
"Tuan.........., kami sudah membawa penyihir." Kata kesatria ini kepada tuannya.
Duke Avrel, dia melirik ke satu orang pria yang mengenakan jubah hitam, tapi dia tetap dapat melihat berambut hitam dengan iris mata ungu yang dimiliki pria ini.
Setelah perjalanannya yang diliputi rasa gelisah mendengar dinding utara hampir menunjukkan akan runtuh, itu membuatnya mau tidak mau memanggil seorang penyihir.
Tapi yang ditugaskan untuk mencari penyihir, justru hanya menemukan orang ini.
Tampangnya memang cukup bisa diandalkan, tapi apakah kekuatannya mampu untuk memperbaiki dinding di bawah tekanan gerombolan monster yang kembali datang?
Karena ini kesempatan terbaik mereka untuk menghancurkan dinding pertahanan Helion itu dan menyusup masuk ke dalam lingkungan masyarakat.
"Apa kau mampu memperbaiki dinding itu?" Tanya Duke Avrel pada penyihir yang terlihat misterius itu dengan tatapan penuh selidik. Dia lakukan sebab yang dibawa oleh salah satu kesatrianya bukanlah penyihir yang dia cari.
"Apa anda tidak percaya dengan kemampuan saya?" Tanya penyihir ini terhadap perkataan Duke Avrel dengan bahasa formal.
"Mana yang percaya dengan penyihir asing sepertimu?" Kata Duke Avrel secara terus terang.
Penyihir ini hanya terdiam sejenak. "Tidak apa, saya tidak butuh anda mempercayai saya, tapi saya akan mengerjakan apa yang anda minta."
__ADS_1
Lalu Irine langsung menyela. "Kalau begitu aku akan bertugas untuk melindungi anda. Bagaimana?" Irine justru menawarkan diri membantu penyihir itu di belakang.
Sejenak penyihir ini menatap Irine, tapi setelah itu pergi mengabaikannya sambil menjawab. "Terserah."
"Dia.....tidak suka saranku?" Irine menatapnya dengan wajah tidak percaya, bahwa pria itu terlihat cuek terhadapnya.
Tapi Avrel tertawa kecil. "Hah..... Kau tidak peka ya? Jika aku jadi dia, memangnya aku akan suka dengan usulanmu? Lucu sekali jika aku dibantu gadis kecil sepertimu. Itu sama saja mencoreng jati diri seorang pria Irine. " Beritahu Duke Avrel kepada Irine.
"Itu-" Irine jadi terdiam kehabisan kata-kata mendengar pernyataan dari duke Avrel ini. Tapi bagaimanapun dia tetap pada pendiriannya ayang penasaran seberapa kuat kemampuan penyihir itu bisa memperbaiki dinding? "Dia bilang terserah aku! Jadi aku akan membantunya!" Kata Irine lalu langsung pergi begitu saja.
"Ya...silahkan pergi sana. Kalau bisa habiskan semua monster yang kau lihat, maka itu bisa meringankan beban para kesatria." Jawab Avrel kepada gadis itu.
"Hahaha.....walaupun kelihatannya fisiknya sudah seperti itu, dia tetap saja punya pikiran seperti bocah kecil." Ucap Avrel menyindir. Setelah kepergian mereka berdua, Duke Avrel bertanya kepada kesatria di sampingnya. "Dari mana kau mendapatkan penyihir itu?" Tanya Avrel kepada kesatria di sampingnya itu.
Kesatria ini langsung menjawab. "Saya sebelumnya mendatangi kediaman penyihir Ernon. Tapi tidak ada siapapun kecuali orang misterius itu. Dan dia berkata kalau penyihir Ernon sedang pergi, dia bisa menggantikan tugasnya. Jadi saya bawa kemari. Apa ada masalah?"
"Ya" Smbil mengangguk pelan. "Masalahnya, kau membawa orang asing" Kata Avrel.
"M-maaf tuan."
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf. Jika sudah seperti ini, lebih baik, lakukan dengan apa yang ada saja dulu. Jika penyihir Ernon sudah kembali, aku bisa menanyakan siapa dia sebenarnya." Jelas Duke Avrel. Setelah seperti itu, Avrel memutuskan untuk melihat kinerja mereka berdua secara langsung.
____________
Di tempat lain.
Gadis yang tidak lain adalah Eldania, sekarang dia justru sedang memegang pisau di tangan kanannya dan di tangan kirinya tengah memegang wortel. Pekerjaan yang dia dapatkan adalah menjadi juru masak atau koki, tapi yang menjadi pusat perhatiannya adalah.
[Kenapa aku jadi koki di tempat penampungan seperti ini?! Aku kira, aku kan di tempatkan di dapur istana, mengingat dia adalah seorang kesatria berpangkat cukup tinggi.] Dalam pikirannya tidak bisa menghindari namanya sebuah penyesalan.
Eldania ingin mendapatkan bayaran yang mahal, tapi apakah bekerja di dapur seperti ini akan membuatnya mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat?
Dalam hidupnya dia sudah mengerahkan banyak waktu untuk belajar ini dan itu, serta mengeluarkan banyak uang untuk menguasai segala hal. Maka dari itu, jika memikirkan apa yang sekarang dia dapat sekarang ini baginya itu cukup merugikan.
"Kau yang di sana...ambil satu kotak kentang!" Teriak seorang wanita paruh baya kepada Dania yang masih berdiri saja di depan meja. "Sekalian kupas dan cuci, apa kau mengerti!?!" Perintah wanita ini.
Eldania hanya meliriknya, kemudian pergi ke gudang penyimpanan makanan untuk mengambil bahan yang sedang di perlukan itu.
[Aku harus menemui orang itu lagi. Jika terus seperti ini, sama saja membuang waktu. Padahal aku butuh uang jumlah banyak!] Protes Eldania dalam pikirannya, mengenai masalah pekerjaannya yang membuatnya terlihat seperti membuang waktu berharganya.
__ADS_1