Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
108 : Eldania


__ADS_3

"Kelihatannya kau habis bersenang-senang." Ucap Everst dengan menggunakan telepatinya untuk melakukan pembicaraan dengan sang master?


Tidak.


Wanita yang kini ada di dalam kamar mandi sebenarnya bukanlah seorang master, atau majikannya.


Everst hanya mengatakan panggilan itu untuk sekedar formalitas tanpa adanya hubungan seperti itu.


"Bersenang-senang apanya? Gara-gara aku melawan Zan itu, pakaianku sempat terbakar." Keluh Eldania, saat ini dia sedang melakukan ritual mandinya, dan sudah lebih dari sepuluh menit, Eldania ada di dalam sana.


Mendengar jawaban Eldania yang terdengar begitu menyesal, Everst tiba-tiba saja terbang ke arah tempat tidur, dan segera mendarat di atas kasur empuk itu.


Terlihat di depannya persis, mantel coat, satu-satunya yang di bawa oleh Eldania untuk menghangatkan tubuh, ternyata sampai terbakar.


Walaupun hanya sejumlah kecil saja, tapi itu tetap mengejutkan, padahal mantel coat itu sudah di tanami dengan lingkaran sihir yang akan membuat si pemakai akan mendapatkan perlindungan.


Tapi karena semuanya sudah jelas, kalau ujung dari lengan itu terbakar, maka ada sesuatu yang memang tidak beres dengan serangan yang Eldania terima dari Iblis yang terkena kutukan karena tiba-tiba saja berubah menjadi Zombie.


[Karena sudah begini, aku akan membantunya.] Everst pun melangkah kakinya ke atas ujung dari lengan coat itu.


Menundukkan kepalanya, Everst tiba-tiba mengibarkan sayap sebelah kanannya untuk menyentuh bagian dari ujung lengan coat itu dengan sentuhan lembut.


Dalam sekali usap, sayap itu berhasil membuat ujung lengan pakaian tersebut langsung kembali utuh.


KLEK.


Sampailah dimana Eldania tiba-tiba keluar, karena memang masa untuk melakukan ritual malam nya sudah berakhir dengan lancar.


"Apa yang barusan kau lakukan?" Dengan hanya bermodalkan handuk yang melilit tubuhnya itu, Eldania berjalan cepat menuju tempat tidurnya.

__ADS_1


Everst melompat mundur untuk memberikan Eldania akses.


Eldania mengambil mantel coat miliknya dan segera menjembreng nya. Rupanya ada sesuatu yang ada menjadi tidak ada lagi, dan itu adalah bagian yang sempat terbakar.


"Everst, bagaimana kau bisa melakukan ini? Kau-" Eldania menghentikan ucapannya dan melirik tajam ke arah burung Elang yang mau di lihat dari sudut manapun, dia merasa kalau burung itu keren juga imut!


GREP!


Eldania yang lagi-lagi sudah tidak tahan untuk memeluknya, langsung menangkap burung Elang tersebut dan memberikan sebuah pelukan yang masih fresh, karena tubuh Eldania sendiri masih basah dan bahkan masih memiliki aroma yang cukup harum.


[Mau seberapa lama dia bereinkarnasi, tubuhnya memang tetap saja akan mengeluarkan aroma harum. Eldania, kau sama sekali tidak bisa lepas dariku lagi.] Pikir Everst, sambil menikmati aroma wangi yang masih saja memiliki aroma yang sama dengan apa yang terakhir kali Everst ingat.


________________


Sedangkan di kamar asrama pria. Satu helaan nafas panjang baru di keluarkan.


"Hahh~"


Mulut yang sedari tadi terdiam itu, akhirnya mengatakan sepatah kata kalimat yang cukup menyita pikiran dan hatinya, dan itu adalah : "Aneshka."


Sorotan mata yang terlihat sendu itu terus saja menatap ke arah atas.


Tapi meskipun begitu, yang ia tatap adalah masa lalunya sendiri. Masa lalu yang memiliki banyak drama carita, awal kisah dari semua yang terjadi antara dirinya yang kini satu asrama dengan para ras Iblis, juga Eldania yang tidak lain adalah reinkarnasi dari Aneshka yang sudah lama sekali Caster cari.


"Hahh~ Padahal baru juga beberapa hari, tapi aku sudah kekurangan Mana." Ucap Caster pada dirinya sendiri. Dia kemudian menatap tangan kanannya yang ia angkat dan ia tatap untuk melihat semua yang sudah dia kerjakan dengan tangannya itu selama ini.


Asal muasal dari dirinya bisa memiliki aroma darah yang menyengat, tentu saja karena ia adalah seorang tirani.


Dan cara untuk dirinya agar bisa kembali memiliki Mana sihir adalah dengan menyerap jiwa milik orang lain yang akan segera mati.

__ADS_1


Dan cara yang paling sering Caster gunakan adalah dengan pergi ke tempat medan perang.


Karena itulah, Caster yang kini sedang memejamkan matanya, perlahan tubuhnya menghilang dan berubah menjadi kilauan debu emas yang terbang dan akhirnya menghilang.


Tok...Tok...Tok....


Sampai suara dari ketukan pintu itu di susul dengan sebuah nama panggilan. "Caster? Apa kau didalam?"


Suara ketikan pintu di perbuat lagi dan di susul dengan panggilan lagi, lagi dan lagi.


Tapi usahanya untuk membuat murid baru itu keluar pun terus gagal padahal sudah melakukannya beberapa kali.


'Padahal ada sesuatu yang ingin aku katakan. Tapi kelihatannya dia sudah tidur.'' Dan pria dari ras manusia ini pun beranjak dari depan pintu.


WUSSH~


Sampai di dalam kamar yang awalnya gelap dan terasa dingin seperti pemiliknya, tiba-tiba saja muncul angin yang berpusar di atas tempat tidur persis.


BRUK...


"Ah~" Satu orang wanita cantik berambut hijau panjang ini langsung terjatuh karena tidak sengaja menginjak gaun miliknya sendiri.


Tapi karena tempat ia jatuh adalah kasur, ia pun tetap selamat.


"Eh? Kemana Beliau? Apakah aku terlambat datang?" Kata wanita yang menjabat sebagai ratu hutan yaitu Darayad.


Dia awalnya ingin pergi menemui Caster, karena sempat merasakan adanya sihir milik Caster.


Tapi sayangnya ia terlambat datang, sehingga ia sendirian di dalam kamar luas yang terlihat suram itu.

__ADS_1


"Hahh~ padahal aku hendak mengatakan sesuatu kepadanya. Sudah susah payah datang kesini, tapi aku harus kembali lagi?" Darayad ini pun menggelengkan kepalanya 'Aku harus menunggunya, lagi pula di hutan ada Ailyn yang aku percayai bisa menjaga. Jadi aku akan ada di sini lebih dulu.'


Karena kebetulan ia ada di kamar, maka Darayad tersebut pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk itu.


__ADS_2