
“ ……………..” Eldania terus menatap gadis itu dengan wajah seriusnya.
Gadis yang terlihat seperti baru berumur tiga belas tahun ini berkata. “ Jika kau membebaskan aku, maka semua rencananya akan berantakan, dan kau bisa mengalahkan ibuku, Durandal. “
“Membebaskanmu dengan cara membunuhmu? Apa yang bisa kau dapatkan dari pengorbananmu? Padahal yang menjadikanmu seperti ini adalah ibumu kan. Aku bisa membebaskanmu, dan menghentikannya bersamamu jika mau. "
“Apa kau sedang mengasihaniku?“ dengan senyuman tipisnya, dia sebenarnya sedang mencibir dirinya sendiri.
Tidak merubah ekspresinya itu, Eldania kembali menjawab.“ Aku sedang tidak mengasihanimu padamu, tapi aku sedang membahas kelayakan dari kematianmu. Dengan kedua tangan dirantai, kau tidak bisa pergi dari sini selama hidupmu. Memangnya apa yang sebenarnya bisa kau dapatkan jika aku membunuhmu? Tidak ada keinginan balas dendam?"
Gadis ini kemudian berdecak sambil menyindir Eldania tepat di depannya langsung. “ Bukannya kau tahu arti dari rasa bosan?. Terikat dengan tempat ini selama puluhan tahun, bukannya kau pernah mengalami itu juga?. “
DEG……
Sorotan mata yang seolah tahu segalanya, Eldania tidak mampu berkata-kata.
Padahal gadis ini hanya sedang membahas masa kecil dari manusia di depannya itu karena sering terkurung di rumah, tetapi bagi Eldania sendiri, dia hanya berpikir kalau yang dikatakan oleh gadis itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu Eldania yang sebenarnya, yang dijalani di kehidupan lampau.
“Lalu balas dendam itu hal yang sangat merepotkan dan membuang energi juga waktuku. Lagi pula aku tidak sepenuhnya mati, aku akan bereinkarnasi lima dekade lagi. Jadi, jika kau masih hidup di waktu yang mendatang, aku berharap bisa bertemu denganmu lagi di tempat yang lebih bagus dari ini?“ Ucapan yang merujuk ke sebuah harapan, dia tidak ingin bertemu seseorang di tempat suram dan menjijikan seperti saat ini. Gadis ini pun menambahkan lagi. “Mungkin aku tidak akan ingat tentang pertemuan ini, tapi namaku di masa yang mendatang adalah Rosisca. Aku ingin di pertemuan berikutnya, kita bisa berteman. Apakah kau mau?“
[Teman….!] Dania tiba-tiba saja mengulas senyuman, dia tidak menyangka bahwa hari ini ada satu makhluk yang cukup berbeda dari yang pernah ditemui, sampai-sampai keinginan pertama dan terakhirnya adalah mati di tangannya dan kemudian di kehidupan selanjutnya dari gadis itu adalah sebuah pertemanan. "Apa kau tahu arti teman itu apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku tidak begitu tahu." sambil tersenyum masam. Dia sendiri juga tidak begitu tahu arti dari kata teman itu apa karena selama ini dia tidak pernah punya teman sama sekalipun. "Tapi itu terdengar lebih bagus dari pada seseorang yang terus-menerus berada di posisi sendirian sepertiku. Salah satunya ada yang bisa aku ajak bicara seperti saat ini."
"Hmm... Aku juga tidak begitu tahu apa itu pertemanan yang sesungguhnya."
"Oh…., sungguh tidak terduga. Kenapa kau yang lebih punya kebebasan untuk bisa berteman dengan banyak orang ketimbang aku, malah tidak tahu?" tanya gadis ini tidak mengerti tentang Eldania yang terlihat lebih bisa menikmati sebuah kebebasan, namun yang dia dengar justru tidak mengerti arti dari pertemanan.
"Karena, sendirian terkadang lebih menyenangkan. Dan yang aku tahu…" Eldania pun sedikit memberitahu apa yang dipikirkannya. Soal pertemanan yang sebenarnya bukanlah hubungan yang bisa dikatakan hubungan yang akan selalu harmonis dengan keindahan karena saling mengisi satu sama lain. "Pertemanan adalah hubungan untuk mencari keuntungan satu sama lain. Itu yang aku pahami, apa kau ingin berteman denganku yang bahkan mempunyai pemikiran seperti itu?"
“Tentu saja, kau adalah orang kedua yang mau berbicara denganku, jadi apapun pikiranmu tentang hubungan dari pertemanan itu, aku tidak mempermasalahkannya sama sekali. Dan ngomong-ngomong, jika kau sudah berhasil menjadi penyihir ulung, kau pasti akan tetap awet muda. Sangat menyenangkan kan?“
“Apa itu hasutan untukku?“ Eldnia tersenyum simpul, sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
“Hehehe” Gadis ini tertawa kecil dan ikut mengulurkan jari kelingkingnya. “ Bukankah niatanmu adalah menjadi kuat dan punya pengetahuan yang lebih banyak melampaui manusia-manusia disini?“
“Apa ini cara manusia membuat janji dengan seseorang?“ tanyanya dengan wajah penasaran, setelah jari kelingkingnya tiba-tiba saja berkait dengan jari kelingkingnya Eldania.
“Hmm… “
Gadis ini pun merasakan senang, dia bisa sudah mendapatkan ikatan janji pertemanan untuk masa yang akan mendatang.
“…………… , setelah ini, hancurkan tempat ini. Maka makhluk baru yang ada di dalam telur itu, tidak akan muncul. Ibuku memang memerintahkan semua monster untuk terus menyerang manusia, tapi setelah keberadaan kami menghilang, jumlahnya akan berangsur-angsur berkurang. Cara mengalahkan ibuku adalah dengan menghancurkan kalungnya dengan benda suci."
__ADS_1
Melepaskan ikatan perjanjian pertemanan, Eldania mundur ke belakang.
“Oh ya satu lagi Eldania. Fisikku mungkin memang terlihat seperti anak kecil, tapi sebenarnya aku sudah dewasa. Bisakah kau membiarkanku melihat dirimu seperti dia. Jika rambutmu pendek, itu akan membuatmu mirip dengannya.“ berusaha membujuk Eldania untuk melakukan perubahan penampilan.
[Apa ini karena efek dia terkurung disini dan sudah tidak pernah bertemu dengan laki-laki? Aku merasa dia serba tahu, apa karena aku berada di sekitar wilayahnya? Tapi bisa juga dia hanya menebak saja, dan setiap reaksi wajahku, akan menjadi jawaban.] Eldnia di buat berpikir.
“Tidak usah terlalu waspada, aku tidak punya motif apapun. Lagi pula tidak ada yang akan tahu kau bisa menyamar, karena pada akhirnya aku akan mati.“ jelasnya lagi.
[Benar juga.] Detik hati Eldania.
Dia sangat menginginkan bisa melihat hal yang tidak pernah dia lihat sepanjang lebih dari dua puluh tahun ini, jadi dia menginginkan hal terakhirnya, karena dia tahu bahwa gadis yang ada di depannya, adalah anak dari pria yang pernah ditemui sewaktu muda dulu.
“Setidaknya, beritahu dulu pilihanmu bagaimana kau ingin mati.“ Dania pun memberikan tawaran sebelum mengabulkan keinginannya.
Lalu gadis berambut merah ini, menunjuk ke arah di balik baju yang Eldania pakai. Tepat di saat itu juga, tiba-tiba ada sedikit angin yang berhembus, membuat mantel yang dipakai Eldania sedikit tersingkap dan memperlihatkan sesuatu yang langsung menarik perhatiannya.
“Kau punya banyak senjata yang cantik dan bagus, tapi aku memilih yang itu.“ Gadis ini menunjuk kedua pistol yang tersimpan di bawah ketiaknya Eldania.
“Ini akan menjadi kematianmu yang tidak terlalu menyakitkan." Eldania sedikit memberitahu dengan nada yang lirih.
Karena sudah menerima jawaban dari pilihan atas kematian yang diinginkan oleh gadis di depannya itu, Eldania kemudian memutar tubuhnya ke belakang.
__ADS_1
Dia tidak mempermasalahkan dari dirinya yang tiba-tiba berubah penampilan menjadi seorang laki-laki, karena bagaimanapun makhluk yang menyerupai manusia yang ada di depannya, akan menghilang.
Eldania lalu memakaikan sesuatu pada rambutnya, kemudian di detik berikutnya tubuhnya langsung berubah sedikit lebih tinggi, warna rambut yang awalnya berwarna coklat berubah menjadi warna hitam, dan saat berbalik, tangan kanannya sudah mengangkat senjatanya dan diarahkan ke wajah gadis itu, gadis berambut merah itu langsung terkesan dengan perubahan penampilan Eldania yang begitu drastis serta sempurna.