Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
38 : Eldania


__ADS_3

Sore itu, seketika suasana di arena pertarungan antara manusia dengan monster dari tembok pertahanan utama yang dimiliki oleh Helion menjadi hening.


Itulah yang terjadi selepas yang dihasilkan oleh senjata yang digunakan oleh Eldania, seolah menjadi peringatan bahwa pertarungan mereka semua hari ini sudah berakhir.


“ Dia yang melakukannya?! “


“ Bagaimana gadis itu bisa membunuh monster yang berada di jarak jauh darinya, hanya dengan menggunakan senjata aneh itu? “


“ Itu pasti sihir. “ terka prajurit ini, setelah melihat hal barusan dengan kedua mata kepalanya sendiri.


Orang-orang yang ada disana secara serentak saling melihat ke satu arah yang sama.


Yaitu kepada seorang gadis berambut pendek itu, Eldania.


Sampai akhirnya kesatria yang menjadi teman ngobrol Evan tadi langsung memberikan tanggapan dari tebakan yang diucapkan oleh prajurit bayaran barusan. “ Kau salah. Dia tidak menggunakan sihir untuk menembakkan senjata itu ke monster. “


“ Kalau bukan sihir, terus apa? Jelas-jelas perempuan itu bisa membunuh monster dalam sekali tembak. “ ucap prajurit ini, masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Evan barusan.


Sudut matanya sekilas melirik ke arah prajurit itu, lalu menjawab keraguan yang dimiliki oleh prajurit tersebut. “ Sihir bukanlah satu-satu kekuatan untuk membunuh. Misalnya saja monster kelas B.


Sebagai prajurit bayaran peringkat B, kau yang mengandalkan kekuatan fisik, paling tidak memerlukan waktu lebih dari enam menit untuk membunuhnya.


Sedangkan aku, yang punya energi ‘Mana’ untuk memperkuat kekuatan fisik, paling cepat kurang dari tiga menit baru bisa membunuh monster.


Tapi, berbeda untuk gadis itu. Dia tidak bergerak dari tempatnya, juga tidak mengeluarkan ‘Mana’ dari tubuhnya, namun kurang dari empat detik tapi langsung bisa menumbangkan monster dengan kelas yang sama dengan monster yang kita bunuh.


Jadi kira-kira perbedaan kita terletak ada dimana?“ Kata Evan panjang lebar dan berakhir dengan sebuah pertanyaan.


Prajurit bayaran ini menjawabnya. “ Senjata lah. “


Lalu ksatria ini tersenyum puas dengan jawaban yang barusan dia dengar, karena jawabannya tepat.


“ Binggo. Kita berdua memang menggunakan senjata juga, hanya saja itu adalah pedang. “ Ksatria ini pun mengangkat pedangnya dan memasukkannya ke dalam sarung pedang. “ Tapi dia. “ Tidak lama kemudian, kesatria ini menjeling ke arah perempuan yang masih diam berdiri jauh di depan sana. “ Menggunakan senjata yang sangat berbeda dengan kita. Dan semua desain senjata yang kau tahu, memangnya semua nya berasal dari mana?“


Ksatria ini kembali menoleh ke arah prajurit tersebut. Dia memberikan senyuman tipis penuh makna, dan dari pada itu, pria ini mengangkat tangan kanannya sambil menyentuh kepalanya dengan jari telunjuknya.


“ Itu berasal dari sini. “ ucapnya dengan nada rendah sekaligus tatapan yang cukup dingin.


Dengan dalih jawaban untuk menjawab keraguan dan penasaran yang dimiliki oleh prajurit bayaran ini, sebenarnya ksatria ini sedang memberikan sindiran.


‘ Apa gunanya punya kekuatan jika tidak bisa menggunakan otak. Lihat...perempuan yang biasanya kau rendahkan, justru bisa mengalahkan waktu tercepat dalam membunuh monster. ‘


“ Apa? “ Prajurit bayaran ini seketika menyadari makna yang terkandung dalam ucapan ksatria itu, dan membuatnya menggertakkan giginya karena kesal baru saja dihina secara tidak langsung.


Meskipun begitu, apa yang dijelaskannya memang benar adanya.


Bahwa Eldania mampu menumbangkan monster dari jarak jauh karena senjata yang dimiliki oleh gadis itu adalah satu-satunya asal muasal dari keterkejutan mereka.


Eldania memiliki segudang pengetahuan melebihi orang lain yang ada disana.


Karena itu, Eldania tentu saja memiliki satu kesan kalau dia adaha gadis yang jenius.


__________


Di tempat kejadian perkara.


BRUKK……


Tubuh besar dengan tangan kanan yang sedang membawa sebuah gada besi yang mempunyai duri tajam langsung terjatuh setelah mendapatkan tembakan mematikan dari manusia yang baru pertama kali monster itu lihat.


Senjata tersebut hampir saja jatuh mengenai Arga yang sedikit melamun, tetapi untung saja dia berhasil menghindar sebelum dia tertindih oleh tubuh monster itu juga.


Untuk kedua kalinya bagi Arga, dia hampir mendapatkan tembakan mematikan itu. Tembakan yang bisa membunuhnya kapan saja dan dimana saja tanpa Arga hindari, sebab kecepatan yang di hasilkan oleh senjata tersebut cukuplah cepat.


Dan buktinya sudah ada di depan matanya. Arga melihat makhluk yang sekarang ada di belakangnya sudah tumbang begitu saja dengan satu kali serangan yang dilancarkan oleh Eldania.


Tentu saja Arga sekarang masih menatap Eldania dengan tatapan seriusnya. Sampai orang yang di tatap Arga langsung menyadari tatapan itu, dengan rekasi sebuah rasa bersalah.


“ Gawat……” Eldania sedikit mencemaskan tatapan itu. 


Tatapan tajam dari laki-laki yang sekarang dia lihat cukuplah menyeramkan. Jika tatapan itu untuk perempuan lain, sudah jelas itu berhasil untuk mengintimidasi nya sampai tubuhnya gemetar sendiri.


[ Aku melakukannya lagi kerahnya! ] Karena terfokus dengan perasaan ancaman yang tadi Eldania rasakan dari Lipan yang terbang ke arahnya, sontak membuat Eldania langsung menembak Lipan itu tanpa memperhatikan orang lain. 


Dan kesalahan yang lainnya adalah, dia hampir saja menembak orang, walaupun tidak jadi karena pelurunya hanya meleset saja.


[ Tapi……. , Aku jadi melukai wajahnya! ] Pikir Eldania sambil menelan salivanya sendiri. Dia secara tidak sengaja membuat pipi Arga tergores. [ Ah...tapi itu jadi terlihat keren kan? Tapi karena ini bukan niatku melukai wajah tampannya, aku akan langsung minta maaf. ] 


Itulah rencananya. 

__ADS_1


Eldania segera berjalan cepat dimana Arga masih berdiri menatapnya dengan tatapan sengit seperti sedang marah. 


[ Dengan kekuatanku, aku bisa menyembuhkannya. Jadi jangan khawatir. ] Sambil berjalan cepat dengan senyuman tawarnya, di saat yang sama pula Eldania terus membatin, dia berharap agar tidak dimarahi oleh pria itu.


Rencananya memang seperti itu, namun di saat yang sama pula, orang yang hendak Eldania hampiri, sekarang justru sama-sama melangkah ke arahnya?!


“............!“ Seketika langkahnya terhenti saat melihat Arga berjalan menghampirinya dengan ekspresi yang kurang bagus di pandang itu.


[ Tunggu-tunggu….., kenapa aku jadi takut melihat dia datang menghampiriku dengan kecepatan seperti tu, apa lagi dengan ekspresinya? ] Bertambah cemaslah Eldania. Di dalam pikirannya untuk diam, tetapi bahkan sekarang hatinya terus berkata untuk melangkah mundur


Karena tubuh dan pikirannya tiba-tiba bertolak belakang, perlahan kakinya melangkah satu demi satu melangkah mundur kebelakang. Padahal pikirannya berkata untuk diam di tempat saja, karena jadi tidak perlu membuang tenaga untuk berjalan jauh ke tempat Arga. 


Tapi karena sebaliknya, membuat Arga langsung angkat bicara.


“ Berhenti. “ Tiba-tiba saja Arga memberikan perintah, dimana suaranya terkesan sangat dingin seperti orang yang sedang menahan amarahnya.


Amarah? Tentu saja pasti akan jadi seperti itu. Siapa yang tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Eldania barusan hampir saja membuat satu nyawa menghilang dalam sekejap mata.


Dan sekalipun Arga sekarang masih hidup sehal walafiat, tapi hasil tembakan yang dilakukan oleh Eldania juga membuat wajah Arga yang cukup tampan itu jadi punya lecet.


Karena itu, Eldania yang tersadar dengan kehadiran Arga yang terlihat seperti akan memarahinya, secara refleks sepasang kakinya langsung berhenti mundur.


Bahkan saat melihat pipi kanan pria ini masih menyisakan sedikit darah yang masih keluar, Eldania akhirnya menuntut logikanya untuk tidak takut.


[ Tapi kenapa dia berekspresi seperti itu? Lagi-lagi tubuh ini masih punya batasan untuk bersikap tenang. Sekarang saja aku jadi seolah takut. Padahal jika aku melakukan duel dengannya dengan kekuatanku yang sekarang, aku tidak akan kalah dari dia. ] Eldania menghela nafas pelan untuk menenangkan jantungnya agar tidak begitu berdebar.


Tapi sampai di detik dimana Arga sudah berada di jarak satu meter darinya, Eldania yang harus dibuat sedikit mendongak ke atas akhirnya menyerah untuk tenang saat tiba-tiba saja tangan kirinya di cengkram oleh Arga.


“ Apa ini?!“ Tangan Arga langsung mencengkram pergelangan tangan Eldania yang kecil itu. 'Kurus, jika aku lebih meremasnya lagi, itu terlihat akan jadi remahan.' Batin Arga saat melihat tangan yang sedang dia cengkram memang cukup kecil.


“ Ha...apa? Aku hanya menembak hewan kecil itu. “ jawab Eldania dengan menghindari tatapan matanya yang sengit itu. [ Kena gores saja, apa dia semarah ini? Dasar..tangan laki-laki kenapa juga begitu besar. ] 


Eldania melirik pergelangan tangannya yang sedang di cengkram oleh tangan Arga. Memang cengkraman tangannya cukup kuat, tapi baginya itu masih bisa menahan rasa sakit itu. 


[ Lihat itu, tangan yang ada dalam cengkramannya saja masih bisa menyisakan ruang. Aku jadi heran, seberapa keras mereka berlatih sampai tubuh mereka saja rata-rata tinggi dan besar. ] Eldania masih risih dengan kenyataan fisik tubuh orang-orang yang ditemuinya rata-rata memiliki postur yang berbeda jauh dari dunianya.


Seolah bahwa wajah dan tubuh fisik menjadi syarat masuk dalam pasukan kesatria.


“.........? “ Dari sudut mata Arga, makhluk kecil yang dimaksud justru adalah monster yang Eldania tembak barusan. [ Sebesar itu, di bilang kecil? ] pikir Arga. 


“ Lalu peluruku, ternyata tidak sengaja menggores pipimu. “ Eldania menambahkan kalimat nya dengan cepat.


Arga benar-benar tidak mempermasalahkan goresan di pipinya, tapi dari sudut pandang Eldania sendiri, Arga seolah sedang membahas tindakannya yang membuat wajah orang lain terluka.


Lalu sekarang, saat Arga sudah mencengkram pergelangan tangan kirinya Eldania, gadis ini justru bertindak sebaliknya.


Eldania yang merasa bersalah dengan kejadian tadi, justru tanpa di prediksi oleh Arga, tangan kanan gadis ini langsung menjatuhkan pedangnya. Kemudian tangan itu tiba-tiba menyentuh pipi kanan Arga dengan lembut. 


Itu hanyalah sentuhan dalam sekali usap. Itulah yang dirasakan Arga detik itu, tapi apa yang membuat Arga tercengang?.


“ Maaf untuk yang ini. Aku hanya tidak sengaja. Lagipula, aku juga tidak tahu kalau ternyata di belakang ku juga ada monster. “ Sebuah permintaan maaf secara langsung terucap begitu saja dari mulut mungil Eldania.


Itu adalah hal yang ada diluar pikirannya Arga. Dia memang kesal karena nyawanya hampir saja melayang di tangan gadis ini, tapi dia juga tidak membutuhkan permintaan maaf seperti itu dari Eldania.


Ya...


Tujuan awal Arga mencengkram tangan kiri gadis ini adalah untuk melihat lebih dekat lagi senjata aneh yang baru saja digunakan oleh gadis ini.


Tapi saat ini, karena tindakan tidak terprediksi oleh Arga, dimana gadis di depannya tersebut tiba-tiba menyentuh pipinya. Hal itu membuatnya pikiran dari tujuan awalnya langsung menghilang dan teralihkan dengan situasinya saat ini.


[ Ini terlihat seperti aku sedang marah padanya. Dan perempuan ini membujukku agar aku meredakan amarahku. Padahal bukan ini yang aku harapkan, tapi….perih di pipiku...langsung hilang saat jarinya mengusap lukaku. ] Arga jadi terdiam. [ Kenapa bisa?]


Lalu Arga yang masih tidak melepaskan cengkraman tangannya, membuat tangan kirinya menyentuh dari ujung rasa penasarannya. 


Luka yang berisi rasa perih di pipi kanannya, sudah menghilang begitu saja. 


[ Ah….aku ingat. Dia adalah orang yang punya kekuatan suci. Karena setelah diukur ternyata dia punya kekuatan suci yang tinggi, makannya dia diikutsertakan dalam perang saat itu. ] Pikir Arga. [ Tapi apa-apaan dengan wajah bersalah itu? Padahal tadi siang saja, dia tidak merasa segan memotong rambutku sampai pendek seperti ini. ] Dua kali tercengang melihat ekspresi bersalah yang Arga dapatkan dari gadis di depannya itu.


“..................?“


Eldania sedikit memiringkan kepalanya ke sebelah kiri, dan itu membuat Arga kembali tersadar dengan tindakannya.


“ Jadi...bisakah lepaskan cengkeramanmu itu dari tanganku? Mungkin ekspresiku tidak terlihat seperti sedang kesakitan. Tapi bagaimanapun...jika aku diam saja seperti ini, tenagamu saat ini sebenarnya cukup kuat untuk mematahkan tulangku dalam beberapa detik ke depan. “ Ucap Eldania mengingatkan Arga dalam sekali ucap.


“...............!“ Arga yang terlalu bersemangat menangkap gadis ini dengan tangannya sendiri, segera melonggarkan cengkramannya sedikit. Karena dia harus mengambil senjata yang berhasil menarik perhatiaan Arga saat ini. “ Setidaknya katakan, ini apa?“


Setelah berhasil merebut senjata yang ada di tangan kirinya Eldania, Arga langsung memeriksa pistol itu dari berbagai sudut yang bisa Arga lihat.


“ Itu hanya sebuah pistol. “ jawab Eldania dengan selamba, dan kemudian dia mengelus pergelangan tangannya sendiri saat cengkraman dari tangan Arga sudah terlepas sepenuhnya. 

__ADS_1


“ Dari mana kau bisa mendapatkan ini? “ tanya Arga penasaran.


“ Dari mana itu tidak penting. “ Eldania hendak menyambar pistol itu dari tangan Arga, tapi Arga justru mengangkatnya tinggi-tinggi, sampai Eldania sendiri harus benar-benar mendongak untuk melihat keberadaan senjata nya yang sudah berada di tangan orang ini. [ Menyebalkan. ] 


“ Pinjamkan aku ini. “


Eldania yang hendak melompat untuk merebut senjatanya, langsung mengurungkan niatnya. “................, silahkan saja kalau bisa. Aku berikan satu kali kesempatan. “ 


“ Tentu saja aku bisa. “ jawab Arga dengan percaya dirinya.  


___________


Di saat yang sama, Everst terus berusaha mengibarkan kedua sayapnya untuk terbang. Tetapi sayangnya ada tali pengekang yang mengikat salah satu kakinya, dan di tambah ada sihir yang tertanam dalam tali itu, sehingga membuatnya tidak bisa lepas dengan mudah.


Kwak…!


Everst berteriak dengan suara khasnya.


“ Ahahaha….lihat-lihat. Burung ini terus saja memberontak. “ kesatria ini tertawa, dia mencoba menarik perhatian teman-temannya untuk memperlihatkan kalau dia baru saja berhasil menangkap seekor burung.


“ Dari mana kau bisa mendapatkan burung ini? “ tanya kesatria yang lainnya. 


Beberapa orang berkumpul sedikit jauh dari tenda peristirahatan mereka untuk melihat salah seorang dari mereka berhasil menangkap seekor burung Elang.


Dan burung itu, kini diikatkan pada sebuah pohon, tapi sayangnya tali yang digunakan untuk mengikat kaki Everst sudah ditanamkan sebuah sihir.


“ Unik kan? Aku mendapatkan burung ini karena menyusup masuk ke dalam salah satu tenda. Dia bukan burung biasa, sampai aku harus repot-repot membuat talinya di berikan sihir juga. “ Jelas pria ini kepada semua teman-temannya.


“ Memangnya burung ini bisa apa?“ tanya ksatria ini, dia penasaran dengan keunikan yang baru saja dia dengar.


“ Bulu burung ini, bisa berubah menjadi pisau tajam. “ jawab kesatria ini, dialah orang yang masuk ke dalam tenda yang dihuni oleh Eldania untuk menangkap penyusup yang tidak lain adalah burung elang coklat ini. 


“ Tapi yang kau pegang saja, adalah bulu biasa. “ ujar kesatria ini, sambil menunjuk satu bulu yang di perlihatkan pada mereka. Bulu coklat yang terlihat biasa-biasa saja.


Kwakk..!......Kwak..!


Everst bersumpah serapah pada kerumunan manusia di depannya itu.


“ Dia terlihat seperti sedang marah. “ 


“ Bagaimana tidak marah, Elang ini pasti kesal tiba-tiba di ikat. “


“ Sudah pasti. “


Mereka semua mengangguk setuju, tapi tidak ada satupun dari mereka yang punya rasa simpati seperti kasihan pada seekor burung yang menginginkan kebebasan.


[ Orang-orang bodoh ini, dia menganggap seekor burung yang bisa membuat bulu jadi pedang saja?] Everst menatap tajam mereka semua secara bergantian, kemudian Everst mengangkat salah satu kakinya dan menatap kakinya yang masih diikat dengan tali. 


Dia sebenarnya punya satu firasat buruk yang membuatnya harus pergi menemui Eldania sekarang juga.


Kwakk!


[ Kira-kira dia sadar atau tidak? Kalau saja bukan karena dia, aku sudah membalas serangga-serangga ini. ] Everst berpikir untuk membalas langsung perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang ini. Tapi demi menjaga kerahasiaan, sayang seribu sayang harus ditahan dulu agar tidak menjadi pusat perhatian melebihi sekarang ini.


Dia berniat untuk membalasnya saat gadis yang sedang ditunggunya datang menyelamatkannya. Itulah yang diharapkan oleh Everst.


[ Tapi burung ini, berguna juga. ] Dan Everst pun dalam diam memuji dengan pekerjaan dari satu ekor burung hantu yang masih bisa terbang bebas. 


Everst sebenarnya sedang mempergunakan burung hantu itu untuk tujuan ini. Yaitu menjadi perantara penglihatannya.


Maka dari itu, saat dirinya memang sedang dalam kondisi terikat, dia masih bisa mengawasi apa yang sedang dilakukan oleh Eldania sekarang ini dengan menggunakan bantuan dari burung hantu itu.


WUSHH………..


Sekarang, di mata Everst, dia sedang melihat dari tempat ketinggian. Dimana dua orang yang tidak lain adalah Eldania dan Arga, sekarang sedang berdiri saling berhadapan.


“ Kenapa burung ini tiba-tiba jadi diam?“ 


“ Hei kenapa kau diam? “ seseorang menunjuk-nunjuk tubuh Everst agar mau bereaksi. Tapi Hasilnya nihil.


Everst seketika diam mematung saat tahu, sebab senjata yang biasanya dibanggakan oleh Eldania yaitu pistol, sekarang justru berada di tangan orang lain.


Mengabaikan manusia-manusia pengganggu yang ada di sekitarnya, Everst merubah sorotan matanya menjadi lebih tajam saat melihat sesuatu mulai terjadi di luar tembok.


__________


“ Tentu saja aku bisa. “ Jawab Arga sambil menunjukkan seringaian tipisnya pada Eldania. Lalu senjata yang baru pertama kali dia pegang sekarang ditodongkan ke seorang gadis yang menjadi pemilik dari senjata tersebut.


“...........................”  Eldania hanya diam membisu.

__ADS_1


__ADS_2