbahaya dari ini. “ makhluk ini memberikan pujian sekaligus peringatan.


[ Apanya yang dia suka dariku?. Dan jurang bahaya…….aku sudah banyak masuk ke dalam jurang itu. ] Sekelebat ingatan dalam berbagai bahaya yang sudah Eldania lalui, langsung muncul di dalam kepalanya. 


Semua hari, jam, menit, dan detik………..semua waktu adalah jalan menuju jurang bahaya yang sudah mereka sebutkan. Jadi jurang bahaya apa lagi yang lebih mengerikan daripada kematian?.


“.......................” Eldania menatap angin yang terus mengelilinginya itu dengan wajah datarnya. Jika memang ada jurang yang lain, maka yang perlu Eldania lakukan adalah menerjang bahaya itu sendiri.


" Satu hal terakhir. Hati-hati dengan pintu. "


WUSSHH~~~~


Angin tersebut pun segera menghilang begitu saja, setelah mengatakan hal terakhirnya.


Tapi.....


“ Hati-hati dengan pintu?!.  Apa maksudnya?!. " geram Eldania mendengar hal seperti kata kunci, yang......lebih terasa aneh lagi.


Saat mendongak ke atas. Ternyata yang terlihat satu dua titik adalah bintang yang sudah memunculkan dirinya di langit malam.


"....................." Ketika menoleh ke samping bawah, Eldania dibuat kembali berpikir. [ Apa yang harus aku lakukan dengannya?.  Bagaimana caranya membangunkan iblis yang pingsan?. ]


Itu belum ada di dalam pengetahuannya.


Dan…….


Sumber masalah lainnya, adalah pintu keluar!.


[ Bagaimana caranya aku keluar?. Apakah harus naik ke atas?. Jika saja aku bisa memanggil Everst…….dari tadi pasti sudah langsung datang. Tapi setelah masuk ke dalam ruangan ini, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. ] Eldania terus berpikir untuk menemukan caranya.


Ketika dirinya menemukan adanya satu pintu di salah satu dinding itu, sayangnya pintu tersembunyi itu dijaga dengan mantra dari pemilik bangunan ini, dan satu-satunya yang bisa membukanya adalah seorang iblis, dengan kata lain si penyegel.

__ADS_1


“ Aku tidak mungkin menghancurkan bangunan ini. Sama saja dengan mengubur diri hidup-hidup. “ Eldania pun merutuki nasibnya sendiri. 


 


__ADS_2