
“ Apa anda senang? Dia menolak laki-laki itu dengan cukup baik. “ ucap burung hantu ini kepada Everst yang sedang berdiri di sebelahnya.
“ Aku cukup senang. Tapi juga tidak senang.
Sekalipun sudah ditolak bahkan sebelum menyatakan perasaannya, dia bukanlah orang yang akan diam saja setelah mendapatkan penolakan seperti itu.
Dia pasti akan terus menemukan cara agar bisa disisinya. “ jawab Everst.
“ Sepertinya anda harus berusaha lebih keras untuk itu. Itulah sebabnya anda mengatakan berbahaya beberapa waktu lalu pada dia, kan?.
Anda hanyalah seekor burung, tapi cemburu pada manusia, itu adalah takdir perasaan yang sangat lucu. “ ucap burung hantu ini tanpa merubah ekspresi wajahnya yang diam seperti patung.
Everst diam dan menoleh ke arah kanan, dimana burung hantu dengan bulu kelabu itu masih memberikan tatapan khas mata burung hantu yang bulat sempurna itu.
“ ………….., apa kau baru saja menertawaiku?. “
Burung hantu ini membalas tatapan Everst dan menjawabnya dengan santai. “ Tidak. Saya hanya terkesan dengan semua perjuangan anda selama ini. Bukankah itulah alasannya selama ini berada di sampingnya?. “
“ ……………….” Everst terdiam lagi dan menatap serius burung kecil itu dengan tatapan sengitnya. Everst tidak suka jika ada yang mengungkit tentang perasaannya.
Apalagi burung hantu ini.
KROAKK……….
Suara itu langsung membuat Everst dan pemandu perjalanan mereka sama-sama terbang.
KEPAKK……….
Mereka berdua langsung terbang pergi saat tiba-tiba seekor burung gagak muncul di antara mereka berdua.
Warna hitam yang menjadi ciri khas dari burung gagak dengan kesan misteriusnya itu, muncul tepat saat ia tidak sengaja ingin melanjutkan perjalanannya untuk mencari seseorang yang sedang dia cari.
Hal itu terjadi karena ada pemandangan yang menarik perhatiannya, yaitu burung elang dan burung hantu yang terlihat akur untuk sekedar bercengkrama dengan membahas topik yang sama.
KROAKK………
“...........................”
KROAKK………….
Setelah memperhatikan apa yang ingin dilihatnya itu sudah cukup memuaskan, burung gagak ini pun terbang pergi melintasi langit malam yang perlahan ditaburi oleh banyaknya bintang.
________________
“ Eh itu dia…… “
“ Ya...itu benar. “
“ Dia ternyata memelihara seekor siluman bersamanya. “
“ Lihat saja. Dari warna matanya, sudah pasti dia adalah makhluk yang lebih tidak bermoral dari seekor iblis, yang bahkan mampu untuk membuatnya bisa bicara dengan kuda juga burung itu kan?. “
“......................” Eldania celingukan. Sepanjang jalan dia mendengar berbagai bisikan yang masih bisa dia dengar dengan jelas. Dari soal tentang mata merahnya, siluman, dan dibanding-bandingkan dengan iblis. [ Sebenarnya dari mana asal kabar burung tentangku itu?. Siluman?. Everst bukanlah siluman!. Dia burung spesial, spe_si_al…….apa kalian tidak mengerti tentang fakta nyata itu?. ] Eldania berteriak tanpa suara.
Selagi Eldania masih berjalan sambil memperhatikan serta mendengar apa yang semua orang bicarakan ketika melewati mereka, satu suara paling menonjol diantara mereka langsung membuat Dania memberhentikan langkahnya.
“ Ahhh~!! apa ini?. Kenapa bisa seperti ini?. Bagaimana dia bisa melakukannya?. “ ucap Duke Avrel dengan lantang.
Deretan tanda tanya langsung menyambut isi kepala mereka semua yang mendengar kalimat yang diucapkan Duke Avrel.
“ Kenapa lagi dengan duke Avrel?. “
“ Dia tidak pernah bersuara seperti itu. “
“ Ini….pertanda. “ ucap salah satu orang diantara mereka.
Lalu satu persatu dari mereka berjalan mundur saat mendengar derap langkah kaki cepat datang semakin dekat.
__ADS_1
“ Kemana perginya dia?. “ Duke Avrel kembali angkat suara.
SRAKK…….
Sepasang tirai yang menjadi tempat pintu masuk tenda yang dihuni oleh Duke Avrel langsung terbuka begitu saja. Pemiliknya sudah keluar dengan cepat dan sepersekian detik itu pula sepasang matanya langsung mendapatkan keberadaan seseorang yang dicarinya.
“ Kau….. “
Eldania celingukan ke kanan dan ke kiri, lalu ke belakang. Tidak ada siapapun kecuali dia seorang yang sedang berdiri sendirian di tengah di antara banyaknya orang yang pergi menghindari Duke Avrel.
[ Lagi?. ] Seketika Eldania pasrah, yang ditunjuk oleh penguasa tanah Helion tidak lain adalah dirinya.
“ Cepat masuk ke dalam. “ perintah Avrel dengan gayanya yang begitu serius, seolah akan memberinya hukuman.
“ …………. “ Dengan langkah malas, Eldania berjalan menuju ke tempat dimana Duke Avrel tinggal.
“................. “ Tidak tahan dengan langkah pelan yang Eldania lakukan, Avrel berjalan cepat dengan langkah lebar. Lalu dia langsung mengangkat tubuhnya bagai karung tepat di pundak sebelah kanannya.
“ Hei...apa-apaan ini?. Turunkan aku!. “ Pinta Eldania pada manusia itu karena tubuhnya tiba-tiba di angkat.
“ Aku menyuruhmu cepat, bukan malah lambat seperti kura-kura. “ Sela Avrel mengutarakan alasannya kenapa dia justru memilih untuk mengangkat tubuh Eldania yang ringan seperti bulu.
“ Tapi bukan dengan cara seperti ini juga!. “ ucap Eldania dengan wajah marahnya. “ Aku punya kaki, jadi tur….”
PLAK…
“ ………..!. “ Mulutnya langsung terdiam ketika mendapatkan pukulan, [ Dia memukul pantatku?!. ] Eldania segera menjeling tajam Avrel.
Tentu saja Eldania tidak terima dengan perlakuannya terhadapnya. Dengan amarah dari rasa kesalnya itu, salah satu tangannya yang sudah gatal itu langsung menyambar rambut silver Avrel dari belakang dan menjambaknya.
“ Kau…, berani menjambakku?. “ tanya Duke Avrel dengan sambil menjeling ke arah samping kanan dan membuat seringaian tipis sambill menahan rasa sakit di kulit kepalanya.
Avrel hanya tidak menduga ada saatnya, seseorang berani menjambak rambut berharganya.
Eldania, dia tahu untuk tidak bertindak lebih dari ini karena orang ini sudah memberikannya uang sebanyak empat puluh juta. Maka dari itu sebagai protesnya, Eldania hanya menjambak rambut silver yang halus itu.
Sesampainya di dalam tenda Duke Avrel, Avrel berkata. “ Lepaskan tanganmu dari rambutku yang berharga. “
“.................”
[ Dia ternyata perempuan yang keras kepala. ] pikir Avrel.
[ Salahkan dirimu sendiri. Aku tidak akan melepaskannya, selagi kau tidak menurunkanku. ] pikir Dania.
“ I-itu...yang mulia….sebaiknya turunkan nona itu. “ tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya dengan topi panjang berwarna putih yang ada di atas kepalanya angkat bicara, setelah melihat ada dua orang yang punya sifat keras kepala.
“ Aku tidak akan menurunkanmu jika tidak melepaskan cengkraman tanganmu dari rambutku. “ Duke Avrel mengancam.
“................” Dengan penuh pertimbangan, Eldania akhirnya memutuskan untuk mengalah terlebih dahulu. Dia melepaskan cengkraman tangannya dari rambut putih silver itu.
Dengan kekalahan gadis itu, akhirnya Avrel menurunkan gadis itu dari pundaknya.
“ Duduk disitu. “ perintah Avrel kepada Eldania untuk duduk di kursi yang sudah disediakan khusus untuknya.
Dengan tatapan curiganya, Eldania tetap menuruti kemauannya dengan perasaan masih tidak puas hati. [ Kenapa ada setumpuk kertas dan pena?. ]
Eldania melirik tepat ke sebelah kanannya. Di sebelah tangan kanannya sudah disediakan setumpuk kertas kosong juga pena.
Karena meja di depannya sedikit panjang, maka Duke Avrel yang merupakan orang dengan jabatan tertinggi di antara mereka, membuatnya duduk di kursi paling ujung.
Duke Avrel angkat suara terlebih dahulu. “ Tindakanku tadi mungkin memang tidak sopan. “
“ Bukan mungkin. Tapi memang tidak sopan. “ Eldania menyela ucapan Avrel dengan cepat tepat di detik itu juga.
“ Tapi aku tidak akan minta maaf, karena kau sendiri sudah menjambak rambutku. “ Avrel kembali membalas ucapannya Eldania sembari menata rambutnya yang sesaat tadi sempat acak-acakan.
“ Itu adalah bentuk balas dendam sebagai pertahanan diriku. “ Eldania kembali menyela ucapannya dengan cepat.
__ADS_1
“ ………. “ Avrel seketika membatin. [ Anak ini...dia tidak takut padaku, dan dari tadi…. pandai sekali dia menjawab ucapanku terus. ]
[ Apa-apaan dengan suasana mencekam ini?. ] pria paruh baya ini hanya merungut agar semuanya cepat terlewati.
Eldania bersandar ke belakang, lalu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, dia akhirnya langsung angkat bicara lebih dahulu. “ Aku tidak akan melupakan kejadian ini. Tapi sebaiknya cepat katakan, apa alasanku di bawa kesini. “
[ Tunggu…..kenapa anak ini yang justru memimpin pembicaraan ini?. ] Avrel tidak bisa berkata apa-apa yang bersikap demikian.
“ Sebaiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Tapi sebelum itu saya akan minta maaf pada anda untuk mewakili kesalahan tuan duke kami. “ Pria paruh baya ini pun berdiri dan sedikit menunduk hormat kepada Eldania. “ Saya Edward. Kepala koki istana dari kediaman Helion. “
Koki bernama Edward ini langsung duduk kembali, dan mulai menjelaskan maksud serta tujuannya.
“ Kenapa menunduk hormat kepadaku?. “
“ Apa?. “ sontak Edward terkesiap, membuatnya tidak jadi duduk.
“ Aku bukannya tidak menerima permintaan maaf itu, tapi seperti yang dari tadi aku dengar…ada topik hangat tentang yang aku ini ad-..... “
“ Maaf menyela. Pada dasarnya saya juga sama seperti mereka. Jika dipandang sebelah mata, nona adalah orang yang tidak seharusnya ada di lingkungan seperti kami. Itulah kata mereka, karena sesuatu pada dalam diri nona.
Tapi yang saya pedulikan pada diri saya adalah tentang masakan yang ingin saya sajikan pada tuan saya dan tamu tuan duke. Yang saya inginkan adalah bisa membuat masakan enak yang dapat membuat orang lain bahagia. Itu saja. “ jelas Edward.
“...................... “ Eldania akhirnya mendengarnya.
Prinsip dalam hati Edward hanya ada satu, yaitu di masakannya. Yang Edward pedulikan hanya dirinya sendiri, yaitu bagaimana bisa menciptakan makanan yang enak untuk orang lain.
[ Pasti orang ini yang memberitahunya, kalau aku bisa masak. Dia menyiapkan kertas dan pena, dan dia juga membawa koki istananya. dengan kata lain, orang ini ingin aku memberikan resep padanya. ] pikir Eldania sekilas, saat sudah tahu situasi dimana dirinya sekarang berada.
Dengan kata lain, Edward yang sadar bahwa meski Eldania adalah salah satu orang yang menjadi gunjingan untuk orang lain, Edward tidak memperdulikan itu. Selain mempedulikan dan menghormati bakat yang ada dalam diri Eldania yang bisa membuat Duke Avrel memuji masakannya secara terus menerus.
Eldania pun sedikit menunduk, sehingga membuat poni dari rambut kusutnya perlahan bergerak menutupi sepasang matanya.
Dengan demikian Eldania mulai mengembangkan senyumannya yang terlihat seperti senyuman iblis dan langsung menjawab dengan keras. “ Pemikiran yang tepat. Aku suka orang yang seperti itu. “ puji Eldania kepada Edward seketika itu juga.
Dan di detik itu, Eldania pun mengerti maksud dari arah pembicaraan ini serta kenapa adanya setumpuk kertas di sebelahnya.
“ Aku akan memberikan apa yang kalian inginkan. “ tambahnya.
Tangannya kemudian mengambil pena bulu, dan Eldania pun mulai menulis resep makanan yang sudah pernah dia masak untuk disajikan kepada Duke Avrel, termasuk menu makan malam yang hari ini dia berikan.
[ Aku akan menganggap ini sebagai hadiah karena kau sudah memberikanku banyak uang.
Bagiku tidak seberapa, karena aku punya banyak resep makanan yang sudah banyak aku pelajari di kehidupanku sebelumnya. Tapi di mata mereka berdua...bisa makan enak, apalagi makanan yang belum pernah mereka ketahui, pasti bagi mereka ini cukuplah berharga.
Baiklah….aku akan memberikan empat puluh lembar resep. Dengan kata lain, satu resep ini, aku anggap seharga satu juta.
Ah...ini benar-benar keuntungan yang cukup memuaskanku. ]
Dengan demikian, perjanjian yang berisi kerja sama diantara mereka pun berakhir di malam itu juga. Bertepatan dengan resep berharga untuk Edward, karena akhirnya bisa menemukan jenis makanan yang belum pernah dia buat seumur hidupnya.
Meski di satu waktu, tiba-tiba Eldania membuang pena bulu itu dengan sembarangan karena tidak praktis untuk digunakan, mereka berdua pun jadi dibuat melihat adanya pena yang terlihat nyaman digunakan. Karena tidak terlihat adanya waktu untuk mengisi tinta ke dalam benda yang dianggap mereka adalah pena ajaib.
[ Apa sebegitu bagusnya, sampai tidak mengalihkan pandangannya dari pulpen yang sedang aku pakai?. ] Melirik ke dua orang di depannya yang bengong karena terlihat tertarik dengan benda yang sedang dipakai oleh Eldania.
Pulpen berwarna hitam yang sedang dipakainya sebenarnya adalah barang dari hasil menang lelang beberapa minggu lalu sebelum hari keberangkatannya.
Karena Eldania berpikir adanya benda dari dunianya yang masuk ke dalam dunia ini, maka Eldania selalu mencari tempat pelelangan untuk mendapatkan barang-barang yang memiliki punya kemungkinan besar berasal dari zamannya.
Setelah mendapatkannya, yang hanya Eldania perlukan adalah untuk menanamkan sedikit sihir yang dapat membuat barang dia gunakan tidak memiliki batas jangka untuk habis.
[ Hahaha…..meskipun aku terlempar di zaman abad pertengahan seperti ini, aku pastikan kalau aku hidup seperti berada di kehidupanku sebelumnya. ] Detik hatinya.
Eldania…..
Dengan cara berpikirnya itu, dia akan menjadi satu-satunya orang yang tidak akan mengikuti segala tren dari dunia barunya.
__ADS_1