
Di kuil darah.
Malam itu Everst terbang bebas pergi menuju tempat terakhir dari pertarungan besar yang dilakukan oleh Eldania. Dia menikmati malam yang dingin itu untuk pergi ke suatu tempat.
"................" Everst menjeling tajam setiap sisi gua yang sedang dia masuki.
Setelah berada di tempat paling dalam, Everst kian menurunkan ketinggiannya, dan sesampainya di depan kolam besar secara perlahan dia mendarat.
SYUHH…….
Sepersekian detik itu pula, Everst berhasil mendarat dengan kedua kakinya.
TAP…..TAP…..TAP…..
Namun bukan sepasang kaki burung, melainkan sepasang kaki manusialah yang kini sedang mengambil langkah demi langkah.
" Oh…..kau datang kembali?. " suara dari seorang wanita segera menghampiri pria yang sedang berdiri sendirian di tepi kolam. Suara itu menggema di dalam gua, tapi untuk manusia biasa mereka tidak akan mendengar suara itu.
" Jadi kau sudah tahu kedatanganku sebelumnya?. " tanya pria berambut pirang emas ini. Dia menjeling tajam ke arah samping kanannya, dan samar-samar nampak sebuah kabut putih dan kabut itu kemudian berkumpul yang akhirnya menjelma menjadi seorang wanita, meskipun tidak menampilkan kakinya.
" Tentu saja…. " jawabnya dengan senyuman cantiknya itu. Dia adalah wanita berambut merah yang bernama Arin yang kini dalam bentuk roh, sebab tubuh fisiknya sudah lenyap kemarin kare a Eldania sudah membunuh dirinya karena permintaan Arin sendiri. " Karena disini adalah rumahku, maka aku tahu semua yang berada di dekatku. Tapi apa yang membuatmu datang kemari?. Walaupun wujudmu menyerupai manusia, tapi kau bukan sepenuhnya manusia, kan?. " jawabnya lagi.
Arin penasaran, dia tidak dapat mengetahui siapa sosok yang sedang menjadi lawan bicaranya itu.
Baginya keberadaan pria ini cukuplah asing.
Arin merasa pria tersebut bukanlah sosok yang bukan berasal dari dunia ini, jadi dia merasa tidak dapat mengenalinya keberadaan pria ini secara keseluruhan, kecuali aura bangsawan yang keluar dari pria ini cukuplah terasa.
Dia adalah Caster, sosok yang menjelma menjadi burung coklat bernama Everst yang selama ini terbang membawa Eldania kesana kemari.
__ADS_1
Caster melakukannya karena seseorang yaitu Eldania. Karena dimata Caster, Eldania adalah ‘ Wanita itu ‘.
‘ Wanita ‘ yang keberadaannya selama ini dia cari-cari.
Dan demi mensukseskan segala rencananya sendiri, Caster memilih untuk menggunakan segala cara dan metode demi bertahan didunia ini. Dunia yang berbeda dengan tempat tinggalnya dulu. Namun sekaligus demi bisa berada di dekatnya, itu adalah salah satu metode pendekatan setelah tahu Eldania adalah perempuan yang menyukai burung.
" Aku awalnya adalah sosok yang sepertimu saat ini. " singkat Caster, dia akhirnya menjawab rasa penasaran Arin walaupun hanyalah sedikit. Dia tetap membuat Arin untuk terus berpikir, itulah kesan dari Caster terhadap lawan bicaranya selama ini.
Arin melirik ke bawah [........., Roh?. ] Arin berpikir keras. Jika sosok yang ada di depan matanya adalah roh, kenapa pria ini mempunyai sihir yang cukup nyata untuk digunakan karena bisa menjelma menjadi seekor burung elang?.
Kenapa mampu mempunyai tubuh sempurna layaknya manusia pada umumnya?.
Berbagai pertanyaan muncul, sampai dimana saat Arin menatap serius Caster, dia langsung menyadari satu hal setelah melihat tatapan mata Caster terus tertuju pada kolam kering yang ada di depanya.
" Nah...karena kau kebetulan ada disini, kembalikan semua isi dari kolam ini. " perintah Caster pada Arin.
Seketika Arin yang sekarang dalam wujud roh langsung menoleh ke arah kolam yang sudah kering itu. Kolam yang awalnya berisi air berwarna merah darah yang kini sudah kering, dan pria ini meminta untuk mengisinya kembali?!.
Tapi belum sempat ingin mengutarakan alasan untuk menolak perintahnya, Caster terlebih dahulu menyela.
“ Ah...asal kamu tahu, aku tidak ingin mendengar penolakan hanya karena alasan sekarang kau sudah menjadi roh. “ Sela Caster di detik itu juga, sehingga sukses membuat Arin terdiam setelah hanya mengatupkan mulutnya saja karena alasan untuk menolak perintah pria itu langsung terhapus begitu saja. “ Aku meminta ini sebagai imbalan yang sudah dilakukan oleh Eldania kepadamu, apa kau mengerti?. “
“ Eldania!?. “ Hanya satu orang yang terlintas di benak Arin, yaitu perempuan yang kemarin dia temui. “ Ah!......., aku tahu!. “ TIba-tiba Arin tersenyum cerah dan menghampiri Caster lalu berkeliling mengamati pia ini dengan lebih dekat lagi. “ Jadi itu alasanmu datang kesini. Pantas saja dari tadi aku merasakan aroma bau darah yang kuat. “ ucap Arin sekali lagi dengan iringan sebuah ejekan. “ Aku memang tidak pernah keluar dari gua ini, tapi sekarang aku tahu. Demi mempertahankan fisikmu didunia ini kamu pasti menggunakan banyak jiwa dan disini adalah tempat yang tepat untukmu. Karena percuma aku menyembunyikan rahasiaku darimu, dan sebagai terima kasih pada dia, aku akan melakukannya untukmu. “
“ Baguslah. “ Celetuk Caster. “ Otakmu ternyata masih bisa bekerja juga meskipun sudah menjadi roh. Jadi kerjakanlah untukku. “
Karena pada dasarnya memang tidak banyak waktu lagi bagi Arin bertahan di dunia nyata dengan fisiknya yang sudah berubah menjadi roh atau makhluk halus, dia pun akhirnya mengabulkan perintah dari permintaan pria ini.
Arin yang sekarang dalam bentuk roh segera terbang ke tengah kolam yang sudah kering itu, setelahnya dia berbalik dengan wajah yang dipenuhi tatapan serta senyuman ramah kepada Caster, Arin langsung membatin. [ Untuk sesaat, aku terhubung dengan ingatan dari ibuku. Durandal….dia memang bukan dari dunia ini. Karena membawa ingatan masa lalunya aku jadi tahu, kalau…..laki-laki ini punya kisah sendiri yang cukup melegenda. Eldania…, kau beruntung punya seseorang sepertinya. Kau membuatku semakin iri. Tapi itu tidak membuatku jadi memiliki rasa benci kepadamu, karena kau sudah membebaskanku dari tempat ini. ]
__ADS_1
Walaupun tidak tahu kenapa padahal dirinya lahir di dunia ini, namun setelah melihat sosok dari pria bersurai emas ini, dia langsung tahu alasan dari pria ini sekarang berada di sini.
Itu karena pria ini punya satu ikatan dengan seseorang.
Arin awalnya memang tidak tahu itu siapa, tapi hanya dengan laki-laki yang terlihat sombong, arogan, dan berlidah tajam ini menyebut nama dari seorang perempuan, itu sudah menjadi sebuah bukti nyata.
Bukti bahwa Caster mempunyai satu hubungan masa lalu yang rumit yang terbawa ke era ini dan itu berakhir dengan adanya keberadaan dari ‘ Eldania ‘ didunia ini.
“ Aku harap kita bisa bertemu lagi. “ gumam Arin, dia benar-benar ingin melalui waktu panjang itu dengan cepat. Dia ingin sekali bisa bertemu dengan dua orang ini di masa depan. Apakah akan dua orang ini akan menjalin suatu hubungan yang lebih jauh lagi dari pada sekedar partner kerja?.
Arin akan terus menantikan masa depan mereka berdua.
Setelah selesai dengan pikirannya sendiri, Arin langsung terjun melompat kedalam kolam tersebut, dan…
SRASZHH…………
Seketika itu kolam yang tadinya kering langsung terisi penuh dengan air berwarna merah darah dan air itu sempat menyapa sepatu Caster.
“...................” Meskipun dia terbuai dengan lamunannya, namun tidak dengan tindakannya.
Caster perlahan melepas jubah merah yang melekat di belakang pinggangnya, tidak hanya sampai disitu saja, detik demi detik Caster melepaskan beberapa perhiasan seperti gelang, kalung bulu, dan juga anting emas, setelahnya dia pun melepaskan celana armor yang dipakainya.
Selesai melepaskan semua yang melekat di tubuhnya, Caster pelan-pelan melangkah kakinya ke depan dan masuk ke dalam kolam tersebut.
SPLASSHHH……..
Air kolam yang awalnya tenang, kini sudah menimbulkan gelombang berkat diri Caster yang sedang merendam tubuhnya masuk kedalam air darah itu.
Hingga setelah membuat separuh tubuhnya masuk ke dalam air, dia kemudian berhenti dengan sebuah tatapan dinginnya, hingga sebuah nama terucap dari mulutnya.
__ADS_1
“ Neshka….. “ panggilan kalimat dari sebuah nama langsung keluar dari mulutnya dengan nada lirih, nama yang terus terngiang di kepalanya.