
"Jika aku tidak menyerahkan anak itu padamu, apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya, pada seorang pria berseragam tentara yang ada di depannya.
Alinda bermaksud untuk melihat situasi di sekitar, karena orang yang ingin berbicara pasti akan memberikan sedikit waktu untuk bebicara, maka dari itulah celah untuknya.
"Oho~ Ternyata kau seorang wanita." Seketika ekspresi wajahnya menjadi bahagai, penuh dengan rasa tertarik.
Lantas pria ini ikut keluar dari persembunyiannya, dan berdiri berhadapan dengan sosok yang berada di jarak 30 meter di depannya.
"Aku sarankan serahkan saja mereka berdua padaku, jika tidak ingin mendapatkan konsekuensinya."
"Konsekuensi yang seperti apa ya? Aku jadi penasaran." Tanyanya lagi, dengan wajah penuh tanda tanya, seolah tidak tahu.
Padahal di sini konsekuensi yang mereka dapatkan tentu saja adalah kematian, karena perebutan harta berharga dari dua orang bocah.
Selain kematian juga bisa jadi menjadi sandera untuk mereka, apatah lagi Alinda adalah seorang wanita, itu bisa menjadi masalah besar jika kalah.
"Heh! Apa kau sedang pura-pura tidak tahu? Karena kau wanita yang cukup cantik, serahkan mereka berdua atau aku akan mengalahkanmu, dan membuatmu menjadi milikku, lalu-" Sengaja menggantungkan kalimatnya, senjata yang dia pegang langsung di todongkan ke arah depan. "Menyiksamu dengan cara yang lebih menyiksa sekaligus menyenangkan ketimbang membuatmu mati dengan cara yang singkat itu."
Hanya keterdiaman yang didapatkan, pria in ikembali berkata.
"Kenapa diam? Apa sekarang kau sudah mulai taku, dan menemukan pilihan terbaikmu?"
"Tidak." Dengan senyuman remehnya, Alinda menjawabnya lagi. "Aku bukannya takut pada ancamanmu, tapi aku penasaran, kematian seperti apa yang akan menghampirimu setelah berkata seperti itu kepadaku?" Jelas Alinda, memberitahu maksud dari keterdiamannya sesaat tadi.
"Dia! Berani sekali." Nathan semakin tertarik dengan apa yang akan terjadi kali ini.
Sedangkan Ethan, hanya berdiri sambil menyaksikan anak kecil yang mirip dirinya itu.
"Eldania." Panggil Ethan dengan nada lirih. "Kenapa dia membuatku melihat ingatannya?"
Karena semua yang akan terjadi di depan mereka berdua adalah hasil dari ingatan masa lalu Eldania, jadi Ethan dan Nathan benar-benar tidak akan pergi dari sana, dan justru menyaksikan apa yang akan terjadi.
Rasa tertarik itu jelas muncul, karena mereka berdua tahu kalau wanita di depannya itu adalah orang yang punya sifat yang kuat, untuk memprovokasi orang lain.
Sekaligus, mereka penasaran dengan cara bertarungnya. Karena apa yang Ethan dan Nathan lihat, semua yang ada di sekitar mereka, adalah tempat yang benar-benar jauh berbeda dengan di dunianya.
"Kau kelihatannya memang cukup percaya diri dengan kemampu-"
DORR........
CRAT.......
Kalimatnya dalam detik itu langsung terpotong dengan cukup menegangkan, dimana satu peluru yang keluar dari senjata milik wanita itu langsung menggores pipinya, sehingga darah segar mulai keluar.
Apa lagi dengan tatapan yang cukup dingin, sebagai bukti penyampaian bahwa tatapannya itu menggantikan kata peringatannya, yaitu:
'Berisik.'
"Karena kau tidak segan melukai wajahku! Aku akan meladeni kau!" Teriaknya sambil mengacungkan pistolnya ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Bersiaplah." Dengan nada lirih, dia memberikan kode kepada Elvin untuk bersiap lari ke arah Liam.
Elvin mengangguk, dan Alinda, dia justru langsung sedikit menunduk agar tubuhnya condong ke depan, lalu dia segera berlari ke arah musuh yang kini mulai menarik pelatuk, juga pemicu.
DRAP.......DRAP........DARP.......!
"Sialan!" Decih pria ini, lalu dalam waktu yang singkat itu, sebuah tembakan langsung mengisi keheningan di dalam basement.
DORR......!
DORR…..!
Di saat yang bersamaan, Alinda mengangkat pistolnya dan menarik pemicunya juga, hingga akhirnya.
CTAK......!
CTAK…..!
Menghasilkan suara yang cukup keras, untuk dua pasang peluru yang saling beradu dengan peluru lainnya.
Sedangkan Elvin, kiranya sudah mendapatkan waktu yang tepat, di mana jarak pandang sang musuh terus teralihkan antara dirinya atau Alinda, dia langsung berlari ke arah Liam yang terus menunggu sembari berjaga dan ikut mengamankan situasi sekaligus membalas serangan dari musuh yang baru datang dengan melempar sebuah bom.
"Tutup telinga kalian!" Peringat Liam.
DHUARR.........!
Hasilnya, suara yang cukup menyakitkan gendang telinga berhasil memperlembat gerakan mereka.
"Akh! Mataku!" Rasa perih di mata menjadi hadiah mereka.
"Tembak apa pun yang ada di depan kalian!" Perintah seseorang, kepada semua anak buahnya.
DORR.....
DORR….
DORR…..
Akhirnya sebuah kekacauan dengan rentetan tembakan berisi hujan peluru, terus mengisi suasana yang semakin menegangkan dan mencekam.
Ketika Liam mulai bergerak dengan menggendong ke dua bocah itu masuk ke dalam gedung, Alinda justru masih di antara mereka semua dan membisikkan sesuatu ke mereka.
"Kau mau membunuh kawanmu sendiri?" Biskan demi bisikan dia buat tepat di dekat telinga mereka, tepat ketika asap masih menyelimuti seluru basement.
Suara tembakan yang berlangsung lama, dan suara derita dari rasa sakit yang kemudian berakhir dengan keheningan, menjadi tempat mereka berada.
DORR....!.
"Akh! Kau menembakku!" Protes seseorang dengan mata masih perih, tapi kini sudah di tambah dengan luka tembakan di tangan kirinya.
__ADS_1
"Aku memang menembakmu dengan sengaja. Apa tidak terima?" Sebuah bisikan lagi terdengar.
"Siapa?!" Menoleh ke belakang, tapi orang yang barusan berbicara sudah pergi dari sisinya.
Bukan karena temannya yang salah tembak, melainkan di antara mereka yang masih di kelilingi asap, ada satu orang yang terus berkeliaran, memberikan bisikan sesat dan membuat mereka terkecoh, hingga mereka saling menodongkan pistol ke arah satu sama lain.
Hingga pada akhirnya:
DORR.....!
DORR.....!
DORR......!
WUSHHH..........
Angin yang datang, karena ventilasi udara yang sudah kembali normal, segera membersihkan asap di area di empat parkir tersebut.
Dan.....
CKLAK.......
Mengganti dengan magazine yang baru, wanita ini sudah berdiri di tengah kumpulan mayat yang sudah berhasil menodai lantai dengan darah mereka semua.
“.............!” Membuat Ethan dan Nathan dalam jangkauan rasa tercengang di urutan tertingginya.
"Amis." Satu kata yang terucap dari mulutnya dengan wajah datar tanpa ekspresi apa pun dari Alinda, langsung membuat beberapa orang yang terbaring namun masih hidup, langsung terdiam membisu.
Sorotan mata yang dingin yang tidak bisa di artikan antara puas atau tidak puas.
Puas mebereskan mereka semua, ataupun rasa tidak puas karena hanya berlalu dengan sangat singkat.
[Wanita ini?! Dia bisa membereskan puluhan orang dalam waktu singkat dengan hanya menggunakan senjata aneh itu?] Ethan benar-benar terkejut dengan strategi yang digunakan Alinda, adalah strategi yang menurut Ethan cukuplah mengerikan.
Karena mampu membuat musuhnya sendiri, justru menembakkan senjatanya ke temannya sendiri.
[Dia?! Apa dia benar-benar manusia?] Pikir Nathan. Dia juga merasakan ketegangan yang cukup mendalam dan sangat terasa sampai ke tulangnya. “Aku baru pertama kali melihat wanita seperti dia-”
“Mampu membunuh sesama manusia dengan sangat mudah.” Ucap Ethan, menyela ucapan saudaranya yang menggantung, dengan wajah masih memasang ekspresi serius karena terkejutnya itu.
“Aku jadi tidak yakin dia ini manusia. Dia bahkan lebih mengerikan ketimbang dijuluki sebagai Iblis.” Gumam Nathan kepada kakaknya.
Mereka berdua benar-benar tidak percaya kalau wajah polos dengan senyuman lembut yang beberapa waktu Ethan dan Nathan lihat, adalah pemilik dari ekspresi dingin, sedingin es yang mampu membekukan segala yang wanita lihat.
Sorotan mata dingin layaknya predator yang baru saja menemukan mangsanya.
Sebuah ekspresi yang berubah 180 derajat.
"Ternyata kalian hanya bisa tahu cara untuk menembak saja." Ucapnya, mencibir semua orang yang tergeletak itu, hanya bisa menembak ke depan atau samping saja.
__ADS_1
“Dia benar-benar bisa melakukannya tanpa sungkan.” Kata Nathan lagi dengan nada lirih penuh penekanan, memperjelas semua yang dia lihat saat ini.