Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
81 : Eldania


__ADS_3

Flashback.


Sesaat ketika Eldania hendak duduk di kursinya, sebuah perintah dari satu permintaan langsung mendatanginya.


" Kau bisa masak kan?. " 


" Eh~....kenapa tanya?. " Dengan wajah masam. 


Erich yang tertarik dengan pertanyaan yang terlontar dari Caster, segera menatapnya.


" Kalau bisa, sebaiknya kau saja yang masak. " Pinta Caster dengan wajah songongnya.


" Aku bukan budakmu. " Kalimat itu sekaligus membuat kedua pria muda itu menatapnya dengan intens. " Yang penting makan, ya tinggal makan saja. Kenapa aku juga yang harus masak. " Jawab Eldania. [ Kenapa dia memintaku memasak, padahal aku sendiri tadi memang sempat meminta merencanakan itu kepada Erich. Apa ini hanya kebetulan, atau dia memang sudah tahu niatku?. ] 


Sebenarnya Eldania beberapa waktu lalu memang sempat membuat permintaan kepada Erich untuk mengizinkannya meminjam dapur restorannya, karena ingin memasak untuk memperbaiki suasana yang sudah dia buat kepada Caster sebab tidak enak hati, merasa sudah berkata kasar.


Tapi semua rencana tersebut seperti sudah diketahui oleh Caster, dengan membuat Eldania memasak untuknya.


" Soalnya....makanan di sini, sudah terlihat biasa-biasa saja. "


" Maksudmu, menu makanan di restoranku tidak menarik untukmu?. " Sela Erich atas ucapan Caster barusan.


" Bukannya tidak menarik. " Sudut matanya langsung melirik ke arah Erich yang terlihat tersinggung itu. " Sebagai mulut yang sudah mencicipi lebih banyak makanan daripada kalian, aku ingin makanan lain yang tidak pernah diperkenalkan di dunia ini. " Jelas Caster, maksud dari ucapannya barusan adalah sebagai dalih karena ingin makan makanan yang dimasak oleh gadis ini saja. 

__ADS_1


".................. ! " Eldania mulai mengerti arti dari ucapannya. [ Dia ingin aku masak makanan dari resep duniaku yang sebelumnya?. 


Hmm…..tunggu!. Tapi dengan begini, itu membuatku ingin melakukan bisnis dengan Erich.


Benar…!. Jika aku bisa membuat resep untuk daftar menu utama di restorannya, dan jika memang berhasil, bukankah dengan begitu aku jadi akan punya tambahan uang!?. ] Eldania tertawa iblis dalam diam setelah mendapatkan rencana yang muncul dengan tidak terduga.


" Bagaimana?, aku rasa kau sudah tahu maksud dari ucapanku. " Tutur Caster.


" Ya...., yang seperti itu... " Eldania melirik ke arah Erich, satu-satunya orang yang menjadi penentu di sini adalah Erich, karena dialah sang pemilik dari restoran di sini.


“.....................”


" Aku akan membuktikannya setelah kau mencicipi makanan yang aku masak. " 


Dan sebuah jawaban itu akhirnya Eldania dapatkan, setelah mendapatkan dua kali pertimbangan dari Erich.


_______________


Flashback Off.


[  Aku akan membuatmu bekerja sama denganku Erich. ] Batin Eldania. " Rebus mie. " Lalu dia memberikan perintah kembali kepada Ernest.


Dan dalam kurun waktu dari 1 jam itu, Eldania terus berkutat di dalam dapur. Membuat semua koki yang di sana mulai memperhatikannya.

__ADS_1


" T-tapi kenapa memilih saya untuk menjadi asisten anda?. " tanya Ernest.


" Kamu penasaran?. " Eldania menjeling ke samping kanan, dimana Erich sedang berdiri dan sama-sama mengharapkan jawaban darinya. " Walaupun kamu bekerja cuma untuk mencuci piring dan bersih-bersih, aku langsung tahu nilai guna dari dirimu itu itu lebih banyak ketimbang mereka loh. " Eldania sebenarnya menunjuk ke arah para koki di sana. Lalu Eldania memutar tubuhnya ke belakang agar bisa berhadapan dengan Ernest, kemudian menambahkan lagi. " Soalnya kau tahu semua letak benda, bahan, semua perintah yang dari tadi aku sebutkan dengan cekatan. Itulah nilai guna yang sudah ada pada dirimu. “ 


[ Nilai guna-........, dia seorang manusia bisa melihatku sebagai sesuatu yang berguna hanya dalam waktu sesingkat itu?!. ] Ernest sejujurnya sangat terharu. Dia sangat terharu bahwa baru kali ini, ada orang yang jujur dan berterus terang bahwa dia punya kegunaan saat berada di sisinya padahal belum sehari, sampai pujian pun dia terima.


Mereka yang tidak sengaja mendengarnya, sebenarnya langsung tersinggung dengan semua ucapan yang diucapkan oleh Eldania tadi. Dengan kata lain, mereka sendiri tahu letak dari kesalahan mereka yang sebenarnya sudah sering merendahkan Ernest setiap harinya dalam segi posisi, tempat, dan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Ernest.


[ Aku memujinya juga agar dia bisa merasa tersentuh dengan ucapanku. Dan kelihatannya, anak ini tidak dipekerjakan dengan baik di sini, lihat tatapan mereka. Aku langsung tahu mereka tidak bisa menerima singgunganku tadi. 


Tapi dengan begini, setidaknya Ernest ini akan merasa berterima kasih kepadaku. Mungkin saja Erich bisa memperhatikannya lebih baik lagi, kalau Ernest sebenarnya punya kemampuan lebih dari sekedar mencuci piring dan bersih-bersih. 


Lebih tepatnya, dia bisa menjadi bawahan yang bisa di percaya. ] 


Kembali ke topik utama, Eldania berjalan melewati Ernest dan berjongkok di depan oven. 


" Sudah matang, bawakan semua piring yang menurutmu cantik. " Eldania kembali membuat perintah kepada Ernest dengan hal-hal yang ringan tapi sebenarnya sangat berarti bagi Eldania. 


Benar….dalam artian lain, sebenarnya Eldania sedang mencuci otak Ernest dengan ketulusan dan kebaikan dalam segi hal. Karena dengan begitu, maka Ernest bisa patuh, terutama dalam hal kepercayaan.


Ernest terdiam, tapi senyuman di bibirnya menunjukkan sebuah pengakuan, bahwa dia sudah menerima pujian itu dan kali ini, dia malah diminta menentukan pendapatnya mengenai piring yang akan digunakan untuk menghidangkan semua makanannya ke orang lain. Itu adalah sebuah penghargaan untuk Ernest.


[ Terima kasih sudah menghargaiku. ] Batin Ernest.

__ADS_1


[ Dengan begini cuci otak berhasil. Aku melakukannya demi dirimu Erich, juga diriku .] Dalam hati Eldania.


__ADS_2