Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
101 : Eldania


__ADS_3

SHAAA~


Kabut itu langsung menghilang bersamaan dengan angin, dan dua orang pria muda dengan dua seragam dari warna yang berbeda berdiri dengan wajah datar mereka.


Namun disaat yang sama pula, tepat di depan dua Iblis bersaudara itu,  seorang perempuan yang memakai seragam berwarna putih itu sedang berdiri dengan kepala menunduk dengan wajah tanpa ekspresi.


Membuat kedua Iblis itu kembali melihat wanita yang sama seperti apa yang mereka lihat beberapa saat tadi.


Kemudian ketiga lingkaran sihir yang awalnya ada di bawah kaki mereka sepenuhnya lenyap, dan digantikan dengan keheningan di dalam malam dari hutan rimbun yang gelap itu.


Momen apa yang baru saja terjadi diantara mereka bertiga?


Ke dua iblis ini terlihat sudah menemukan jawaban atas alasan dari gadis itu membuat tindakannya sendiri.


Alasan apa?


Yaitu alasan kenapa mereka berdua, yang di mana salah satu dari mereka terancam menghilang dari dunia ini, jadi tidak berhasil.


Alan itu terjadi karena suatu peristiwa di dalam kilas ingatan yang mereka berdua lihat milik dari gadis inilah, yang menjadi tujuan utama kenapa 'Eldania' melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.


Mereka berdua adalah iblis, dan gadis ini adalah manusia.


Itulah kali pertama mereka, mendapatkan bantuan dari seorang manusia dengan jasa paling besar seperti ini.


"Itukah alasanmu menyelamatkan kami berdua?" Tanya Ethan, atas persoalan tadi.


"Kalian melihatnya?" Tanya Eldania dengan nada lirih, namun kepalanya masih menunduk ke bawah. 


Eldania hanya sedang merasa aneh sendiri, karena benar-benar membantu kedua iblis ini dengan alasan dari rasa bersalahnya dari ingatan masa lalunya itu.


Padahal dia tidak harus melakukannya, karena tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun selain 'Mana' miliknya yang berkurang banyak.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" kali ini Nathan pula, yang bertanya.


Nathan penasaran dengan kedua anak kecil yang dibawa Liam tadi. 


Dia tidak sempat melihat apa yang terjadi setelah ledakan besar tadi mengguncang gedung besar itu, karena mereka berdua keburu kembali ke dunia nyata.


Eldania berbalik dan mengangkat tangan kanannya agar burung yang bertengger di salah satu batang pohon, segera berpindah dan mendarat di lengan tangan kanannya. 


"Itu adalah pertama kalinya, misiku tidak berjalan sempurna. Hanya itu yang bisa aku jawab." Jawabnya dengan singkat.


Dia tidak mau berbicara lebih untuk kedua Iblis itu, karena mereka berdua tidak berhak mengetahuinya lebih dari apa yang sudah mereka berdua lihat, dari ingatan masa lalunya Eldania.


"Apa itu bentuk rasa bersalahmu, maka dari itu melakukan semua ini pada kami? Kau hanyalah manusia dan kami iblis, tidak seharusnya kau melakukan itu pada kami hanya karena ingatan masa lalumu.” Ucap Ethan, menyela ucapannya Eldania di detik itu.


Eldania menoleh ke samping kanan, tapi sudut matanya menjeling ke arah mereka berdua, tentu dia hanya diam membisu dan memutuskan pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata.


"Hei! Ka-" Nathan yang hendak pergi untuk mengejar Eldania yang hendak pergi, segera mendapatkan tekanan yang berat. " Ugh!" 

__ADS_1


Tidak hanya Nathan saja, Ethan juga mendapatkan tubuhnya menjadi lemas setelah melihat gadis itu keluar dari area, tempat dimana lingkaran sihir tadi terukir di atas tanah, sampai akhirnya membuat mereka berdua langsung terjatuh tidak sadarkan diri.


BRUKK!


Kedua iblis ini pun terbaring di atas tanah. Mereka mendapatkan satu efek karena ritual tadi yang Eldania kerjakan dengan sihirnya.


________________________


"Aneshka. " Panggil Eldania, terhadap nama yang Eldania ingat.


Eldania tidak habis pikir bahwa dia bisa mengingat sedikit dimana tubuhnya seolah punya jiwa lain, yang tidak Eldania sadari. 


[Aku bisa melakukannya, berkat dia. Apa yang bisa aku lakukan? Apakah dia punya tujuan lain? Aku tahu kalau tiba-tiba mendapatkan bantuan tanpa alasan memang cukup mencurigakan. Tapi kelihatannya, dia… tidak seperti itu. Aku tidak merasakan hawa jahat dari kehadirannya itu. ] Pikir Eldania.


Eldania sebenarnya ikut menyadari keanehannya yang dia dapatkan, tepat menjelang gerhana bulan.


Dimana dia tiba-tiba merasa berada di tempat lain, namun ditemani oleh seorang wanita bercadar yang pernah Eldania tamui beberapa kali di dalam mimpinya.


Tapi terlepas dari pertemuannya dengan wanita bercadar itu, Eldania benar-benar jadi mengingat kembali, pria yang pernah menjadi partner kerjanya di kehidupan lalunya.


"Liam." Panggil Eldania dengan nada lembut.


Karena kejadian tadi, sekarang dia jadi mengingat sosok dari pria itu. Seorang ayah muda dengan dua anak kembar, yang baru saja bertemu.


Namun siapa sangka kalau tindakannya untuk menyuruhnya naik ke atas gedung, malah membuat mereka bertiga mendapatkan bayaran atas apa yang sudah Eldania lakukan kepada musuh-musuhnya yang dia bunuh tanpa belas kasih itu.


USAP...........USAP.....


"......................." Sampai helaian bulu dari sayap Everst, segera menyadarkan Eldania dari lamunannya. Eldania menoleh ke samping kanan. "Kau, terima kasih sudah menemaniku." dan entah gerangan apa yang sedang muncul dalam diri Eldania, Everst langsung Eldania peluk untuk masuk ke dalam dekapannya.


“Kenapa kau melakukannya sampai sejauh itu kepada kedua iblis itu?” Tanya Everst dengan telepatinya.


Everst sebetulnya sadar betul, apa yang sudah wanita di depannya itu lakukan selama seharian ini selain hanya masuk sekolah dan mengerjakan ujian kelompok yang mengharuskan Eldania bertarung dengan kelompok lain.


Tepatnya saat wanita ini bisa sampai tertidur di depan perpustakaan, itu karena Eldania baru saja mencari tahu soal lingkaran sihir untuk menggagalkan eksperimen sihir yang terjadi pada kedua Iblis bersaudara itu.


"Dan apa yang kau dapat dari tindakanmu untuk mereka berdua?" Tanya Everst lagi.


Meskipun Everst sudah tahu apa alasan dibalik tindakannya Eldania ini, tapi dia hanya ingin mendengarnya langsung dari mulut wanita ini.


Kenapa?


Apa lagi alasan dari keberadaannya saat ini, selalu berada di sisi Alinda?


Yaitu karena dia ingin lebih dekat dengannya.


“Karena jika aku membantu mereka, rasa bersalahku atas kematian Liam, yaitu temanku beserta kedua anaknya yang aku bawa sampai kematian menjemputku di kehidupan laluku, akhirnya sekarang bisa menghilang. 


Yah..jika bukan karena aku bertemu dengan mereka berdua, sampai detik ini aku pasti masih merasakan rasa bersalah pada mereka. Maka dari itu," Langkahnya kemudian berhenti tepat di dalam taman yang menghubungkan sisi kita Dilshade. "Karena tindakanku tadi, apa kau tahu sekarang aku jadi merasa lelah, tapi sayangnya matahari sudah mulai terbit. " Tiba-tiba suaranya yang awalnya penuh semangat itu berubah menjadi lirih.

__ADS_1


Everst melirik ke ujung cakrawala, disana perlahan nampak sebuah cahaya dari matahari yang mulai muncul.


Ketika mendongak ke atas, Everst sudah mendapati wajah letih dari wanita ini. 


Namun disaat itu juga, Everst juga akhirnya melihat wajah bodoh dari wanita ini, karena sedang menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat yang cocok untuk digunakan sebagai tempat istirahatnya.


Wajah penat dan terliihat seperti orang yang kehilangan arah, bagi Everst, wanita ini sangatlah lucu.


[Untuk reaksi wajah ini, dia tidak berubah.] Pikir Everst.


Dia merasakan nostalgia dengan wajah bingung yang sedang Everst lihat ini.


Eldania.


Adalah alasan Evert saat ini berada disisinya.


Karena bagi Everst, Eldania adalah masa lalunya yang tidak boleh pergi lagi.


Itulah kenapa Everst sekarang ada disini.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Eldania dengan wajah polosnya.


Eldana menatap Everst yang sedang Eldania peluk itu dengan tatapan sayu.


Warna mata mereka yang sama, benar-benar membuat mereka jadi saling bercermin sendiri.


“Itu karena wajahmu.”


“.........?” Eldania dengan jahilnya, malah membuat sayap kanan Everst untuk menyentuh wajahnya. “Apa kau tertarik dengan wajahku?” Tanya Eldania.


Meskipun masih dalam kondisi lelahnya, tetapi Eldania masih mampu untuk mengumbar candaan kepada burung kesayangannya yang di matanya terasa tampan?


[Kenapa aku berpikir seperti itu? Apa aku sudah mulai gila karena aku sudah menjadi maniak burung?] Pikir Eldania dalam diam, saat sedang menggoda burung yang bisa bicara itu.


[Tertarik?] Everst langsung menjawabnya. “Ya.” Tapi lain dengan yang ada di pikirannya, Everst sebenarnya bukan tertarik pada wajahnya saja, melainkan, [Bukan sekedar wajahmu yang mirip dengannya, aku tertarik karena akhirnya aku menemukan rohmu juga sebenarnya adalah dia.]


[Walaupun dia hanyalah seekor burung. Tapi, Everst ini… Dia lagi-lagi berekspresi seperti ini.] Pikir Eldania.


Eldania lagi-lagi diperlihatkan ekspresi wajah Everrst yang terlihat seperti ekspresi yang sedang merindukan seseorang.


Tatapan yang sama saat Everst sedang duduk diam di atas meja, saat melihat pemandangan cakrawala di balkon kamarnya beberapa minggu yang lalu, saat masih di istana Scneider.


Tapi entah apapun yang sedang dipikirkan oleh Everst, satu hal yang ada dipikiran Eldania saat ini adalah, [ aku tidak ingin kehilanganmu lagi.] 


Dan tanpa sepatah kata lagi, Eldania lebih mendekap burung itu lebih erat, sampai dimana wajah mereka saling bersentuhan, dan Eldania menggesek-gesek pipinya ke samping wajah Everrst yang sedang mematung karena terkejut itu.


“Everst, aku menyukaimu.” Bisik Eldania.


“................!” 

__ADS_1


__ADS_2