
TAP.......TAP........TAP........
" A-apa yang kamu lakukan di sini, ini dapur, bukan tempat untuk bermain." ucap pria tua dengan topi panjang melingkar di kepalanya itu kepada satu orang perempuan yang tiba-tiba menerobos masuk ke dapur.
" Aku tahu ini dapur. Tapi bos kalian sudah mengizinkanku kesini. "Jawab Eldania dengan singkat alasan kenapa menerobos masuk ke dalam dapur sebuah restoran, yang sebenarnya bagi para koki dan chef, masuk ke dalam dapur dianggap sebagai hal tabu atau tidak di perbolehkan untuk orang luar.
" Apa yang harus dipercaya jika hanya dari ucapan saja?. " Chef ini menuntut sebuah bukti agar bisa mempercayai ucapan gadis ini sepenuhnya.
" Tanya saja ke orangnya langsung. " celetuk Eldania sambil menyambar sebuah celemek yang tergantung di samping lemari dan langsung Eldania pakai dengan serta merta.
" Aku sudah mengizinkannya, apa itu sudah bisa dijadikan bukti untuk membuatmu percaya?. " Sebuah suara menyapa mereka semua.
Eldania melirik ke samping, Erich tiba-tiba datang dan kini sedang bersandar di daun pintu sambil bersilang tangan didepan dada. Dengan separuh wajah tetap ditutup topeng, Erich menatap ke arah semua pegawai yang bekerja di dapur.
Mereka semua masih saja terdiam dengan pembicaraan tadi dan setelah kedatangannya ke dapur.
[ Tiba-tiba dia bisa menjadi seperti seorang bos. Aku hanya menebak dia hanyalah pemuda biasa yang nasibnya seperti aku, tapi tindakannya saat ini........dia justru terlihat seperti orang yang berpengalaman mengurus pegawainya. ] Eldania melirik Erich dalam diam selagi tangannya sedang mencuci tangan.
" T-tidak tuan. " Jawabnya, lalu menatap ke arah gadis tersebut. Sekalipun masih menatapnya dengan rasa tidak percaya, tapi mulutnya terpaksa mengatakan. " Silahkan nona pakai dapurnya. " ucap Chef ini kepada Eldania.
[ Cara bicaranya….dia jadi lebih sopan sebelum Erich datang. ] Pikir Eldania memperhatikan pria tua itu yang langsung merubah cara bicara juga perilakunya.
" Lakukan apa yang ingin kau lakukan disini sesuka hatimu. " Erich membuka suaranya lagi. " Pilih satu untuk jadi asisten mu, itu akan mempercepat kerjamu. " setelah berkata demikian, Erich pergi.
Eldania lalu mencari seseorang yang bisa dijadikan asisten di antara ke 10 orang masih berdiri di dapur, chef tadi dikecualikan.
SRASSHH......
SRASSHH........
Mendengar suara air dari seseorang yang sedang mencuci piring, Eldania memiringkan tubuhnya ke kanan, barulah sepasang matanya melihat sesuatu yang bisa dia lihat. Tpat di pojok belakang sana ada yang sedang bekerja.
" ..................... " Meliriknya ke segala penjuru, terlihat wajah enggan dari mereka semua, jadi apa boleh buat, Eldania memutuskan untuk memilih dia..., perempuan muda yang di kepang belakang.
TAP.......TAP......TAP.......
"..................?. " Menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya, gadis muda ini langsung menoleh ke samping kiri.
" Aku pilih kamu. " Eldania menunjuk perempuan yang kini sudah ada di depannya.
" Ya.....?. " Tanyanya dengan wajah polosnya, karena tidak tahu menahu kenapa perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah di depannya itu tiba-tiba berbicara kepadanya.
" Aku memilihmu menjadi asistenku untuk beberapa jam kedepan. " Ucap Eldania lagi, memberitahu alasannya kenapa memilih gadis ini.
[ Asisten?. Kenapa dia memilihku menjadi asistennya?. ] Saat melirik ke arah mereka yang notabene nya adalah para koki senior, terlihat mereka justru memperlihatkan wajah lega mereka. " B-baik. "
Sudah mendapatkan jawabannya, Eldania berkata lagi pada mereka. " Karena aku sudah menemukan asistenku, kalian semua bisa bekerja lagi. "
" Ayo!, kerja lagi!, pesanan pertama sudah datang!. " Teriak chef yang menjadi koki utama di restoran ini.
__ADS_1
" Baik!. " Mereka semua menjawab dengan penuh semangat.
" Siapa namamu?. " Eldania bertanya pada perempuan berkepang dua ini.
" Arnest. "
" Arnest. " Eldania mencoba memanggil namanya sambil melirik ke arah pintu coklat yang kemungkinan adalah gudang tempat penyimpanan makanan. " Sudah berapa lama bekerja disini?. "
" 2 bulan. "
" Masih baru ya. " Eldania berjalan ke arah pintu gudang, tapi tangan kirinya langsung menyambar dua baskom yang kosong itu dan memberikan ke asisten barunya, yaitu Ernest. " Aku Eldania, panggil saja Dania. "
" I-iya...nona Dania. "
Lagi-lagi di panggil nona, Eldania sebenarnya merasa enggan, tapi seolah itu adalah panggilan wajib, mau tak mau harus menerimanya.
" Kali ini aku akan merepotkanmu. Ambilkan semua bahan yang aku tulis ini dan sekalian cuci sampai bersih. " Eldania menyodorkan sebuah kertas kecil ke Ernest lalu pergi meninggalkan Ernest tepat setelah Eldania membukakan pintu untuknya.
[ Kenapa aku?. ] Ernest menatap kertas kecil itu dengan pikiran bingung. Dia bukan bingung karena tidak bisa membaca tulisan, tetapi bingung ada seseorang yang memerintahnya untuk menjadi seorang asistennya.
Sedangkan Eldania sudah berdiri lagi di depan kompor yang sengaja dikosongkan oleh salah satu dari mereka, kemudian tangannya mengambil sebuah pisau.
" Apa yang akan anda masak?. "
" Penasaran?. " Eldania melirik kepada salah satu koki di sebelahnya yang mempunyai tubuh yang cukup tinggi dan membuatnya harus mendongak jika ingin melihat wajahnya, tapi Eldania tidak melakukannya karena malas.
" ................... "
" Lalu kenapa anda di sini kalau belum tahu ingin masak apa?. "
" ............., aku akan tahu jika sudah melihat semua bahan-bahannya. " KIni Eldania menatap ke arah wajan yang sedang digunakan untuk membuat saus untuk daging sapi. " Apa kalian tidak bosan masak steak terus?. " Tanya Eldania dengan wajah tidak tertariknya.
[ Apa manusia ini memang tahu cara memasak?. ] Sedikit ragu karena terlihat gadis yang berasal dari Academy ini terlihat enggan untuk masak. " Terpaksa, karena permintaan tamu. "
" Sekali-kali buatlah rendang sapi, sate kambing, atau sate ayam.....itu lebih enak, ketimbang steak sapi yang membosankan itu. ...........?, tunggu. " Ucapannya Eldania langsung berubah menjadi gumaman lembut. " Sate....apa aku lagi ngidam ya?, apa sekalian buat itu juga, sepertinya itu juga enak?. " Eldania kemudian mengangguk-angguk sendiri.
[ Sebenarnya apa yang dia bicarakan?. ] Tidak mengerti ucapan yang terdengar melantur itu, koki ini terus mengangkat wajannya dan membawanya ke tempat lain.
" I-ini....saya sudah mencuci semuanya. " Ernest langsung mendatangi Eldania dengan baskom yang sudah penuh dengan bahan makanan yang sudah dicuci.
" Apa aku membuatmu takut?. " Tapi Eldania justru menanyakan pertanyaan lain kepada Ernest sambil melirik ke arah nya yang dari tadi menunduk itu.
" T-tidak!. " Ernest langsung menjawabnya dengan cepat, membuat dapur seketika hening untuk beberapa saat.
Tapi semuanya kembali normal setelah Eldania menatap mereka semua. " Ambilkan piring dan segelas susu. " Eldania memerintahnya lagi.
Setelah beberapa saat, Ernest sudah membawa segelas susu dan sebuah piring.
" Susu ini akan anda gunakan untuk apa?. " menyodorkannya kepada Dania.
__ADS_1
" Apa?, tentu saja karena aku haus dan ingin minum susu. " Eldania mengambil segelas susu dari Ernest, lalu dia mundur kebelakang sampai kedua kaki nya bertemu dengan kotak yang ditumpuk di belakangnya. Eldania langsung duduk dan langsung meminumnya sampai habis.
" Anda sebenarnya mau masak atau minun dan makan di sini?. " seseorang tiba-tiba bertanya.
" Dua-duanya. " Pungkas Eldania yang suda kembali berdiri dan menyerahkan gelas kosong itu kepada Ernest untuk dicuci, lalu Eldania pun memulai memasak masakan pertama.
Eldania memegang pisau dan mengambil 2 terong ungu.
" Terong.....itu sayuran dari rakyat jelata, perasaan di gudang tidak ada terong ungu, dari mana kau mendapatkan itu?!. " Kata kepala koki kepada Ernest.
" I-itu...saya memetiknya di rooftop. " jawab Ernest. " Tuan sendiri yang menanamnya dan saya juga sudah diizinkan untuk boleh memakainya. "
" Hah....!, apa kau mau membuat makanan dari bahan kelas rendahan seperti itu di sini?!. " Salah satu koki yang lain bertanya dengan nada protes.
" Apa masalahnya?, yang makan juga bukan kamu. " Sindir Eldania kepada koki yang satu ini.
“ K-kau…..beraninya menjawabku seperti itu. “
“ Bukannya wajar, jika ada yang tanya karena ingin jawaban?. “ Eldania terus mengiris terong ungu dengan cepat, sehingga kurang dari satu setengah menit saja terong sudah selesai di iris. " Ernest, rendam ini ke dalam air yang sudah diberi sedikit garam. "
Eldania benar-benar mengabaikan segala reaksi dari mereka semua, karena tujuannya didapur saat ini bukan untuk berdebat.
[ Dia..., bicaranya...pandai sekali dia menjawabnya. ] Geram tidak suka.
Ernest mematuhi perintah Eldania. Dia segera mengambil wadah kecil dan memberinya air mentah yang sudah dicampur dengan garam, kemudian masukkan irisan terong itu ke dalam air garam tersebut.
Setelah itu tomat dan zukini dia iris tipis-tipis semua.
" Apa yang sebenarnya akan anda buat?. " Tanya Ernest setelah melakukan bagiannya tadi.
" Mengubah cara pandang seseorang, terong yang dikatain sayuran rendahan ini. Yaitu Ratatouille. " jawab Eldania. [ Hidangan khas perancis. ]
Membuat saus, menata semua irisan tomat, terong, zukini ke dalam satu wadah anti panas dalam bentuk melingkar dan selang-seling. Setelah itu menyiramnya dengan saus.
" Panggang. " Dengan begitu cekatan Eldania sudah menyerahkan hasilnya kepada Ernest untuk memasukkannya ke dalam oven.
" Sekarang....apa ada mie pipih?. " Eldania celingukan, tidak ada pisau yang terlihat pas untuk mencincang daging. Jika ada.... [ Itu tidak terlihat tajam dari milikku. ] Eldania mengernyit melihat pisau di sebrang dapur.
" Kali ini....apa yang-. !. " saat seorang koki yang berdiri di sebelah Eldania sudah kembali dengan wajan yang sudah bersih dari saus untuk steak sapi yado, dan ingin bertanya apa yang akan dibuatnya, sontak sepasang mata dari koki ini membulat sempurna. [ D-dia...ini. ]
" Ada apa?. Disini tidak ada pisau yang cocok kecuali ini. " Jawab Dania dengan selamba. Lalu memperlihatkan sebuah pisau belati berwarna biru yang berkilau, dan itu baru saja dia ambil dari balik rok pendeknya.
" Tapi itu-....! "
" Dari bahan titanium beta, ini lebih tajam ketimbang pisau ini. " Eldania memberitahunya singkat, lalu membandingkan pisau yang tadi Eldania gunakan dengan miliknya. [ Lagi pula, aku akan mencucinya juga. ] Menenungnya dan mencuci pisau belati itu sendiri. " Ernest, daging sapi. "
" Ya!. " Secepat kilat Ernest mengambilkan daging sapi dan langsung memberikannya kepada Eldania.
Eldania menerima daging tersebut dan menimbangnya dengan tangannya sendiri. " Hanya 500 gram saja, tidak masalah. "
__ADS_1
Setelah menimbang-nimbang dari perkiraan nya sendiri, Eldania kemudian mengiris daging sapi itu dengan pisau belati miliknya, dan mencincangnya sampai lembut gara-gara tidak ada alat untuk menggiling daging.