
Cip….cip….cip……
Pagi hari kembali datang, kicauan burung menjadi alarm untuk mereka semua sebab sudah tiba waktunya untuk menjalani rutinitas pagi mereka semua dengan ritual paginya.
Tapi dibalik semua kekacauan di pagi hari yang cerah ini ada satu orang yang sedang mengambil sebuah keuntungan untuk berkhayal.
Yang tidak lain adalah Eldania.
Di dalam salah satu tenda gadis itu masih terbaring namun dengan sebuah tawa kecil. “Hah..hahaha..hahaha…..” tawa kecil yang begitu lembut keluar begitu saja dari mulutnya.
Bahkan sinar mentari itu segera menerjang ke wajah gadis dengan mata yang masih mamai ini. Tapi hal tersebut tidak membuat gadis ini begitu terusik dengan panas yang perlahan mulai menyengat wajahnya.
Sedangkan di satu sisi, ksatria Evan kini sedang berdiri di depan pintu masuk yang kemudian memanggil sebuah nama.
“ Nona Eld. “ Panggil Evan pada gadis yang beristirahat di dalam tenda itu.
Tetapi sebuah tawa kian menyelimuti tenda yang tidak seberapa besar itu langsung menarik segala pemikiran Evan detik itu juga.
Dia sedikit membuka tirai dari pintu tenda dan terlihat seseorang masih terbaring dengan tawa kecil yang Evan dengar dari tadi.
“ Ahaha...hahaha….” Matanya sudah terbuka dengan lebar, tapi tatapannya seperti sebuah tatapan kosong didampingi sebuah senyuman. Lalu dari sebuah tawa sekarang berubah menjadi helaan nafas pendek yang kemudian membuat bibirnya akhirnya bergerak dan berbicara sendiri. “Ha~..... Sangat menawan, kenapa pria yang selalu bertemu denganku itu seperti malaikat? Ha~...” senyuman kecil pun tersungging di bibirnya.
Saat membalikkan posisi tubuhnya ke samping kanan, wajah dengan sorotan mata yang terlihat seolah sedang terpana dengan hal paling menakjubkan dalam seketika langsung berubah menjadi wajah terkejut.
“Evan!“ teriak gadis ini dengan begitu lantang saat mengetahui pria yang memiliki nama Evan ini tiba-tiba sudah berdiri di samping kasurnya. “Kenapa ksatria sepertimu masuk kedalam tenda perempuan?" tanyanya.
Dia yang tidak begitu memperdulikan penampilannya yang baru saja bangun tidur, apa lagi dengan rambut berantakan bagai singa, Eldania sudah berani menatap dan bertanya tanpa ada rasa canggung sekalipun.
[Dia memanggil namaku secara langsung?!] pikir Evan, dia sedikit terkejut juga tiba-tiba namanya dipanggil secara langsung oleh perempuan yang lebih muda darinya. “Maafkan jika saya lancang, tapi ada hal penting yang ingin saya bicarakan segera dengan anda.“ kata Evan.
Yang ingin di bicarakannya adalah tentang empat malam ini. Dia baru kali ini merasakan bahwa malam hari bisa terasa lebih damai ketimbang hari yang lainnya.
Di tempat ini, perbatasan dimana dinding menjadi pembatas antara wilayah monster dan manusia berada.
[Bagaimana perempuan ini melakukannya?, aku tidak mengerti. Dia terlihat santai-santai saja, tapi semenjak kedatangannya di sini ada banyak perubahan mengenai banyaknya monster yang datang.] Evan sekilas mengingat semua hari yang sudah terlewati.
__ADS_1
Alasan sederhananya adalah tidak adanya segerombolan monster yang datang untuk menyerang. Maka dari itu, Evan lumayan penasaran dengan keberadaan gadis yang belum lama tinggal di Helion itu.
Semenjak kedatangannya, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Ksatria Evan, ada sedikit perubahan dengan banyaknya monster yang datang.
“Bicara tentang apa?“ Dania benar-benar menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh pria di depannya itu.
Evan sesaat menatap perempuan yang tidak punya rasa malu itu karena tidak menunjukkan reaksi malu kepada lawan bicaranya di saat penampilan perempuan ini yang begitu berantakan.
[Padahal biasanya nona bangsawan akan berteriak histeris, tapi sudahlah…. ] kembali ke tujuan utamanya, Evan bertanya pada gadis yang baru saja bangun tidur ini. “Mungkin saya telat bertanya. Ini baru pertama kalinya tidak adanya monster yang datang di malam hari, tidak…...bukan hanya itu saja, tapi saat ini jumlah yang datang justru terasa lebih sedikit setelah kedatangan anda di sini, sebenarnya apa yang anda lakukan?“
“Hmmm…” Menahan kantuk yang masih menyerang, Eldania menjawab.“ Seperti yang sudah aku janjikan, aku mengerjakan pekerjaanku. Tapi dengan caraku sendiri.“
BRUKK…….
Dania kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur.
“Jika sangat penasaran, datanglah ke tengah hutan. Jawabannya ada di sana, tapi berhati-hatilah dengan langkahmu saat sudah di dalam hutan.“ Dengan sepasang kelopak mata yang kembali terasa berat, Eldania pun menutup matanya lagi tepat di detik terakhir ucapannya tadi.
[Apa dia burung hantu? Aku sering melihat dia tidur di pagi hari dan bersemangat jika sudah menjelang malam.] Akhirnya, Evan menemukan sedikit jawaban alasan kenapa perempuan ini terlihat lelah padahal masih pagi begini.
Eldania Pov.
Evan, dia orang yang baru saja mengagetkanku saat aku sedang menikmati khayalanku sendiri.
Dia datang secara tiba-tiba dan masuk ke dalam satu-satunya tenda yang aku tempati seorang diri dengan keahliannya yang membuatku tidak bisa langsung merasakan hawa keberadaannya. [Apa kewaspadaan milikku sudah kendur?] pikirku.
Evan termasuk orang yang cukup berani juga masuk ke dalam tempat perempuan, yah...itu tidak masalah sih.
Saat aku menatap matanya, itu tersirat sebuah mata penuh rasa penasaran. Hasrat dari manusia yang memiliki keinginan untuk mengetahui suatu hal, seperti aku.
[Hah....sangat menarik bukan? Melihat wajah tampan tapi dengan ekspresi anehnya.]
Yang menjadi rasa penasarannya adalah apa yang aku lakukan pada monster itu?.
BRUKK….
__ADS_1
Aku membaringkan tubuhku ke kasur lagi dan berkata. “Jika sangat penasaran, datanglah ke tengah hutan. Jawabannya ada di sana, tapi berhati-hatilah dengan langkahmu saat sudah di dalam hutan.“ perlahan aku memejamkan mataku lagi. Aku memang masih menginginkan untuk bisa tidur lagi, tapi walaupun mataku sudah mulai berat lagi, ternyata tidak dengan isi kepalaku yang terus berpikir.
Aku pun hanya berbaring saja sambil mengingat tentang apa yang sudah aku lakukan selama beberapa hari ini.
Dia penasaran tentang apa dan bagaimana aku melakukan pekerjaanku, tapi dari pada menjelaskannya lebih baik mencari sendiri secara langsung karena aku sudah ingin kembali tidur.
"Saya permisi dulu." kata Evan.
Apa yang sebenarnya aku lakukan?.
Walaupun aku bukanlah seorang penyihir ulung, tapi keefektifan dalam menguasai sihir untuk membasmi semua tikus yang terus datang adalah hal yang aku prioritaskan.
Keefektifan, efisiensi, adalah dua hal yang saling terhubung demi mendapatkan hasil sempurna, itu yang aku kerjakan.
Daripada bertarung langsung, di dalam hutan aku sudah membuat jebakan untuk mereka semua.
Aku menggunakan benang dan membuat lingkaran sihir untuk mendeteksi sensor gerakan.
Benang sepanjang dua kilometer aku bentangkan dari hutan barat sampai hutan timur.
Cara kerjanya cukup sederhana. Jika monster datang dan menginjak lingkaran sihir yang aku buat, secara otomatis benang tak kasat mata itu akan aktif. Yang melewati pembatas itu dalam sekejap tubuhnya akan langsung terpotong menjadi tiga. Ada tiga bagian tubuh yang terpotong, yaitu kepala, dada, dan kaki.
Lalu setelah itu, apa yang harus dikerjakan selanjutnya?.
[Jadi, aku setiap beberapa jam harus membersihkan mayat mereka agar monster yang lain tidak curiga dengan wilayah itu.] pikirku sambil mengeluarkan senjataku. Senjata sihir yang sudah mulai disempurnakan.
Sebuah pistol dengan desain sedikit pipih berwarna biru muda. Senjata ini aktif untuk mengeluarkan semua jenis sihir, bahkan kemampuan suciku pun bisa aku keluarkan dengan mudah.
[Alasan aku menggunakan ini….?] Kembali menyimpan pistolku di bawah bantal. [Aku menggunakan alat ini, agar aku bisa lebih fokus dengan targetku. Itu mempermudah aku untuk mengaktifkan mantra sihir yang aku kuasai dalam jarak jauh. Lalu untuk pedangku sendiri, aku gunakan untuk pertarungan jarak dekat. Aku harus mempelajarinya agar tidak menguasai satu jenis senjata saja, karena situasi terkadang sulit ditebak.]
Begitulah aku.
Disamping aku suka dengan senjata dari duniaku, aku tetap harus bisa menggunakan pedang demi bisa menyembunyikan bahwa aku memiliki senjata yang lebih hebat dari semua orang.
Dengan kata lain, aku tetap harus menyembunyikan kartu As milikku.
__ADS_1