
" Kau sangat berisik, tidak usah mendorongku terus, aku bisa jalan sendiri. " Setelah berkata seperti itu Ethan segera menepis tangan Angela dengan kasar karena terganggu.
" ...................... " Angela yang tangannya ditepis kasar oleh laki-laki yang dia kenal sebagai Nathan pendiam segera terbengong. Dia baru pertama kalinya di perlakukan seperti ini olehnya, jadi mulutnya spontan berkata minta maaf.
" M-maaf jika itu mengganggumu. "
" Ha, baru sadar tingkahmu sok akrab itu menggangguku?. " celetuk Ethan dengan tawa menyindir. Dia tidak segan-segan berbicara demikian kepada Angela karena pada dasarnya dia tidak kenal dekat dengan Angela dan sikapnya yang juga menyebalkan membuatnya tidak tahan untuk dekat dengan wanita ini.
Ethan benar-benar merasa terganggu dengan keberadaan Angela ini karena berisik.
Setelah Ethan berkata keras seperti itu kepada Angela, Ethan bergegas jalan sendiri meninggalkan wanita itu dan hanya memperdulikan dirinya sendiri yang sedang dilanda kekacauan.
Apa lagi kalau bukan dengan kejadian yang membingungkan ini. Yang pertama dengan keberadaan Nathan yang menghilang, itu sudah menjadi masalah barunya karena tidak tahu akan ucapan Nathan yang menggantung itu.
' Melindungi '
Itulah yang dipikirkan oleh Ethan dengan keras.
Sedangkan yang kedua, sekarang teman sekelas Nathan menganggap dirinya Ethan sebagai Nathan yang dikenal oleh Angela ini.
____________
-----^v^v^v----^v^-----
ZRRTT.....
Eldania seketika merasakan keanehan di dalam pikirannya secara tidak terduga, tapi di saat itu pula.....
Tubuhnya terus menghindari daratan. Dengan kata lain, dia terus terbang tinggi.
" Kenapa tiba-tiba?. " Eldania melongo, menatap alam sekitar dari ketinggian, lalu kemudian mendongak ke atas. Sekarang yang menjadi tersangka atas kasus ini adalah Everst.
Everst tiba-tiba saja mencengkram tangan kanannya, sehingga secara otomatis Eldania jadi dibawa terbang ke langit yang sedang tidak seberapa cerah.
“ Sudah cukup menonton. “
" Apa!?. " Eldania masih menatap ke atas, yang dia lihat sekarang ini adalah helaian bulu bagian dada dari burung ini bergerak-gerak, tapi terlepas dari itu, dia melihat tatapan Everst yang selalu tajam, apalagi dengan ucapannya barusan itu terdengar seperti...
' Rasa tidak suka?. '
[..................?, apakah begitu?. ] Eldania berpikir, bahwa tindakan dari burung ini lebih dari cukup untuk membawa dirinya pergi dari sebuah masalah milik orang lain.
WUSHHH~~~
Angin berhembus kencang menyapa tubuhnya dengan signifikan dan Eldania masih bergelantungan di bawah cengkraman kaki milik Everst yang sedang membawanya terbang ke angkasa, meski dalam kondisi tubuh Everst tidak seberapa besar.
"..................." Tidak ada obrolan lagi di antara mereka, sampai akhirnya Everst membawanya ke hutan paling dekat dengan Academy lalu menurunkannya dengan begitu saja.
Setelah itu Everst terbang dan bertengger di sebuah dahan pohon yang pendek tepat di depan Eldania. Lalu apa yang dilakukan mereka berdua sekarang?.
“ Apa?, kenapa menatapku seperti itu?, apa aku melakukan kesalahan padamu?. “ tanya Eldania dengan tegas, kali ini dia merasa bahwa tatapan milik Everst itu bagai sebuah tatapan peringatan dan tentu saja itu membuatnya tidak nyaman.
“ Tidak. Apa begitu masalah jika ada yang menatapmu terus?. Kau adalah objek yang patut di tatap olehku. “ jawab Everst, dia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun untuk terus menatap perempuan di depannya.
“ Tentu saja jadi masalah!. Mana ada orang yang tahan jika ditatap terus. Jadi aku tanya... “ namun Eldania sendiri tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh dengan bulu lembut berwarna coklat itu. “ Apa yang sebenarnya terjadi?. Baik itu apa yang aku lihat tadi dan perasaan ini?. “
Everst memiringkan kepalanya dan bertanya.
“ Perasaan?. “ Sorotan matanya berubah menjadi semakin tajam dari sebelumnya.
[ Apa aku salah bicara?. Kenapa dia terlihat malah marah saat aku mengatakan perasaan?. ] Secara Eldania bingung dengan sikap Everst yang terlihat tidak dapat dimengerti itu.
Everst...di satu waktu terkadang bisa jadi menggemaskan, terkadang jadi mengerikan, tapi ada kalanya tiba-tiba menatapnya dengan tatapan tidak suka seperti yang sedang dilakukan Everst saat ini.
Eldania tidak mengerti apa yang ada di dalam otak kecil dari burung ini selain hanya bisa menebak-nebaknya saja.
Eldania kemudian kembali mencoba maksud dari ucapannya. “ Maks-... “
Tapi sebelum Eldania berkata sepenuhnya, Everst langsung menyela.
" Apa itu hanya sekedar pertanyaan atau ingin bertindak lebih jauh dari itu?." Everst tiba-tiba langsung menyela ucapannya Eldania saat itu juga, sekaligus menebak bahwa pikirannya saat ini bahwa gadis ini akan membantu orang lain lagi.
[ Apa masalah jika aku ingin bertanya, kau terlihat seperti burung yang tahu segala hal di dunia ini, makannya aku bertanya, tapi dia seperti ini. ] Eldania lagi-lagi tidak mengerti apa dan kenapa burung ini bertingkah seperti ini, berbeda dari biasanya, atau....memang sudah berbeda jauh dari yang dulu?.
Eldania memejamkan matanya dan berbalik.
“ Sudahlah, jika tidak mau dijawab aku tidak akan memaksamu menjawabnya. Aku akan mencari tahu sendiri. “ pungkas Eldania, dia juga sebenarnya sadar apa yang barusan Everst katakan itu. Hanya saja melihat sikapnya Everst hari ini, itu sudah lebih dari sekedar rasa tidak suka saja, yaitu untuk tidak ikut campur.
Dan dia pun berjalan pergi, tapi di saat itu pula burung itu memekik.
KWAK...!.
__ADS_1
Pekik Everst, melihat Eldania membalikkan tubuhnya tepat di depan matanya seperti itu, Everst pun segera merentangkan kedua sayapnya dan..
GREPPP..........
" Ahh........." Eldania langsung merintih dan refleks dia langsung jongkok setelah bahu sebelah kanannya di jadikan tempat burung ini bertengger dan dengan sengaja menekan bahunya dengan sebuah cengkraman yang kuat. “ Apa yang kau lakukan?!. “
Eldania jadi merasakan sensasi geli dan sakit di saat yang bersamaan. Geli karena helaian bulu sayap kirinya itu sedikit mengusik telinganya dan sakit karena beban berat, padahal dari luar kelihatan seperti burung dengan berat kurang dari 3 Kg, tapi tidak dengan kenyataannya saat ini.
Beratnya berubah drastis seperti membawa 6 Kg beras.
“ Aku bertanya tapi langsung menyerah berharap jawaban. “ ucap Everst. Dia tidak suka jika pertanyaannya langsung di abaikan, jadi ini tidak lain adalah hukuman dengan mengisi bahu kosong ini jadi tempat dirinya beristirahat dari lelahnya menggunakan kedua sayapnya untuk terbang terus.
[ Lagian, dia memasang ekspresi dan nada bicara tidak suka. ] Batinnya. Karena berpikiran demikian, maka dari itu dia malas melanjutkan pembicaraannya.
“ Bawa aku makan, sebagai bentuk balasan atas kesalahanmu, maka aku akan mempertimbangkan jawabannya tentang apa yang ingin ditanyakan olehmu, Eldania. “ kata Everst sambil merentangkan sayap kanannya ke depan, agar jalan ke depan.
"......................."
Eldania meliriknya sesaat, ini baru kali pertamanya mendengar burung ini memanggil namanya dengan jelas. Dan jauh di dalam hatinya yang paling dalam, entah kenapa dia merasakan suka burung ini memanggil namanya seperti tadi.
Karena suasana hatinya merasa sedikit baik, akhirnya Eldania menjawab. " Baiklah. " lalu kembali berdiri dan mencoba menggerakkan bahunya yang terasa dibebani barang seberat 6 Kg lebih itu.
“..................”
Lalu mereka berdua pun pergi, Eldania berjalan keluar dari hutan itu dengan memotong jalan, sehingga saat keluar dari hutan dia langsung sampai di samping sekolah.
“ Berikan aku makanan paling enak. “ Pinta Everst lagi kepada Eldania.
Sebagai balasan jika mengharapkan jawaban atas pertanyaannya Eldania tadi, maka mau tidak mau Eldania harus menyuapnya dulu.
“ Iya...kau jangan cerewet, aku akan membuatmu makan, makanan yang enak sampai kau ketagihan dan bisa membuatmu jadi gendut. “ jawab Eldania dengan selamba.
Eldania sebenarnya mulai berimajinasi. Dia mencoba membayangkan jika burung yang ada di bahunya ini banyak makan dan kemudian menjadi gendut.
Gambaran yang sempat terlintas di dalam otaknya adalah tubuh Everst berubah menjadi bulat seperti bola dan kedua sayapnya hanya sebagai hiasan, karena sayapnya yang tidak mampu untuk di gunakan terbang lagi.
Tapi semua khayalan yang belum selesai itu langsung menghilang saat kepalanya tiba-tiba saja di pukul.
TEPLAK…..
“ Aduh…. “ Eldania merintih sakit lalu mengusap belakang kepalanya yang baru saja dipukul.
Dimatanya, Eldania sebenarnya tidak merasakan begitu rasa sakit di kepalanya, tapi tindakannya yang mengusap belakang kepalanya adalah sebuah alasan belaka.
Ya…..bagaimana jika bayangan soal memakan perempuan ini hidup-hidup bisa terwujud. Pikiran apa yang langsung terlintas di dalam kepalanya?.
“............!. “ Seketika Eldania dibuat jadi berpikir [ Memakanku?!. ]
Satu pikiran lain dari yang lain pun melayang.
_______________
Di suatu tempat, tepatnya di sebuah kamar Asrama.
Menjadi salah satu tempat mewah yang membuktikan akan nilai dari kelasnya karena seorang bangsawan. Dialah murid yang baru masuk Academy, seorang pria bangsawan yang selalu tiba-tiba mengukir sebuah senyuman penuh kemenangan di bibir yang sedari tadi terdiam, ketika melihat apa yang sedang dia lihat saat ini.
Pria berambut pirang emas yang sedang duduk ini pun menyangga dagunya. Dengan kaki kanan dia tumpuk ke atas kaki kiri dan kemudian ketika tangan kirinya menggoyang-goyangkan gelas berisi anggur merah, mulutnya pun bergumam pelan dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat itu.
“ Wanita ini. Pasti sedang berkhayal yang tidak jelas. “
__________
TAP..........
TAP.........
TAP.......
Dengan langkah besar dan lebar, Ethan pergi untuk kembali ke kelasnya.
Tujuannya memang itu, tapi ketika sudah ada di depan pintu masuk, dua orang yang dia kenal langsung berdiri menghalangi jalan Ethan.
" Tunggu. " tangannya menghalangi Ehan untuk tidak masuk.
" Apa yang kalian lakukan. Kenapa menghalangi jalanku?. " tanya Ethan dengan nada ketus.
" Harusnya aku yang tanya, ada urusan apa datang ke sini, bukannya kau dari kelas sebelah. " ucap wanita ini dengan ekspresi seriusnya. Baru kali ini ada siswa dari kelas sebelah tiba-tiba mau masuk ke kelas lain dengan wajah arogan. Seolah lelaki di depan mereka berdua adalah murid sekelasnya.
" Atau ada orang yang ingin kau temui?, jika iya tetap di larang masuk dan aku akan memanggilkannya untukmu. "
Dua perempuan ini tetap bersikeras menghalangi Ethan yang harusnya bisa masuk ke kelas itu dengan mudah, tapi itu tidak bisa sama sekali.
__ADS_1
Ethan lagi-lagi di buat berpikir keras.
[ Padahal ini kelasku, tapi mereka menghalangiku seperti ini seolah aku...........] dan Ethan jadi memikirkan cara lain untuk mengetahui apa yang sedang ingin dia ketahui, yaitu........
" Apa ada yang namanya Ethan?. " Ethan terpaksa bertanya atas namanya sendiri.
" Ethan?. " Dua wanita ini saling pandang satu sama lain.
" Di sini tidak ada yang namanya Ethan, mungkin saja nama yang kau maksud ada di kelas lain. " jawab wanita di sebelah kanan Ethan ini, orang yang pertama kali mengulurkan tangannya untuk menghalangi murid berseragam putih ini masuk.
" ..................." Ethan hanya terdiam, setelah mendengar kesaksian dari mereka berdua yang terlihat tidak mengenal nama Ethan sama sekali.
" Kau Nathan kan?, yang berhasil mengalahkan kelompok 2 dari kelas kami?. " Terka wanita ini lagi.
" Hm......." Tidak tertarik lagi yang namanya menang ataukan kalah, Ethan berbalik pergi meninggalkan kelas itu, kelas yang sebenarnya harusnya dia tempati. Tapi kali ini dia tidak ada pilihan lain selain pergi ke kelas Nathan yang sebenarnya.
TAP...........TAP.............TAP..............
Penasaran dengan keadaan kelas yang sebenanrya di tinggali oleh Nathan, kini Ethan pun pergi ke sana. Untuk beberapa waktu saja, karena di sana adalah kelas sisa yang memiliki siswa dominan dari kalangan rendahan.
KRIEETT............
Ethan segera mendorong pintu besar itu dengan satu tangannya dengan cukup pelan. Perlahan dia melihat ramainya kelas yang Nathan tempati.
" Ahaahahaha............jangan menggelitikku. " gadis ini bergelayut, tidak tahan dengan gelitikan yang di lakkukan oleh temannya.
Gadis yang sedang menggelitik temannya langsung angkat bicara. " Aturannya, yang kalah ujian akan di gelitik 3 menit, dan sisanya besok latihan bersama. "
" Ahahah, ta...haha...tapi ini..geli..haha...gelitikannya terlalu lama. " tawa keras mengisi ruang kelas.
Tidak hanya itu saja, ada juga yang di hukum dengan menggendong temannya naik turun tangga selama 4 kali.
" Sialan!. Tubuhmu berat sekali!, apa kau makan batu?!. " pekik laki-laki ini, terus berusaha untuk naik ke tiap anak tangga yang ada di depannya.
" Ha...jika menurutmu, aku memang makan batu jadi menghasilkann berat badan seperti ini, aku tidak masalah. Tapi......! " Pria yang sedang di gendongan temannya ini segera mengeratkan pelukannya. " Sekarang hukumanmu aku tambah 2 ronde lagi!. Cepat gerakkan kakimu itu bocah!, ayo naik ke atas!. "
" Arrkkhh........, kau dasar setan!. " teriak laki-laki ini, kena siksa oleh temannya sendiri, hanya gara-gara candaan tadi.
"....................." Ethan yang melihat keadaan kelas yang penuh dengan keramaian bagai pasar, terbengong di depan pintu kelas.
Dan keberadaannya sekaligus menjadi penyadar mereka semua penghuni kelas yang sibuk dengan urusanya masing-masing.
" Nathan........! " All ( 3 orang memanggilnya secara bersamaan. ).
Mereka yang sedang duduk dengan buku di atas meja, dimana ada 10 orang lainnya adalah iblis yang memakai seragam merah, 6 orang berseragam biru, dan 15 orang berseragam putih, menyempatkan diri untuk melirik ke belakang, alias menjeling dan menoleh ke arah pria yang di panggil Nathan tadi.
" Kerja bagus." satu orang tiba-tiba berkata demikan, memberikan pujian kepada Nathan yang notabennya adalah Ethan.
" Iya...kamu akhirnya bisa menang dari mereka, semua yang di sini senang dengan keberhasilanmu. "
Apa yang paling tidak Ethan percaya ketika masih berdiri di depan pintu dan mencoba mengamati mereka semua adalah teman Nathan yang ada di dalam kelas, mereka semua memberikan anggukan kecil, senyuman, ataupun dua jempol untuk dia.
[ Apa-apaan ini?, mereka semua........--. ] Padahal kelihatannya, manusia dan iblis yang duduk diam di kursinya terlihat hanya memperdulikan dirinya sendiri. Tapi yang tidak Ethan menyangka adalah semuanya justru terlihat mendukung atas kemenangan dari kelompok Nathan, walau hanya dengan senyuman tipis, anggukan pelan, dan lainnya.
Itu semua adalah perhatian dan pujian untuk Nathan, bukan dirinya yaitu Ethan yang ini.
[ Ha..... ] Ethan berdecih di dalam hatinya. Itu membuatnya berbalik lalu pergi meninggalkan kelas.
" Nathan?. " panggil salah satu dari mereka, melihat Ethan tiba-tiba pergi.
Tapi dia tidak menggubris panggilan itu dan tetap pergi keluar.
KLEKK......... ( Suara pintu tertutup. )
Ethan bersender di depan pintu dan tangan kanannya langsung menyibak poni yang sempat menutupi pandangannya. Tapi sorotan mata dan ekspresinya sangatlah suram, dia sangat frustasi dengan semua ini.
[ Nathan....] Panggil Ethan di dalam hatinya. [ Aku tidak tahu, ternyata di kelas banyak yang menyukaimu. ] Ethan tersenyum mencibir.
Ethan juga tidak tahu kalau saudara kembarannya yang jika di luar kelas sering di remehkan, ternyata lain hal ketika di dalam kelas. Terlihat bayak yang menyukainya, padahal Nathan adalah anak yang pendiam alias tidak banyak bicara.
Suasana di kelas Nathan dan Ethan sungguhlah bertolak belakang, maka dari itu Ethan sedikit terkejut dengan suasana kelas Nathan yang begitu hidup seperti pasar ketimbang kelasnya Ethan.
[ Aku memang berkata kalau lebih baik dia menghilang saja. Tapi ini.....] Ternyata dia tidak bisa menerima kepergiannya. " Hahh~. " Ethan menghela nafas pelan.
Dia harus berpikir jernih, untuk sekarang dia hanya berpendapat kalau Ethan sudah tidak ada, dan yang ada hanyalah nama Nathan, Jadi secara terpaksa Ethan harus menerima nama panggilan itu, setidaknya untuk sementara waktu.
[ Ya...........] Ethan mengangkat wajahnya, dengan ekspresi yang sudah dia perbaiki, yaitu wajah seriusnya. " Aku harus mencari perempuan itu. Dia adalah kunci yang menyaksikan pertarungan kami berdua, aku harus menemuinya. "
Sebuah tekad kuat, aura kegelapan pun muncul. Ethan tidak bisa membiarkannya begitu saja dan solusi yang harus dia dapatkan adalah setelah pergi menemui gadis itu, yang Ethan temui saat di ujian masuk untuk murid baru.
Karena dialah satu-satunya orang yang 'pasti' melihat/tahu dengan kejadian tadi siang.
__ADS_1