
Melihat sang Raja akhirnya terbujuk untuk beristirahat, wanita bercadar ini pun tersenyum lembut, karena pria itu sungguh adalah pujaan untuk semua rakyat di kerajaan Ururika, dan sebagai seseorang yang menempati posisi di samping raja, sebagai seorang asisten pribadinya, dia pun harus merawat, menjaga, sekaligus membimbing pria itu untuk bisa menjalani hidup sebagai Raja yang bijaksana dan tidak mendapatkan segala penolakan dari rakyat sendiri, mengingat pria di depan sana, adalah seorang tiran berdarah dingin.
"Apa yang kau tunggu? Aneshka, cepat ikut aku," Perintah Gilsh, melihat wanita bercadar itu justru masih berdiam diri di tempatnya.
"Baik Yang mulia, saya akan datang," Wanita bercadar bernama Aneshka ini pun separuh berlari untuk menyusul sang Raja yang sudah mau menunggunya.
"Kalau kau membuatku menunggu lagi seperti tadi, aku akan memastikan kakimu sekalian aku potong agar tidak pergi kemanapun," Kata Gilsh memberikan sebuah ancaman yang bagi orang lain pasti akan langsung bergidik ngeri, karena mendengar kakinya di ancam akan di potong, untuk orang yang berani membuatnya menunggu?
Itu memang benar, pria ini bisa melakukannya bahkan tanpa sungkan, seolah manusia itu adalah pion dari catur yang di kendalikan nya, makannya tidak begitu terlalu peduli.
Tapi rasa takut yang akan di tampilkan di wajah milik orang lain, jika kakinya akan di potong, maka tidak dengan Aneshka ini. Dia tetap memberikan senyuman lembutnya, karena dia sama sekali tidak merasakan adanya ketakutan di dalam hatinya itu.
Tentu saja, semuanya di sebabkan karena pria ini bukanlah sosok yang menakutkan.
"Walaupun aku tidak menatapmu, tapi aku tahu kau pasti sedang memikirkanku. Ada apa, sampai terus saja tersenyum seperti orang bodoh?" Dan ucapan dari Gilsh langsung menarik perhatian Aneshka yang sedang menikmati bisa menyamai langkah kakinya untuk mengikuti pria yang sedang memimpin jalannya itu.
"Hanya sesuatu yang lucu,"
__ADS_1
"Katakan, apa yang membuatmu bisa mengatakan lucu, padahal tidak ada yang sedang melawak," Toleh Gilsh, karena ia akhirnya penasaran dengan ekspresi cantik dari wajah milik Aneshka yang sungguh di tutupi dengan baik, agar tidak ada sembarang orang yang melihat wajahnya, karena Aneshka sendiri adalah seorang pendeta, jadi wanita ini sama sekali harus menutup wajahnya.
Mereka berdua pun berjalan bersama, dengan tempo dari kaki yang sama juga, dan dua wajah yang saling menatap.
"Karena anda lucu, Yang mulia," Jawab Aneshka singkat.
"Jawaban macam apa itu?" Gilsh merasa kurang puas dengan jawaban dari asisten pribadinya itu.
"Anda kan tahu segalanya, kenapa anda tidak mencari sendiri saja jawabannya?" Secara tidak langsung, tawanya tadi membuat Gilsh mendapatkan sebuah tantangan.
Bahkan sebenarnya wanita yang kini ada di sampingnya ini, sesekali membuat wewenangnya sendiri untuk mengatur Gilsh untuk berbuat sesuatu.
Benar-benar posisi pendeta yang cukup berani, karena berani menanggung resiko saat mengatur diri Gilsh, baik itu saat Gilsh bekerja berlebihan, telat makan, atau tiba-tiba kabur. Ujung dari semua itu adalah omelan yang cukup panjang, sampai Gilsh sendiri merasa kalau wanita ini, jadi terlihat berperan seperti Istrinya.
"Terima kasih jika anda memberikan saya julukan seperti itu. Saya jadi senang." Aneshka pun semakin terkekeh dengan dengan jawaban dari pria itu.
Karena hari sudah malam, Istana kerajaan pun jadi mulai sepi. Angin malam berhembus masuk melewati celah dari tiang yang berdiri kokoh menyangga bangunan Istana.
__ADS_1
Di zaman ini, jendela sama sekali tidak ada yang terbuat dari kaca, ianya hanya dalam bentuk lubang yang melubangi bangunan dengan ukuran yang berfariasi.
Maka dari itu, semua angin yang berhembus langsung masuk begitu saja tanpa adanya penghalang apapun.
Membuat kedua orang ini sama-sama merasakan angin malam yang cukup dingin.
Sebenarnya Aneshka mulai menggigil, tapi ia tahan karena ia tidak mau mendapatkan simpati dari laki-laki berstatus raja ini.
"Aneshka, apa yang kau pikirkan untuk masa depan kerajaan ini?"
"Kenapa anda bertanya seperti itu, Yang mulia? Pasti akan jadi kerjaan makmur kan?"
"Itu memang seandainya akulah yang mengelolanya sampai seterusnya. Tapi apa yang akan terjadi jika aku tidak ada?"
"Yang mulia. Apa maksud anda berkata demikian?" Aneshka menghentikan langkahnya, menatap sosok dari Gilsh dengan wajah seriusnya.
Melihat Aneshka berhenti berjalan, Gilsh juga ikutan menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke samping kirinya dan menatap wajah Aneshka yang tertutup dengan cadar.
__ADS_1