Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
90 : Eldania


__ADS_3

[Kira-kira apa tujuannya? Dia seorang servant, berarti kalau tidak salah dia adalah sebuah roh. Apa tadi ada hubungannya dengan temannya Ethan? Apa dia yang sudah membuatnya seperti itu? Tapi jika memang seperti itu...., lagi-lagi kembali, apa tujuannya?] Pikir Eldania.


Ketika isi kepalanya di selimuti segala pemikiran tentang sosok wanita yang merupakan Servant, tiba-tiba saja suara dari kepakan sayap, berhasil menarik perhatiannya Eldania.


KEPAKK..........


Perlahan makhluk dari pemilik sepasang sayap itu langsung mendarat di bahunya, dan di saat yang bersamaan ketika dia mendengar derap langkah yang cepat terus datang mendekat, Eldania pun langsung menoleh ke belakang.


[Dia memang tidak punya pekerjaan lain selain mengejarku. Apa dia tergila-gila denganku?] Pikirnya, dan menatap Ethan dengan tatapan menyelidik. 


Lalu ketika burung kesayangannya itu sudah mendarat di bahu sebelah kanannya, dan Ethan sudah berada di jarak 10 meter di depannya, tiba-tiba anak itu langsung berhenti dengan membuat wajah membeku.


Langit yang kemudian berubah menjadi gelap, menandakan malam benar-benar sudah datang. Sekaligus membuktikan bahwa langit memang sudah kehilangan cahayanya. 


Namun cahaya itu langsung tergantikan dengan deretan lampu yang langsung menyala secara serentak di tiap jalanan kota Dilshade.


Tapi apa hanya itu saja?


Apakah yang dilihat Ethan adalah deretan lampu yang menyala saja?


Ternyata tidak.


Itu sama sekali tidak benar.


Ethan, ketika mengetahui kegelapan sesaat itu menghilang, satu sosok yang langsung berhenti tepat di tengah jalan di bawah salah satu lampu, membuat Ethan yang sedang mengejar sosok wanita ini dari belakangnya, langsung terkesiap dengan keberadaan dari wanita yang langsung menoleh ke arahnya itu.


Hal itu membuat Ethan langsung berhenti mengejarnya, dan berdiam diri saja.


Kenapa?


KWAK.......


Bersamaan dengan seekor burung elang ada di bahunya, pemilik dari mata berwarna ruby, gadis itu langsung menatap ke arahnya dengan sorotan mata dingin penuh perhitungan yang seolah mulai tenggelam dalam kegelapan.


Perempuan yang seakan berubah menjadi orang lain saat berada di bawah kegelapan. 


Itulah Eldania di mata Ethan.


Ethan refleks menelan salivanya sendiri. 


[Dia-] Ethan yang kehilangan kata-katanya saat melihat sosoknya ini, terdiam membeku.


TAP........TAP.......TAP......TAP.......


Dengan langkah yang pelan, terlihat perempuan ini terus mengambil satu langkah demi satu langkah, dan terus berjalan mendekat ke arah Ethan.


"Ada apa? Kenapa diam?"


Sebuah suara dari dua pertanyaan itu, dalam sekejap langsung menggema di dalam otak Ethan.


"Apa kau sekarang takut?"


Satu pertanyaan lagi terarah untuk Ethan. 


Ethan yang tidak tahu maksud dari pertanyaan itu, segera bertanya lagi. "Takut apa?"


Masih terus berjalan mendekat, Ethan secara Refleks mengambil satu langkah mundur karena aura dingin yang yang tiba-tiba muncul itu sangatlah menekan tubuhnya.


"Kau seorang iblis, tapi wajahmu menunjukkan rasa takut kepadaku."

__ADS_1


Kalimat itu terjawab lagi, dan membuat Ethan terdiam sejenak.


"Tidak!" Jawabnya.


"Lalu kenapa kau berjalan mundur? Kau jelas sedang takut kepadaku kan?" Tanya Eldania sekali lagi.


Sosoknya terus saja mendekat ke arahnya, dan jawaban tadi membuat Ethan tersadar untuk tidak berjalan mundur lagi, jika memang benar-benar tidak takut kepada sosok di depannya. 


"Aku bilang tidak! Aku tidak takut kepadamu! Kenapa juga harus takut?" Jawab Ethan.


Tapi apa yang di nikmati di mata Eldania saat menatap Ethan adalah, wajah ekspresi yang berusaha untuk melawan rasa takut yang sedang melanda perasaannya itu.


"Baiklah, jika tidak takut berarti artinya kau juga tidak takut pada kematian?"


[Kematian apa? Apa maksud dari ucapannya?!] Dan Ethan benar-benar, pelan-pelan merasakan hawa dingin yang terus menusuk kulit tipis itu. 


Tapi tidak hanya itu, tiap kalimat dingin yang dari tadi terlontar untuk Ethan terasa bukan sekedar bualan kalimat ucapan saja.


Ada tersirat makna tersembunyi di balik tiap kalimat yang dia dengar.


Tapi apa itu?.


"Jawab aku, apa kau takut kematian?”


"Tidak! Tidak peduli iblis punya usia panjang sekalipun, jika sudah ditakdirkan mati, mau tidak mau aku harus menghadapinya juga!" Jawab Ethan dengan tegas.


"Jika seperti itu, bagaimana jika kematianmu ternyata sudah ada di depan matamu, saat ini juga?" Tanyanya lagi.


"Berhenti! Apa kau sedang bermain-main denganku?! " Tanya Ethan dengan perasaan ragu dengan segala pertanyaan yang dari tadi terdengar di kepalanya.


Tidak ada jawaban sama sekali selain angin disertai kabut yang tiba-tiba datang dan langsung berhembus kencang menyelimuti sekitarnya.


Kabut tebal yang membatasi jarak pandangannya, membuat Ethan berubah menjadi waspada.


[Apa-apaan dengan kabut ini? Kenapa tiba-tiba datang? Padahal aku bermaksud mengejar perempuan itu, tapi kenapa jadi seperti ini? Apa aku masuk dalam sebuah ilusi seseorang? ] Ethan yang tidak begitu menyukai situasinya itu, langsung mengeluarkan pedangnya, sekaligus mengayunkan nya dengan keras agar kabut yang mengelilinginya langsung pergi menghilang.


SYUHTT.........


Tetapi pedang miliknya tidak memiliki efek sama sekali terhadap kabut yang sedang mengelilinginya.


[Kenapa lagi ini? Kenapa pedang milikku tidak bekerja?!] Ethan langsung mengutuk pedang yang ada di genggamannya, dan dengan beberapa rapalan mantra, pedangnya langsung terbalut dengan api, lalu kembali menebas kabut putih itu.


SHAAKK...........


Seolah hanya menebas angin kosong saja, lagi-lagi dia tidak mendapatkan hasil dari usahanya.


"Dania! Kau di sini kan?!" Tiba-tiba Ethan berteriak dengan memanggil nama gadis itu karena sudah tidak tahan dengan situasi yang begitu tiba-tiba menjadi rumit seperti ini. " Keluarlah! Tidak perlu membuat lelucon seperti ini!" Teriak Ethan.


"Siapa lagi Dania itu?" Tiba-tiba suara itu kembali datang menyapanya.


[Siapa? Jika suara ini bukan milik dia, lantas siapa yang sedang berbicara denganku ini?] Pikir Ethan, semakin tidak paham.


Dia semakin tidak paham dengan situasinya sendiri yang membingungkan itu. 


Padahal jelas, jelas dia sedang berbicara dengannya, karena suara itu adalah suara milik Eldania sendiri.


meski menggunakan suara rendah penuh dengan penekanan, tapi Ethan tetap mengenali siapa suara yang dia dengar.


"Jawab aku Nathan! Antara kematianmu dan kematiannya, manakah yang akan kau pilih?"

__ADS_1


"Aku adalah Ethan! Bukan Nathan! Lalu memangnya kematian siapa dengan siapa?!” Teriak Ethan dengan suara yang terus muncul.


"Tidak perlu diberitahu, kau harusnya lebih tahu."


"Kematian siapa yang kau ma-" Ethan seketika menyadari sesuatu. Kematian atas dua pilihan tadi adalah dirinya dengan saudaranya.


Itulah yang dimaksud dari suara barusan.


"Katakanlah....dari hatimu yang paling dalam, mana pilihan yang akan kau pilih, Nathan?"


Lagi-lagi di panggil Nathan, padahal dia sangat mempercayai dirinya sendiri, bahwa dirinya bernama Ethan, bukan Nathan.


Tapi jika mengingat kilas balik beberapa waktu lalu, saat gadis itu memberitahu ada kemungkinan namanya sengaja ditukar, itu bisa jadi sebuah fakta baru. 


Saudara kembarnya adalah bernama Ethan dan dia sendirilah Nathan yang asli, sekaligus dirinya adalah adik dari Ethan yang sebenarnya.


Dengan begitu jelas sudah, dia segera berpikir dalam-dalam jika dirinya sendiri adalah Nathan, seorang adik. Maka selama ini dia sudah benar-benar merebut semua milik kakaknya.


Dengan kata lain dua pilihan tadi di tunjukkan untuk antara kematiannya dengan kematian kakaknya, dialah yang memilih pilihan itu sendiri.


"Manakah yang kau pilih?"


Dengan wajah frustasi, mulut yang sedari tadi terus terdiam akhirnya menyerukan suaranya. 


"Dia!" Dengan kepala menunduk, dia menjawabnya lagi. "Kalau di pikir-pikir bagus juga, aku jadi tidak menemukan wajah saat di sekolah."


Dia sudah tidak peduli soal siapa yang sedang melontarkan pertanyaan kepadanya, karena yang terpenting dia akan menjawab semua pertanyaan yang perlu dijawab.


"Kenapa dan apa alasanmu? Apa dendammu sebenarnya sering mengucapkan kata benci pada saudaramu sendiri?"


"..........!" Seketika Ethan alias Nathan ini langsung merubah wajahnya menjadi wajah penuh murka dengan sebuah tawa lepas. "Hahaha........tentu saja aku membencinya. Sangat membencinya sampai-sampai aku ingin membunuh dia dengan tanganku sendiri, gara-gara punya wajah yang sama!"


'Tentu saja aku menyayanginya, dan merasa ingin membunuh diriku sendiri, karena wajahku sama dengannya.'


"Melihatnya menderita dengan segala kekurangannya, sangatlah menyenangkan." Ucapnya lagi.


'Melihat saudaraku menderita dengan pura-pura tidak berdaya, sangat membuatku jengkel.'


"Dan merebut segalanya, aku jadi bisa hidup lebih nyaman ketimbang dia."


'Merebut semua miliknya bukanlah kehendakku, dan membuatku sangat tidak nyaman.'


"Jadi Nathan! Tidak! Tapi Ethan.....kakakku yang paling aku benci, sebagai kakak dia memang pantas mati demi adiknya!"


'Ethan, sebagai kakak yang aku sayangi, aku sebagai adik pantas mati karena semua perbuatanku.'


"Itukah pilihanmu?"


"Ya...., jika kau memang malaikat maut, sebaiknya lakukan dengan cepat, agar tidak membuang-buang waktumu yang berharga." Ucap Ethan atau lebih tepatnya Nathan yang asli.


Dalam kabut yang masih menyelimuti, suara langkah kaki itu terus terdengar, san terdengar semakin dekat.


TAP..........TAP...........TAP.........


Akhirnya, beberapa langkah yang diambil, membuat sosoknya hampir terlihat dengan jelas.


Tanpa meninggalkan waktu sedikitpun, sebelum menunjukkan wujudnya dengan jelas, sebuah ujung pedang langsung terarah ke jantung Nathan.


"................!" Dan siapa yang berani mengacungkan pedang ke arahnya?

__ADS_1


__ADS_2