
Dan pagi itu, menjadi waktu terakhir baginya berada di Helion, kemudian pergi meninggalkan Helion. Tanpa mengatakan salam perpisahan pada Evan juga Avrel….
Karena…..
Meskipun pada dasarnya mereka berdua adalah orang yang baik, tapi bagi Eldania……..
[ Kita bukan orang yang cukup dekat, sampai harus mengatakan salam perpisahan dengan kalian yang bahkan sekarang masih tidur lelap. ] batin Eldania.
Saat ini dia sedang berdiri di atas tembok. Pemandangan di balik luar tembok bukanlah pemandangan yang bagus, karena banyaknya monster mati yang mayatnya masih tergeletak disana dan disini.
Everst yang ada di bawahnya sudah menunggunya dalam bentuk besar. Eldania melompat ke bawah dan berakhir dengan mendarat di punggung Everst dengan mulus. “ Ayo. “ ucap Eldania.
Everst segera mengepakkan sayapnya yang besar dan akhirnya terbang ke langit. Eldania, sebelum dirinya benar-benar pergi dari tanah Helion, dia pun melakukan sedikit sesuatu untuk mereka.
Ratusan monster yang sudah menjadi mayat serta puluhan monster yang dari arah lima ratus meter sedang bergerak mendekat ke tembok, Eldania sapu bersih dalam sekejap mata.
SYUHH……….
DRAP…….DRAP…...DRAP………
Meski ada puluhan anak tangga di depannya, tidak membuat langkahnya berhenti untuk berlari..
Evan…..
Dia berlari kencang untuk menaiki banyaknya anak tangga yang harus dia lewati demi bisa sampai ke atas tembok.
__ADS_1
“ Hah...hah...hah……..” dan rasa penat nya terbayarkan saat dirinya sudah sampai ke tempat tujuan dengan tepat waktu. “............!. Apa dia yang melakukan semua ini?. “ Gumam Evan. Orang yang telat untuk menyampaikan salam perpisahan kepada perempuan yang awalnya dia temukan di pasar.
Apa yang Evan lihat saat ini, semua mayat yang tergeletak dan para monster yang awalnya mulai berdatangan, kini sudah menghilang tanpa jejak.
Semuanya sudah di sapu bersih, tanpa tahu siapa yang melakukannya?.
Dan Evan sudah menebak siapa dalangnya.
KWAKK……….
Suara dari seekor burung besar yang sudah terbang tinggi dan kian terbang menjauh, langsung menarik perhatian Evan detik itu juga.
“...................., selamat jalan. “ Evan yang kemudian memandang sebuah cakrawala, akhirnya bergumam melantunkan kalimat pendek dari perpisahan.
____________________
KROAKK………
Burung gagak hitam ini mendongak ke atas. Saat tidak sengaja melihat keberadaan burung elang yang cukup besar melintasi kepalanya, burung gagak ini pun mendarat dan bertengger di salah satu atas ranting pohon.
KWAKK………….
“ …………………… “ Beberapa saat kemudian burung gagak ini berubah menjadi manusia. Laki-laki pemilik dari iris mata violet dan selalu memakai jubah hitam, dialah Terrian.
Terrian mendengus kesal sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku.
__ADS_1
“ Ah...menjadi burung, benar-benar membuat tubuhku kaku semua. “ Rutuk Terrian. Setelah semalaman terbang, akhirnya dia sudah keluar dari wilayah Helion.
“ Apa yang kau lakukan disini?. “ Tiba-tiba seekor burung gagak yang dari awal sudah ada balik salah satu ranting pohon yang sama bertanya.
“ Memangnya aku tidak boleh istirahat?. “ jawab Terrian dengan malas. Dia benar-benar merasakan lelah. Jadi untuk sekedar menjawab pertanyaan orang lain, dia pun merasa enggan.
“ Tidak. “
“ ……………….. “ Terrian kemudian bersandar ke pohon, jika salah satu kakinya dia luruskan, maka kaki yang satunya lagi sedikit dia tekuk. Terrian mendongak ke atas, menatap langit sore yang lagi-lagi datang kembali. “ Ini seperti mencari jarum diantara tumpukan jerami. “
“ Apa maksudmu kau sudah lelah mencarinya?. “ tanya burung gagak ini.
“ Secara fisik, memang lelah. Tapi secara pikiran………..aku merasa mustahil bisa menemukannya.
Dia tidak menceritakan spesifikasinya dengan jelas, dan aku juga yang kesulitan karenanya. “ wajah lelahnya sudah menunjukkan betapa kerasnya Terrian untuk melaksanakan tugas utamanya. Yaitu mencari keberadaan seseorang.
“ Ha….” Suaranya berisikan makna menertawainya. “ Walaupun kau mengatakan lelah, pada akhirnya kau melakukan tugasnya juga kan?. “ ucap burung gagak ini menyindir.
“ ……………… “ Terrian terdiam. Dia pada dasarnya memang sudah lelah, tapi seolah menikmati perjalanannya sendiri, secara naluriah Terrian pun terus melakukan tugasnya.
“ Setidaknya kau melakukan dua tugas sekaligus kan?. Jadi nikmati saja hari-harimu. Lalu semoga pertemuan selanjutnya, kita bisa minum bersama. “ kata terakhir dari burung gagak hitam ini sebelum akhirnya terbang pergi meninggalkan Terrian sendirian.
“ Hahh……., “ Terrian menghela nafas kasar. Dia menatap langit berwarna orange itu. Segala hal yang sudah dia lakukan membuatnya terus berpikir [ Kenapa aku harus menerima tugas menyusahkan ini?. ] Terrian mengacak rambutnya frustasi. [ Mencari orang yang sudah menghilang selama sembilan belas tahun. ]
Terrian kemudian menutup sepasang matanya dengan telapak tangannya. Dia merasa jenuh jika memikirkan kembali misi sebenarnya yang harus dia kerjakan.
__ADS_1
[ Memang tidak ada batas waktu yang ditentukan untuk pekerjaanku ini. Tapi…….... apa aku bisa menemukan orang yang bahkan sembilan belas tahun itu adalah waktu sebelum aku lahir. Dasar orang gila. ] Terrian pun mendesis kesal.