
PSSHH........
Satu cahaya hijau yang mendarat di atas kepala, lagi-lagi meledak dan membuat asap hijau menyelimuti tubuhnya untuk sesaat.
".................." Apa yang dilihat oleh Flowvecon, tidak ada dampak apapun yang terjadi pada gadis itu.
[Asap ini? Kau membuat tubuhku bau.] Kutuk Eldania saat merasakan aroma tidak sedap.
Eldania kemudian melompat ke belakang untuk membuat strategi baru. Jika ingin mengalahkan makhluk itu, maka mau tidak mau dia harus mengalah dua orang Iblis bersaudara, yang sudah mendapatkan pengaruh dari bunga yang tumbuh di atas kepalanya.
"Kenapa?! Kenapa kau tidak terpengaruh dengan kekuatanku?!" Tanyanya, sambil memperlihatkan deretan gigi hitam yang tajam seperti gergaji.
Alinda tersenyum mengejek. "Ada apa? Kau kecewa ya? Itu tidak akan bekerja terhadap orang sepertiku." Jawabnya dengan senyuman mencibir. [Jawabannya, karena aku punya kekuatan suci, jadi setidaknya kali ini aku aman. Lalu-] Melirik ke dua pemuda di depannya, tidak....tepatnya dimana sepasang kaki mereka berdua sedang berdiri, hampir di pinggiran garis lingkaran sihir.
Eldania sedikit mengkhawatirkan itu.
DRAP..........DRAP.........DRAP.........
Sampai tiba saatnya, dua iblis bersaudara itu kemudian berlari ke arah Eldania.
Eldania menjeling mereka berdua, dengan tangan kanannya masih memegang pedangnya dengan posisi ujung pedangnya menghadap ke bawah.
"Ini bukan kemauanku." Ucap Ethan dengan nada lirih, dan kedua kakinya terus berlari, sampai akhirnya satu tangannya yang sedang memegang pedang, langsung diayunkan ke arah gadis yang sekarang ini menjadi targetnya.
Itu bukan keinginan Ethan dan Nathan sendiri, melainkan makhluk yang ada di belakang mereka.
Ethan mengayunkan pedangnya untuk yang pertama ke arah Eldania, dan dia langsung mendapatkan tangkisan yang cukup akurat, sekalipun serangan lanjutannya dilanjutkan oleh Nathan yang langsung datang dari belakang Ethan dengan cara melompat.
Eldania langsung mendongak ke atas, melihat Nathan datang dari atas.
Pedang yang dia pegang segera diangkat ke depan wajah dalam posisi horizontal.
CTANG........
Nathan melompat mundur, dan kini berdiri berjejer dengan kakaknya.
Eldania melihat ke arah mereka berdua secara bergantian, dalam sepersekian detik itu, dua iblis bersaudara langsung bergerak dengan cara berpencar. Ethan pergi ke arah kanan dan Nathan ke arah kiri.
Di balik kegelapan, keberadaan hutan yang berdampingan dengan suasana sunyi, kini lagi-lagi terisi dua besi yang saling beradu secara bergantian.
Lalu keberadaan Flowvecon, dia menggunakan kemampuannya untuk menghalangi pandangan gadis itu dengan ledakan kecil dari cahaya hijau yang Felowvecon kendalikan itu.
[Tiga lawan satu.] Batin Eldania.
Dengan insting yang dia miliki, dia segera merasakan hawa keberadaan dua orang yang bersembunyi dari balik asap ini, dan mereka berdua sedang bergerak cepat hendak menyerangnya, dari arah yang berbeda.
Ethan datang dari depan, maka Nathan datang dari belakang!
" ..................."
Eldania yang malas berkata-kata lagi karena serius dengan pertarungannya, mau tak mau harus menghindari dua serangan yang datang secara bersamaan, namun dari arah yang berbeda.
Eldania sedikit menunduk, membuat rambut poni kusutnya bergerak perlahan ke depan wajahnya, lalu berbisik "Curang." Dan dia seketika mengatup mulutnya.
"...............!" Sebuah bisikan yang terdengar oleh Ethan sebelum mengacungkan pedangnya ke leher Eldania. Ethan kemudian melirik ke samping kanan, pedang yang hampir menebas leher gadis ini segera...
__ADS_1
CTANG.........( 2X )
Suara besi yang saling berdenting secara bersamaan.
[Dia-] Ethan dan Nathan secara serentak memiliki rasa terkejut yang sama setelah mendapati pedang mereka sukses di tahan oleh gadis ini.
Dua serangan dari depan dan belakang berhasil ditahan oleh Eldania.
Bagaimana caranya?
Sebagai manusia yang memiliki dua tangan, maka dia menggunakan kedua tangannya itu.
Dimana tangan kirinya sekarang sudah memegang pedang panjang, sedangkan tangan kanannya sudah mencengkram sebuah pisau belati.
Dua senjata, digunakan secara bersamaan Eldania.
"Kau cukup merepotkan." Akhirnya Dania tiba-tiba angkat suara. Tapi bukan untuk mereka berdua, melainkan satu makhluk berwarna hijau seksi yaitu Flowvecon.
CTAK.........
"Kya…! Kya....! Kau...menyerahlah." Flowvecon berkata demikian sebab melihat dua iblis bersaudara itu tetap mengerahkan tanaga nya, meski pedang mereka berdua masih tertahan oleh gadis itu.
Eldania melirik ke arah Flowvecon, lalu menjawab. "Mana sudi! Gara-gara kau-"
PSSHHH..........
Lima cahya hijau kecil itu kembali pecah dan menghasilkan asap yang mengganggu penglihatannya.
"Tubuhku jadi bau, apa kau mengerti?!" Ucapnya, dengan nada sedikit rendah namun penuh dengan penekanan.
Kedua tangannya lantas segera mendorong dua tekanan dari dua senjata milik dua Iblis bersaudara itu.
Suara pedang yang saling bergesek berhasil menyatakan bahwa, Eldania langsung mengerahkan tenaganya untuk menghempas kedua pedang mereka berdua, dan berakhir dengan Eldania segera melesat ke depan dengan cepat, menuju target yang sedari tadi dia incar.
Tangan kirinya yang kini tengah memegang long sword, segera diayunkan dari kiri ke kanan, tepat di jarak 15 cm lagi, makhluk ini justru menyunggingkan senyuman jeleknya, dan...
CTANG......
Kembali lagi, serangannya di tahan oleh Nathan yang sudah lebih cepat berdiri di samping Flowvecon dengan tatapan dinginnya.
Itu seperti seolah sebuah pelampiasan, di samping iblis ini menangkis serangannya.
Eldania yang semakin mengernyitkan matanya langsung saja berekspresi lebih serius dari sebelumnya.
Eldania yang tidak bergeming dengan apa atau siapa yang sedang dia lawan, beralih dengan mengayunkan pisau belatinya ke depan.
GREPP......
Tangan kiri Nathan ikut bekerja, dengan menahan tangan kanan Eldania, sebelum gadis ini benar-benar menusuk sekaligus membunuh Flowvecon.
"Hah~" Eldania menghela nafas pelan.
Meski sekarang ini kedua serangannya sudah dicegah secara bersamaan oleh iblis ini, Eldania yang sudah mengetahui seluk beluk bagaimana cara bertarung dan bertindak dalam segala situasi seperti ini, tidak kehilangan akalnya, saat di belakangnya, Ethan sudah mulai kembali beraksi, Eldania justru melepaskan pisau belatinya.
Dia membalikkan posisi di mana pergelangan tangannya yang awalnya di cengkram, Eldania cengkram balik, kemudian menarik Nathan ke depan dengan kuat, dan Nathan yang terbawa itu refleks kakinya bergerak maju ke depan.
__ADS_1
Ethan yang datang segera di sambut tubuh Nathan, dan....
BRUKKK..........
Mereka bertubrukan.
Di kesempatan itulah Eldania yang sedang membelakangi makhluk itu, segera Eldania layangkan sebuah tendangan dengan kaki kanannya.
SYUHTT......
Flowvecon menghindarinya dengan mundur ke belakang, tapi tidak hanya sampai disitu saja, ketika Ethan yang berada di belakang Eldania hendak menggunakan kekuatannya untuk menyerangnya dengan menggunakan senjata pedang, Eldania buru-buru menunduk sampai akhirnya berputar dalam posisi jongkok.
Tangan kirinya yang masih memegang pedang, dengan cekatan langsung melempar kerah makhluk itu.
JLEBB.........
"Argghh...!"
Sebuah gerakan cepat, membuahkan hasil sempurna dengan akurasi paling tinggi.
Bagaimana tidak, jika dalam waktu yang singkat itu Eldania berhasil membalikkan situasi.
Di antaranya Nathan berhasil dia tarik sebelum keluar dari lingkaran sihir yang masih aktif ini. Eldania yang menghindari serangannya Ethan, dan di saat yang sama pula dia berhasil membunuh monster itu tepat ke bagian leher.
Eldania yang masih dalam posisi jongkok, segera memungut pisau belatinya yang tergeletak di tanah. Setelah berdiri, tanpa belas kasihan dia melempar pisau itu dengan sasaran tangannya Flowvecon.
CRASZHH.......
Sekali lempar langsung terpotong, dan berakhir dengan tubuh monster itu, terbakar api sampai akhirnya hangus dan berubah menjadi abu yang terbawa angin.
Kegiatan malam penuh dengan stimulan, Eldania benar-benar sudah merasakan kesal.
Jika saja tidak ada yang mengganggu, semuanya akan berjalan lebih cepat.
Tapi karena ada tamu yang tak diundang, mau tidak mau jati dirinya terus menuntut untuk membereskan tikus yang datang itu.
[Melelahkan.] Eldania mengernyitkan matanya menghela nafas pelan.
Dia menatap langit yang ada di atasnya. Gerhana bulan berhasil dilewati, dan sekarang keberadaan bulan masih dalam kondisi separuh gelap.
Tidak menyangka, bahwa hari ini dia lebih banyak melakukan kegiatan, sekaligus segala pertemuannya dengan mereka.
Apa hari-hari di mana dia akan hidup tenang dalam damai meski hanya satu hari, akan datang padanya?
[Yah....semoga saja.] Eldania tersenyum lemah, lalu mengulas sedikit ingatan dimana beberapa menit lalu ada yang datang kepadanya. [Aneshka.] Batinnya. [Sebenarnya apa hubunganku dengan wanita bernama Aneshka ini?] Pikirnya lagi.
Eldania sempat mendapatkan pertemuannya lagi, tepat di saat gerhana bulan tadi datang.
Dimana ketika dia berada di tempat sepi nan gelap di suatu tempat, seorang wanita bercadar yang sempat ditemui dalam mimpinya, langsung muncul dengan senyuman cantiknya.
Tidak lama kemudian menghilang, namun yang terjadi adalah wanita bercadar itu menggunakan tubuhnya Eldania saat gerhana bulan itu datang.
Hingga kalimat 'Yang Mulia' terucap lewat mulutnya Eldania.
Padahal dia sendiri tidak pernah mengucapkan sebuah panggilan seperti itu.
__ADS_1
Yang artinya...
[Dia mengucapkan kata 'Yang mulia' untuk seseorang. Siapa orang yang wanita panggil 'Yang mulia' itu?] Eldania tidak tahu siapa orang yang wanita bercadar itu panggil, dengan nada yang terdengar sangat tulus itu.