Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
16 : Eldania


__ADS_3

Sebuah bencana yang tidak terencana, banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan akhirnya membuat mereka semua sudah berada di titik paling lelah sebab harus membereskan semua kekacauan yang ada.


Hingga di malam itu, mereka semua berhasil mendapatkan kesempatan untuk istirahat serta makan dengan enak, walau makanan yang mereka dapatkan adalah masakan tadi siang. 


Tapi semuanya terasa menikmati apa yang mereka makan, karena kebersamaan mereka dalam melakukan banyak hal membuat makanan semakin enak.


Itu yang dirasakan oleh beberapa orang yang menikmati kebersamaan mereka.


“Evan, dari mana kau bisa mendapatkan makanan seperti ini dari bahan biasa?“ Tanya Duke Avrel kepada Evan yang baru saja menyajikan makan malam untuknya. [Sajiannya sangat profesional , seolah yang masak ini adalah koki dari restoran bintang lima. Padahal dari rasanya saja….ini makanan terbuat dari bahan dasar sayur-sayuran saja.]


“Bukannya anda protes dengan makanan disini yang terasa tidak enak.“ jawab Ksatria Evan. “ Karena anda sudah bekerja keras, maka dari itu saya membawakan makanan enak untuk anda.“ kata Evan.


“Apa kau baru menemukan koki baru.“ Tangannya kembali menyantap makanannya. Tiap suapan dia merasakan aneka ragam rempah yang cukup kuat di lidah, tapi tetap terasa enak di mulut.


“Anda bisa menganggapnya sebagai koki sementara.“ jawab Evan, masih berdiri di depan tuannya yang sedang makan malam.


Dengan senyuman penuh kemenangan, Avrel kembali berkata.“ Jangan dibuat sementara, pekerjakan orang ini agar menyajikan makanan khusus untukku selamanya. “ 


Keinginan yang harus direalisasikan setelah mencicipi keempat menu makanan yang berbeda namun punya cita rasa yang baru pertama kali dia rasakan. Perasaan bisa merasakan makanan penuh nostalgia. Avrel tidak ingin kehilangan harta baru yang dia dapatkan itu. 


“Kalau begitu, akan saya tanyakan dulu.“ ucap Evan, lalu pamit undur diri. 


Setelah keluar dari tenda Evan menghela nafas panjang sambil menatap langit malam. Dia kembali diingatkan untuk peristiwa saat tadi siang.


Bisa mendapatkan bantuan besar dari seseorang yang tidak sengaja dia bawa. 


‘Sudah aku bilang, aku bisa mengerjakan segalanya.‘


Sebuah kalimat yang terucap dari mulut gadis itu setelah berhasil mengalahkan Fallen dengan kemampuannya sendiri, sudah berhasil membuat Evan mengetahui tolak ukur dari kemampuan yang dimiliki gadis itu tidaklah biasa.


[Pantas saja, dia punya percaya diri yang tinggi ikut denganku tanpa basa-basi dan tidak takut menghadap dua orang preman itu. Dia perempuan yang bahkan mempunyai kemampuan untuk mengalahkan monster juga Fallen dalam waktu yang singkat.] Pikir Evan. 


Evan pada akhirnya menyadari bahwa semua keberanian dan rasa percaya diri dari milik gadis itu adalah karena dia punya kemampuan untuk mengatasi permasalahannya sendiri. 


‘Sir Evan, aku hanya disini paling lama satu minggu. Alasannya hanya untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah  yang tinggi. Apakah ada pekerjaan yang cocok dengan keinginanku?‘


Evan kembali diingatkan tentang keinginan dari gadis itu. [Setelah melihat dia punya kemampuan untuk melawan monster dan juga bisa memasak, aku jadi membiarkannya mengerjakan dua hal itu sekaligus. Tapi….sekarang dia ada di mana?] 


Evan kembali melangkah ke depan, dia ingin mengurus kesepakatan yang dia buat dengan gadis itu. Namun dari sore setelah menyelesaikan masakan untuk Duke Avrel, keberadaannya sudah tidak di temukan lagi.


“Evan…..!“ Panggil seseorang.

__ADS_1


Evan langsung di buat berhenti dan mencari sumber suara itu dan itu berasal dari salah satu temannya.


“Ada apa mencariku?“ tanya Evan dengan ekspresi datarnya setelah tahu yang datang adalah tipe orang yang suka mencari gosip. Jadi dia sudah tahu kemungkinan kenapa temannya ini, tiba-tiba datang kepadanya.


“Apa benar, kamu yang mengalahkan semua monster disini sendirian?" tanyanya. Setelah mendengar banyak kabar burung, dia lebih suka bertanya langsung kepada orang yang bersangkutan.


Karena hanya mendapatkan pertanyaan yang tidak jelas itu, Evan kembali berjalan pergi sambil bertanya balik. “Siapa yang mengarang cerita itu?“


“Eh..jadi itu tidak benar?“ wajahnya menyiratkan rasa sedikit kecewa.


“Ya...itu tidak benar“ sambil memberikan nampan kepada temannya. Lalu Evan kembali berkata. “Aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka seorang diri. Apa lagi dengan keberadaan beberapa Fallen di antara monster itu." 


“Fallen? Apa itu monster yang mempunyai kekuatan melebihi monster biasa karena bisa bicara dan juga bisa mengeluarkan sihir?“ terka pria ini. 


“Dari mana kau tahu? Apa kau melawan mereka juga?“ Evan bertanya penasaran. Karena Fallen yang Evan temui adalah makhluk yang ingin bertarung dengan gadis itu.


“Tidak juga.“ Sembari menggeleng pelan kepalanya. “Aku hanya melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat penyihir asing itu melawan sepuluh ekor fallen seorang diri. Jadi.. apakah kau dibantu seseorang?"


Tidak mendapatkan jawaban, ksatria ini melirik ke arah Evan dan ternyata Evan tidak mendengarkan ceritanya sebab perhatiannya tertuju ke arah lain.


[Apa yang sedang dia lihat?] Batin ksatria ini saat melihat Evan malah sedang menatap ke atas, ke arah dinding besar di depan sana.


Pria ini ikut mencari apa yang sedang dilihat oleh Evan itu. Matanya kemudian mengernyit, terlihat ada satu orang yang sedang berdiri di atas dinding. 


[Nona Eld….apa yang dia lakukan di sana?] Evan akhirnya menemukan seseorang yang sedang dia cari, tapi secara kebetulan orang yang dicarinya sedang berada di atas dinding.


“Evan….” Panggilnya. 


Tapi si empu, langsung pergi meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata pun.


___________________


Kebenaran yang akhirnya terungkap. Sensasi nikmat dari aroma daging bakar yang dari tadi pagi dia rasakan, akhirnya terungkap.


“Jadi ini aroma yang dari tadi pagi aku rasakan?“ Gumam Eldania saat mengetahui di balik dinding besar setinggi lebih dari dua puluh lima meter itu adalah lahan yang luas namun dipenuhi mayat monster yang perlahan sudah berubah menjadi abu karena terbakar sampai hangus.


Dania menghirup nafas pelan lalu dia hembuskan secara perlahan. 


[Cara mereka untuk menghilangkan mayat itu, tidaklah cukup efektif. Mereka membuat polusi udara. Tapi karena aku sudah diberikan izin menjadi prajurit bayaran selama seminggu, aku akan mengatasi permasalahan mereka untuk seminggu kedepan.] Dania lalu mengeluarkan sebuah gulungan tali dari dalam sakunya. Itu adalah sisa tali yang dia miliki saat ini. 


Sampai akhirnya tiba saatnya, seseorang tiba-tiba menghampirinya. “Kenapa anda di sini sendirian?“ 

__ADS_1


Sudah tahu siapa pemilik dari suara barusan tanpa perlu menoleh ke arahnya, Dania sedikit mundur kebelakang dan duduk di pinggiran pembatas dinding sembari menyimpan kembali sisa tali yang barusan Dania keluarkan itu.


Eldania sebenarnya tahu maksud dari ucapan Evan adalah soal dimana semua orang sedang makan bersama dan saling berbincang agar bisa saling berbaur dengan nyaman dengan semua orang, tapi kenapa dia justru sendirian di sini?


Jadi Eldania pun membuat alasan sederhana. “Karena aku suka sendirian.“ Itulah jawabannya. 


Evan akhirnya melihat wajah damai dari perempuan di depannya itu. Padahal yang terlihat di depan mereka berdua adalah lapangan luas yang sangat kotor dipenuhi bau anyir juga daging terbakar. 


[Tapi….dia terlihat tidak terganggu dengan itu semua.] Tatap Evan. Evan merasa perempuan di depannya itu sama seperti nona Irine. Tapi tetap saja ada yang berbeda dengannya.


Perbedaannya, perempuan ini terlihat seperti orang yang selalu menikmati apa yang sedang di lakukannya.


“Ini perjanjian kontrak yang sudah saya buat untuk pekerjaan untu seminggu ke depan.“ Mengalihkan topik dari suasana canggung tadi Evan memberikan selembar kertas ke perempuan ini.


Dania menatap kertas berwarna coklat itu. 


“Apa anda tidak mengerti dengan bahasa dari kekaisaran kami? Jika anda tidak paham, saya akan menggantikannya dengan bahasa ya-“ 


Dania segera menyela ucapan Evan yang mengira dia tidak paham dengan bahasa kekaisaran dari wilayah Helion ini. “Bukan itu. Aku bisa baca, tapi setelah membaca ini, apa tidak masalah jika aku menambahkan sedikit syarat?"


“Itu tidak masalah, asal syarat anda tidak melanggar dari ketentuan yang kami miliki.“ Surat kontrak yang Evan sodorkan langsung di ambil oleh Eldania dan langsung menandatanganinya.


“Aku hanya ingin kasur empuk dan tendaku sendiri, itu saja.“ Jawabnya, setelah menandatangani surat kontrak, sebab Dania bukanlah anggota guild.


“Itu-“ Evan ragu untuk itu. Awalnya memang ragu, tapi setelah di pikir-pikir kembali karena perempuan ini adalah orang yang akan memegang dua pekerjaan, maka Evan tidak melarangnya. “Baiklah.“ Evan mempunyai niat yaitu akan memberinya kasur sesuai permintaan dengan menggunakan uang pribadinya. “Jadi mohon kerjasamanya.“ kata Evan, mengulurkan tangannya untuk berjabat dengannya.


Dania menatapnya sesaat, lalu menjawab “Aku akan bekerja keras.“ Dania juga, menjabat tangan ksatria ini. 


Namun di saat mereka berdua berjabat tangan, ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua.


[Ini…!] Evan tidak tahu apa yang ingin dikatakannya lagi setelah mendapatkan jabatan tangannya. Melirik ke arah tangan yang sedang dia jabat, Evan merasakan sesuatu. [Tangannya lembut dan….kecil.] 


Pada dasarnya dia memang tahu kalau tangan miliki seorang wanita pastinya kecil. Tapi Evan tidak begitu mengerti saat merasakan tangannya gadis itu ternyata lembut. Itu seperti tidak menunjukkan orang yang pernah memegang senjata. 


Tapi di satu sisi setelah menjabat tangannya, tubuhnya yang awalnya terasa lelah sekarang sudah menjadi ringan. Tubuhnya terasa lebih segar seakan baru bangun dari tidur nyenyak nya.


[Dia orang yang terlalu bekerja keras.] batin Eldania setelah tahu bahwa orang di depannya itu adalah orang yang sudah kelewat lelah, tapi dipaksakan terus. Makannya, secara diam-diam dia sedikit mengeluarkan kekuatan sucinya. “Malam ini istirahatlah dengan nyenyak.“ Gumamnya. 


Benar……, siapa pun selama itu makhluk hidup, saat menerima kekuatan suci, maka secara otomatis tubuh mereka akan mendapatkan berkah, selain kesehatan, maka semua penyakit yang diderita akan sembuh. 


Tapi itu tergantung seberapa kuatnya, kekuatan suci yang dikeluarkan.

__ADS_1


Disisi lain, Duke Avrel yang baru saja menyelesaikan makan malamnya, setelah keluar dari tenda nya dia akhirnya melihat mereka berdua. [Apa yang sedang dia lakukan disitu?] 


__ADS_2