
Cklek..........
Tepat saat Caster masuk ke dalam kelas, dia segera di sambut dengan tatapan tidak puas hati oleh para anak buahnya.
Dengan seringaian tipisnya sambil berjalan menuruni lima anak buah tangga, dia lalu mengambil tempat duduknya sembari langsung menyapa mereka. "Apa kalian benar-benar sangat membutuhkan kemenangan?"
"Tentu saja!" Salah satu di antara mereka menjawabnya dengan cepat.
Namun kemenangan yang seharusnya didapatkan oleh mereka, benar-benar kandas karena hasil dari sesi ujian kemarin, menyatakan kelompok dari Azel lah yang menang.
"Tapi sayang sekali, jika bukan karena kebodohan kalian, menganggap remeh satu orang, angan-angan kalian jadi tidak terwujud" Caster menambahkan.
Sejujurnya Caster memang tidak peduli dengan hasil ujian itu sendiri, namun dia sadar bahwa ke enam orang ini, jelas sangat menginginkan kemenangan.
Tapi siapa yang melakukan kesalahan di sini?
Caster tentu saja tetap menuduh mereka semua.
Karena faktanya adalah itu.
Jadi Caster menambahkan. "Cukup mengagumkan, padahal satu lawan enam orang, bukankah sama saja dengan mencoreng wajah kalian sendiri karena berakhir dengan kekalahan kalian?"
DEG.....
Sekalipun ucapannya menyakiti hatinya, tapi memang benar, mereka berenam sudah menyepelekan satu orang perempuan. Sehingga hasilnya adalah sebuah kekalahan untuk mereka semua.
Mereka jadi tidak bisa menyalahkan siapapun, termasuk kepada Caster sendiri, karena pria ini sudah lebih dahulu memperingatkan mereka agar hati-hati, tapi gara-gara terbuai untuk membully gadis itu, maka karma untuk mereka menjadi alasan akhir mereka semua dikalahkan dengan mudah dengan trik kecil namun licik.
__ADS_1
"Berhentilah mengucapkan kata kasar kepada kami." Akhirnya salah satu di antara mereka mengambil suaranya, di atas keheningan di bawah ceramahan akan hinaan yang diberikan Caster.
"Tidak terima?" Caster bertanya balik, sambil menatap mereka berenam secara bergantian, sebuah tatapan yang cukup mengintimidasi.
"Kau pria yang cukup arogan." satu suara dari seorang wanita sukses membuat Caster melirik ke sumber suara. "Tentu saja mereka tidak terima, kau terus mendominasi ucapan hinaan itu pada mereka."
"Apa ucapanku ini sampai mengganggumu?" jawab Caster pada perempuan iblis yang merupakan ketua tim pertama, bernama Rael Eurare.
perempuan yang duduk tepat di seberang sebelah kanannya Caster, justru tersenyum puas sambil menjawab. "Tidak juga. Justru sebenarnya aku cukup terhibur dengan ucapanmu yang cukup menghina kaum mu sendiri. Sangat jarang melihat perdebatan seperti ini."
Langsung meliriknya dengan tajam, wajah dari ekspresi tidak senangnya segera terjawab. "Aku peringatkan, jangan pernah menyamakan aku dengan anj*ng kampung seperti mereka." Sebuah pedang langsung menyapa leher Rael. "Statusku justru lebih tinggi dari kalian semua, apa kau paham?"
Rael, segera menyela dengan cepat. "Tidak. Entah status apa yang sebenarnya kau miliki, di sini, selagi seragam itu melekat pada badanmu, berarti status kalian adalah sama. Manusia bangsawan. Tidak lebih dan tidak kurang." jelas Rael. Sukses membuat Caster menarik kembali pedang yang diarahkan kepada wanita iblis ini. "Tapi-" menoleh ke belakangnya, Rael menatap semua manusia yang duduk berjejer tepat di belakangnya. "Aku berkata seperti tadi bukannya untuk membela kalian, loh."
GLUK......
"Sudah aku duga, percaya diri dengan kesombongan adalah awal dari kekalahan." Seorang iblis berbaju seragam putih kemudian mengucapkan bisikan yang justru masih terdengar oleh mereka.
"Benar juga. Mereka satu geng yang mengaku bahawa timnya akan menang, karena sudah satu tim dengan Caster, tapi lihat, mereka justru mencoreng nama mereka sendiri dengan kekalahan." tidak peduli dengan status mereka semua yang memakai seragam merah, pria ini mendukung ucapan dari orang barusan.
"Lucu juga. Lihat wajah masam mereka. Sangat menarik melihat segerombolan manusia di sana justru di permainkan oleh satu orang."
Satu kritikan kembali terucap dari salah satu iblis, membuat satu orang di antara mereka berenam, langsung berteriak. "Diam! Apa kalian senang dengan menghina kami?!." teriaknya, bersamaan dengan dia yang sudah berdiri sebab tidak tahan dengan semua kalimat yang terus berdatangan dengan semua kritikan yang cukup pedas.
"Apa kau punya hak menyuruh kami diam?" Rael mencibir, mewakili para iblis berbicara pada seorang manusia perempuan itu.
"A-aku." kehabisan kata-kata, perempuan ini langsung mendapatkan tarikan dari salah satu tangan temannya di sebelahnya.
__ADS_1
"Duduk! Tidak usah menanggapi komentar mereka." Ucapnya, memperingatkan temannya ini untuk duduk kembali setelah berdiri dengan teriakan dari sebuah amaran.
"..............." Kembali duduk, perempuan ini akhirnya terdiam lagi.
Melihat manusia itu terdiam, iblis yang duduk di sebelah Rael segera berkata. "Apa? Kenapa diam? Bukannya tadi baru saja berteriak menyuruh kami diam? Kami kira kau akan mengatakan sesuatu yang menakjubkan. Benar tidak teman-teman?" Ucap wanita ini, memprovokasi kembali teman-temannya agar terus membuat para manusia di belakangnya itu mendapatkan hinaannya lagi, apa lagi kalau bukan sebuah tawa.
Sebuah tawa yang menggema ke segala penjuru kelas. Membuat keramaian melihat satu kelompok yang terdiri dari manusia bangsawan, sukses di hina mereka semua yang ada di sana.
Tak terkecuali Caster yang masih membuat wajah suram karena tidak menerima jawaban dari Rael tadi itu, ikutan segera sirna dengan seringaian liciknya.
Dimana dibalik pintu masuk, Eldania sedang berdiri dan bersandar di pintu itu sendiri.
"..................." Eldania hanya termenung sambil bersandar dengan bersilang tangan di depan dada. [Tidak ada yang lebih mengerikan ketimbang rasa malumu sendiri saat dihina semua orang satu kelas.] batin Eldania.
Dia terus berdiri di sana, mendengar berbagai macam hinaan untuk membully satu kelompok yang berhasil Eldania kalahkan kemarin.
Eldania sangat mengingatnya.
Perasaan ketika dihina dan jadi topik pembicaraan banyak orang. Itu adalah perasaan yang sangat menyakitkan ketimbang jari yang tidak sengaja teriris pisau.
Karena, jika jari yang teriris, maka itu akan mudah sembuh.
Tapi berbeda dengan hinaan, dicaci maki oleh orang lain secara terang-terangan akan terus membekas di dalam ingatannya.
Sampai berapa lama?
Itu tergantung orangnya sendiri.
__ADS_1
Termasuk Eldania.