Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
62 : Eldania


__ADS_3

Eldania, dia sudah diperbolehkan masuk setelah memberikan beberapa penjelasan singkat pada penjaga asrama yang kebetulan bertemu di depan pintu masuk.


Setelah itu dia pun berjalan cepat dari satu tangga ke tangga lain, sampai akhirnya dia sampai ke lantai 3.


Kamar yang dia tinggali saat ini, adalah tempat yang sudah menjadi markasnya untuk beberapa waktu ke depan.


Sampai berapa lama....?.


Itu belum tahu.


KLEK......


Tangannya mendorong pelan pintu kayu berwarna putih itu. Ruangan gelap, menjadi kesan pertama untuknya saat ini.


" Ah.....melelahkan juga. " tubuhnya langsung dia hempaskan ke atas kasur.


Sebab pulang lewat jam makan malam, dia tidak akan mendapatkan jatah itu untuk mengisi keroncongnya perut malam ini. Jadi dia terpaksa menghempaskan tubuhnya langsung ke kasur untuk tidur.


Lelah, iya.....


Ingin makan karena perut sudah lapar, menjadikannya sudah malas bangun setelah terbaring di kasur.


Dengan wajah penatnya, Eldania menggerutu. " Aku jadi malas mandi. " dia menggerutu tidak puas hati. 


Sudah mandi di sungai, tapi mandi tidak pakai sabun. Mau mandi lagi, tapi sudah terasa nyaman karena tinggal menutup matanya saja.


Sampai suara itu langsung mengganggu kenyamanannya.


TOK....TOK....TOK.....


Di detik-detik hampir memejamkan mata, sebuah ketukan dari jendela sukses membuatnya membuka matanya lagi.


[ Apa lagi sih!. ] sedikit jengkel, Eldania berdiri dengan cepat dan berjalan ke arah jendela meski setiap langkah kakinya sedikit dia hentakkan.


“ Buka. “ Pinta burung ini, dengan mulut sedikit terbuka.


Seekor burung yang sangat Dania kenali. Refleks, kedua tangannya membuka ke dua jendela tersebut dan membiarkan burung ini masuk ke dalam kamarnya.


[ Dari mana saja dia ini. ] Eldania menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


Hampir dua hari tidak terlihat keberadaan makhluk kesayangannya itu, Eldania sontak langsung mendekapnya dengan erat dan membawanya pergi naik ke kasur bersamanya.


“ Hari yang keras ya?. “ tanyanya. Everst dia tahu apa yang sudah diperbuat perempuan di ini, dan hanya berkata dengan nada datarnya untuk mengisi keheningan di antara mereka berdua di malam itu.


Lelah hanya sekedar untuk berbicara lewat mulut, jadi dia mengikuti trik untuk menggunakan pikirannya.


“ Bagaimana kau bisa tahu?. Tapi jika tahu, kenapa tidak membantuku?. “


“ Bukankah usaha dari diri sendiri, hasilnya justru ebih memuaskan?. "


“ Jadi dengan alasan itu, kau membiarkanku di tempat menjijikan seperti itu?. "


" Bukankah pada akhirnya, kau mampu menyelesaikan semua masalahnya?. Termasuk semua roh yang terbelenggu di sana. Lalu lagi pula, hidup tidak ada yang pernah mulus. Ituhanya sedikit ujian dari sekian banyak tantangan yang ada. " Jelas Everst.


" Dari ucapanmu, kau seperti sedang menasehatiku saja. “ jawab Eldania dengan nada malasnya. dia sudah berada di titik terberat ingin tidur, tapi sayangnya ada yang sedang mengajaknya bicara.


“ Apa salahnya?. Selagi ucapanku berguna, kau harus menurutinya. Bukannya begitu?. “


" Yah~........." matanya terpejam, kata terakhirnya pun sebagai keheningan mereka malam bersama itu. " Tidak salah sih. Tapi ucapanmu, lagi-lagi seperti untuk memerintahku untuk menurutimu. “


Everst yang kala itu dengan tubuh di dalam pelukannya, tak lama salah satu sayapnya bisa melepaskan diri, dan dia rentangkan untuk menyentuh wajah lelah perempuan yang sudah terlelap tidur ini.


[ Kenapa juga ikut campur urusan orang lain, tapi seperti inilah dirimu. ] Pikir burung ini, ketika melihat lagi wajahnya dari dekat, ujung sayapnya pun..


USAP.......USAP........USAP........


Mengusap kening yang tertutup poni kusutnya itu, lantas Everst pun ikut melelapkan diri, karena lelah perjalanan dan urusan yang sudah dia lakukan dalam beberapa hari terakhir ini.


________________


Pagi itu.


" Uh........." Mata yang terpejam kemudian mengernyit. Meski sudah tidur, tapi pikirannya terasa masih kacau.


Bagaimana caranya memperbaiki kekacauan di dalam dirinya?.


' Kau ini iblis aneh. Masa ada iblis lemah sepertimu. Sudah laki-laki, pingsan di depanku pula. '


[ Ah....suara siapa ini?. ] Dalam tidurnya, suara itu terngiang di dalam kepalanya.


Menjadikan laki-laki yang baru saja selesai dirawat ini, mulai berwajah sedih.


Dia sedih karena dikatain lemah........lagi, oleh seseorang yang belum dia kenal.


' Tapi lebih anehnya lagi, iblis rupanya seperti manusia. Hmm......ini sangat menarik, aku kira wujud kalian itu mengerikan dengan wajah buruk rupa. '

__ADS_1


Pemilik dengan suara yang sama, Iblis ini seketika merubah ekspresi wajahnya menjadi wajah bingung.


' Hei iblis.....wajah tampanmu sudah menghaustku loh. Beracun juga ya..? '


Dan setelah kata-kata itu, di dalam kepalanya terlintas sebuah bayangan samar. Seseorang sedang menoleh ke belakang, seperti sedang menoleh ke arahnya dengan sebuah senyuman lembut milik dari seorang perempuan?.


' Sebagai balasan aku menggendong tubuh beratmu ini, kau harus mengizinkan aku memakai wajahmu sebagai modelku ya?. '


[ Ah.........jadi aku digendong lagi. ] Ekspresi wajahnya kembali tenang, tapi sesaat kemudian keningnya mengernyit. [ Tunggu..........!. ] Iblis ini mulai tersadar dari mimpinya sendiri. " Gendong?!. " Matanya langsung terbuka lebar, dan berteriak keras, saking terkejutnya.


KLEK......


" Anda sudah bangun?. " 


Menoleh ke arah suara itu berasal, ternyata yang ditemuinya adalah kepala penjaga asrama. Beliau baru saja menutup pintu kamar, dengan tangan memegang sebuah nampan berisi mangkuk dan segelas air bening.


" Kenapa aku bisa di sini?. " tanya Nathan kepada pria yang biasanya berjaga di depan pintu gerbang, tiap jam malam. Lalu, " Ah.........." rasa sakit kepala tiba-tiba menyerangnya.


" Apa anda tidak ingat apa pun?. "


" Ingat apa?. " menatap ke arah paman ini.


" Semalam ada yang mengantarmu pulang ke sini dengan di gendong. Saya sendiri juga terkejut, ternyata yang membawamu adalah seorang gadis manusia. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan anda sampai pingsan dengan kondisi seperti itu?. " jelasnya, sambil meletakkan nampan ke atas meja. Pria ini pun duduk di kursi kosong yang ada di dekat tempat tidur yang sedang digunakan oleh Nathan.


" Aku......., " Mencoba mengingat apa yang sudah dialami nya beberapa hari ini. " Hanya ingat aku berada di ruangan luas tapi gelap, dan banyak suara teriakan yang aku dengar. Itu....membuat kepalaku....rasanya sakit. " Jelas nathan dengan singkat.


Kepalanya menunduk ke bawah, dan masih berusaha mencoba untuk mengingat detailnya. Samar-samar dia sedikit ingat, tapi ingatan itu rasanya mengerikan dan terasa sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata saja.


"........................" Paman ini terdiam, setelah mendengar penjelasan singkat dari Nathan. Dia tidak bisa memaksa Nathan yang baru saja bangun dari tidurnya.


" Oh ya. " Nathan kembali menatap paman ini. " Siapa manusia yang paman maksud tadi?. " Nathan menuntut jawaban yang pasti kepada paman tersebut, karena dia tidak bisa berpaling pada seseorang yang sudah berjasa kepadanya. 


Jadi setidaknya harus tahu siapa penolong yang dimaksudnya malam tadi.


" Dia bilang, namanya Dania. Saya tidak tahu persis bagaimana kejadian yang sebenarnya, karena saya pikir malam tadi kurang cocok untuk bertanya rinciannya. Jadi saya membiarkannya pulang saja dulu. Manusia itu tinggal di asrama depan. “


[ Dania. ] panggil Nathan di dalam pikirannya. " Paman Ed, Terima kasih sudah menolongku. "


" Sudah jadi tugas saya menjaga kalian saat di sini. " Mengambil nampan tadi, lalu dia berikan ke Nathan. " Jadi sekarang, tugas anda adalah makan dulu. Dan....teman-teman anda belum ada yang tahu tentang kepulangan anda, jadi tidak perlu khawatir soal mereka yang akan mengganggu kesendirian anda disini. 


Istirahat saja disini sampai anda benar-benar merasa baikan. "


" Ya. " Nathan tersenyum lemah sambil melihat semangkuk sup yang ada di pangkuannya.


" Satu hal lagi, apa anda menyentuh benda suci?. "


" Kalau begitu saya tinggal dulu. Istirahat saja sampai benar-benar tubuh anda terasa sehat baru kembali ke kamar anda. " 


Dan Nathan pun ditinggal oleh paman tadi.


Nathan menatap ke arah jendela. Dari lantai 4 itu, dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang mereka semua lakukan, yaitu berangkat sekolah.


" Dania....." mulutnya bergumam lembut.


[ Kenapa manusia sepertinya mau menolong seorang iblis sepertiku?. ] di kala memikirkan itu, sepasang matanya tidak sengaja akhirnya melihat ciri-ciri fisik yang dia lihat semalam. " Apakah dia?. " 


Sorotan matanya berubah menjadi dingin saat tahu rupanya, gadis dari kaum manusia itu rupaya memakai seragam putih.


" Aku baru melihat wajahnya, apa dia murid baru?. " gumam Nathan.


" Hm?, rasanya seperti ada yang sedang menatapku. " Eldania bergumam, sambil sedikit mendongak ke atas, yaitu ke arah gedung dari asrama laki-laki. " Dia- ....." kalimatnya langsung menggantung, mengetahui ada satu jendela kaca yang tiba-tiba tirainya tertutup dengan cepat.


Di satu sisi….


“ Apa dia melihatku?. “ Nathan panik sendiri karena terlanjur buru-buru menutup tirai jendela dengan cepat. 


Hanya saja Nathan diam-diam sedikit membuka tirai itu kembali kemudian mengintip.


[ …………..!. Dia masih menatap ke arah sini. ] Nathan melihat perempyan bernama Dania itu, masih terus menatap ke arahnya. 


Tidak lama kemudian, Nathan melihat Eldania sudah tidak menatap ke arahnya. Dan justru terlihat Eldania sedang celingukan ke kiri dan kanan, sampai secara tidak sengaja pula Nathan melihatnya sedang berjongkok di depan semak-semak dan memungut sesuatu yang dengan cepat langsung disimpan ke dalam saku bajunya.


[ Mencurigakan…!. ] batin Nathan setelah melihat gerak-gerik Eldania yang tidak diprediksi dan terlihat mencurigakan di mata Nathan.


_________


Pagi datang seperti kemarin, tidak ada yang berubah dari kali terakhir Eldania lihat, kecuali...


" Baiklah, pelajaran hari ini akan dimu-........" Millie yang baru masuk dan melangkah turun menuruni anak tangga, cukup terkejut dengan kehadiran manusia rendahan yang kemarin dia hukum. sekarang sudah duduk manis di kursinya sendiri. [ Dia masih bisa duduk tenang seperti itu?. ] Millie punya perasaan tidak senang. 


" Ada apa bu?. " tanya salah satu murid berseragam merah, setelah melihat langkah Bu MIllie terhenti di tengah jalan.


[ Hahaha...lihatlah wajahnya yang seprrti rasa lemon. Dia pasti sedang tidak puas hati karena aku masih bisa duduk disini. ] batin Eldania, sembari membuka buku kosongnya dengan wajah tenangnya. 


" T-tidak. Kita lanjutkan satu pembahasan yang kemarin tertunda. " 

__ADS_1


jawab Millie dengan cepat sambil mengatur ulang ekspresinya, Millie berusaha untuk tetap tenang.


“ Dia terlihat kesal saat melihatmu yang baik-baik saja. “ Ujar Azel, melirik ke arah gadis di sebelahnya, yang justru bukannya menulis tapi malah menggambar.


“ Itu masalahnya sendiri. Aku tetap berangkat karena ini kewajibanku sebagai murid Academy. “ tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dia coret-coret.


“ Apa banyak manusia bisa serajin dirimu?. “ tanya Azel lagi sebab penasaran.


“ Aku tidak yakin. Orang yang dijuluki rajin, biasanya adalah mereka yang sadar dengan kewajiban dan keadaan mereka untuk melakukan hal yang terbaik, antara untuk dirinya sendiri atau hanya ingin dipandang baik oleh orang lain. “


“ Jadi, apa kamu salah satu di antara dua hal itu?. “ Azel yang merasa tertarik dengan satu gambar yang baru diselesaikan oleh gadis ini, dengan pelan-pelan jari telunjuknya menyeret ujung buku itu ke arahnya, agar bisa dia lihat lebih jelas lagi, dengan lebih dekat, lalu menilai kualitas gambar yang diamati itu.


“ Entahlah, itu tergantung dari sudut pandang mereka sendiri. “ Menarik bukunya kembali dari tangan Azel dan melanjutkan pekerjaannya.


“ Kalau menurutku, kamu memilih tujuan lain, yaitu ketiga. “


"....................." tangannya langsung berhenti menggoreskan tinta ke atas kertas dan mengalihkan semua pikirannya untuk memandang Azel dalam diam saat mendengar ucapannya tadi.


Itu karena Eldania hanya mengutarakan dua piihan dari kalimat alasan menjadi orang yang ' Rajin '.


Hanya saja, Azel tiba-tiba mengutarakan pendapatnya, bahwa Eldania berada di sini yaitu di kelas adalah karena alasan yang ke tiga.


“ Memangnya ada alasan lain?. “


Eldania mencoba menyikapi Azel ini dengan tenang.


Mengangkat tangan kanannya ke atas meja, Azel menggunakan tangan itu untuk menyangga kepalanya selagi menoleh ke arah Dania dan memberikan senyuman kemenangan.


“ Ada. Dan itu adalah kamu sendiri. “ dan jari telunjuk dari tangan kirinya menunjuk pada satu orang di depannya, yang tidak lain adalah Eldania.


[...................?. ] Eldania tidak langsung paham sepenuhnya dengan jawaban Azel ini, jadi hanya memasang ekspresi penasaran dengan terang-terangan kepada pria ini, agar segera mengungkapkan inti pembicaraan ini dengan jelas.


“ Eldania. Kamu berada di Academy ini hanya untuk dirimu sendiri. Karena punya rasa ingin tahu yang besar tentang dunia ini. Maka dari itu, kau ingin mencoba segala hal yang bisa kau lakukan, di samping punya keberuntungan langka, di mana di dalam tubuhmu, secara bersamaan ada sihir dan kekuatan suci, kan?.


Semua pengetahuan, kebiasaan, budaya di sini, kau analisis sendiri dengan sedemikian rupa dan membenturkannya agar kau punya solusi untuk permasalahan kamu sendiri yang tidak suka dengan dengan perbedaan peradaban yang terlalu signifikan dengan jati dirimu itu.


Apakah aku benar?. “ Sebuah akhir percakapan, Azel menyeringai.


Eldania terdiam dengan mulut sedikit terbuka, dia hanya ber 'oh' ria.


Tatapannya terpaku pada buku yang sedang dia tatap karena terlukis sebuah gambar dari punggung seorang perempuan yang muncul di mimpinya semalam. Lalu di beberapa detik kemudian, dia menghela nafas pelan sambil tersenyum tipis.


Bagi Azel, senyuman itu sudah lebih dari sebuah jawaban, jadi dia tidak segera bertanya lebih.


“ Sejujurnya aku malas mengatakannya. Terlalu biasa, dan pikiran kolot, aku tidak menyukai semua hal yang berkaitan dengan dunia ini kecuali sihir. 


Lalu hal paling menakutkan dalam hidup itu bukanlah kematian. Yang benar-benar menakutkan adalah ketika kau tidak mengetahui apa pun. Itulah mengapa aku ada di sini, apa kamu puas dengan jawabanku?. “


[ Sebagian besar orang akan takut dengan kematian, karena kematian itu tidak bisa diprediksi kapan, dan dengan cara apa datangnya. Tapi orang yang mengatakan bahwa kematian tidaklah lebih menakutkan ketimbang pengetahuan adalah…….. 


Karena.....wanita ini sudah pernah mengalami kematian itu sendiri. ] Azel diam-diam mengaktifkan mata iblisnya.


".........................." Azel terdiam ketika melihat warna aura di dalam tubuh gadis ini. " Ya. Aku puas. " itu karena, [ Cukup menarik. ]


_________


Kali ini Eldania sedang menghabiskan masa waktu istirahatnya dengan pergi ke hutan, hutan yang tak jauh dari area Academy.


Seperti hutan belantara ini, hutan luas yang banyak ditumbuhi banyak pohon ini masih berada di wilayah Kota Dishade.


Orang-orang mengatakan, hutan ini dipenuhi dengan kekuatan sihir, jadi meskipun pohon di hutan di tebang semua, maka dalam waktu semalam sudah kembali normal.


" Aku pikir ini sangat menakjubkan. Tapi orang luar tidak akan pernah mengetahui tentang ini. " sambil memandangi sungai dan beberapa gunung yang tak terlalu tinggi itu. [ Yah.....ini sudah menjadi rahasia untuk pulau ini. ] Itu karena, hutan semacam ini hanya ada di sini, Dilshade. tempat paling ujung di benua sebelah barat, yaitu pulau Manisphure.


Eldania terkagum dengan satu hutan ini, hutan yang dilimpahi dengan energi sihir ini bagi Dania sangatlah berguna dan hebat.


Dia berjalan ke pinggir sungai, air jernih mengalir deras. Meskipun disitu tidak terdapat ikan karena tempat tersebut kurang cocok untuk kehidupan mereka.


Yah....sesuai dengan kenyataan bahwa hutan di limpahi sihir dan hutan tersebut sering dijadikan arena bertarung, maka dari itu tidak ada binatang berkeliaran di situ.


" Kemarin malam aku tidak melihatnya dengan jelas karena fokusku agar bisa kembali dengan cepat. Tapi kali ini aku bisa tahu bahwa ini memang tempat yang cocok untuk melakukan sesuatu. "


Dan sesuatu itu adalah untuk latihannya.


Dia sudah lama tidak berlatih di dalam hutan, jadi ini memang kesempatan yang bagus untuk mengisi waktu kosongnya.


Mungkin harusnya begitu, sampai akhirnya dia mendapatkan.....


JDARR.....


" ............." Eldania segera menoleh ke belakang dan suara keras tersebut mengakibatkan Eldania ingin mencari tahu suara tersebut berasal dari mana?. ".............! "


Matanya mengernyit penuh dengan tatapan menyelidik.


Di saat yang sama setelah menoleh ke belakang, Eldania melihat ada batu cukup besar berkisar 6 meter, tengah melayang dan menuju ke arahnya.

__ADS_1


" Siapa yang mau melempari aku dengan batu?. " ucap Dania dengan selambanya.


__ADS_2