Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
97 : Eldania


__ADS_3

CKLEK........


Pintu kayu itu terbuka, seorang pria besar dengan pakaian lusuh, yang justru terlihat seperti seorang bandit, langsung masuk dan dalam dapat di detik itu suara keras langsung terdengar.


DORR.......!


"Akhh!" Derita dari rasa sakit yang di terima di bagian dada, langsung membuat tubuh pria tinggi besar dengan kulit hitam ini akhirnya tumbang dengan darah berceceran di lantai.


[Apa yang baru saja aku lihat ini?] Ethan tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat pemandangan itu.


Pembunuhan tanpa basa-basi.


"Dia pasti orang yang berbahaya." Tiba-tiba Ethan angkat bicara dengan wajah seriusnya.


"Tidak usah membuang emosi, kita tidak bisa berbuat apa-apa." Sela Nathan.


"K-kakak! Kita akan tertangkap!" Ucap bocah kecil itu.


Dan pria berbaju hitam ini segera berjalan ke arah lemari, lalu langsung membuka kedua pintu lemari itu dengan cepat.


"Akhap!" Suara terkejut dari mereka berdua segera terhenti setelah pria misterius ini langsung menyumpal kedua mulutnya dengan sebuah permen lolipop.


"Tidak usah takut. Kita harus keluar, sebelum api datang ke sini." Ucap pria ini dengan singkat.


"Dia? Dia mudah sekali membuat mereka diam?!" Ujar Nathan dengan wajah tak percaya.


Dua wajah anak kecil yang tercengang itu bahkan terus bertahan setelah tubuh mereka berdua di gendong sekaligus dengan kedua tangan pria ini.


"T-turunkan aku!" Anak kecil dengan wajah yang lebih condong seperti Ethan langsung memberontak dengan cara memukul punggung pria asing itu, karena cara menggendongnya di pikul seola dia adalah karung beras.


Pria ini tetap tidak menanggapi anak kecil yang meminta ingin turun ini, dan segera bergegas kembali berjalan menuju jendela yang rusak itu sebagai pintu keluarnya.


"Oh? Apa itu anakmu?" Datanglah satu suara lagi, namun kali ini berasal dari suara seorang perempuan.


Ethan dan Nathan akhirnya melihat suara tadi, setelah pemilik dari suara itu nongol dari luar jendela. Dengan seragam yang sama-sama berwarna hitam, dan punya perlengkapan yang sama dengan pria berkacamata itu, tidak menghindarkan wanita berambut hitam yang dikuncir satu ke belakang itu, adalah seorang yang memiliki profesi yang sama, yaitu....


'Pembunuh’'


"Lebih tepatnya mereka bukan anakku, melainkan anak kita." Jawab pria misterius ini, sembari menyerahkan satu persatu anak kecil itu ke satu wanita di luar jendela.


Lantas Ethan dan Nathan seketika tercengang setelah melihat akhirnya wanita itu membuka kacamatanya.


Apa yang membuat Ethan dan Nathan jadi mematung, sebab wajah wanita itu terlihat sama persis dengan gadis yang mereka kenal, yaitu 'Eldania'.

__ADS_1


“D-dia, kenapa mirip sekali dengan wajah dia?” Tanya Nathan.


“..............” Tapi yang ditanya, juga tidak tahu harus menjawab apa.


Karena ini adalah sesuatu yang terasa di luar perkiraan Ethan juga.


Bahwa di tempat asing, yang bahkan dirinya dan adiknya tidak bisa dilihat oleh mereka semua, terdapat satu orang yang mempunyai wajah cukup mirip dengan seorang wanita yang Ethan dan Nathan kenal, yaitu adalah Eldania.


Dari segala macam pikiran yang sedang terjadi, Ethan hanya menyempatkan satu pikiran yang tiba-tiba muncul di benak hatinya.


[Apakah Eldania, dia adalah reinkarnasi dari wanita ini?] PIkir Ethan.


Meskipun perbedaan dari wanita ini hanyalah dari warna rambut dan mata, sekaligus tubuh fisik yang terlihat lebih tangguh, tapi tidak merubah fakta kalau wajahnya cukup mirip!


"Pftt...." Wanita ini tertawa cekikikan sambil melihat satu per satu wajah dua anak kecil itu dengan tatapan lembut, dan sekaligus membalas ucapan pria itu. "Sungguh jawaban yang sangat luar biasa. Tapi jangan bermimpi itu, aku yang bahkan tidak tertarik denganmu, kenapa bisa punya anak denganmu? Memangnya kita pernah tidur bersama? " 


Pria ini tersenyum lembut, sambil menjawab, “Itu bisa saja pernah terjadi kan?“ Pria ini kemudian melirik wanita di sebelahnya itu dengan tatapan mata penuh makna. “Bukankah kau pernah mengalami kecelakaan yang membuat kepalamu kena gegar otak? Beberapa ingatan dari jutaan ingatan yang kau miliki pasti ada yang hilang. Salah satunya adalah momen malam kita bersama.”


“Ha!” Wanita ini tertawa meremehkan. “Aku tanya kalian berdua, umur kalian berapa?” Wanita ini pun bertanya kepada kedua anak ini.


“6 Tahun.” Jawab mereka berdua secara serentak.


“Hei Liam.” Panggilnya, sambil menoleh ke arah pria itu. “Jika kau mau buat alasan, lakukan dengan logikamu. Enam tahun yang lalu itu, aku berumur 13 tahun, aku kenal denganmu saja setengah tahun yang lalu.” Dan tawa tadi segera menghilang, digantikan dengan senyuman masam, sambil mengacak rambut kedua anak itu dengan rasa gemasnya.


Tidak mengerti dengan apa yang dibahas oleh kedua kakak di depannya itu, anak ini akhirnya bertanya. "A-apa yang akan k-kalian lakukan pada kami?." Tanya sang anak ini, yang notabene nya adalah seorang kakak dari satu saudaranya lagi.


"Tempat menyenangkan yang seperti apa?" Sang adik bertanya pada wanita itu.


"Tempat baru dan teman-teman baru untuk kalian." Pria dengan wajah tanpa ekspresi yaitu Liam, dialah yang menjawab pertanyaan itu.


"Ya! Seperti itulah." Wanita ini mendukung jawaban yang diberikan Liam.


[Sebenarnya apa yang sedang aku lihat? Apa keberadaan kami sebatas untuk menyaksikan semua ini?] Tanya Ethan dalam hatinya, selepas keluar dengan cara menembus dinding itu.


“Apa aku baru saja sedang melihat dua orang yang sedang menggoda satu sama lain?” Gumam Nathan dengan tatapan datarnya. Dia merasa apa yang sedang dilihatnya kali ini, adalah percakapan dari dua orang sepasang kekasih yang sedang saling bercanda.


Padahal Nathan tahu, kalau kedua orang yang sedang dilihatnya kali ini, memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengan dirinya dan kakaknya.


Ethan dan Nathan, setelah keluar dari ruangan yang merupakan kamar dari sebuah rumah kecil dengan cara menembus dinding layaknya roh, mereka langsung disuguhi pemandangan mengerikan dari deretan bagunan yang sudah tidak utuh lagi.


DORR..........


DORR.........

__ADS_1


Mereka semua menoleh secara bersamaan.


"Kita harus cepat pindah dari sini!" Pinta Liam, sambil mengisi ulang senjatanya.


Mendengar perintah itu, wanita yang wajahnya cukup mirip dengan 'Eldania' bagi Ethan dan Nathan, dia memberikan dua benda kecil kepada kedua anak itu.


"Aku tidak tahu kalian sudah terbiasa atau belum, pakai ini jika perlu. Itu akan meredam suara keras yang mungkin akan lebih banyak terdengar dari biasanya." Ucap wanita itu kepada kedua anak tersebut.


Sebuah benda kecil yang tidak lain adalah penutup telinga pun, diberikan kepada kedua anak tersebut. Lalu wanita ini kembali memakai kacamata hitamnya.


Bagi kedua anak kecil itu, karena tidak punya pilihan lain, mereka berdua mengangguk untuk memakai benda tersebut sekaligus menyetujui, untuk mengikuti mereka.


"Liam, kau satu dan aku satu." Pinta wanita ini kepada pria yang dia panggil Liam.


Kedua anak itu saling pandang satu sama lain, memilih siapa yang ingin mereka pilih.


"Aku mau digendong oleh kakak!" Sang adik kecil itu memilih merentangkan tangannya kepada wanita itu.


Tidak ada pilihan lain, sang kakak memilih untuk digendong oleh pria bernama Liam itu tersebut.


Sebagai anak yang baru menginjak umur 6 tahun, langkah mereka akan begitu kecil dan memperlambat pergerakan mereka, jadi mau tidak mau harus dibawa dengan cara digendong.


[Itu, seperti aku yang memilihnya karena meny-] Nathan seketika berhenti berpikir, yang tidak seharusnya dipikir, seolah anak itu adalah dirinya yang menyukai karena digendong oleh seorang perempuan?


“Pfft….” Ethan seketika langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia mencoba menahan tawanya, karena dia benar-benar melihat sikap anak kecil itu sungguh persis dengan Nathan di waktu masih kecil.


Dimana Nathan suka digendong oleh perempuan. Dan kenangan yang sudah lama itu pun akhirnya muncul lagi tepat di depan matanya.


Apalagi setelah tahu, wanita yang sedang menggendong anak yang cukup mirip dengan Nathan itu, memiliki tubuh yang cukup berisi.


“Apa yang kau tertawakan?” Tanya Nathan kepada Ethan dengan tatapan menyelidik. [Ini pertama kalinya aku melihatnya bisa tertawa. Tapi apa yang sedang dia tertawakan?] Pikir Nathan.


Ethan melirik saudaranya, lalu menjawab, “Aku tiba-tiba ingat dengan kenanganmu waktu kecil.”


BLUSHH…..


Wajah Nathan langsung tersipu malu.


“Waktu kecil, bukannya kau sering minta digendong oleh perempuan yang kau temui? Ternyata….” 


“Diamlah, jangan mengungkit masa lalu.” Ucap Nathan, menyela ucapan Ethan detik itu juga.


“Dia cukup berisi, saat ini kau pasti masih menyukai perempuan seperti dia ini.” Ucap Ethan lagi, membuat emosi saudaranya mulai naik.

__ADS_1


“Diamlah! Aku sudah tidak menyukai perempuan berdasarkan fisiknya lagi!” Teriak Nathan, dan membuat Nathan seketika langsung diam membisu sendiri. [A-apa yang baru saja aku katakan?!] Panik Nathan.


“.............?!” Bahkan Ethan juga turut terdiam setelah mendengar pernyataan Nathan yang cukup blak-blakan.


__ADS_2