Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
67 : Eldania


__ADS_3

" Apa kau percaya itu? Dia seorang gadis manusia, tapi bisa mencabut pedang iblis tanpa mendapatkan efek sedikitpun. " ucap Zora, setelah mendapatkan pengakuan dari murid yang lain, bahwa satu orang gadis dari ras manusia bisa mencabut pedang yang harusnya tidak bisa di cabut, apa lagi pedang yang di cabutnya adalah pedang Iblis.


Alfrod merenung dalam diam. Dia juga sama sekali tidak percaya itu. [ Ini pertama kalinya ada yang bisa memegang pedang iblis padahal jati dirinya adalah seorang manusia. Tapi ........] Alfrod kemudian membuka matanya, menatap Zora dengan intens.


" Aku memang kurang percaya, tapi jika memang itu benar adanya, bukannya lebih baik jika kita luluskan saja dia. Aku ingin lihat kemampuan dari manusia itu saat turnamen nanti. "


" Kau yakin dengan piluhanmu?. "


" Jangan bertanya. " celetuk Alfrod pada Zora. " Kau sendiri penasaran dengan murid yang di rumorkan memiliki nilai kemampuan sihir terendah di antara murid lainnya kan?. "


Zora langsung teringat dengan satu hal lain. " Ah....jika kau tidak mengatakan itu, aku akan lupa. Saat ujian pertama, dia juga berhasil mengalahkan Zen dari keluarga bangsawan Jemscon. Cara dia bertarung cukup lumayan unik, dia tidak menggunakan sihirnya untuk mengalahkannya, tapi menggunakan senjata berupa jarum. Aku memang penasaran, jadi buat seperti itu saja........meskipun yang dia cabut adalah pedang iblis, tidak ada aturan kalau pedang yang di cabut olehnya adalah pedang suci. "


Lalu Alfrod dan Zora pun memandang kembali kertas yang sedang mereka pegang dan menuliskan sau nama ke dalam daftar peserta yang lolos untuk ikut turnamen minggu depan nanti.


__________________


TRANG.......


TRANG..........


Suara pedang yang saling beradu, lalu di akhiri dengan ledakan yang menimbulkan debu berterbangan ke segala arah menjadi tontonan menarik untuknya.


[ Gara-gara tidak banyak yang bisa aku lakukan di sini, aku memilih melihat aktivitas dari kelas lain. Mungkin dengan begitu aku bisa tahu seperti apa teknik bermain mereka saat bertarung. ] Pikir Eldania.


Itulah yang dia harapkan dari dirinya sendiri yang sedang menonton pertandingan antar kelompok dari kelas lain. Dan dia berada di salah satu bukit, sebagai tempat dia mengamati pertarungan mereka yang baru saja di selanggarakan.


Benar, ketika jam istirahat pasti ada dua kelompok masih menjalani sesi ujian. Karena pertarungan yang sengit, waktu yang berjalan pun bertambah lama demi mencari pemenang dari tiap sesi ujian yang sedang di adakan.


TRANG......!.


Lagi-lagi suara dari pedang yang beradu. Sekalipun berada di tempat yang sedikit jauh dari mereka, tapi dia masih bisa memperhatikan cara mereka semua untuk saling menyergap satu sama lan.


[ Aku tidak tahu dari kelas mana, tapi jika tidak sengaja melihat seragam merah dengan wajah seperti Nathan, berarti dia adalah Ethan. ] Eldania sengaja teleng, lalu bergumam lembut karena tak sengaja juga melihat kembarannya yang memakai seragam putih sedang bersembunyi di suatu tempat. " Apakah mereka berdua adalah senior?. " terka Eldania.


`Jika melihat dari banyaknya sesi ujian tanding saat ujian masuk waktu itu, aku tidak pernah melihat wajah mereka berdua, jadi kemungkinan terbesarnya adalah bahwa mereka berdua adalah senior. Itulah pilihan dari tebakankusendiri. ‘


DHUARR.....


BRUAKH..........


" Ughh......." satu orang murid laki-laki berseragam putih ini berhasil menghantam pohon sampai terkapar tidak berdaya, apa lagi dengan ledakan yang cukup besar tadi.


Hasilnya, satu per satu pohon tumbang setelah efek dari ledakan ke dua itu.


" Tinggal 2 lagi. " gumamnya, setelah melihat lawnannya sudah tidak bisa bangun lagi. Lalu nama orang yang di ucapkan oleh Eldania ini segera terdiam sejenak sedikit melirik ke atas. [ Apakah mereka berdua adalah senior?. ] Ethan membatin selepas seperti mendengar suara samar dari seseorang dan tak perlu waktu lama Ethan melihatnya siapa yang baru sana bergunam. [ Perempuan yang waktu itu....] 


Ethan melihat seseorang berada di sebuah bukit di antara pehonan. Perempuan tersebut justru duduk di batang pohon sambil mengayunkan ke dua kakinya itu dengan sebuah bunga di genggamannya dan diam-diam di makan.


[ Apa dia sedang menonton pertarunganku?. ] tapi semua pikiran itu segera tersingkir setelah mendeteksi seseorang diam-diam sudah berada di dekatnya dan masih bersembunyi.


Ethan tiba-tiba mengulum senyuman Devil, ya..pada dasarnya dia memang iblis dan itu sesuai dengan perannya kali ini.


" Aku sarankan kau keluar........... " panggil Ethan kepada saudara kembarnya yang bernama Nathan. 


Tidak di gubris dengan panggilannya, Ethan langsung menjeling ke samping kanan dan sorotan matanya yang tajam itu sekaligus menjadi tanda bahwa...


Tepat di mana tempat targetnya berada. ketika ada satu daun yang terjatuh tepat di samping Nathan yang sedang berdiri di balik sebuah pohon, sihirnya segera aktif.


".............!. " Nathan yang menyadari hal tersebut, segera menghindar sebelum.......


DHUARR......


Terjadi ledakan kecil yang tidak sampai menumbangkan pohon itu.


" Sudah aku katakan agar keluar. Karena kau tidak cepat menuruti ucapanku jadi aku terpaksa memaksamu keluar dari tempat persembunyianmu. " ucap Ethan. Setelah akhirnya bisa melihat batang hidung saudaranya yang katanya beberapa hari lalu menghilang, tapi sekarang dia sudah muncul di depannya.

__ADS_1


"..............." Nathan dan Ethan, dua orang ini saling beradu tatapan.


" Melihatmmu bisa menatapku seperti itu berarti memang tidak ada yang terjadi denganmu. " sambungnya lagi. Ethan bersikeras berusaha untuk mencibir saudaranya yang lemah itu.


Tetapi Nathan hanya memberikan reaksi wajah datarnya kepada Ethan seolah tidak mendengar ocehan apa pun. 


" Apa kau kecewa karena aku baik-baik saja?. " TIba-tiba Nathan angkat bicara setelah terdiam membisu mendengar bualan Ethan.


" Aku pikir kau akan terdiam saja seperti biasanya. " Ethan mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang yang dari awal tersimpan terus, lalu dia berjalan ke samping kanan dengan pelan.


Mendapati Ethan mulai bersiap, Nathan mengambil gerakan yang sama dengan berjalan ke arah kanan, dan dia pun melakukan hal yang sama pula, mengeluarkan pedang miliknya.


Mereka berdua jalan berputar ke arah yang sama, selagi memperhatikan tiap langkah dan gerakan lawannya agar bisa langsung bergerak jika memang lawannya sudah bersiap untuk memberikan serangan.


" Aku akui, aku memang kecewa kau bisa kembali dengan selamat. karena aku pikir ada baiknya jika kau menghilang saja dari dunia ini. " jawab Ethan dengan pertanyaan Nathan barusan. Terus Ethan menambahkan. " Karena dengan begitu aku tidak akan melihat wajahku sendiri dengan kepribadian dan penampilan membosankan sepertimu itu!. " Ethan segera berlari dan memberikan serangan pertamanya kepada Nathan.


CTANG..........!.


Ethan dan Nathan saling membenturkan bilah pedang mereka. Menahan dan melawan, itulah yang sedang mereka berdua lakukan.


Ethan terus berusaha mengerahkan tenaganya untuk melawan Nathan dan Nathan pula, dia menahan pedang di depannya ini.


" ..................... " Nathan terdiam saja, apa lagi melihat Ethan ini sedang mencoba melampiaskan amarahnya. Jadi Nathan terus mencoba untuk melayani pertarungannya. Karena Nathan berpikir, dengan begitu rasa kesalnya saudaranya itu bisa keluar semuanya.


" Kenapa!. " seru Ethan kepada saudaranya ini.


CTANG........CTANG..........CTANG.............


Kiri lalu kanan, dari atas maupun bawah, Nathan menangkis tiap serangannya Ethan dengan cekatan.


[ Jika pedang.....dia........., dia sebenarnya bisa bertarung dengan baik bahkan lebih baik dariku. Aku tidak mengerti.......kenapa, dia terus mengalah!. ] Ethan menggertakkan giginya, berdecih, lalu berteriak.


" Kenapa kau tidak bicara!, apa pita suaramu sudah rusak ha?!. " sarkas Ethan. [ Kenapa aku merasa marah!. Hanya karena dia terdiam?!. ] itu yang selalunya membuatnya jengkel tanpa sebab.


Padahal dengan begitu Ethan bisa suka hati mengutuk saudaranya ini dengan bebas jika diam sepert itu terus.


Tapi entah kenapa..........ada satu bagian terdalam di dalam dirinya yang tidak bisa menerima Nathan begini saja. Nathan ini bersikap seperti ini, diam dan menerima segala perkataan kasar sampai akhirnya menerima peran sebagai murid rendahan karena seragam putih yang di pakai Nathan.


" ............... "


" Sebenarnya kenapa juga, kau ikut masuk ke Academy?!. " satu pertanyaan terakhirnya. Jika Nathan tidak bicara lagi, Ethan sudah berniat sekali ingin membunuhnya di tempat ini karena pada dasarnya orang tuanya juga tidak mempedulikan anak bernama Nathan ini.


" Nathan, jawab!. "


CTANG............


Nathan langsung mundur ke belakang selepas Ethan memberikan serangan penuh meski dalam sekali ayunan.


" .................... " Nathan segera membuka matanya dengan lebar dan menatap Ethan dengan akhir sebuah senyuman lembut mengarah kepada saudaranya ini. " Akhirnya kau memanggil namaku. " Nathan membuat ekspresi wajah lega.


Dia merasa senang Ethan akhirnya berteriak memanggil namanya. Sebuah keinginan kecil terwujud walaupun hanya tercipta dalam beberapa detik saja, itu sudah lebih dari cukup untuk Nathan sebagai saudara kembar Ethan ini.


Ethan merasa aneh dengan sikap Nathan ini, terdiam terus dan jika di teriaki baru ada respon.


" Aku akan menjawabnya. " Nathan menurunkan pedangnya, sehingga ujung pedang itu mengarah ke tanah. Lalu apa ekspresinya saat ini?. " Aku ikut masuk Academy ini agar aku bisa melindungimu. "


"...............!. " Ethan tidak percaya dengan jawabannya, apa lagi dengan ekspresi datar mamun di hiasi senyuman. " Melindungiku dari apa?. Aku lebih kuat darimu, kau tidak perlu melakukan itu!. " sela Ethan.


Nathan menoleh ke samping kanan, pelan bagai tanpa suara mulutnya mengucapkan sepatah kata..


" Tapi.....aku ingin mel..............."


WUSHHH.................


" Nathan!. " teriak Ethan, tidak mau kehilangan pandangannya dari kembarannya yang tidak dapat di mengerti itu.

__ADS_1


Angin yang datang membawa debu membuat penglihatan mereka berdua terganggu. Dalam selang waktu singkat itu ada banyak yang terjadi.


Ethan yang tidak tinggal diam, segera mengangkat pedangnya lalu mengayunkannya dengan kuat, sehingga menghasilkan hembusan angin yang mampu membawa pergi butiran debu itu.


SHUUU~~>


Ethan berusaha membuka matanya untuk menemukan keberadaan Nathan yang entah pergi kemana.


KLANG........... ( Suara pedang yang terjatuh )


Lalu Ethan mebelalakkan ke dua matanya. Pedang Nathan sudah tergeletak di tanah tepat di sebelah kakinya, namun yang lebih mengejutkan lagi, Nathan entah ada di mana?!.


" Apa yang barusan akan dia ucapkan?!. " Gerutu Ethan tidak puas hati dengan Nathan yang belum mengucapkan sepatah kata dengan sempurna dan sekarang keberadaannya sudah menghilang tanpa jejak.


Ethan memungut pedang milik Nathan, lalu menatapnya dengan penuh makna tersirat.


Itu adalah pedang lama yang di buat dengan keringat Nathan sendiri dan usaha untuk membuat pedang ini adalah sampai 1 bulan lamanya. "..................... "


" NATHAN!. " 


Sebuah panggilan menyerukan nama Nathan, sontak saja Ethan menoleh ke belakang dan berbalik untuk melihat siapa orang yang memanggil nama Nathan dengan lantangnya, apa lagi......


"...................!. " sebuah wajah bahagia penuh semangat terpancar jelas dari seorang wanita berseragam putih yang sering di panggil Angela. [ Kenapa dia berlari ke araku dengan wajah semangat?. ] Ethan berekspresi bingung.


DRAP...........


DRAP..........


DRAP..........


Gadis berseragam putih yang waktu itu bertanya padanya, saat mencari keberadaan Nathan, kini datang ke arah Ethan.


" Hah...hah.....hah......" sesampainya, Angela mencoba mengatur nafasnya. Setelah itu satu panggilan lagi meyerang Ethan. " Nathan....!, kita menang!. " Dan Angela langsung menepuk pundak Ethan sedikit keras saking semangatnya. " KIta berhasil menang dari para bangsawan sialan itu!. " 


"...............!. " Jelas mendengar kenyataan aneh ini Ethan terdiam membeku, walau yang di perlihatkannya kini adalah wajah datar. " Menang?. " tanya Ethan bingung. Padahal diantara mereka saja belum bertarung dengan benar.


" Iyalah!. Apa lagi namanya kalau menang dari tim-nya kelompok 2 bangsawan barbar itu!. " kutuk gadis ini dengan senyuman sumringah, itu yang sering di perlihatkan oleh gadis ini jika berada di samping Nathan yang dingin itu.


[ Barbar!. Dia menyebut tim-ku barbar?!, dan kenapa dia memanggilku Nathan aku ini Ethan!. ] pekik Ethan di dalam hatinya paling dalam. 


Karena tidak tahu maksud apa yang suah terjadi kali ini, pedang yang Ethan pungut itu kini dia angkat dan besi berkilau itu langsung memantulkan wajahnya sendiri beserta pakaian yang sedang dia kenakan, itu bukan lagi seragam merah, tapi seragam putih!.


Angela yang merasa aneh dengan ekspresi pria di depannya ini, kembali bertanya. " Nathan, kenapa wajahmu seperti terlihat marah?. "


Ethan tentu saja langsung melotot ke arah Angela dan berkata. " Aku Ethan!, bukan Nathan!. "


Angela terdiam sejenak, lalu menepuk punggung Ethan dengan keras.


PLAKK.......


Dan Angela tertawa lepas. " Hahahaha........kau?, Ethan?. " jari telunjukknya menunjuk ke arah Ethan sambil menahan tawanya, karena meilhat laki-laki ini masih memasang wajah amarah yang baru pertama kali Angela lihat, selama berada di kelas yang sama dengan Nathan selama kurang lebih hampir dua tahun ini.


" Ya!, aku Ethan bukan Nathan. " Ethan mencoba memberitahunya lagi, mengkonfirmasi kembali bahwa Angela salah sebut nama.


Tapi Angela tidak percaya itu. " Nama apa lagi itu?. Apa kau sedang mencoba melakukan candaan denganku?. Ahaha.......,aku baru pertama kali melihatmu bisa punya ekspresi lain seperti itu. Tapi, kamu itu Nathan, bukan Ethan. Atau kamu ingin mengganti nama panggilan dengan nama yang lebih keren?. "


[ Ada apa ini?, dia tetap mengira aku ini Nathan. ] Ethan semakin tidak puas hati, ada yang aneh.


" Sudah-sudah, ayo kita kembali dan istirahat. " pujuk Angela kepada Ethan yang di kira Nathan. Dia mendorong punggung Nathan agar berjalan, karena istirahat sudah di mulai jadi tidak boleh menunda-nunda waktu santai dengan kemenangan telak ini. " Kita adakan pesta kemenangan pertama. " ujar Angela lagi.


Dan Ethan yang terus di pojokkan dengan semangat juang gadis ini gara-gara menang ( ? ), hanya mengikuti alurnya untuk sementara waktu.


Tapi Ethan menyempatkan matanya untuk kembali memandang bukit itu lagi, dia masih bisa melihat gadis itu masih duduk di batang pohon dengan di temani seekor burung.


[ Apa dia melihat situasi aneh yang tidak bisa di jelaskan ini?. Aku harus bertemu dengannya. ] Lalu dalam satu kedipan mata Ethan tercengang. Sosoknya tiba-tiba saja menghilang meninggalkan jejak ada satu bulu terlepas dan langsung terbawa angin yang datang.

__ADS_1


[ Kemana perginya?!. ] melirik ke kanan dan ke kiri, dengan mata Iblisnya, dia mencoba mencari keberadaannya, tapi nihil!.


__ADS_2