
“Aku...pemilik dari segala keterbalikan?” Gumam Eldania lagi, dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Dalam tatapan mata dengan wajah dinginnya itu, Eldania akhirnya menemukan seseorang yang sedang berdiri di belakangnya.
“.................”
Dia adalah seorang wanita bercadar, dan karena cadarnya tipis, maka Eldania yang sekalipun berada di dalam tempat yang gelap itu, dia tetap mampu melihat senyuman tipis di balik cadarnya.
Apa alasan dari wanita bercadar itu tersenyum sedemikian lembut seperti layaknya seorang ibu yang mencintai anaknya?
Eldania tidak tahu, karena wanita bercadar tersebut masih saja terdiam.
___________________
Lalu di dalam kegelapan yang mereka berdua dapatkan, tempat yang mereka pijak kini berubah di satu tempat di dalam satu ruangan yang terbilang cukup kecil.
Nathan yang menyadari perubahan tempat yang ditempati, segera bertanya. "Apa lagi ini? Apa kita berpindah tempat?"
"...................." Ethan melirik ke arah Nathan. "Aku juga tidak tahu."
Sebuah ruangan dengan dinding berwarna kelabu, penerangan yang mereka terima juga berasal dari sinar matahari yang terus berusaha menyelinap masuk lewat pintu dan atap yang sedikit berlubang, tak terkecuali dinding yang sedikit retak itu, menjadi tempat sinar matahari menyelinap masuk.
Ruangan kecil itu berisi dua tempat tidur sederhana berukuran single, dan letak ranjang kecil itu berada di antara satu jendela kayu yang ada di tengah-tengahnya. Di ruangan kecil itu, ada satu lemari kecil yang terletak di pojok ruangan, dan sudah mengartikan bahwa itu adalah sebuah kamar.
Ruangan itu nampak lebih lusuh, karena cat yang semakin pudar sebab antara itu adalah karena cat murahan atau karena tertelan oleh usia, mereka berdua tidak tahu pasti.
Tetapi dari pada itu, ada satu kekhawatiran yang mereka berdua dapatkan, yaitu sebuah suasana yang terasa sangat hening.
Biasanya suasana yang terlihat sangat tenang itu, justru menunjukkan akan ada sesuatu yang terjadi.
Tidak lama setelah berada di tempat asing itu, niatnya mereka berdua hendak pergi ke luar untuk melihat situasinya, tetapi secara tiba-tiba suara derap langkah dari dua orang langsung terdengar, asalnya dari balik pintu itu.
"Apa kita harus sembunyi?" Tanya Ethan.
Nathan melirik kembali ke arah Ethan dan menjawabnya. "TIdak perlu." Dengan ekspresi seriusnya, Nathan berjalan menuju satu-satunya pintu yang ada di kamar itu. Mau apa lagi kalau bukan keluar dari kamar sempit inii.
Ketika tangannya sudah terangkat untuk menarik gagang pintu kayu itu, tiba-tiba saja daun pintu sudah terlebih dahulu di dorong oleh pihak luar.
__ADS_1
CKLEK.......
"Ayo cepat." Perintah dari pemilik suara bocah kecil ini.
[Ini-] Sontak kedua Iblis bersaudara ini langsung membelalakkan matanya, saat tahu siapa orang yang masuk ke dalam kamar ini dengan sepasang kaki kecilnya itu.
"Tunggu kak!" Dan satu suara lagi kembali hadir, lagi-lagi seorang anak kecil masuk ke dalam kamar usang ini, dan langsung menghampiri anak kecil yang pertama, yang dipanggil kakak itu.
Ke dua anak kecil itu langsung menutup pintu kayu dan kembali berlari, apalagi mereka berdua berlari melewati Nathan yang masih berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejutnya.
Bukan sekedar melewati, tetapi menembus tubuhnya!
Dengan kata lain...
"Kita berdua tidak terlihat oleh mereka, apa kita sudah mati?!” Tanya Nathan dengan nada dinginnya.
Ethan hanya terdiam, sambil menatap ke dua bocah kecil itu masuk ke dalam lemari kecil yang ada di pojokan sana. "Mereka mau bersembunyi." gumam Ethan.
"Ethan! Kita di mana dan apa yang terjadi dengan tubuh kita? Apa kita sudah jadi arwah?" Tanya Nathan dengan sedikit lantang, tapi penuh dengan nada penekanan.
"Kalau bukan lalu apa ini?! Kita tiba-tiba ke tempat asing, dan kali ini keberadaan kita bahkan tidak terlihat oleh kedua anak kecil itu." sarkas Nathan sambil menunjuk ke arah lemari di depan sana, lemari yang dijadikan tempat persembunyian.
"Diamlah." Ethan merasa terganggu dengan saudaranya itu yang lebih berisik, hanya karena tubuh mereka berdua tidak terlihat oleh kedua anak kecil tadi. [Tapi mereka berdua-] Ethan sudah merasa terjerat dengan semua ini. [Kenapa kedua anak kecil itu mirip sekali dengan aku dan Nathan saat kecil? Apa ini ilusi?]
Seolah ucapan kakaknya adalah sebuah perintah mutlak, tiba-tiba Nathan jadi diam membisu.
[Kenapa lagi dengan anak ini? Dia langsung terdiam saat aku menyuruhnya diam.] Tapi melihat arah pandangan Nathan yang terus serius ke arah satu lemari di depan sana, Ethan merasa bahwa saudaranya sudah sepenuhnya sadar dengan ke dua wajah anak kecil itu.
DHUAARR...........
Hingga keseriusan wajah mereka berdua segera sirna setelah adanya ledakan yang cukup kuat terjadi, tidak jauh dari mereka berdua.
Atau lebih tepatnya, saat Ethan dan Nathan menoleh ke belakang mereka berdua langsung tercengang dengan asap yang mulai menyelinap masuk lewat celah bawah pintu kayu itu dan tak terkecuali dengan jendela kaca itu, sudah sepenuhnya pecah.
"K-kak! Aku takut!" Suara kecil dengan nada bergetar itu terdengar dari dalam lemari itu.
"Stth....diamlah, kita akan selamat jika kita tidak mengeluarkan suara." Jawab sang kakak.
__ADS_1
Melihat kejadian ini dan itu membuat hati Ethan tergerak untuk berjalan mendekat ke arah lemari itu.
Dia berniat ingin membuka pintu itu dan mengajaknya pergi keluar sebelum kamar ini ikut hangus setelah ledakan tadi.
Tetapi yang jadi permasalahannya, saat Ethan menggapai gagang pintu lemari, apa yang ingin dia pegang langsung tembus begitu saja.
"Percuma." Ketus Nathan sambil bersilang tangan di depan dada.
Nathan tahu kalau Ethan ingin menyelamatkan kedua anak itu, karena api sudah di tebak sudah mulai menjalar ke seluruh bangunan, dan kamar ini akan menjadi tempat berikutnya.
Ethan ingin menyelamat ke dua anak itu sebelum ikutan terbakar, tetapi dengan situasinya itu, apa yang bisa mereka lakukan?
Jika Ethan dan Nathan memang tidak bisa terlihat oleh mereka, dengan kata lain sekalipun tetap berada di kamar itu, mereka berdua tidak akan terkena dampak dari kebakaran itu.
Hanya saja mereka akan melihat kematian secara langsung kedua anak itu mati dengan cara mengenaskan.
Bagi iblis, melihat seorang manusia mati sudah bukan lagi hal lumrah.
Namun kedua anak kecil tersebut, sangat jelas mirip dengan mereka berdua saat kecil dahulu. Tetapi Nathan tidak pernah merasa bahwa dirinya pernah mengalami kejadian ini.
"Cari mereka!"
".................!" Ethan dan Nathan sontak menoleh kembali ke arah pintu.
'Siapa gerangan orang yang masuk menembus api lewat pintu depan?'
Tetapi disisi lain, lebih tepatnya ke arah jendela, suara derap langkah lebar sukses membuat orang ini sampai dengan cepat dan langsung.
BRUAK..........
Mendobrak bingkai jendela dengan kuat, sampai berhasil membuat jendela itu rusak berat karena tujuannya itu memang digunakan untuk pintu masuk dia.
"Siapa dia? Apa dia juga komplotan orang di depan pintu itu?" Tanya Nathan, mencoba menebak satu pria berseragam hitam lengkap dengan alat yang bagi Nathan cukup aneh, karena begitu asing.
Memakai sarung tangan hitam, kacamata hitam, sebuah rompi dengan saku yang cukup banyak, ikat pinggang hitam yang memiliki banyak tas kecil, hingga kedua kaki bagian paha, terikat sebuah sabuk untuk menggantungkan sebuah benda, yang merupakan pistol.
[Siapa lagi orang ini?] Ethan semakin tidak mengerti akan situasi yang sedang terjadi ini.
__ADS_1