Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
58 : Eldania


__ADS_3

Esok harinya.


Cip.....Cip.....Cip...


Beberapa burung kecil terus mengeluarkan suara khasnya dengan keras di jendela, dia mengeluarkan suara nyaring yang lantas membangunkan seseorang yang sedang terbaring di atas kasur single nya.


" Ukhh...... " keluhnya. [ Silau...~ ] Kebetulan juga sinar matahari yang menyilaukan langsung menyerang wajahnya karena jendela kamarnya kebetulan terbuka lebar karena semalam merasa gerah.


Hari pertamanya sekolah tentu tidak boleh terlambat, salah satu keuntungannya hari ini adalah ketiga burung ini membangunkan dirinya, bagai alarm paginya.


[ Tapi rasanya aku ingin tidur kembali. ] Eldania mengeluh pelan dengan rasa kantuk yang masih menyerangnya. 


Matanya masih sepat dan terasa berat untuk di buka lebar-lebar. Seolah jiwanya masih setengah masuk, makannya Eldania masih dalam posisi terbengong di atas tempat tidurnya dengan rambut aram-temaram nya berantakan bagai singa.


Walau waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, tapi sayangnya matahari sudah mulai menunjukkan wujudnya saja.


Setelah 3 menit mengumpulkan separuh rohnya yang terasa menghilang, akhirnya Eldania sadar sepenuhnya dan langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Dia segera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


ZRASSHH.........


Air deras keluar dari shower bagai air hujan, dari ujung kepala hingga ujung kaki semuanya sudah basah akan air tersebut.


Setelah beberapa waktu, akhirnya dia bisa merasakan rasa sejuk dari air yang mengguyur tubuhnya yang sukses untuk memudarkan hawa kantuknya yang sebelumnya masih ada.


" Hmm..., Hhhh.... " Eldania mendesah lega. [ Kira-kira jadwal hari pertama masuk Academy apa ya?. ] batin Eldania. Wajah berpikirnya sampai terpantul di cermin yang menempel di tembok di sebelahnya. 


Eldania kemudian menoleh ke arah cermin itu, lalu dia akhirnya memutar tubuhnya untuk menghadap ke cermin tersebut. 


“...................” Dengan ekspresi wajah datarnya, dia terus terdiam saat melihat tubuh telanjangnya sendiri. Tak selang berapa lama, tangan kanannya mulai mencengkram lengan tangan kirinya. 


Dia sekarang tidak memakai perban yang biasanya membalut kedua tangannya itu. Sehingga, kini dia dapat melihat dengan jelas luka bakar yang dia miliki itu.


Beberapa kali dia mencoba untuk menyembuhkannya dengan kekuatan sucinya sendiri. Tapi mau berapa kali Eldania mencoba, tidak pernah membuahkan hasil sedikitpun. 


[............, kurus…… ] Padahal Eldania sangat yakin, kalau dirinya sudah banyak makan. Tapi tubuhnya tetap saja kurus. Tidak ada perubahan selain tubuhnya yang semakin tinggi. “ Asal aku memakai pakaian dengan lengan panjang, aku tidak mempermasalahkan tubuhku yang sekarang aku miliki. “


Dengan wajah malasnya, Eldania langsung membalut tubuhnya dengan handuk kimono dan berjalan keluar dari kamar mandi. 


Setelah keluar, hal yang pertama kali dia lakukan pun adalah mengunjungi lemarinya. Di dalam lemari terdapat dua stel pakaian seragam sekolah. 


Seragam yang membuatnya harus memakai sebuah rok yang pendek. 


[ Aku jadi merasa terkena Deja Vu.. ] mengamati seragam putih yang dikenakannya dengan seksama. [ Apa harus menggunakan rok?, aku pikir di dunia ini tidak ada yang namanya seragam dengan rok pendek seperti ini. ] memegang rok berwarna hitam yang kini sudah menggantung melingkar di pinggangnya.


Padahal selama ini yang sering Eldania lihat setelah reinkarnasi adalah bahwa wanita harus memakai gaun. 


Gaun besar era abad pertengahan yang membuatnya harus menggunakan korset untuk memperlihatkan pinggang yang langsing dan menanamkan kesan yang anggun. 


Tapi dia tidak dapat mempercayai kalau disini, di Academy Klenon. Seragam yang dia pakai adalah seragam yang hampir menyerupai seragam menengah pertama saat di kehidupan lalunya. 


Dan secara kebetulan Eldania menyukai seragam yang memperlihatkan kesan rapi seperti itu. 


“ Tidak buruk. “ Eldania memuji penampilannya sendiri di depan cermin. Untuk pertama kalinya, dia memakai seragam dengan rok setelah bereinkarnasi. 


Sampai kesenangan waktu di pagi untuk dirinya sendiri, langsung sirna setelah tiba-tiba namanya terpanggil.


" Dania, apa kau sudah selesai?. "


Satu suara panggilan ini berhasil menarik segala pikiran Eldania tadi. 


[ Siapa yang memanggilku?, tidak mungkin dia kan?. ] Eldania buru-buru mengintipnya dari jendela. Dari lantai dua terlihat satu orang sedang berdiri menunggunya. [ Tunggu, kenapa dia ada di depan asrama.? ] Mulai menaruh curiga kepada Azel yang tiba-tiba pagi ini dia datang ke asramanya. [ Apa lagi berteriak dengan memanggil namaku. ]


Tidak ingin memikirkannya terlalu panjang, Eldania pun akhirnya turun kebawah dan menghampiri Azel. Dia masih berdiri dengan gaya coolnya.


[ Yah....dilihat dari manapun, wajah tampan tetap saja tampan, meski sedang jongkok dan mengupil. ] fikir Dania jika membayangkan orang ini melakukan apa yang sedang di imajinasikannya. " Ada apa? " tanya Dania setelah menghampiri pria jangkung ini.

__ADS_1


" Kita berangkat bersama. " singkat jelas serta padat.


" Padahal kita bisa berangkat sendiri-sendiri. " Eldania bertanya sedikit bingung. Apa alasan dari iblis ini menjemput dia, bahkan sampai-sampai memanggil namanya dengan keras dari luar gerbang asrama.


" Rumahku searah ke asrama dan sekolah, jadi sekalian mampir mengajakmu berangkat bersama, bukannya teman memang seperti itu?. " 


[ -....teman?. Dia benar menganggapku sebagai teman?. ] Kalimat yang jarang di dengarnya lantas memang sedikit mengejutkan, seseorang menawarkan langsung menjadi temannya, hal yang sangat langka dan jarang terjadi.


Pasalnya Eldania itu tipe orang yang sangat jarang berkata atau menawari sebagai teman kepada orang lain.


Jarang yang dapat membuat dirinya percaya kepada orang lain, itulah sebabnya kata ' teman ' juga seperti kalimat tabu.


" Ayo berangkat. "


[ Dia terlihat baik, tapi apa dia memang benar-benar iblis yang baik?. Mengembalikan surat ku, mengajakku ke rumahnya dan mengantarku pulang. Sekarang mengajakku berangkat bersama?. Tidak…..hanya karena melakukan kebaikan kecil, bukan berarti iblis adalah makhluk yang baik. Iblis adalah makhluk yang dapat menghasut manusia kapanpun. Bahkan dihatiku ini….juga ada iblis kecil yang terus berbisik padaku. ] Eldania berpikir panjang. 


" Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?.  " sudut matanya melirik satu gadis yang lebih pendek 20 cm darinya.


" Tidak ada. " celetuk Eldania.


Azel terdiam sesaat, sampai akhirnya membuka suaranya lagi. Dia berusaha untuk menghancurkan keheningan itu dengan sebuah pertanyaan. " Awalnya aku penasaran, jadi kau bukan seorang bangsawan?. “


“ Hmm…..memangnya kenapa jika aku bukan seorang bangsawan?. Dan kenapa kau berpikir aku seorang bangsawan pula?. “ Eldania kemudian berpikir. [ Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?. Seolah……. ]


“ Seragam mu menunjukkan kamu bukanlah bangsawan. Tapi…….bukankah kamu adalah orang yang sudah diangkat menjadi adik dari seorang bangsawan yang punya kelas  Archduke?. Dengan begitu, kau bisa mendapatkan seragam biru, yang membuatmu tidak akan direndahkan oleh orang lain. “


[ Dia tahu siapa aku sebenarnya. Darimana dia tahu kalau aku orang yang diangkat menjadi adik angkat dari seorang Archduke?. ] Terlepas dari pikirannya yang terus mencurigai Azel yang mengetahui rahasia kecilnya, Eldania langsung menjawab. “ Yah……..sebenarnya aku tidak tahu tentang itu. “ Jawab Eldania dengan santai. “ Tapi sayangnya aku juga tidak peduli dengan status yang kau maksud itu. 


Adik dari seorang Archduke?. “ Eldania tersenyum mencibir.


Entah dari mana Azel mengetahui identitasnya itu, Eldania hanya akan menjawab apa yang dia yakini.


“ Aku tetaplah orang asing sekalipun aku sudah diangkat menjadi adik dari orang itu. 


Dan lagi pula, apa gunanya status yang bukan didapatkan dari hasil tangan sendiri?. 


Disisi lain. 


“ Hahahaha……….. “ Everst tiba-tiba tertawa lepas. 


“ Ha~...... “ Eldania meliriknya dengan tatapan malas. “ Apa yang lucu. “ merungut karena seperti sedang dihina oleh Everst yang entah ada dimana, tapi dia masih bisa berkomunikasi lewat telepati. 


“ Bilang saja kalau kau merasa segan dengan apa yang sudah kau dapatkan. Padahal punya status bangsawan membuat orang punya kehidupan yang lebih enak. Dan kau sudah menikmatinya, tapi merasa seolah tidak peduli dengan itu. “ jelas Everst masih tertawa dengan mudahnya, karena tidak ada yang mengganggu kesendiriannya di suatu tempat.


[ Apaan sih. ] Eldania kesal dengan penjelasan Everst.


“ Meskipun status tidak akan menyelamatkanmu dari kematian, setidaknya sebelum kematian, kau bisa menikmati segala hal. Dan bisa mati secara terhormat dengan status yang dimiliki, bukannya itu lebih baik dari pada mati di dalam lubang tikus tanpa nama?. “


[ Yah……...ucapannya ada benarnya juga. ] pikir Eldania. 


“ Meskipun kamu berada di posisi yang tidak seharusnya seperti itu, kelihatannya kamu tidak mempermasalahkannya. “


Kembali dalam perbincangan antara dirinya dengan Azel, Eldania menjawab. “ Hmm…….., asal sudah bisa masuk, itu sudah tidak masalah. “


“ Hahaha...kamu terdengar pasrah sekali. “ Azel menyindir. 


“ Memangnya aku harus apa?. Protes?. Itu hanya membuang-buang waktu. Lagian, yang harus diperlukan dari murid berseragam putih sepertiku adalah dengan mengungguli para bangswan. Bukannya begitu?. “ jelas Eldania. 


“ Ya…… “ Azel tersenyum penuh dengan makna. “ Karena pada akhirnya warna seragam tidak ada hubungannya dengan kekuatan dan pengalaman kita yang sebenarnya. “


Dan dua makhluk berbeda dengan satu pemikiran yang sama, terus pergi menuju tujuannya ke Academy Klenon. 


____________


" Perkenalkan, aku wali kelas 2. Namaku Millie Corxas. Aku mengucapkan selamat kepada kalian, bisa menjadi murid dari Academy Klenon adalah suatu kehormatan bagi kami semua. 1000 orang menjadi 360, dan dari jumlah itu sudah di seleksi lagi menjadi 250 orang. Bukankah beruntung sudah menyingkirkan peserta lemah lainnya dan bisa duduk di kelasku?. " tutur Millie, wanita bangsawan yang menjadi wali kelas bagi murid baru.


Sesi kelas pertama pun dimulai, dari satu kelas sayangnya banyak diantara mereka adalah bangsawan. Dari 56 orang berstatus bangsawan, 20 diantaranya merupakan murid dari rakyat biasa.

__ADS_1


Dan entah dimana pun itu, mereka merasa lebih berkuasa ketika memiliki status keluarga bangsawannya. Hal yang membedakan mereka murid bangsawan atau tidak adalah terlihat jelas dari warna seragam yang dikenakannya.


Sudah pasti, ketika seragam putih adalah untuk murid biasa, maka seragam berwarna biru diperuntukan untuk murid bangsawan.


Tetapi di Academy ada 3 seragam yang dipakai oleh para murid. Ketika seragam biru adalah untuk murid manusia dari kalangan bangsawan maka seragam merah adalah untuk iblis kalangan bangsawan juga.


Sedangkan putih adalah murid campuran dari dua ras namun tidak memiliki status apa pun.


[ Kenapa aku merasa dia tidak suka pada murid berseragam sepertiku ini? ] tangannya menyangga dagu ketika sepasang iris ruby tersebut memandang wanita bernama Millie.


" Walaupun disini ada rakyat biasa yang numpang belajar, semoga kalian rukun dengan mereka. " sindir Millie, dan itu terlihat jelas ketika melihat akan sorotan matanya yang merendahkan para murid yang memakai seragam putih.


[ Ahh....sudah kuduga. Kesan pertamanya sangat buruk untukku. ] 


Sebenarnya tidak ada gunanya menganggap Millie itu sebagai wali kelas ataupun guru nya, jika kesan pertamanya saja sudah memandang rendah orang lain gara-gara status bangsawannya itu.


Dari sesi pertama hingga akhir.


Apa yang Eldania tangkap dari pelajaran yang isinya hanyalah materi yang dijelaskan saja, layaknya sedang sekolah SD, benar-benar membuat orang bosan saja. Itu bahkan bisa dijadikan sebagai cerita pengantar tidur untuknya.


" Maka dari itu...sihir ini biasanya sangat diandalkan untuk jarak jauh, lalu selanjutnya.... " disaat akan memberikan penjelasan lagi, dia segera menyadari.


[ Dia tidur di kelasku?!. ] Millie yang menyadari ada satu orang yang sedang memejamkan mata ketika berada di tengah pembelajaran, lantas membuat Millie sedikit terusik alias terhina. " Oh ya........aku ingatkan, jika ada salah satu diantara kalian tertidur di jam pelajaran, maka hukumannya tidak main-main. "


" Hukuman apa?. "


" Memangnya ada yang tidur di tengah jam pelajaran?. "


Sekalipun hanyalah bisikan antara teman dekat saja, Millie yang masih mendengarnya kembali berucap.


" Aku mengatakan ini, karena ada satu orang yang bisa dijadikan contoh untuk kalian semua. " dengan mata masih tidak mengalihkan pandangannya dari target yang sebenarnya.


Mereka semua langsung melirik satu sama lain, siapa yang dijadikan contoh untuk hukuman yang akan diberikan dari Bu Millie gara-gara ada yang tertidur?. 


Dan ketika menoleh ke belakang, karena Bu Millie terlihat sedang menatap seseorang, maka akhirnya mereka tahu keadaan yang sebenarnya, yang membuat Bu Millie memberikan peringatan kepada mereka semua.


Sebab ada satu orang yang tertidur, sekalipun dalam posisi duduk bersandar ke belakang. bersandar ke sandaran kursi. Seakan dia kelelahan karena begadang, gara-gara kebanyakan kerja.


“ Dania, jika kau benar-benar tidur, sekarang kau sudah berhasil menjadi pusat perhatian satu kelas. “ peringat Azel lewat kemampuannya dalam berbicara lewat telepatinya.


"..............." Eldania yang tiba-tiba mendengar ucapan yang terasa muncul dari dalam kepalanya, sontak pelan-pelan membuka matanya.


Apa yang dia dapatkan adalah tatapan dari seluruh warga sekelas.


" Apa kau tahu kesalahanmu?. " tanya Millie kepada Dania. 


" Tidak. " jawab ELdania dengan singkat. [ Apa yang akan dia lakukan?. ] menatap wanita tersebut dengan begitu berani. [ Gara-gara menyelesaikan tulisanku, aku tidak sengaja jadi begadang. Sekarang aku masih ngantuk, tapi sepertinya aku akan mendapatkan sesuatu dari dia. ]


Tepatnya akan mendapatkan hadiah hukuman dari Bu Millie.


" Tidak tahu?, tadi kau tidur di kelasku. " beritahu Millie. 


" Aku hanya memejamkan mataku. "


" Itu sama saja!. " jawab mIllie tegas dengan pendiriannya bahwa Eldania tertidur.


Eldania tentu saja tidak setuju saja, dan tetap membuat argumen dengan wanita ini. " Tentu saja tidak. Memejamkan mata bukan berarti aku tertidur. "


" Bagiku, kau tetap melanggar peraturan. Tidak memperhatikan adalah kesalahanmu. Keluar dari kelasku sekarang, dan hukumanmu akan kau dapatkan setelah sesi kelas ini berakhir. "


"....................." Eldania seketika terdiam dengan perintahnya. [ Dia.........memang sudah berniat untuk melakukan ini. ] Padahal beberapa di antara mereka, yang memakai seragam biru maupun merah, ada yang diam-diam duduk sambil tertidur, tapi mereka...


[ Sepertinya dikecualikan. ] Eldania yang tidak ingin mendapatkan perdebatan yang lebih panjang lagi, segera keluar dari kelas.


" Hukuman apa yang akan dia dapatkan itu?. "


" Jika tidak ingin seperti dia, tetap fokus!. " peringkat Millie, kepada semua murid di kelas.

__ADS_1


__ADS_2