
Eldania awalnya terdiam sejenak selagi mengamati Caster yang lebih dulu masuk ke dalam restoran.
[ Dia-....] Hingga akhirnya Eldania mendapatkan satu ingatan dari nama yang menghilang dari dalam kepalanya.
Dari luar Eldania memang terlihat tidak memiliki banyak hal yang dipikirkan, akan tetapi sebenarnya setelah pertarungan terakhirnya dengan seorang penyihir wanita yaitu 'Chloe ', dalam keadaan linglung setelah tidak sadarkan diri di hutan itu, Eldania sejujurnya melupakan satu nama, yaitu Caster.
Orang yang menjadi alasannya bisa berada di restorannya Erich saat ini.
Eldania masih menatapnya dengan hati yang masih ragu, tapi semua pertemuannya selama ini adalah benar adanya, benar bersama pria ini. Yang notabennya tidak jelas asal-usulnya, karena selalu datang dan menghilang begitu saja sesuka hati.
Tapi kini?.
Si Caster yang punya eksistensi yang cukup mencolok dalam sekali pandang ini bahkan terlihat setiap hari oleh Eldania.
[ Kenapa dia membawaku ke sini?. Memang benar aku punya janji dengan seseorang, tapi bukan dia, melainkan dengan Erich. Lalu Everst..., dia pergi kemana!. ] Dania bahkan sekarang mulai ragu dengan situasi yang membingungkan ini, tiba-tiba dibawa oleh dia si kepala emas. Dan membawanya ke restoran milik Erich pula. " Kenapa kau membawaku ke sini. " Akhirnya mulutnya yang awalnya terdiam, langsung mengungkapkan pertanyaan dari rasa penasarannya terhadap Caster saat ini.
Belum satu hari, tapi Eldania sudah bertemu dengan banyak orang!.
Erich, Ethan, Azel, Mericta, Arden, dan yang terakhir adalah Caster.
Erich, karena berhasil memenangkan taruhan.
Ethan, tidak sengaja bertemu di pintu gerbang dan masalah orang itu saudaranya menghilang.
Mericta dan Arden, dua orang yang sama-sama menganggapnya adalah Neizel.
Dan Caster, satu orang misterius yang tiba-tiba muncul sebagai murid baru dan sekarang laki-laki ini ada di depannya, membawanya ke restoran.
" Kau...sebagai manusia, bukannya selalu menghargai kebaikan dari orang lain dengan balasan yang setimpal?. Hari ini aku menolongmu dari situasi tadi, jadi tahu apa yang harus dilakukan pada penyelamatmu kan?. " jelas Caster panjang lebar. Caster mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran milik Erich, dan Eldania secara tidak sadar mengekorinya.
" Bukankah sudah aku bilang lain waktu?. " langsung menghentikan langkah kakinya itu. [ Kenapa aku tiba-tiba jadi berjalan mengikutinya?. ]
Berhenti tepat di tengah pintu masuk, Eldania melihat punggung pria itu dengan seksama. Membuat ke dua matanya mulai menyipit, lalu kakinya mulai mengambil langkah mundur.
“ Tapi aku inginnya sekarang, ditambah aku ingin mendengar penjelasanmu mengenai diriku yang katamu aku adalah orang yang sombong. “ jawab Caster tanpa menoleh ke belakang.
[ Dia mau membuatku.................] Mengingat dalam semua rangkaian kejadian yang kini sudah di ingatnya, Eldania jadi ragu dengan keputusannya jika ikut melangkah masuk, makannya dia terus berjalan mundur.
TAP..........TAP........TAP........TAP.......
Hingga di empat langkah ke belakang, Dania langsung menabrak seseorang..
BRUKK....
__ADS_1
Punggungnya yang tak sengaja menyenggol permukaan datar, sebuah dada milik seseorang dan sebuah suara yang langsung menghampiri telinga kanannya.
" Kenapa ka-... "
lantas membuat Eldania secara refleks di detik itu juga memotong ucapan orang ini, dengan tangan kanan langsung dia layangkan untuk meninjunya.
BUGHH..
Bogemnya langsung di tahan dengan baik oleh seseorang yang langsung Eldania kenali saat sudah melihat wajahnya secara.
" Hei.....kau mau bertarung lagi?. " Ucap Eeich
" Erich!. " Menarik kembali bogemnya setelah orang ini melepaskan cengkramannya.
" Aku dari tadi penasaran, kenapa jalan mundur bukannya jalan ke depan, tapi kau malah mau meninjuku seperti ini. " tutur Erich dengan serius dengan kepalan tangan perempuan ini yang hampir mendarat di tenggorokannya.
" Itu refleks. Salahmu, kenapa selalu muncul jika bukan dari samping pasti dari belakangku. " jawab Eldania.
Erich yang mendengar pernyataan itu pun sebenarnya tidak tahu bagaimana mau menjelaskannya. Di setiap pertemuannya dengan perempuan ini pasti tepat di samping maupun di belakangnya.
" Dari pada itu, kenapa kau tidak masuk?. " Erich mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Eldania yang tahu dengan arah pembicaraan yang tiba-tiba berubah itu hanya diam dan menoleh ke belakang dimana Eldania akhirnya menyadari satu hal.
[ Kenapa dia menatapku seperti itu?!. Padahal di antara kita berdua saja tidak tahu apa hubungannya, kenapa dia justru menatapku seolah aku ketahuan selingkuh darinya!. ] Eldania tidak mengerti lagi harus bagaimana menghadapinya setelah tahu akan semua ingatannya dengan Caster yang sudah kembali. Dia mencoba menyingkirkan perasaan terintimidasi dari tatapannya dan berkata, " Erich.........." panggilnya dengan nada sedikit lirih.
" ...............?. " Ketika namanya jarang dipanggil dan sekali dipanggil oleh gadis ini, malah di saat Eldania menunjukkan wajah seperti orang yang pasrah akan kehidupan. Hal itu membuat Erich sendiri juga tidak tahu bagaimana cara menata hatinya yang sedikit berdebar itu. " A-apa?. " Saat masih belum mengetahui, bahwa ada yang menatap ke arahnya.
" Untuk hari ini, jatah 10 hari itu akan berubah menjadi 8 hari, dia akan makan di sini. " Eldania kemudian menunjuk jempolnya ke arah belakang dan tak lain itu di peruntukan untuk seseorang yang Eldania maksud tadi.
[ Dia siapa?. ] Erich yang sadar ternyata Eldania sedang menunjuk ke seorang, membuat Erich pun langsung memperhatikan pria yang sedang berdiri sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana dengan tatapan mata yang terlihat seperti menatap seorang musuh.
Memperhatikannya dengan seksama, karena Erich baru pertama kali melihatnya di sini, dan membuat Erich akhirnya tiba-tiba menemukan satu kesimpulan yang sama dengan beberapa minggu yang lalu.
' Pria yang mempunyai pesona orang bermartabat meski hanya berdiri saja!. '
[ Jangan-jangan dia orang yang ada di malam itu. ] Akhirnya Erich menyadari keberadaan Caster itu siapa dan kenapa bisa di sini, itu karena seseorang di sebelahnya. Lalu Erich pun menatap Eldania yang masih memasang wajah seperti orang yang akan menghadapi ujian terberat.
" Hei!. Kau membuatku menunggu, itu sangat tidak sopan. Cepat kemari. " Tiba-tiba Caster membuka suara, mengganggu keseriusan Erich yang tidak berhenti menatap dirinya.
" Aku punya nama tahu. " Rutuk Eldania dengan sebuah gumaman kecil, saat melihat si kepala emas itu membuat sebuah peringatan sekaligus perintah. Eldania kembali melirik ke arah Erich dan bertanya lagi. " Dia murid baru di kelasku, jadi apa itu bisa?. " Eldania mengambil topik pembahasan tadi yang belum dijawab oleh Erich karena sibuk memperhatikan Caster.
" Tidak masalah. " Jawab Erich secara singkat kepada Eldania, lalu dia berjalan mendahului Eldania dan pergi ke arah dimana pria bersurai pirang itu berdiri. Sehingga kini mereka berdua pun dalam sesaat sempat berdiri saling berhadapan.
__ADS_1
Dari sudut pandang Eldania sendiri, dia merasakan seperti ada permusuhan yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah untuk keberadaan mereka berdua sesaat tadi.
" Ikut aku, aku akan membawa kalian ke tempat yang lebih nyaman untuk menikmati waktu kalian berdua. " perinta Erich kepada mereka berdua.
Eldania sepintas menggeleng pelan dengan ucapan Erich. [ Lagi-lagi dia mengucapkan kalimat yang ambigu. ] Sudah kesekian kalinya Eldania mendengar Erich berkata menggunakan kalimat yang bisa membuat orang lain salah paham. [ Apa dia tidak mengerti kalau ucapannya itu bisa membuat orang lain salah paham?. ]
Caster dan Eldania pun berjalan bersama disamping mereka berdua pergi mengikuti Erich dari belakang.
Mereka bertiga pergi menuju ke lantai dua. Tapi di saat yang sama pula, suasananya hanya diisi dengan keheningan.
Membuat Caster melirik ke samping kirinya. Dia melihat wajah Eldania yang begitu serius meskipun hanya berjalan saja. “.................., apa itu wajah kesalmu?. “ Caster bertanya untuk memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
“ Apa aku terlihat seperti itu?. “ Eldania bertanya balik.
“ Dimataku kau memang terlihat sedang kesal. “
“ Lalu kau mau apa jika aku memang sedang kesal?. “ Sedangkan di dalam hatinya berteriak dalam diam. [ Aku kesal karena kau sok dekat, apalagi dengan mulutmu yang banyak bicara, dan aku juga kesal karena kau membuat sepuluh kesempatan makan gratisku jadi berkurang!. ]
“ Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang yang sedang kesal, kecuali meluapkan rasa kesalmu itu. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk cerita soal apa yang ingin aku dengar dari mulutmu?. Kau bisa saja menyampaikan semua yang ingin kau katakan di saat itu. “ jelas Caster, menguji tingkat kesabarannya Eldania yang semakin tipis.
“ Hah….” Eldania tersenyum paksa menertawai ucapan Caster yang terdengar sedang menyindirnya. “ Walaupun aku ingin, tapi untuk apa aku membuang waktuku untuk membuat dongeng?. “
“ Hahahaha……., apa kau baru saja menolak perintahku, Eldania?. “
Eldania langsung menatap Caster dan menjawabnya dengan tegas. “ Ha...ya. Aku menolak perintahmu karena tidak alasan aku menuruti kemauan dari orang sepertimu. “
“ Kita sampai. “ Erich menyela pembicaraan mereka berdua, dan mengantarnya ke tempat tujuan mereka bertiga ke sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti ruang tamu.
Erich dan Eldania berjalan masuk lebih dahulu tanpa menyadari kalau Caster baru saja membuat wajah paling dingin diantara reaksi wajah yang pernah Caster perlihatkan kepada semua orang.
Caster memandang Eldania dari belakang dalam diam. Dia melihat Eldania yang sedang celingukan melihat desain interior yang digunakan Erich untuk ruangan yang sedang mereka masuki.
[ Apa…..?, kenapa dia tiba-tiba menatapku seperti itu?. Apa ucapanku tadi keterlaluan?. ] Saat Eldania melihat Caster sesaat tadi menatapnya dari belakang, Eldania sebenarnya terbesit sedikit merasa bersalah karena merasa ucapannya tadi sedikit keterlaluan. [ Bagaimanapun…..meski dia punya mulut pedas, tapi dia juga punya hati. Karena aku tidak bisa menahan emosiku sesaat tadi, aku pasti seperti orang yang tidak punya perasaan. Padahal aku bisa saja bicara baik-baik...tapi karena ucapannya selalu seperti itu…………..tanpa sadar aku terbawa emosi ku sendiri. ]
[ Kenapa aku selalu ada di situasi seperti ini?. ] Erich tidak suka dengan suasananya saat ini.
Eldania melirik Erich terlepas dari Caster yang tiba-tiba jadi diam dan sekarang sudah duduk di salah satu tempat duduk dengan gayanya yang terlihat anggun.
“ Erich…… “ Eldania sedikit menurunkan nadanya untuk memanggil Erich yang diam dalam suasana anehnya.
Erich langsung menoleh ke samping, dan bertanya, “ Ada apa?. “
“ Aku punya permintaan. “ Ucap Eldania.
__ADS_1
[ Permintaan?. Apa yang ingin dia minta dariku?. ] pikir Erich. “ Katakan. “