
Langkahnya pelan, berguna untuk menikmati tiap langkah yang dia ambil untuk mencapai satu tujuannya, yaitu.....
[ Menyenangkan burung ini. ] Pikir Eldania, kepada seekor burung yang terus berada di bahunya.
" Baiklah, berikan aku layanan terbaik dengan makanan yang enak. " dengan sikap angkuhnya, Everst menunjuk ke satu bangunan bertingkat 3.
Eldania melihatnya, bangunan apa yang ingin di kunjungi oleh Everst?. Itu adalah Restoran.
Eldania menurutinya, karena pada dasarnya dia sudah lama tidak bepergian ke restoran, makan-makanan mewah?.
Tidak juga, Eldania adalah tipe orang yang bisa makan apa pun, entah hanya makanan kampungan atau makanan milik konglomerat, dia bisa makan semua itu asal sesuai dengan lidahnya saja.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya dia sampai di tempat yang ditunjuk oleh Everst barusan. Dan tentunya saat hendak masuk, dia langsung disambut oleh seorang resepsionis.
Seorang resepsionis terus memandangi Eldania yang baru saja datang ini, melihatnya dari atas sampai bawah dengan seksama, sampai akhirnya matanya kemudian mengernyit setelah melihat ada burung coklat yang gadis ini bawa di atas bahunya.
" Hewan peliharaan dilarang untuk masuk. Sekalipun bisa masuk memangnya murid dengan seragam sepertimu itu........." menatap seragam putih yang di kenakan oleh Eldania. " Mampu untuk membayar makanan di sini?. " peringat wanita ini, setelah melihat penampilan siswi Academy yang menggunakan seragam putih.
Tapi Eldania dengan ekspresi tenangnya segera menjawab ucapan dari resepsionis ni. " Hmmm.........dengan kata lain, terlepas dari seragam yang aku kenakan, asal aku bisa membayar mahal berarti aku bisa masuk dengan temanku ini kan?. "
Wanita ini mengedikan bahunya tak acuh. " Itupun jika kamu punya uang. " celetuk wanita ini, masih menyatakan perang ketidaksukaannya terhadap gadis ini. " Biayanya sangat mahal, dari pada menguras uang sakumu yang pasti tidak seberapa banyak itu, ada baiknya pergi ke restoran murahan yang sederajat denganmu kan. Karena hidup di sini tidaklah murah. Jika sudah mengerti, pergilah dari sini. "
Awalnya Eldania terdiam, tapi keterdiaman nya itu tidak bisa bertahan karena baru saja mendengar kalimat yang cukup lucu. " Pfftt....." Eldania cekikikan.
Sebuah perbedaan persepsi.
"..................!, apa?, kenapa tertawa!. " wanita ini terkejut, tidak suka dengan gadis ini yang tiba-tiba tertawa ini.
" Hahaha........habisnya, dalam kalimatmu itu............." Eldania sengaja menggantungkan kalimatnya dan tatapan matanya saat menatap kakak perempuan iblis ini adalah sebuah tatapan jenaka. " Seperti menyatakan rasa khawatirmu padaku. Padahal tidak ada hubungannya antara seragam putih dengan uang, karena bukan berarti orang sepertiku tidak punya uang. " jelas Eldania, alasan kenapa dirinya bisa tertawa.
TAP........TAP.......TAP......
" Apa yang terjadi di sini, kenapa membuat seorang tamu berdiri di luar terus. "
Tiba-tiba seseorang datang menegur wanita yang berprofesi sebagai resepsionis.
" .................!, tuan.... " panggil si resepsionis ini dengan wajah terkejutnya, gara-gara laki-laki yang dia panggil tuan datang dengan senyap. " I-itu, dia ingin makan di sini, tapi dia punya hewan peliharaan yang ingin dibawa. Padahal jika melihat dari seragamnya, sudah jelas dia adalah manusia dari rakyat jelata. Mana mungkin dia bisa membayar mahal. "
" Apakah hanya itu alasanmu?. " dengan suara dinginnya, hal itu sukses membuat wanita ini terdiam karena bergidik ngeri.
"....................."
" Tadi sudah dengar sendiri, antara uang dengan seragam yang di pakai, itu tidak ada hubungannya sama sekali. Jika tamu ini dengan percaya diri datang ke sini, berarti kau harusnya sadar kalau dia memang mampu membayar. Tapi..... " Dan orang ini berjalan mendekati wanita tersebut dan berhenti tepat di sebelahnya, setelah itu dia pun berbisik dengan pelan dengan nada dinginnya. " Jika masih tidak mengerti juga, artinya kau memang tidak mengerti bahasa manusia. " bisiknya.
__ADS_1
Seperti iblis yang sedang menghasut manusia dalam sebuah bisikan, maka orang ini adalah dalang dari semua itu. Pria ini membisikkan anak buahnya yang tidak becus ini untuk sadar diri akan posisinya itu, karena.....posisinya itu tidak lebih dari sekedar lalat yang mampir.
Artinya, lalat yang dari awal mengganggu, jika di usir tetap datang kembali mengganggu maka mudahnya adalah harus di dingkirkan.
Dan itulah peran dari resepsionis ini.
"..............." Wanita ini pun sadar dengan penuturan tuannya, jadi yang bisa dia lakukan demi menjaa posisinya agar tidak di pecat, dia hanya terdiam setelah mendengar peringatannya.
" Pulang dan renungkan selama seminggu. " perintahnya. “ Jika setelah ini kau masih membuat masalah, saat itu juga kau ambil gajimu dan pergi dari sini. “ tambahnya lagi, memberikan peringatan terakhir.
" B-baik tuan. " dengan wajah pasrahnya, wanita ini pun menuruti perintah tuannya.
Setelah kepergiannya, laki-laki ini pun berbalik dan berkata. " Jadi, apakah anda mau memaafkan kesalahan dari pelayan kami, no-..........." Tetapi semua ucapannya langsung menghilang begitu saja di udara, setelah melihat nona yang hendak dia sapa dengan benar ternyata adalah orang yang dia kenal.
" Takdir mempertemukan kita lagi, ya..... " Ucap Eldania dengan sebuah senyuman kecilnya. " Erich. " panggil Eldania, kepada pria dengan separuh topeng menutupi separuh wajahnya.
"......................." lalu pria yang di panggil Erich hanya mengatup mulutnya dan berbalik memunggungi gadis ini. " Masuklah. "
" .......................... " Everst memiringkan kepalanya. Dia cukup terkejut, rupanya anak ini bisa ada di tempat sejauh ini dengan mudah karena kekuatannya. Dan sekaligus memperlihatkan kilatan memori kalau dirinya juga pernah mencakar wajahnya Erich ini.
Eldania dan Everst yang setia ada di bahunya, akhirnya masuk ke dalam satu restoran terkenal di kota Dilshade.
Sesaat setelah masuk, para pelayan menyempatkan diri mereka untuk menyapa mereka dengan rasa hormat.
Kwakk.....
Everst mengajukan protesnya, untuk memotong sementara rasa penasaran mereka berdua.
Kwak..........
[ Apa dia burung peliharaannya?. ] Erich baru menemui burung itu secara langsung dan lebih dekat seperti ini.
" Kami ingin makan di sini. "
" Ini. " Erich memberikan buku berisi menu daftar makanan kepada Eldania, lalu pergi sedikit menjauh dari mereka berada, dengan dalih ingin duduk di dekat jendela yang mengarah ke salah satu jalan utama di kota Dilshade.
Setelah mengajukan makanan yang ingin di pesannya, penantian mereka akhirnya terbayarkan karena menemukan keberuntungan yang nyata, sebab mereka berdua dijamu dengan cukup baik oleh Erich.
Membuat Eldania tidak sabar untuk membuka suara. " Apa ini restoranmu?. " sambil celingukan ke kanan dan ke kiri, lagi-lagi dokorasinya terlihat modern.
" Jika iya kenapa?, tapi dari pada itu, kau.... " Erich pula mulai menganalisis perempuan di depannya, benar-benar dia. " Kenapa bisa di sini?. "
" Apa lagi?, jika bukan karena sekolah. "
__ADS_1
" Tapi..., seragammu. " mengernyit karena Erich merasa aneh saja. Eldania, dia adalah perempuan yang sudah diangkat menjadi adik dari Archduke, jadi harusnya seragamnya bukan lagi berwarna putih, tapi ini....malah memakai seragam itu.
" Aku tidak tahu. Asal bisa sekolah disini, bukankah sudah lebih dari cukup?. " Eldania tidak begitu peduli dengan apapun warna seragam yang dipakainya, tapi kenapa orang lain begitu peduli?.
" Harusnya, kau sudah lebih dari cukup hidup enak di kediaman Scneider, kenapa pergi jauh-jauh ke sini?, di sini hanya tempat..... "
" Tempat untuk bersaing. Aku tahu... " sela Eldania, dia tahu apa pilihan yang dia ambil. " Apa lagi dengan iblis. Jangan pedulikan aku tentang ini....... "
"...................."
[ Kenapa dia tidak melepas topengnya?. Atau karena dia mau menyembunyikan wajahnya terus dari orang lain. ] Eldania tidak tahu persis alasan kenapa Erich memakai topengnya terus, padahal bekas luka yang Erich punya sudah menghilang.
Tapi yang terpenting, Eldania bersyukur....kalau orang ini terlihat sehat-sehat saja terlepas dari pertengkaran dengan kedua orang tuanya waktu itu.
[ Dia hebat. ] dalam diam, Eldania memujinya karena kerja kerasnya. [ Jadi.....bagaimana denganku?. ]
SLURRP......
Menyeruput teh hangat tanpa gula, Eldania diam dan berpikir sejenak.
" Dan....apa itu peliharaanmu?. " Dengan sorotan matanya yang terpaku pada burung yang sedang makan daging matang.
Everst sedang menikmati makanannya sendiri dengan begitu lahap. Bahkan sampai-sampai tiap potongan daging yang sudah dipotong kecil-kecil oleh Eldania, Everst ambil dengan paruhnya dan sedikit melemparnya ke udara sebelum akhirnya potongan daging itu langsung di telan di telan begitu saja.
Itu adalah pemandangan yang membuat Erich semakin mewaspadai keberadaannya. Sebab beberapa detik tadi Everst sempat menjelingnya dengan cukup tajam.
" Iya...dia temanku, Everst. " sambil menepuk kepala Everst dengan pelan.
[ Tapi aku baru sadar, aku makin lama jadi terobsesi dengan burung ini, apa alasannya ya?. ] Eldania berpikir lagi.
Tangannya tidak henti-hentinya mengelus punggung burung ini, rasanya ingin dia peluk sebagai bantal guling, tapi dia harus menahan perasaan posesifnya itu di depan orang lain.
Lalu, sebuah pendapat dalam pikiran Erich akhirnya muncul. [ Dia memang perempuan aneh. Atau...mereka berdua memang pada dasarnya aneh?. ]
Di mata Erich, dua makhluk di depannya itu mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan.
Erich melihat wajah Eldania yang terlihat menyukai burung yang dipanggil Everst itu dengan sentuhan yang terlihat menja. Dan di satu sisi, Everst si burung coklat juga terlihat menikmati dari makanan yang sedang di makan, maupun sentuhan yang burung itu dapatkan dari Eldania.
Sungguh pemandangan yang langka untuk Erich.
[ Burung itu sepertinya mengerti ucapan manusia. ] Apa pun itu, Erich sadar kalau di tiap pertemuannya dengan gadis ini, pasti akan ada hal aneh ataupun menarik lainnya, tapi tidak selalunya begitu. Karena terakhir kali pertemuannya, gadis ini memperlihatkan kemampuan besarnya.
Meski sangat disayangkan….
__ADS_1
Erich menyangkan, fakta kalau Eldania justru memakai seragam putih.