
“ Aku pasti akan mengembalikannya. “ Jawab Erich dengan mata masih terpaku pada buku yang dia terima dari Caster.
Caster hanya menatap Erich sesaat sebelum akhirnya dia membalikkan badannya dan pergi dari sana.
Hari memang sudah menjelang sore, jadi Eldania pun berniat untuk pulang ke asrama. Tapi sebelum itu, Eldania menyampaikan sesuatu kepada Erich. “ Untuk ini, aku berterima kasih padamu. Jika ada apa-apa cari saja aku. “ Ucap Eldania kepada Erich sambil memperlihatkan gulungan kertas kontrak kepadanya, sebelum dia sama-sama pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka berdua, Erich kembali duduk sambil menyandarkan punggungnya ke belakang, lalu membuka buku yang sudah dipinjami oleh laki-laki berambut pirang tadi.
Aura biru yang terpancar dari buku itu perlahan menghilang. Erich tahu bagaimana caranya untuk membuka segel itu, dan itu dengan menggunakan sihirnya.
“....................” Erich kemudian membuka sampul buku itu, dan lembaran pertama yang dia dapatkan adalah berisi daftar macam sihir yang dibuat dengan menggunakan darah sebagai perantara untuk mengaktifkan sebuah kutukan. [ Aku penasaran dari mana dia bisa mendapatkan buku semacam ini. Apa dia ingin membuatku mempelajari sihir semacam ini juga, untuk bisa mengutuk orang yang tidak aku sukai?. ]
Lembar demi lembar dari buku yang memiliki ketebalan yang lumayan membuat Erich pun ada dalam kesibukannya sendiri.
“..............., ada yang robek. “ Erich menemukan ada dua halaman kertas yang menghilang, dan itu benar-benar menyangkut soal sumpah darah. [ Nanti aku tanya saja padanya. Dia pasti lebih tahu soal sumpah darah. ] Dan Erich pun menutup bukunya.
Meski wajahnya terlihat hanya menampilkan ekspresi wajah lelah, tapi sebenarnya hatinya yang lebih lelah. Dia sedang dilanda kecemasan karena dua hal.
Soal Eldania yang punya kemampuan untuk menggodanya, dan soal dimana sekarang dia harus menghadapi kemungkinan terburuk pasal sumpah darah yang ada dalam dirinya.
“ Hahh….~. “ Erich menghela nafas pelan dan panjang. Dia mendongak ke atas dan menghadap ke langit-langit sambil memejamkan matanya.
Sebuah kilatan memori yang Erich miliki kembali muncul di benaknya.
Kilatan memori itu memperlihatkan seorang wanita yang sedang duduk di seberang meja dan tempatnya adalah di sebuah restoran.
Wanita itu meskipun sedang sendirian, tapi dianya sedang memiliki pembicaraan dengan orang lain di ujung telepon sana.
‘ Cinta?. Aku bahkan tidak punya perasaan apapun kepadanya. Aku hanya menjalin hubungan sampai mau menikahinya hanya demi uang dan statusnya sebagai nyonya besar keluarga Ardnan. ‘
Dan pembicaraan itu pun berlanjut.
‘ Ya...aku pikir dia juga punya pemikiran yang sama. Hubungan pernikahan ini hanya didasari keuntungan masing-masing, jadi aku tidak merasa rugi.
Asal kamu tahu sayang, dia hanya mencintai pekerjaannya saja ketimbang aku. Jadi tidak masalah jika dibelakangnya aku menjalin hubungan denganmu. Lalu aku beritahu kamu ya, bahkan suamiku itu adalah orang yang tidak bisa marah. Sungguh lucu, padahal aku banyak menghabiskan uangnya sampai ratusan juta dalam satu minggu. ‘
Tidak sampai disitu saja, semua pembicaraan mengenai suaminya yang dilakukan lewat telepon kian berlanjut.
‘ Hahaha…..apa kau yakin dengan itu?. Aku sebenarnya memang punya niat seperti itu, tapi jika dia mati siapa yang akan tahu apa isi wasiatnya yang sebenarnya. Aku tidak mau mengambil resiko itu.
Ah…….tentu saja kau adalah orang yang aku cintai, jika sudah waktunya aku pasti melakukannya denganmu. Tenang saja, meskipun pernikahanku sudah berlangsung setengah tahun, tapi dia belum pernah menyentuhku sama sekali.
Hahaha….benar. Suatu hari itu pasti akan mendatangi kita. Dimana kamu dan aku akan saling memiliki. Iya….’
Dan Erich yang mempunyai masa lalu dari kehidupan sebelumnya, akhirnya menemui kematiannya dimalam itu juga karena frustasi dengan wanita yang sebenarnya dicintainya ternyata diam-diam punya rencana lain dan mempunyai hubungan dengan pria lain.
Dia menemui ajalnya karena kecelakaaan lalu lintas gara-gara mabuk.
Erich kemudian tersenyum getir. Dia langsung tersadar kembali dalam kenyataan yang sebenarnya ada pada saat ini.
Dia menertawai dirinya sendiri yang mati karena seorang wanita. [ Hahaha...sangat konyol, aku mati seperti itu. ] Erich menutup sepasang matanya dengan lengan tangan kanannya.
Dan kematiannya itu membawanya masuk kedalam kehidupan keduanya yang ada di dunia lain. Bahkan sampai dia tidak mempercayai bahwa kehidupannya kali ini dia memiliki kemampuan yang tidak pernah ada di kehidupan lalunya.
Maka dari itu, Erich memikirkan dengan semua ucapan Caster soal apa yang dimiliki nya akan kembali kepadanya. Karena kenyataan dari diri Erich adalah dia kehilangan semuanya.
Waktu, cinta, harga diri sebagai seorang pria dan juga kekayaan yang sudah dia miliki di kehidupan sebelumnya semuanya menghilang dalam sekejap mata.
Karena itu dia merasa iri dengan Caster yang terlihat sebagai orang yang memiliki segalanya tanpa punya beban, karena laki-laki itu sekaligus tidak memiliki hati untuk memperhatikan siapa lawan bicaranya saat itu juga.
Oleh sebab itu Erich beberapa waktu lalu sempat tergoda oleh Eldania yang melakukan godaannya kepadanya.
Hal itu disebabkan karena Erich pada dasarnya dari awal tidak pernah dekat dengan perempuan dan hanya terfokus dengan pekerjaannya sendiri. Jadi masalah goda menggoda, dia bisa terjerumus kapanpun karena tidak memiliki antibodi tentang hubungan antara perempuan dan laki-laki selain hanya suka secara sepihak gara-gara pengalaman dimasa lalunya masih Erich miliki.
[ Eldania….dia selain berbahaya sebagai seorang petarung, dia juga berbahaya sebagai seorang wanita. Tapi bisa-bisanya aku tetap punya urusan dengan orang seperti dia. ] Lagi-lagi Erich kacau dalam pikiran.
Sampai semua pikiran Erich langsung ditarik kembali setelah tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu yang terdengar tidak sabaran itu.
Tok...Tok...Tok…..
“ Tuan… “
Erich langsung bereaksi dengan suara yang barusan dia dengar. Itu adalah suara milik Ernest.
__ADS_1
Tok….Tok….Tok……
“ Tuan...ada keadaan darurat. “
“.....................” Erich langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu. Dia langsung membuka pintu yang dari tadi terus mengeluarkan berisik. “ Ada apa?. “
Ernest yang memperlihatkan wajah ketakutan, dengan terbata-bata menjawab pertanyaan dari tuannya. " I-itu..di..toilet. Ada….d-dua orang yang mati. “
[ …………….!. ] Erich langsung tercengang dengan penuturan Ernest. “ Toilet di lantai berapa?. Dan apa kau sudah menutup pintunya dan menguncinya?. “ Tanya Erich kepada Ernest, lalu berjalan tergesa-gesa melewati Ernest.
“ Di lantai dua ini tuan. Dan saya sudah mengunci pintunya sebelum datang kemari. “ Jawab Ernest sambil berjalan mengikuti Erich dibelakangnya.
“ Apa ada yang tahu selain kau?. “
“ Saya yakin tidak ada. “
Erich pun bergegas untuk sampai ditoilet yang dimaksud oleh Ernest. Sesampainya disana, Ernest membukakan pintu itu untuk tuannya dan langsung menutupnya kembali saat mereka berdua sudah masuk.
Terlihat dua orang laki-laki yang dimaksud oleh Ernest itu tadi, ternyata tergeletak di lantai dengan luka yang cukup dalam menusuk tepat kebagian jantung mereka berdua.
“ Apa yang harus kita lakukan tuan?. “
Erich memandang kedua orang yang tergeletak itu dengan seksama, kemudian dia sedikit berjongkok dan mencoba melihatnya lebih dekat lagi.
“................., aku yang akan mengurus dua mayat ini. Kau bersihkan lantai ini sampai bersih. Lalu jangan pernah buka sampai dua hari kedepan. “ Perintah Erich kepada Ernest.
Ernest hanya mengangguk setuju dengan perintah yang diberikan oleh tuannya itu.
Ernest kemudian keluar dari sana untuk mengambil peralatan pel. Sedangkan selagi Ernest keluar, Erich langsung melakukan apa yang bisa dia lakukan saat ini dengan kekuatannya.
Dia akan memindahkan mayatnya ke tempat lain, yaitu ke rumahnya. [ Dari kematiannya belum lama ini. Dan tidak ada tanda-tanda perlawanan karena yang dilawan mereka berdua langsung membunuhnya dalam sekali serang. Siapa yang mampu melakukan ini?. Walaupun aku tidak tahu apa motifnya, tapi mereka berdua......dia adalah Iblis buatan. ]
Sedangkan Ernest yang sudah kembali dengan satu ember dan kain pel juga lap kering, sedikit terkejut karena tuannya beserta kedua mayat tadi sudah tidak ada lagi disana. [ Kemana tuan membawanya pergi?. ]
___________________
Warna langit yang semula berwarna biru, kini berubah menjadi orange, menunjukkan hari sudah menjadi senja.
Tapi itu untuk penduduk asli dari Dilshade, sedangkan mereka berdua.....
TAP.................TAP................TAP.........
Kedua pasang kaki itu berjalan dengan tempo yang sama dengan posisi memimpin dan mengekori.
Yang satu berjalan dengan ekspresi serius dalam posisi kalut sebab sebuah pikiran, sedangkan yang satunya lagi hanya terdiam membisu sembari menatap punggung orang di depannya itu.
' Sumpah darah. Sumpah yang diturunkan dari darah keluarga.
Baik itu orang yang menggunakan sihir itu sendiri, anak-anak dan saudaranya, itu adalah sihir yang mengikat semua orang yang memiliki hubungan darah dengannya, dan mengikat mereka pada suatu objek.
Selama garis keturunan tidak putus, maka sumpah itu juga tidak akan putus. '
TAP......
Langkah yang semula bergerak, berhenti di tengah jalan.
[ Jadi......, dengan arti lain, sumpah darah adalah kutukan itu sendiri!. Penyihir macam apa yang menggunakan sihir untuk mengikat dirinya sendiri dan keturunannya sendiri?. Tujuannya untuk apa? ] Dan seorang gadis yang terbuai dengan pikirannya itu pun mulai mendapatkan sedikit pencerahan karena otaknya sudah sedikit demi sedikit sudah menemukan jawaban.
Kemudian ketika mendengar langkah kaki di belakangnya ikut berhenti, dia segera berbalik.
Eldania akhirnya melihat siapa gerangan seseorang yang terus mengawali perselisihan jika ada didekatnya, yaitu Caster.
" Kenapa?. " Sekarang yang menjadi fokus utama di dalam pikirannya adalah orang yang ada di depannya itu. " Kenapa kau terus mengikutiku?. " Eldania menatap satu orang dari satu-satunya pemilik rambut pirang emas di sini, siapa lagi kalau bukan Caster. " Dan apa untungnya bagimu terus mengikutiku?. "
Akhirnya dua pertanyaan langsung terlontar begitu saja kepada Caster yang sedari awal sudah berjalan mengikutinya. Bukan hari ini saja, tapi sudah dari beberapa bulan ini pria ini terus saja seperti berada di sekitarnya entah kapan dan dimanapun itu pasti ada orang ini.
Caster yang ikut berhenti melangkah itu membalas tatapannya Eldania dengan senyuman tipis seperti bulan sabit yang memuakkan. " Apa kau tahu arti ucapanmu padaku?. Jelas karena aku ingin mengikutimu dan apa untungnya adalah aku bisa mengikutimu juga. "
" Jawaban macam apa itu?!. " Eldania menatap Caster dengan ekspresi tidak suka, tidak suka dengan jawabannya yang tidak memuaskan.
Dari diri Caster, yah..sebenarnya Eldania hanya suka dengan wajahnya saja, tapi tidak dengan kepribadiannya yang songong itu.
" Dari pada mengharapkan jawaban alasan dan keuntungan apa yang aku dapatkan, bukankah lebih penting lagi bagaimana caranya kau bisa mengalahkanku di acara turnamen pedang?. " Tutur Caster dengan begitu santainya, memperingatkan wanita di depannya ini untuk kembali melakukan adu kemampuan. " Sama seperti malam-malam itu. “
__ADS_1
Tepatnya adalah malam dimana saat Eldania masih tinggal di kediaman Scneider, dan di beberapa malam itu dia dengan Eldania melakukan sesi pertarungan yang seharusnya tidak pernah terjadi tapi harus terjadi, agar wanita di depannya itu bisa lebih kuat.
Karena Caster tidak ingin melihat wanita ini, tidak memiliki kemampuan untuk sekedar balik menyerang balik. Dia tidak ingin sesuatu di masa lalunya terulang kembali, maka dari itu Caster menginginkan wanita ini lebih berguna lagi dan lebih kuat dari pada masa lalunya yang hanya bekerja sebagai asistennya saja yang tidak memiliki kemampuan bertarung.
“ Atau kau masih memikirkan tentang sumpah darah?. " Ucap Caster menambahkan.
Dan ucapannya selalu tepat sasaran.
Eldania tidak bisa menyangkal tentang pikirannya yang sedang bergelut antara sumpah darah dengan Erich yang memiliki kutukan sumpah darah itu sendiri.
Tapi yang menjadi inti topik dari pembahasan itu adalah.
[ Apa hubungannya dengan Devon yang punya buku sihir tentang sumpah darah?. ] Eldania tidak bisa menghilangkan kaitan antara orang tersebut dengan sebuah buku.
Hal itu membuat Caster segera berbicara lagi. " Jika kau penasaran dengan sumpah darah, akan aku beritahu satu hal. Sumpah darah adalah sihir sekaligus kutukan yang mengikat keberadaannya pada satu objek, sebagai bentuk kasih sayang tulusnya. "
"................... " Eldania kembali di buat berpikir. [ Kasih sayang dan tulus. Artinya......-- ]
Caster menambahkan. " Sihir yang tidak ada duanya. Cukup hebat, untuk mengekang mereka dalam genggamannya. "
' Erich, semua saudaranya, dan seluruh keluarga yang punya ikatan darah dengannya, memiliki satu objek lain yang mengikat keberadaan mereka. Yaitu sesuatu yang diartikan sebagai bentuk kesetiaan. '
[ Itulah arti sebenarnya yang diucapkan orang ini. ] Eldania pada akhirnya selalu mendapatkan jawaban dari Caster. [ Terlepas dari sikapnya yang sesumbar pada orang, dia adalah orang yang tidak akan melakukan sesuatu jika tidak ada alasan. Jadi apa alasan dia terus mengikutiku?. ] Sebab sampai di buat berpikir dengan kritis karena sikap Caster, Eldania langsung berbalik dan berjalan pergi memunggunginya.
" Tunggu dulu. Sebelum kau pergi, biar ku pastikan satu hal. " Perintah Caster, tepat gadis itu sudah mengambil 3 langkah pertama dan itu sukses membuatnya berhenti berjalan.
" Hah?. " Tepat di saat Eldania memutar tubuhnya ke belakang, dia mendapati Caster tiba-tiba berjalan ke arahnya.
TAP.......TAP........TAP.........TAP.........
Dan dalam waktu yang singkat itu, ketika jarak Caster sudah sangat dekat dengan Eldania, tiba-tiba saja Caster sedikit merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluknya.
" Diam sebentar. " Pinta Caster tepat di detik saat memeluk Eldania dengan perasaan lega.
Dia akhirnya dapat memeluk wanita yang sedang dilanda kebingungan.
Yah..apapun ekspresi yang diperlihatkan wanita ini kepadanya, Caster tidak memusingkan hal itu. Karena egonya sendiri adalah akhirnya bisa memeluk wanita ini dalam keadaan wujud sebenarnya.
" Ha?. " Matanya membulat sempurna saat mendapatkan satu pelukan secara tiba-tiba oleh pria tiran yang punya kebiasaan menyerang korbannya dengan sadis tanpa ampun dan si pemilik dari lidah setajam pedang.
Itu adalah sebuah pelukan yang sangat mendadak!.
Eldania tentu saja masih tercengang dengan situasi yang dia dapatkan di detik-detik ini, karena tidak menyangka bahwa ada kejadian yang lebih mencengangkan ketimbang Caster yang terus ada di sekitarnya dengan wajah sombong dan juga punya mulut yang suka memilih kata yang buruk kepada lawan bicaranya entah siapapun itu, saat ini ternyata sedang memeluknya.
Kini sebuah kepala mendarat di bahu sebelah kirinya Eldania. Dan di saat yang bersamaan sebuah tarikan nafas yang dalam lewat hidung langsung berhembus lewat mulut, sehingga hembusan nafas dari Caster benar-benar langsung menyapu lehernya.
Sehingga Eldania benar-benar mendapatkan sensasi panas yang cukup menggelitik.
" Sudah kuduga. " Ucapan yang begitu lirih dari Caster segera menyapa telinga Eldania. Selepas beberapa waktu memeluknya, Caster segera melepaskannya, tapi masih dalam posisi sedikit membungkuk agar wajahnya sejajar dengan Eldania. Kemudian Caster kambali menambahkan. " Aromamu benar-benar tidak menggangguku. "
"..................... " Eldania seketika membatin [ Aromaku?. ]
Itu adalah perkataan yang beberapa hari lalu dia dengar dari seorang iblis yang menjadi penjaga pintu pulau.
Masih dalam posisi sedikit membungkuk dengan wajah paling dingin, Caster berbisik tepat di depan wajahnya Eldania. " Apa kau tahu, bagiku, semua orang memiliki aroma yang busuk. Tapi entah kenapa, aromamu yang tidak masalah. " Jelas Caster.
Caster sudah kembali menegakkan tubuhnya. Ketika tangan kirinya terangkat untuk mengangkat sedikit rambut coklat milik wanita di depannya itu karena memiliki niat lanjutan untuk mengusap wajahnya, Eldania segera menepis tangannya dengan sedikit kasar.
PLAK......
" Kasar sekali. " Ucap Caster kepada Eldania, karena berani menepis tangannya.
Tapi Eldania tidak menjawab ucapannya dan lebih memilih langsung memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan Caster disana.
Hanya saja Caster justru melambaikan tangan kanannya dengan wajah senangnya kepada seorang wanita yang barusan dia peluk untuk sekedar mencium aroma tubuhnya dengan lebih dekat.
Perlahan tapi pasti, Eldania berjalan kian menjauh.
Mulai menjauh dari pandangannya.
Namun Caster tetap menunggu wanita yang kini sudah dapat ditemui sesuka hati itu, mulai pergi untuk pulang ke asramanya sendiri.
Jika akhir dari cerita ini adalah tetesan air matamu. Maka jalan kita, pasti akan ditumbuhi bunga kematian.
__ADS_1