Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
17 : Eldania


__ADS_3

"Hei, bisa perkenalkan namamu padaku?" pujuk Irine terhadap satu penyihir yang Duke Avrel undang. 


Sekarang Irine sedang sedikit membereskan piring kosong, tapi karena melihat penyihir misterius itu masih duduk sambil menenung segelas wine berwarna merah yang sedang dipegangnya, maka dari itu Irine yang penasaran langsung bertanya tentang namanya pada penyihir itu.


"Apakah perlu?" tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun, iris matanya yang berwarna Violet terus menatap cairan merah seperti darah.


"Tentu saja perlu. Kita akan bekerja sama untuk tiga hari kedepan, jadi aku harus tahu namamu."


GLUK…..GLUK…….


Dalam dua tegukan, pria misterius itu sudah berhasil menghabiskan sisa wine yang ada, lalu pergi menjawab pertanyaan dari gadis itu. "Tapi bagiku, itu tidak perlu." 


Berdiri, lalu berjalan pergi begitu saja mengabaikan keberadaan Irine yang terlalu berharap bisa akrab dengannya.


[Nama….., lebih baik kalian tidak perlu akrab denganku. Sekalipun aku memberitahu namaku, pada akhirnya aku tetaplah orang asing.] Pikir pria ini. Dia adalah seorang pelancong yang kebetulan bertemu dengan penyihir Ernon dan secara kebetulan juga bekerja sementara untuk menggantikan penyihir Ernon yang sedang pergi.


[Yah….aku gagal akrab dengannya.] Irine memasang wajah cemberut. Pendekatannya untuk bisa akrab dengan penyihir hebat seperti pria itu telah gagal total. "Dingin sekali dia. Coba saja dia bisa sedikit senyum, dia pasti langsung populer di kalangan perempuan." gerutu Irine sambil sedikit berimajinasi. 


Setelah keluar dari tempat pengap, akhirnya dia bisa keluar dengan perasaan lega setelah mendapatkan angin malam yang cukup segar.


Hari mungkin menjadi semakin malam dan suasananya mulai sedikit sepi. Tapi tidak sampai sepi yang diharapkan, karena masih ada puluhan orang masih berlalu lalang untuk berpatroli.


[Sebaiknya aku patroli juga.] batin penyihir ini. Dengan wajah datarnya, dia berjalan pelan menuju dinding dan berjalan ke atas. 


TAP………


TAP…….


TAP…….


Dengan jubah hitam yang masih melekat di tubuhnya, dia tidak merasakan dingin sama sekali.


Sampai dua menit kemudian setelah berada di tempat paling tinggi, pria ini secara kebetulan melihat seseorang sedang berjalan di tengah hamparan mayat monster.


".................." menatapnya dengan tatapan datar, pemilik dari iris Violet itu mulai mencurigai orang di depan sana. [Orang yang mencurigakan.] 


Merasakan perasaan curiga, penyihir ini langsung melompat turun dari ketinggian itu dengan begitu mudahnya.


TAP……

__ADS_1


[Dia pergi ke dalam hutan.] Dan secara insting, membuat kedua kakinya bergerak mengikuti langkah satu orang yang ada jauh di depan sana.


Berjalan...dan terus mengikuti, hingga masuk ke dalam hutan yang gelap.


Hingga sepuluh menit kemudian, pria ini tiba-tiba saja berhenti. 


“..................!“ merasakan adanya pergerakan cepat yang datang, pria ini langsung bersembunyi dari balik pohon.


WUSHHH…………..


Dua ekor burung terbang dengan kecepatan tinggi. Tapi rupanya tidak hanya burung saja, karena setelah itu ada derap langkah halus namun cepat juga datang. 


Setelah lewat begitu saja pria ini kemudian keluar. Dia melirik sepanjang jalan yang baru saja dilewati oleh kedua burung dan satu orang asing tadi. 


“Ini…” Saat mengangkat tangannya, dia akhirnya menemukan benang tak kasat mata yang saat dia sentuh tiba-tiba saja benang itu mengeluarkan listrik dan hampir saja melukai ujung jarinya.


“Baiklah, sudah ketahuan ya?“ 


Sebuah suara yang muncul dari balik kegelapan segera mengalihkan perhatian penyihir berjubah hitam itu.


“Sebenarnya, aku yang ketahuan, sih.“ ucapnya lagi.


Seorang pria dengan iris mata biru, muncul dan berhasil memergoki penyihir asing itu.


“Mau rehat sebentar?“ dengan nada datarnya, pria ini membuang sebuah gulungan kosong ke sembarang tempat, lalu berlanjut berjalan untuk mendekati penyihir itu.


Baru beberapa langkah, pria ini sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan lalu berlari ke arah penguntit itu.


"............!“ Seketika matanya terbelak dan karena merasa ada bahaya yang datang, pria ini segera mengangkat tangannya dan membuat sihir serangan dengan membuat satu tembakan petir langsung mengarah ke arah pria itu.


Tapi pria dengan iris mata biru ini langsung tersenyum tipis.


JDARR…….


Tidak begitu bergeming setelah hampir terkena tembakan seperti itu, pria ini terus berlari.


“ ……………” Tidak bisa dibiarkan begitu saja, penyihir ini membuat dinding pelindung.


Tetapi apakah dengan sekedar sihir pelindung bisa menghentikannya?.

__ADS_1


Tidak.


Pria ini justru mengeluarkan senjatanya. Sebuah pistol berwarna biru langsung diacungkan ke depan dan saat menekan pemicunya, dinding pelindung itu langsung menghilang begitu saja.


[Tidak mungkin!] tercengang melihat sihirnya menghilang begitu saja, penyihir ini hendak kembali menyerang.


Tetapi dalam sekejap mata pria pemilik dari senjata itu sudah berada di depan mata dan dalam seketika itu pula tangan kiri sang penyihir langsung di cengkram di samping jari telunjuknya tergantung senjatanya.


Sedangkan tangan kiri pria ini segera mencengkram kerah baju penyihir. Tidak hanya sampai disitu saja, dengan rentan waktu yang sangat pendek itu sepasang kaki penyihir tersebut segera di jegal hingga membuat tubuhnya seketika ambruk ke belakang.


BRUKKK…..


Situasinya sekarang ini, tubuh sang penyihir berjubah hitam itu sudah berhasil diduduki oleh pria yang sedang dia untit. 


Dengan senjata yang sudah kembali berada di tangannya, pria yang tidak lain adalah Eldania itu sendiri langsung mengutarakan ucapanya. “ Aku belum pernah melihatmu.“ Menatap tajam ke arah penyihir tersebut, dia kembali bertanya. “Dilihat dari pakaianmu sekarang, apa kau seorang pelancong?“


Posisi mereka berdua bisa dibilang cukup menarik. Dimana Eldania menindih orang yang ada di bawahnya. Tapi tidak hanya sekedar menindih, sebab kaki sebelah kirinya digunakan untuk menindih tangan penyihir berjubah hitam ini, sedangkan kaki kanannya dia gunakan bagian lututnya untuk menekan tangan sebelah kiri dari pria dibawahnya.


Sehingga kini dengan leluasa kedua tangan Eldania bisa memegang dua senjata secara bersamaan untuk menginterogasi pria ini.


“Aku sudah tahu wajah semua orang di sini, apa kau baru datang kesini?“ Tanyanya lagi.


“............”


“Kau menguntitku dari belakang, pasti penasaran denganku kan?“ Dengan senyuman tipis yang sedikit mengembang, Eldania merogoh saku yang ada di dalam jaketnya. “Kau pasti terkejut karena aku bisa membatalkan sihirmu dengan paksa.“


Penyihir ini semakin menunjukkan wajah curiganya, kepada pria yang ada di atasnya karena tidak tahu apa benda yang akan dikeluarkannya selanjutnya.


“Baiklah.” Tangan kirinya berhasil mengeluarkan selembar kertas. Eldania pun bertanya dengan perannya yang sekarang itu. “Aku mau tanya. Emm….siapa namamu?“ 


“Hah?“ Penyihir ini seketika bingung.


"Nama. Kau punya nama sendiri kan?"


Tapi jawabannya hanyalah sepasang mata yang semakin mengernyit ke arahnya.


“Apa kau tidak mengerti ucapanku? Aku sedang ingin meminta bantuanmu. Karena disini hanya kau penyihir yang terlihat lebih pintar disini selain satu orang itu.“ kata Dania lagi.


[Apa yang dia maksud perempuan itu?]] Pria ini langsung mengingat wajah Irine, dialah orang yang dimaksud sebagai sindiran dari pria ini.

__ADS_1


“Mungkin saja kita termasuk takdir, ya? Pekerjaan ini akan cepat selesai jika kau mau bekerja sama denganku. Jadi beritahu namamu.“ pinta Eldania sekali lagi.


"................... " Dan penyihir berjubah hitam ini terus terdiam memikirkan segala pertanyaan dan permintaan dari penyihir yang bahkan baru pertama kali dia lihat.


__ADS_2