
TAP.............TAP................TAP............TAP........
Sepasang kaki yang terbalut dengan sepatu boots hitam itu melangkahkan kakinya dengan pelan di sebuah lorong sempit.
Dia menyusuri berbagai deretan rak yang tertata rapi, membuat salah satu tangannya tidak bisa diam untuk merasakan tiap tekstur dari tiap sampul buku yang dia sentuh oleh ujung jarinya dengan penuh makna.
Aroma kayu yang masih tersisa, menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.
Dalam sekian waktu yang telah dia lalui selama ini, akhirnya gadis dari pemilik rambut coklat ini menginjakkan kakinya ke dalam salah satu harta berharga dari Academy, yaitu perpustakaan.
Banyaknya buku yang tersimpan dan tertata rapi di sepanjang rak yang berdiri di dalam perpustakaan dari lantai satu sampai lantai keempat, sebanyak itulah perasaan dalam diri gadis ini untuk menguak segala rahasia yang tersimpan di dalam tiap buku tersebut.
Dia terus melangkahkan kakinya ke depan, dan sepanjang jalan itulah dia terus menyeret tangan kanannya untuk menyentuh deretan buku-buku tersebut sambil menikmati nuansa dari aroma sebuah buku tua yang mempunyai aroma ciri khas tersendiri, yang tidak dapat diungkapkan dengan sebuah kata-kata.
Sebuah senyuman tipis menghiasi bibirnya, karena akhirnya dia menemukan arma yang sangat dirindukan.
Dia merindukan aroma buku tua yang sangat jarang dijumpai ketika dulu. Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda, karena di toko buku pun pasti punya buku tua.
Cerita kehidupan masa lampau, baik itu mitologi, cerita penuh misteri, cerita tentang peradaban yang memiliki banyak kisah, sampai cerita dari segala makhluk yang terdapat di dunia ini, maupun informasi mengenai 'Sihir kuno' adalah berbagai informasi yang cukup menarik untuk dipelajari lebih mendalam.
Sebab, peran dia bisa berada di Academy Klenon, tidak lain adalah semacam ini.
Mencari semua pengetahuan dari sumbernya langsung, kesempatan yang sudah dia ambil akan dia manfaatkan sebaik-baiknya demi memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya.
Dan semua pengetahuan itu tersimpan di dalam buku, membuatnya harus ikut mengetahuinya juga, agar bisa beradaptasi di segala situasi yang ada.
Misal saja, satu buku yang langsung membuatnya memberhentikan kebiasaannya itu adalah, buku tentang....
'Penjara penghalang.'
"........................." sorotan mata dari rasa penasarannya akhirnya membuat salah satu tangannya, mengambil satu buku misterius, sebab buku yang dia ambil memiliki aura berwarna ungu gelap dan buku yang kini sudah dia pegang juga memiliki segel sihir, di mana dia harus membuka segel itu lebih dulu jika ingin membaca isinya. “ Penjara penghalang?”
Terdapat sebuah gambar mirip dengan kastil, tetapi kastil itu sedikit samar, karena tertutup sebuah kabut.
Membuat Eldania jadi semakin tertarik untuk membacanya.
______________________
Malam kembali datang, rutinitas setiap hari dari alam semesta, semuanya tanpa terkecuali.
Namun di balik malam yang dingin dan tenang, ada satu rumah besar dimana salah satu kamar terdengar berisik daripada yang seharusnya.
Berbagai barang pecah, dan teriakan demi teriakan terdengar dari lantai dua dari sebuah kamar.
__ADS_1
"Kenapa! Kenapa aku kalah dengan manusia lemah seperti perempuan itu?! Padahal dia hanyalah seorang manusia, dan aku adalah iblis! Tapi aku jadi gagal masuk ujian gara-gara dia! Arghh!" teriak pria ini.
Perasaan amarahnya meluap gara-gara tidak mendapatkan kesempatan bisa masuk ke Academy dikarenakan kalah di ujian pertama dengan seorang perempuan dari ras manusia.
BRUAKK!
Meja serta kursi ditendang dengan keras.
BRAKK!
Buku yang berjejer di rak lemari di keluarkan semua kemudian dia melempar ke pintu. Bahkan vas bunga yang dipajang di dekat dinding pun ikutan menjadi korban dari kemarahan dari satu iblis ini.
"Nak? Apa yang sedang terjadi padamu?" tanya ibunya khawatir kepada anaknya yang terus mengurung diri di dalam kamar selama beberapa hari ini.
Lalu tidak hanya mengurung diri saja, bahkan Zen sering berteriak dan melemparkan barang-barangnya ke arah yang dia mau. Membuat beberapa pelayan yang hendak mengantarkan makanan untuk tuan muda jadi tidak berani, karena sama saja dengan cari perkara.
Kedua orang tua nya merasa kasihan kepada anak bungsu nya yang terlihat stres itu. Gara-gara satu hal, yaitu tidak bisa menerima kekalahan atas pertandingan di ujian masuk berapa hari yang lalu.
Dan kekalahannya apa lagi di picu sebab kalah bertarung dengan seorang gadis dari ras manusia.
Sang ibu terus mengetuk pintu kamar milik Zen, tapi tetap saja tidak didengar.
Sebagai orang tua, mana bisa membiarkan anaknya terlarut dalam kesedihan berbalut kemarahan seperti itu, membuat hati dari wanita ini menjadi sedih atas nasib yang menimpa salah satu anaknya itu.
"Ahh, pak Jevin. Untunglah anda datang." ucap ayah Zen kepada seorang pria berambut putih panjang seperti seorang perempuan.
Pria ini memakai kacamata yang sangat jarang orang tahu karena pastinya hanya dia seorang saja yang memakai kacamata aneh karena sampai menutupi matanya sepenuhnya, jadi tidak ada celah seperti apa warna mata dari orang ini.
"Lama tidak berjumpa, tuan Jemscon. Bagaimana keadaan putra anda?" Ucap Jevin, sekaligus bertanya keadaan Zen.
"Saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa." jawab pria ini dengan masih memasang wajah cemas.
Namun pria yang dipanggil Jevin ini, diam-diam tersenyum.
"Tak kusangka, Zen berakhir seperti itu! Makannya saya terpaksa mengurungnya di dalam kamar. Tapi, kalau dibiarkan saja seperti itu, dia bisa-" teriak pria ini, merasa tidak menerima bahwa anaknya akan berakhir seperti itu.
"Begitu ya? Dia dulu mengagumi saya sebagai gurunya. Biar saya coba bicara dengannya." kata Jevin, membujuk.
"Saya mohon dengan sangat." menunduk hormat. "Saya hanya bisa bergantung kepada anda."
Orang tua paruh baya itu pun akhirnya membawa Jevin ke kamar anaknya, kamar yang digunakan Zen yang sekarang ini digunakan seperti penjara karena terus-menerus mengurung di kamar.
"Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Zen? Saya ingin mendengar lebih jelas dari anda." pinta pria ini.
"Seperti yang anda tahu, beberapa hari yang lalu, Academy Klenon kembali mengadakan penerimaan murid baru, tapi dalam sesi ujian pertamanya, Zen bertarung dengan seorang gadis manusia, dan hasilnya Zen kalah dengan cukup memalukan." Wajahnya memperlihatkan sebuah senyuman masam.
__ADS_1
Pria ini pun sebenarnya tidak menyangka, kalau kekalahan anaknya hanya disebabkan senjata yang digunakan gadis itu berupa jarum.
"Saya mengerti. Memang sangat di sayangkan sebab kalau tidak salah tahun ini adalah tahun terakhir Academy Klenon di buka kan?"
"Benar. Academy Klenon hanya akan kembali dibuka setelah dua puluh tahun lagi." Pria paruh baya ini membenarkan ucapan laki-laki itu. Dan langkah kakinya terus membawanya pergi menuju ke lantai dua.
Mendengar langkah seseorang di bawah, ibu paruh baya yang merupakan ibu nya Zen pun mengintip dari lantai dua.
Suaminya membawa seorang pria muda dan berjalan yang dimana akhirnya membawanya tepat kehadapannya.
"Anda-"
"Ibu, dia adalah Pak Jevin, dia adalah guru sekolahnya waktu Zen masih kecil dulu." suaminya berusaha menjelaskan siapa pria muda yang dia bawa itu kepada istrinya dengan penjelasan singkat dan padat. "Beliau yang akan mencoba membujuk Zen." tambahnya lagi.
"Kalau begitu, kami mohon bantuannya." kemudian kedua orang tua tersebut menunduk hormat kepada Prof. Jevin untuk usaha yang akan dilakukannya untuk Zen.
"Baiklah." dan Pria jangkung ini berjalan masuk ke dalam kamar, meski awalnya knop pintu yang dipegangnya itu di kunci. "Apa ada kunci cadangan?" tanyanya, dia ingin masuk dengan cara yang sopan.
Dan salah satu pelayan segera datang membawakan satu kunci cadangan dari pintu kamarnya Zen.
Setelah berhasil dibuka, maka yang dia lihat hanyalah gelap, satu kata yang akan dikatakan seseorang ketika masuk kedalam kamarnya Zen.
Namun sebab cahaya dari koridor itu masuk ke dalam kamar gelap itu, membuat Jevin masih dapat melihat dengan jelas keadaan kamar yang sudah seperti gudang untuk pembuangan sampah.
Jevin terus pergi melangkah dengan pelan, mendekati Zen yang terlihat sedang terduduk melamun di pinggir tepi jendela kamarnya, dan Jevin segera menyapanya.
"Ada apa Zen?" Itulah pertanyaan pertama untuk Zen dari Jevin.
"Pak Jevin." panggil Zen, saat tahu yang masuk adalah orang yang dia kenal.
"Kamu terlihat cukup menyedihkan, ya." kata Jevin. Berjalan masuk, dia langsung menutup pintunya dan menguncinya dengan sihir miliknya. “Sebenarnya kamu bisa mendapatkan semua yang kamu mau karena kamu memiliki kedudukan dan kemampuan yang istimewa."
"Tapi aku gagal masuk ke Academy gara-gara perempuan itu!" ucapnya dengan wajah penuh amarah. "Karena dia karena dia aku jadi dipermalukan di depan banyak semua siswa disana.."
"Begitu, ya. Bagimu dia adalah pengganggu." kata Jevin sekali lagi, lalu tangan kanannya dia ulurkan ke depan, tepat ke atas kepala Zen.
Sebuah cahaya berwarna ungu, segera menyerap masuk ke dalam tubuhnya, membuat Zen tercengang sendiri.
"Dengar, aku ingin kamu memberikan pelajaran pada perempuan yang mengganggumu itu. Karena kamu itu istimewa."
Lalu mata Zen berbuah sepenuhnya menjadi merah, dan sebuah erangan langsung keluar dari mulutnya. Amarah besar, membuatnya memiliki keinginan untuk melampiaskan rasa dari amarahnya itu.
Yaitu dengan mencari wanita itu, Eldania.
__ADS_1