
Di malam hari….
“ Kemana staminamu yang besar itu? Lebih kuat lagi. “ Sebuah suara milik Duke Avrel lagi-lagi terdengar dan membuat sebuah kesalahpahaman yang besar di luar tenda.
“ Begitu ya? “ Dan suara dari seorang perempuan yang berada di dalam tenda sukses membuat banyak pasang telinga terbengong.
“ Apa yang mereka berdua lakukan di dalam? “ bisik orang pertama saat membawa setumpuk selimut untuk diberikan kepada rekan-rekannya.
“ Apa segini sudah cukup? “ satu suara lagi kembali menyinggung indera pendengaran mereka.
“ Ukh….., coba sedikit kau tekan lebih kuat lagi. Ha~.... Bagaimana kau bisa melakukannya? “ sebuah pujian dari Duke Avrel untuk seseorang, langsung menyeruak masuk kedalam otak mereka semua. “ Sangat nikmat, masih muda tapi kau sangat ahli dalam hal ini juga? “ tanyanya.
******* kecil yang ditahan kembali berhasil membuat orang-orang terlena dengan pikiran mereka sendiri.
“ Ahli dalam hal apa? “ bisik orang pertama.
“ D-duke...kenapa aku bisa-bisanya mendengar suaranya yang seperti itu?. “ Irine tiba-tiba sudah hadir di antara para mereka semua.
Lalu diantara mereka, Evan pun hadir dengan lembaran dokumen di tangannya. “ Apa yang sedang kalian lakukan disini? “ Lagi-lagi Evan terlambat dalam pembicaraan miring mereka.
__ADS_1
“ Disitu...benar, jangan berhenti. “ suara Duke kembali terdengar, membuat Evan kembali memasang wajah serius.
Melihat banyak orang saling pandang satu sama lain, Evan yang tidak bisa membiarkan kondisi itu seperti itu saja, dengan wajah seriusnya Evan langsung bergegas masuk ke dalam tenda untuk melihat kekacauan apa lagi yang sedang dibuat oleh Duke Avrel.
“ Yang mulia, apa yang sedang anda lakukan dengan kalimat seperti itu?! “ peringat Evan dengan suara sedikit keras, membuat dua orang yang Evan temui itu langsung menjelingnya secara serentak.
Terlihat Duke Avrel sedang duduk dengan telanjang kaki tanpa alias tanpa alas sepatu, sedangkan seorang perempuan yang dikenal sebagai Eld, dia sedang duduk dibawah sambil memegang dua kaki Duke Avrel. Disana juga terlihat ada satu baskom air yang masih mengepulkan asap tipis.
Adegan yang baru pertama Evan lihat.
“ Kau pikir aku sedang melakukan apa? Aku hanya menyuruh dia memijat kakiku sedikit lebih kuat. “ Jelas Duke Avrel sambil meletakkan dua lembar kertas ke meja sebelah, lalu kembali mengambil dokumen yang baru untuk dia baca. “ Ternyata isi kepala kalian harus sering-sering dibersihkan. “ celetuk Duke Avrel melihat ekspresi Evan yang jelas langsung tersinggung itu, dan sekaligus memperingatkan beberapa pasang telinga di luar tenda, yang ikut mendengar perseteruan kecil tadi dengan Eldania.
“ I-itu……”
“ Oh ya…kamu... “ Panggil Duke Avrel. “ Aku memang sudah tahu kamu bukanlah orang dari wilayahku. Tapi aku ingin mendengar alasanmu mencari uang disini, dan kemana tujuan kamu setelah ini. “
Mendengar pria itu bertanya demikian, Eldania langsung menghentikan aktivitasnya. “ Ya….lagi pula itu bukanlah rahasia besar. " Kata Eldania, lalu dia berdiri dan menghadap orang yang bersangkutan. " Aku hanya ingin membayar hutang secepat mungkin. "
" Seberapa banyak hutangmu itu? “ tanya lagi Duke Avrel.
__ADS_1
“ Seratus juta emas. “
“...................! “ Avrel dan Evan tercengang dengan ucapannya itu. Seratus juta bukanlah uang yang sedikit, apalagi jika sudah menyangkut emas. Itu sudah setara dengan harga rumah mewah di tengah ibu kota, dan sudah difasilitasi dua puluh orang pekerja yang siap bekerja paling tidak selama kurang lebih sepuluh tahun.
[ Seratus juta? Masih semuda ini, hutang macam apa yang dia miliki sampai sebegitu banyaknya? Apa karena berhubungan dengan hutang kedua orangtuanya?] batin Evan.
“ Kamu terlihat terlalu muda untuk mempunyai hutang sebanyak itu. “ ucap Duke Avrel, dia sedikit bersimpati namun tidak bisa membantu permasalahan gadis ini karena uang bisa didapatkan berdasarkan seberapa banyak usaha yang dikerahkan, itulah yang diyakini Duke Avrel dan lagi pula dia bukanlah seorang dermawan.
“ Sebenarnya itu hanyalah hadiah yang berakhir dengan kesepakatan dari satu pihak. “ jawab Eldania dengan singkat, dia menjelaskannya tanpa memberitahu apa objek yang menjadi beban hutang yang sedang dia miliki saat ini.
Dan sebenarnya mereka berdua penasaran dengan hutang apa yang sebenarnya dimiliki oleh gadis itu, tetapi mereka sadar dengan posisi mereka yang merupakan orang asing bagi Eldania, jadi mereka tidak akan bertanya lebih.
“ Sedangkan tujuanku setelah ini, adalah pergi ke Academy Klenon. “
“ Apa? “ Duke Avrel akhirnya mengernyitkan matanya. Dia lumayan tercengang, tujuan dari perjalanan dari seorang gadis belia sepertinya justru akan pergi ke tempat dimana para iblis berada. Itu sama seperti masuk ke kandang harimau. “ Apa kau punya undangannya? “
Tidak dapat dipercaya, bahwa gadis muda yang ada di depannya ini mendapatkan sebuah kesempatan untuk masuk ke wilayah iblis.
[ Dia sama saja mencari mati jika dia manusia biasa. Tapi karena dia memiliki undangannya, berarti dia sudah menjadi orang yang terpilih yang mempunyai kemampuan yang cukup untuk bersaing dengan para manusia iblis itu. ] Pikir Duke Avrel saat melihat selembar surat sekaligus undangan. [ Ngomong-ngomong, dari luar perempuan ini memang seperti gadis polos biasa dengan ekspresi wajah seperti orang yang kehilangan kasih sayang, tapi…..kelihatannya bukan itu. ]
__ADS_1
Secara tidak sadar, Duke Avrel menilai penampilan luarnya Eldania dan membuat Eldania sendiri semakin menatapnya dengan tatapan malas.
[ Kira-kira berapa banyak uang yang aku dapat minggu ini ya?] Dan pikirannya melayang pada setumpuk uang yang kiranya akan dia dapatkan kali ini.