Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
36 : Eldania


__ADS_3

“ Wah… “ Satu pasang mata demi satu pasang mata langsung menatap takjub seseorang yang sedang berjalan sendirian.


“ Siapa dia?“ bisik orang pertama.


“ Aku merasa familiar dengan wajahnya…., dia terlihat seperti-” Pandangannya tidak bisa dialihkan pada satu pria yang berjalan melewatinya.


“ Arga! “ sampai akhirnya ada satu orang yang berteriak keras sambil memanggil namanya.


Pria ini berlari dan menghampiri Arga dengan wajah sumringah. Dia akhirnya bisa menemukan orang yang tidak sengaja dia lihatnya, sedang berjalan sendirian sambil menarik perhatian banyak orang.


“ Wah..wah...wah…, siapa ini? Arga….kau memotong rambutmu? “ tanyanya, sambil merangkul leher Arga, agar Arga sedikit menunduk dan memperlihatkan potongan rambut yang sudah dimiliki Arga. 


“ Lepas. “ ketus Arga, sambil berusaha melepaskan rangkulan tangan yang ada di pundaknya.


“ Tidak….aku tidak akan melepasnya, sampai…….” Sengaja menarik kembali leher Arga, pria ini sengaja agar Arga menunduk dan kemudian membisikkan sesuatu. “ Kau mengatakan, siapa yang memotong rambutmu. Soalnya aku merasakan sedikit aroma lain dari tubuhmu. Sedikit samar sih, tapi jujur ada aroma gadis muda yang baru bersamamu. Jadi bisa ditebak, yang memotong rambutmu pasti seorang perempuan. Benar kan?. “ terka pria ini, sambil mengendus rambut dan beberapa bagian di wajah Arga, seolah-olah dia memang merasakan aroma yang tadi dia katakan, aroma ‘Gadis muda’.


“............." Arga terdiam, dia benar-benar enggan untuk menjawab pertanyaan itu. [ Dia bukan menebak, tapi memang melihatku sedang berdua dengan perempuan itu kan?] Arga membatin. [ Terlepas dari masa lalunya yang sudah menipu banyak orang dengan penampilannya, aku berterima kasih untuk ini. ] 


Orang yang awalnya terlihat dingin, juga tomboy?


Ya..Arga memang beberapa kali pernah melihat Eldania saat menjalani kesehariannya menjadi seorang laki-laki yang bekerja di bagian gudang senjata.


Setiap harinya pasti dikelilingi oleh laki-laki.


Walau ada sedikit perbedaan, tapi juga ada persamaan, dimana sekarang Arga lagi-lagi melihat anak yang belum genap dua puluh tahunan itu bekerja di dalam pasukan ksatria.


[ Apakah dia memang sengaja?] Arga diam-diam menjeling seorang yang kini sedang berdiri di atas tembok dan menatap ke arahnya sambil menopang dagu. 


Senyuman yang dari awal tidak pernah ada itu adalah sebuah ekspresi datar yang terlihat seolah sedang melihat sesuatu.


".................!" Arga seketika merubah ekspresinya saat tahu perempuan yang baru dia kenal dengan identitas barunya dengan nama Eldania, tiba-tiba mengacungkan sebuah senjata ke arahnya.


" Ayolah…..katakan, siapa yang mengurus rambutmu ini. " pria ini tetap dengan tingkahnya yang sok akrab dengan Arga. " Melihat penampilan baru dari rambutmu, aku jadi ingin memotongnya juga. "


Arga tidak mendengar apa yang orang disebelahnya katakan, karena terfokus pada satu orang yang sedang berdiri di atas tembok.


" Arga….kau sedang lihat kemana?" penasaran karena Arga tidak merespon pertanyaannya sedari tadi, pria ini pun ikut mencari sumber tatapan Arga tertuju kemana. " Dia ka-.... "


DORRR…….


".............! " Darah langsung menciprat separuh wajah Arga yang langsung mematung ditempat.


Suara yang tidak begitu keras tadi, adalah bukti bahwa Eldania baru saja melakukan satu tindakan yang mengejutkan Arga. 


Darah merah yang sudah menodai separuh wajah sebelah kanannya, adalah darah milik…..


BRUKK…..


" Kyaaa! " beberapa perempuan yang menjadi saksi mata berteriak histeris setelah melihat teman yang sedang merangkul pundak ksatria Arga tiba-tiba saja ambruk dengan darah mengalir dari lehernya.


[ Perempuan itu bukan menembakku, tapi dia? ] Arga melirik rekan kerjanya yang sudah terbaring di tanah.


Tepatnya diatas dinding pertahanan, dimana sang tersangka masih diam tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Evan yang tidak sengaja melihat kejadian itu, langsung berlari ke tempat Eldania berada dan berkata dengan nada sedikit tinggi. " Apa yang sudah anda lakukan! " 


Evan menangkap tangan yang masih memegang senjata aneh yang ada di tangan Dania.


" Bukannya tugasku disini, adalah membantu kalian? " ucapnya, wajahnya tidak berpaling pada orang yang baru saja menjadi targetnya. 


Pandangan dari orang yang terlihat sudah sering membunuh, terlihat jelas di mata Evan.


" Tapi anda baru saja membunuh salah satu ksatria disini, apanya yang membantu?!" Evan kembali memperingatkan dan saat mencoba mengambil senjata aneh yang di genggam oleh Eldania, perempuan itu langsung menghindari gerakan tagannya Evan.


" Harusnya kalimat tadi sudah bisa langsung dipahami oleh Sir Evan. Atau karena disini belum ada kasus….? " Eldania sengaja menggantungkan kalimatnya, dia menoleh ke samping kanan dan menatap mata Evan dengan tatapan dingin. " Kasus dimana Fallen yang menyamar menjadi manusia? " sambungnya, sembari memiringkan kepalanya ke arah kanan.


" Apa!? Ada yang seperti itu? “ 


Eldnia kembali menatap ke depan, dan menambahkan. " Aku tidak membunuhnya, melainkan hanya menggores lehernya dengan peluruku. Benda yang tertanam kekuatan suci akan membuatnya menunjukkan sosok aslinya. Jadi…...lihat saja dulu sampai habis. " jelas Eldania.


Evan awalnya ragu, tapi dia pada akhirnya menuruti ucapannya, dan menunggu reaksinya.


Penasaran, amarah, dua emosi yang saling menyatu terdapat dalam diri semua orang yang sedang berkumpul mengerumuni seseorang yang sudah terbaring ditembak itu.


Puluhan orang berbondong untuk pergi menemui pelaku yang jelas sudah mereka lihat adalah perempuan di sebelah Ksatria Evan. Sisanya berusaha mengangkat pria yang sedang sekarat itu.


Namun tidak lama kemudian, perubahan langsung muncul.


Kulit manusia yang awalnya melekat pada tubuhnya, langsung menghilang dan berubah warna menjadi warna merah. Tubuh fisiknya berubah menjadi besar, dan mata merah menyala menjadi penanda sosok ini sudah sadar sepenuhnya menjadi….


" Ahh…..penyamaranku jadi terbongkar. “ sambil menyeka darah yang keluar dari kulit lehernya yang terluka, Fallen ini langsung menatap bengis Eldania yang masih berdiri di atas dinding.


Seketika semua orang berlari menghindar terlebih dahulu.


" Bagaimana bisa? " Evan tidak bergeming dari tempatnya, karena harus membiarkan anak buahnya mengatasi sendiri permasalahan yang ada di depan mata saat itu juga.


" Aku sudah pernah mengalaminya satu kali. " Eldania juga tidak ikut membantu, sebab bagiannya untuk menyadarkan mereka semua sudah dia lakukan.


Walaupun awalnya terlihat mencurigakan karena tiba-tiba saja menembak orang seolah Dania adalah orang yang baru saja membunuh tanpa pandang bulu.


Evan terdiam sesaat untuk mendengarkan penjelasannya lebih lanjut.

__ADS_1


" Karena aku melakukannya dengan spontan. Maka, aku mendapatkan dua opsi dari sudut pandang mereka. Pertama aku akan dipandang sebagai penyebab ksatria itu berubah menjadi Fallen, atau menjadi penyelamat mereka karena membuat mereka sadar kalau dia adalah musuh yang sedang bersembunyi. " ungkapnya.


Evan tidak bisa berkata-kata lagi, apa yang ada di pikirannya sudah terucap oleh nona itu sendiri.


Eldania dengan sengaja melepaskan tempat amunisinya, dan memberikan sebutir peluru kepada Evan.


KLEK…..


Setelahnya, dia memasangnya lagi.


" Ini… " 


Evan menerimanya satu butir peluru. [ Yang benar saja…, peluru ini….aku merasakan kekuatan suci di dalamnya. ] Evan mengernyit, dia merasakan energi suci yang sama dengan energi yang dikeluarkan oleh pendeta agung.


Karena Evan dulu pernah menjalani pengobatan selama satu tahun oleh pendeta agung, atau lebih tepatnya saintess, jadi dia sudah hafal energi nya seperti apa, dan itu seperti apa yang sedang dia rasakan saat ini, dari benda kecil seujung jari kelingkingnya.


WUSHH…….


Anginnya kembali menerpa mereka. Evan tidak ingat apakah pernah melihat ekspresi itu dari gadis ini?


Ekspresi seperti orang yang baru membuat kesalahan besar. Senyuman tipis penuh penyesalan, itulah yang terlintas di depan matanya.


Apa itu?


" Kejadian ini akan membuat mereka lebih waspada pada teman mereka sendiri. Atau waspada terhadapku?" ucap Eldania sebelum akhirnya berbalik, dan meninggalkan Evan dari sana.


[ Ah…….itu seperti ekspresi, seseorang yang kehilangan kepercayaan dari orang lain. ] Evan langsung tersadar sesaat sebelum Dania melompat terjun ke balik tembok.


Ketika di satu sisi Evan melihat pemandangan para ksatria sedang bersusah payah menghalau Fallen yang akan bertindak lebih merusak, di satu sisi lagi perempuan yang dia sapa nona Eld, justru sedang bertarung dengan prajurit bayaran lainnya melawan monster yang datang.


"................" Evan hanya terdiam. [ Apa yang sebenarnya dipikirkannya?]


____________


Kuu..~...Kuu..~....


Kwak..Kwak!


" Ini tempatku, menyingkirlah! " Everst langsung menggunakan kakinya untuk menyingkirkan burung hantu berwarna kelabu itu dari tempat duduknya.


Tempat duduk paling nyaman dan empuk, sayangnya hanya ada satu kursi. Itu adalah miliknya, tapi setelah ditinggal sesaat, tempatnya sudah dikuasai oleh burung hantu ini.


Kuu..~?


" Bukannya tempatnya luas?" kata burung hantu ini, meski sudah diusir, kakinya kembali berjalan ke tempat dia duduki tadi.


Kwak….!.


" Tidak ada kata luas untukku. Satu tempat ini hanya untukku saja. " Everst kembali menendang punggung burung hantu itu agar pergi dari sana.


Everst yang semakin jengkel saat melihat burung hantu itu mendekati bantalnya untuk ketiga kalinya, langsung melabraknya dengan mencengkram dua sayapnya, lalu salah satu sayap Everst diacungkan ke depan wajah burung yang lebih kecil darinya.


Ujung bulu sayapnya sudah berubah menjadi separuh pedang tajam yang siap memotong leher burung hantu tersebut.


Kwak….Kwak….Kwak……


Kuuu…..


Everst mengungkapkan rasa protesnya sembari memberikan ancamannya.


Sampai akhirnya, perdebatan di antara kedua burung itu menjadi pemicu seseorang yang sedang berpatroli di depan tenda yang di tinggali oleh Dania, mulai dibumbui rasa penasaran.


[ Kenapa di dalam sana terdengar berisik?] batin pria ini.


Karena curiga dengan suara berisik yang berasal dari dalam tenda tersebut, ksatria ini pun berjalan masuk, karena dia tahu kalau pemiliknya sedang keluar.


Kwak…..Kwak…..


Kuu…!


Saat tangan kanannya menarik salah satu tirai pintu tenda, di detik itu pula celah yang sudah dibuat oleh ksatria ini langsung menjadi pintu keluar sebuah pedang kecil.


SYUHTT….


“ Hah!. “ Ksatria ini langsung membelalakkan matanya, dan berhasil menepi tepat waktu sebelum benda tajam itu bersemayam di kepalanya.


Hingga di detik berikutnya, senjata itu akhirnya menancap ke batang pohon di depan sana.


JLEBB…..


“ A-apa ada penyusup?“ satria ini mencoba menebak siapa, dan ketika bergegas masuk ke dalam tenda dengan tangan kanan sudah bersiap dengan pedangnya, dia langsung disuguhi oleh..


KWAKK..!


Dua burung yang sedang terbang di dalam tenda. Mereka berdua sedang saling kejar satu sama lain.


WUSHH…..


“...............!“ Ksatria ini segera menunduk saat kedua burung itu melesat cepat tepat melewati atas kepalanya.


Kwak…!

__ADS_1


“ Keluar dari sini. “  berusaha mengusir keluar burung hantu yang sedang dikejarnya. 


Kuu…~.


[ Apa yang sedang terjadi disini? Dari mana asalnya kedua burung ini? Lalu pedang kecil tadi, siapa yang melemparnya jika disini hanya ada dua ekor burung?] Terlepas dari rentetan pertanyaan di dalam kepalanya, yang harus dia lakukan saat ini paling tidak adalah menghentikan kedua burung itu melakukan kekacauan. 


Bagaimana caranya?


Tentu saja mengejar mereka, dan mau tidak mau dia menggunakan pedangnya untuk melerai perkelahian yang di antara mereka berdua.


“ Pergi!. “ Pedangnya dia ayunkan ke atas, dari kanan lalu ke kiri. 


Everst yang terusik dengan keberadaan manusia dengan pedangnya yang di kibas-kibaskan ke langit pun, akhirnya membuatnya turun tangan sendiri. 


Everst yang awalnya terbang di atas, tiba-tiba langsung menukik tajam ke bawah, dan tepatnya terbang melesat ke arah ksatria itu.


Kwak..!


“ Apa?! “ Tidak hanya itu juga, pria ini terkejut karena selain burung elang yang langsung terbang ke arahnya, juga ternyata memiliki kemampuan untuk menerbangkan lima buah pedang kecil yang tajam, ikut melesat bersamanya.


CTANG….CTANG….CTANG……


Ksatria langsung menghalau hujan kelima senjata itu dengan pedangnya. 


[ Dia...bukan burung biasa. ] sontak apa yang ada di benaknya, adalah untuk menangkap burung yang baru saja menyerangnya itu. [ Karena ada kemungkinan kalau burung ini adalah mata-mata, aku harus menangkapnya, apapun yang terjadi. ] 


Dan maka dari itu, kini Everst pun secara tidak sengaja berhasil mengundang curiga ksatria di depannya, dan membuatnya menjadi buronan di saat itu pula. 


___________


Langit sore kembali datang.


Angin utara, membuat suhu semakin dingin, tidak membuat penyihir berjubah hitam ini terganggu dengan suhu dingin itu, karena jubah yang dipakainya mengandung sihir yang mampu untuk menyesuaikan suhu pemakainya. 


Orang ini berdiri di atas dinding. Dan hari ini adalah hari terakhirnya bekerja sebagai penyihir di Helion, karena kontrak perjanjiannya sudah selesai. 


Dia menatap langit senja berwarna orange. 


Tapi apakah itu yang sedang Terrian tatap?.


CTANG……..CTANG……..CTANG…


Jauh di depan sana, dia sedang melihat salah satu orang yang menjadi pusat perhatiannya.


“ Bukannya dia sangat bekerja keras?“ Pertanyaan yang berisi sapaan dari Irine kepada Terrian, segera memecah keheningan diantara mereka. “ Itu semua demi uang. “ Beritahunya lagi. 


“ …………….. “ Namun Terrian terdiam sambil terus termenung.


Irine terus melanjutkan ucapannya, walaupun tidak ditanggapi oleh pria ini. 


“ Padahal dia punya pistol, dengan begitu dia tidak perlu bersusah payah membuang tenaganya seperti itu kan?“ kata Irine lagi.


Namun ucapan kali ini, justru membuat Terrian akhirnya angkat bicara. “ Dia melakukan pekerjaan ini, bukan sekedar untuk uang saja, melainkan demi meningkatkan kemampuan bertarungnya. “ Beritahu Terrian.


Benar……


Kebetulan yang terjadi, bisa bekerja di dalam regu pertahanan melawan monster adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan pengalamannya dalam medan tempur. 


Tujuannya, selain mendapatkan uang, Eldania juga memang mempunyai maksud untuk melatih lagi seni bela dirinya. 


Dan penyebabnya adalah karena tujuan selanjutnya setelah ini adalah ke Academy Klenon.


[ Jadi, sekali dayung, dua pulau terlampaui. ] pikir Eldania. 


Dalam satu tebasan, dia berhasil memotong kepala monster dengan begitu mudahnya. 


CRASZH…….


“ Hahh……..” 


Puluhan monster berhasil di sapu bersih gadis ini seorang. Karena sebagian besar prajurit bayaran terus kalah cepat membereskan monster yang melawan.


Eldania kini mengayunkan pedangnya dalam sekali kibas, dan membuat darah monster yang melumuri pedangnya itu, langsung tersapu bersih.


“ Bisa membunuh sesuka hati seperti ini, ternyata menyenangkan juga. “ ucap Eldania dengan senyuman yang kian mengembang.


Tanpa rasa bersalah, membunuh makhluk yang memang harus dibunuh, sukses membuat suasana hatinya bisa cukup senang.


Dan alasannya cukup sederhana. 


Yang dia bunuh bukanlah manusia. Melainkan, adalah monster.


Maka dari itu. Rasa dari penyesalan yang biasanya datang di akhir, tidak dirasakan oleh Eldania yang notabene nya adalah orang yang terbiasa membunuh.


Dan satu hal lagi.


Sesuatu yang tidak membuatnya menyesal sekalipun memang terpaksa membunuh manusia adalah, jika yang dia hadapi adalah untuk melawan kejahatan. 


Karena di dunia ini….


Dalam hidup yang sudah Eldania jalani selama ini, dia mempunyai satu pepatah. Bahwa….

__ADS_1


' Ada penyakit yang tidak bisa diobati tanpa pembunuhan. '


Dan itu adalah kejahatan.


__ADS_2