Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
35 : Eldania


__ADS_3

“ Aku bisa melakukannya untukmu. “ 


Kata asing yang tidak pernah Arga dengar, menyambut indera pendengarannya.


Mau percaya atau tidak percaya, gadis yang ada di depan matanya sudah mulai menunjukkan tekad yang begitu kuat baik dari ucapan maupun sorotan matanya.


“ Jangan membohongiku. “ sela Arga di detik itu juga, melirik Eldania dari balik bahunya. 


Gadis ini sedang berdiri di belakangnya, tepatnya sedang memainkan rambut Arga yang panjang itu. 


Apa yang akan dilakukan olehnya?


“ Aku mana mungkin berbohong. Begini-begini aku juga punya kemampuan untuk memotong rambut juga. “ katanya lagi.


“ ……………..” Awalnya Arga terdiam, dia sejujurnya ragu dalam mengambil keputusannya saat ini, namun Arga mengangguk sambil memejamkan matanya. “ Awas saja kalau tidak bagus, aku akan memotong rambutmu saat itu juga. “ kata Arga, membuat sebuah ancaman kepada gadis yang akan bertanggung jawab untuk memotong rambutnya.


“ Karena aku percaya dengan kemampuanku, jadi ancamanmu itu bukanlah masalah besar. “ beritahu Eldania kepada Arga dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat sama sekali.


Dan pada akhirnya Arga merelakan rambutnya terpotong.


CRASHH…….


[ Karena disini, aku justru ingin membuatmu berterima kasih kepadaku. ] Batin Eldania.


Dua senjata yang dipegang oleh Eldania yang berupa sisir dan gunting, langsung di gunakan pada rambut pria yang menjadi korban dari niat terselubungnya.


[ Pada akhirnya aku bisa memotong rambut panjang yang mengganggu, baik mataku maupun penampilan orang ini. 


Terlepas dari fisiknya yang besar yang bayangannya saja bisa langsung melahap orang yang ada di depannya, dia ternyata mudah terbujuk dengan ucapanku saja. ] batin gadis ini, merayakan kemenangannya bisa memotong rambut panjang Arga yang mengganggu penampilan Arga yang seharusnya.


Hal tersebut akhirnya membuat helaian demi helaian rambut berwarna orange itu akhirnya terus berjatuhan. 


Perlahan namun pasti, kini rambut itu kian memendek seiring waktu. 


Arga yang awalnya mencemaskan segala hal dengan cara memejamkan matanya dengan dahi yang terus mengernyit, kini mulai merasa rileks. 


Arga merasa kepalanya semakin ringan. Itu memang pasti, karena beban dari rambut yang dia tanggung kian berkurang. 


Tapi bukan itu yang Arga maksud.


[ Sentuhannya….., saat ujung jarinya menyentuh kulit kepalaku, aku benar-benar dibuat rileks. ] Kepala yang terasa berat seolah dibebankan seekor gajah, kini terasa ringan.


[ Dia mudah terbujuk pasti karena sakit kepalanya yang sudah sangat menyiksanya sejak lama. ] Eldania mengernyit, karena ucapan yang Eldania katakan pada Arga bukanlah kebohongan. Dia tahu persis kondisi pria yang ada di depannya itu sudah cukup serius dari keseharian yang tak sengaja dia amati.


Kebiasaannya yang suka terbangun dini hari, membuatnya terkadang mendapatkan sesuatu yang tidak direncanakan. Misalnya seperti masalah dari pria ini.


Di tiap pagi waktu dini hari, Arga akan keluar dari tenda dengan wajah lelahnya. Dan di jam-jam tersebut Arga lebih sering memegang kepalanya dengan dahi selalu mengernyit, serta mengutarakan alasan demi alasan untuk dari segala pertanyaan yang dipertanyakan rekan kerjanya.


Eldania yang sudah mulai tahu kebiasaan orang-orang di kamp, membuatnya tahu segala hal tanpa perlu bertanya pada orang lain.


[ Ya...orang itu memang aku anggap jahat, tapi karena dia juga aku bisa mempunyai semua pengetahuan. Entah aku harus berterima kasih karena diadopsi oleh orang kaya raya, atau mati saja sana...karena aku jadi mendapatkan kutukan darinya. ] Eldania bingung harus apa, karena semua yang dia miliki sekarang, yaitu ilmu yang sudah dipelajarinya adalah berasal dari ‘orang itu’.


CRASSH….


Kedua tangannya tidak berhenti meski kepalanya memikirkan hal lain.


Disini, sepanjang pengetahuan Arga selama bekerja sebagai ksatria di Helion, dia hanya tahu kalau nona Irine adalah gadis penyihir terkuat, karena mampu menyapu bersih monster hanya dengan sekali serangan.


Tetapi setelah dia tahu ada gadis lain yang memperlihatkan kekuatannya di pertarungan perdana pertama Eldania kemarin, hal itu membuatnya semakin tidak percaya. Karena yang Arga tahu, gadis yang sering tidur di pagi sampai siang hari itu, adalah perempuan yang bekerja sebagai koki untuk Duke Avrel saja.


Tapi, ternyata gadis asing yang bukan dari wilayah Helion itu justru mengemban tugas lain sebagai prajurit bayaran.


[ Lalu sekarang…., dia malah sedang memotong rambutku. ] Arga menghela nafas pasrah. 


Arga sejujurnya terkejut juga, tanpa sadar sudah duduk di depan gadis ini dan sekarang rambutnya sedang dipotong olehnya. 

__ADS_1


Lalu alasan kenapa dirinya menuruti kemauannya adalah karena penyakit yang awalnya sepele, sekarang menjadi bumerang untuknya.


[ Demi sembuh dari sakit kepala ini, aku jadi membuang rambut panjang yang sudah aku rawat dua tahun ini. ] Arga kembali menghela nafas pelan tanpa sadar.


Syarat utama untuk menyembuhkan sakit kepala nya adalah memotong rambutnya. Maka dari itu, Arga awalnya menyayangkannya, namun demi kebaikan dirinya sendiri, Arga mau tidak mau menuruti ucapannya. 


Arga menderita sakit kepala berkepanjangan selama satu setengah bulan terakhir ini. Jika dia orang biasa, sudah pastinya akan lebih memilih bunuh diri, tetapi Arga tidak berpikir seperti itu. 


Awalnya Arga hanya menganggapnya sakit kepala biasa, namun karena sampai seminggu lamanya tidak kunjung sembuh setelah meminum segala obat serta ramuan, maka dia memutuskan untuk mengobatinya lewat tangan pendeta. 


Tapi, tetap tidak kunjung sembuh. Maka dari itu, setelah mendengar apa yang dikatakan serta dijanjikan Eldania kepadanya, akhirnya Arga pun terhasut dengan tawaran itu.


Tawaran dimana gadis itu bisa menyembuhkannya. 


“ Mau poni model apa?“ sampai sebuah pertanyaan, langsung menarik segala pikiran yang sedang dipikirkan Arga.


“..............!“ Arga yang terkejut, karena terlalu dalam melamun sampai dia tidak sadar kalau gadis yang menjadi topik hangat perbincangan di dalam kepalanya sudah berdiri di depannya dengan wajah yang cukup dekat. Karena gadis itu sedang membungkuk ke arahnya untuk menyamai ketinggiannya. “ Untuk apa tanya, katamu kau lebih tahu apa yang cocok untukku. “


“ Apa salahnya tanya lebih dulu. “ celetuk Eldania sambil menatap datar Arga.


Tangannya yang lihai itu, kini mengambil helaian rambut bagian depan untuk membuat poni yang menurutnya cocok untuk pria ketus ini.


[ Ok...aku tidak akan membuatmu kecewa. Aku potong ini! ] Dengan senyuman jahilnya, rambut bagian depan yang masih panjang itu pun langsung dipotong dengan serta-merta.


CRASSH……..


“ R-rambutku-.... “ Arga kehilangan kata-kata selepas melihat setengah genggam rambut bagian depannya dipotong tanpa ampun, seperti memotong rumput liar tepat di depan matanya.


[ Hahaha….lihat, wajah paniknya itu, padahal rambutnya bisa tumbuh lagi, apa lagi kalau laki-laki pastinya lebih cepat tumbuh. Dia sebegitu sayang dengan rambut kuda ini? ] Kata Eldania dalam hatinya, melihat reaksi Arga seperti kehilangan harta berharganya. “ Jika setelah ini, menurutmu tidak suka, panjangkan lagi saja. “ ucapnya. [ Karena yang terpenting sekarang, aku tidak melihat laki-laki dengan rambut panjang. Setidaknya untuk dua hari kedepan, karena setelah ini aku pergi, jadi terserah dia mau rambutnya diapakan. ] batinya. “ Yang diperlukan sekarang hanya membuat penampilannya menjadi rapi dengan wajah tampannya itu. “ dengan tatapan mata terus terfokus dengan apa yang sedang dia kerjakan, mulutnya tanpa disadari berbicara berdasarkan apa yang sedang Eldania pikirkan.


“ Apa? “ tanya Arga detik itu juga, sempat sekilas mendengar gumaman yang masih dia dengar, membuatnya spontan bertanya.. [ Apa aku tidak salah dengar? Dia..mengatakan-.... ] Arga menghentikan pikirannya untuk menunggu jawabannya.


Mendengar Arga bertanya, Eldania langsung membalas tatapan mata Arga dengan tatapan datar. “ Apa? Aku bilang agar kamu jadi lebih rapi dan tampan. “


“ Iya...tapi kenapa?“ tanya Arga dengan wajah yang lebih serius, tapi tidak menghilangkan perasaan malu yang tertahan itu muncul dengan bukti telinganya yang memerah.


Dia kembali menatap mata pria di depannya. Eldania ingin melihat mata itu, mata dari rasa penasaran yang sudah bercampur malu.


CRASSH…..


Segera memotong tanpa aba-aba, mata Arga langsung kelilipan potongan rambutnya sendiri.


" Masih tanya kenapa? Sebagai lawan jen-.... " mulutnya seketika tertutup saat salah satu sayap burung yang menyerang wajahnya berhasil meutupi mulut serta pandangan matanya.


Everst sudah berdiri di bahu kanan Dania dengan sayap menghalangi wajahnya, sekaligus memotong ucapannya itu.


Dia langsung tahu apa maksud dari tindakan yang dilakukan oleh peliharaannya itu adalah untuk merevisi kalimatnya.


" Maksudku, sebagai perempuan…..aku tentu memandang laki-laki sepertimu punya wajah yang tampan. Tidak ada alasan lain lagi. " ucap Eldania, sedikit mengoreksi pemilihan kata dari 'lawan jenis'.


Jika bukan karena Everst, Eldania sudah pasti menggunakan kata dengan kode keras seperti itu.


Eldania melirik ke arah dimana Everst sudah kembali terbang, dan dia melanjutkan ucapannya lagi.


" Bagiku, mengagumi seseorang bukan hanya dari kemampuan saja, penampilan yang bagus juga layak untuk dikagumi. Itulah yang dilihat di mata perempuan pada seorang pria, kan?. " sambungnya. [ Kenapa aku jadi ceramah seperti ini? Apa gara-gara aku kesal sendiri karena orang ini tidak menyadari nilai dari penampilannya sendiri sebenarnya besar?! ]


Mendengar penjelasannya, Arga membatin. [ Jadi maksudnya…., dia menyukaiku? ]


Dengan mata yang masih terpejam, Arga langsung tersipu dalam diam. Hingga sampai saatnya Arga langsung tersadar kembali, dan mengatur reaksi wajahnya lagi, karena tiba-tiba saja teringat dengan ucapan yang Arga dengar kemarin, dari gadis di depannya itu.


“ Aku ada pertanyaan. “


“ Apa? “ Tanpa mengalihkan pandangannya dari rambut yang sedang dipotong dan dirapikan.


“ Kemarin kau mengatakan kalau pedang milikku adalah pedang suci. Darimana kau bisa tahu itu? “ Arga bertanya karena penasaran.

__ADS_1


Eldania yang ingat tentang apa yang diucapkannya kemarin pagi pada orang ini, langsung menjawab. “ Ksatria Arga…, apa kamu tahu tentang kasus dimana putri Elvira dari kerajaan Linstone diculik?“


“ Hm...aku tahu. Anak laki-laki bernama Danie yang melakukanya. Dia sudah diusir dari sana. Tapi apa hubungannya, antara pertanyaanku dengan cerita itu? “


“ Tokoh utama penjahat yang ada dalam cerita itu lalu apa kamu ingat soal anak yang ditertawakan dari ksatria suci maupun ksatria Nikhil Nights, karena seekor lipan di atas kepalanya. Itu adalah aku. “ jawab Eldania, dia sedikit memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.


[ ………….! Danie?! Dan lipan? Anak itu…. ] Seketika Arga membuka matanya lebar-lebar, dan menatap tidak percaya bahwa semua insiden dan pengalaman yang sudah dia lalui yang berubah menjadi sebuah ingatan, terselip bahwa anak laki-laki yang dia ingat dan menjadi topik pembicaraan yang hangat waktu itu, adalah…[ Perempuan ini? ]  


Arga langsung bangun dari tempat duduknya.


“.................” Eldania segera mengurung niatnya untuk menggunting bagian rambut depan Arga, karena pria itu langsung berdiri begitu saja.


“ K-kau? Anak itu? “ Tanyanya lagi, masih tidak percaya. Tapi dari penampilan yang dilihatnya, Arga memang ada perasaan sedikit bahwa Danie yang dia ingat, memang punya warna rambut dan mata yang dimiliki oleh gadis ini. 


“ Reaksi terkejut, tidak percaya. “ gumam Eldania, sambil menatap pria ini dengan begitu santainya, tanpa adanya masalah dendam pribadi karena insiden pria ini adalah salah satu orang yang menertawakannya karena soal Lipan, tiga tahun lalu. “ Membuktikan, jadi salah satu orang bodoh yang tidak menyadari penyamaranku. “ gumamnya lagi dengan sebuah cibiran.


Namun gumaman itu masih bisa terdengar oleh Arga, yang seketika itu pula membuat Arga menyela dengan nada sedikit keras.


“ A-apa?! Bodoh?! “ Tanya Arga dengan keterkejutannya sendiri.


[ Apa lagi kalau bukan bodoh, karena penyamaranku yang remeh yang berupa rambut pendek, dadaku yang cuma dililit perban, dan sedikit mengubah nada suaraku, ternyata bisa menipu kalian begitu lamanya. ] umpat Dania dalam diam.


Dia berbangga diri karena berhasil menipu banyak pasang mata, walau Eldania sudah tahu kalau pastinya ada juga yang sudah menyadari kalau dirinya adalah seorang perempuan, namun mereka tetap tutup mulut.


“ Sudah-sudah...duduk lagi. “ pinta Eldania, membujuk agar pria ini kembali duduk dengan patuh.


“............” Hanya saja Arga masih mematung ekspresi super seriusnya, dia sedang mencoba membanding-banding apa yang dia lihat dengan ingatan terakhirnya saat kali terakhir bertemu dengan anak laki-laki bernama Danie dengan perempuan ini.


“ Semua itu sudah berlalu, cepat duduk lagi kalau mau sembuh dari penyakitmu. “ kembali membujuknya dengan tawaran sebelumnya, Arga akhirnya menurutinya.


[ Bagaimana bisa, Danie dan perempuan ini adalah orang yang sama? ] tapi perempuan yang ada di depan mata nya itu betul-betul punya ciri khas yang sama dengan apa yang Danie miliki.


Pada akhirnya, identitas Arga sebenarnya sudah diketahui oleh Dania sejak awal. 


Sejak dimana Eldania pertama kali berinteraksi dengan dunia baru, dengan sebuah tawa menghina dari para ksatria dari kerajaan Linstone karena soal Lipan di atas kepalanya.


“ Jadi….bagaimana caramu menyembuhkanku? Apakah dari kekuatan sucimu? “ Arga tentu saja tahu akan kekuatan yang dimiliki gadis ini.


Melihat Eldania yang sudah selesai dengan pekerjaan memotong rambutnya, Arga menunggu sambil memperhatikannya lagi.


“ Memangnya menyembuhkan penyakit, harus dari kekuatan suci? Pertama-tama cari akar masalahmu dulu, dengan ini. “ Dania menjawab sembari mengeluarkan botol kaca.


Arga langsung menatapnya dengan penuh curiga. 


Eldania mengeluarkan isi dari botol tersebut ke atas lembaran kain yang sudah dibentangkan di atas meja. Dan isinya adalah berupa jarum.


“.........!. Apa yang mau kau lakukan dengan itu?! “ Tanyanya dengan nada sedikit panik.


Dengan cengiran, Eldania mengambil lima jarum terpanjang yang dia miliki, dan memperlihatkannya langsung di depan mata Arga. 


“ Ini adalah pengobatan akupuntur. Tidak akan ada luka atau efek samping, jika ada, aku bisa langsung mengatasinya detik itu juga. Jadi diam jangan banyak bergerak. “ kata Eldania sembari meletakkan satu-persatu jarum ke atas kulit kepala Arga.


Arga sedikit merasakan sakit, namun tidaklah sesakit apa yang sudah dia rasakan selama ini. Jadi yang seperti itu, bukan apa-apa untuk Arga.


Namun yang jadi permasalahannya kali ini adalah, mereka berdua dalam jarak yang cukup dekat.


Nafas yang berhembus itu langsung menerjang telinga Arga, membuatnya secara refleks memalingkan wajahnya.


“ Bukannya aku sudah bilang, jangan banyak bergerak? “ Eldania memperingatkannya lagi dengan tegas kepada Arga yang terus bergerak.


“ Apa pengobatanmu ini ilegal? “ Tanya Arga, berusaha mengalihkan segala pikirannya dengan pertanyaan tersebut.


“ Bagiku tentu saja ilegal. “ jawabnya dengan cepat. [ Bahkan teknik seperti ini, bisa membuat orang mati. ] Lain mulut lain pikiran.


Dengan teknik yang dimilikinya, tentu saja dia bisa melakukan apa yang dikehendakinya. 

__ADS_1


Apakah untuk pengobatan, atau untuk……..


Membunuh?


__ADS_2