
"Monster semakin hari semakin banyak." Sebuah kalimat terucap begitu saja ketika melihat beberapa lembar kertas yang merupakan dokumen pengeluaran biaya untuk para prajurit bayaran. "Jika bukan karena anak itu, para kesatria dan prajurit tidak mungkin akan punya cukup waktu untuk sekedar istirahat saja."
"Benar tuan. Jika tidak ada nona Irine, semangat para kesatria sudah pasti menghilang dari dulu. Tapi mau bagaimanapun kelihatannya tuan perlu merekrut prajurit tambahan lagi." Ucap pria berseragam kesatria ini kepada satu-satunya tuan di tanah Helion.
Mengutarakan pendapatnya bahwa semakin hari keadaan cukup mengkhawatirkan. Hingga detik ini masih bisa mempertahankan dinding utara nomor dua dari segerombolan monster merupakan suatu keajaiban. Sayangnya tubuh fisik juga mental mereka semua jelas sudah lelah. Lelah untuk menghadapi makhluk berbahaya yang bisa datang kapan saja tanpa bisa diprediksi.
Mata birunya itu terus melirik pada lembaran dokumen yang dari awal tergeletak di samping kakinya, karena begitu banyaknya dokumen bertumpuk di atas meja kerja, maka beberapa diantaranya melayang dan terjatuh. Pria ini memungutnya, dan ketika di baca rupanya itu adalah surat izin dari salah satu pegawainya yang minta izin cuti untuk pulang kampung.
"Aku tidak masalah dengan itu, tetapi memangnya masih ada yang mau pergi ke sana? Untuk bayarannya, aku bisa menambahkan upah mereka. Tapi sesuai resiko bisa saja mereka mati lebih dulu bahkan sebelum mendapatkan upah mereka, kan?" Ucap pria ini menyindir.
Dalam aturan yang dia buat, bayaran dari prajurit yang disewa akan di bayar tiap satu minggu sekali. Namun kebanyakan dari prajurit bayaran sudah banyak yang mundur karena resiko besar menghadapi para monster yang tidak ada habisnya itu.
Menjadi prajurit yang di sewa oleh penguasa Helion bukanlah prajurit untuk turun ke medan perang menghabisi musuh antara manusia dengan manusia. Tapi musuh yang harus dibasmi adalah monster. Maka dari itu jika terjun ke sana yang dibutuhkan bukan hanya modal tekad tapi skill yang cukup. Sebab ukuran monster yang mereka hadapi cukuplah beragam.
"Dan satu masalah lagi, kepala koki istana, kenapa tiba-tiba pulang kampung tanpa memberitahuku dulu?" Kedua alisnya bertautan setelah melihat selembar kertas yang sedang dia baca. Surat izin untuk cuti, apa lagi cuti yang diambil kepala koki istana sampai satu minggu penuh.
Dia sama sekali tidak tahu dan tahunya orang yang menjabat sebagai kepala koki istana nya sudah pergi lebih dahulu.
"Di kampungnya, kepala koki masih mempunyai seorang ibu yang di rawat oleh adiknya, namun tepat kemarin pagi saya mendapatkan kabar meninggalnya ibu beliau. Jadi saya langsung mengizinkannya saja, sebab tuan kan juga baru pulang dari inspeksi anda." Jawab kesatria ini.
Seperti namanya dia memiliki status sebagai seorang kesatria, namun di satu sisi dia memiliki tugas lain karena dia adalah asisten pribadinya.
" Karena sudah terlanjur, ya sudahlah." Meremas kertas itu dan langsung melemparnya ke dalam tempat sampah. "Yang penting wakil kepala koki, masih bisa menggantikannya. Walaupun rasanya sebelas dua belas." Rungut pria berambut putih keperakkan ni.
"Asal perut tuan masih bisa diisi makanan, jadi harusnya tidak masalah kan?"
Pria ini menjeling tajam ke arah asistennya itu. "Mudah sekali kalau bicara. Makanan adalah sesuatu yang harus dinikmati. Satu minggu melakukan inspeksi di dinding utara, kau pikir aku tidak bosan makan-makanan seadanya seperti itu?" Protes pria ini kepada asistennya itu.
"Baik-baik....., yang penting sekarang anda sudah pulang dengan selamat dan bisa makan yang enak-enak kan?" Kesatria ini, masih mencoba bersabar.
"Kau cukup rewel juga."
"Bukannya anda yang rewel. Bisa makan saja, harusnya patut anda syukuri." Sela pria ini terhadap ucapan tuan nya.
Semakin geregetan mendengar ucapan asistennya, pria ini langsung melempar dua lembar kertas yang sudah dibuat menjadi pesawat. "Pergi sana!" Ketus pria ini, terhadap anak buahnya itu.
"Anda cukup tidak sopan." Masih berusaha bersabar, dia langsung memungut kertas pesawat-pesawatan yang tergeletak di depan kakinya dan membuka apa isi dari kertas yang sudah di bentuk itu.
"Mana yang lebih tidak sopan, ketimbang asistenku terus rewel menggurui aku padahal aku majikanmu." Ucap pria ini memperingatkan, bahwa orang yang memegang kekuasaan tertinggi adalah dirinya, siapa lagi kalau bukan dia Duke Arvel. "Jika itu bukan kau, aku pasti sudah membuatmu tinggal di perbatasan Heion selamanya."
"Hehehe............" Kesatria ini hanya tersenyum lebar mendapatkan keberuntungan dari tuan-nya yang baik hati ini. "Kalau begitu apa anda yakin akan memberikan upah dua kali lipat pada mereka?" Tanyanya. Dan sebuah tatapan malas dari tuan Arvel kepadanya sudah menjadi sebuah jawaban. "Saya akan memasangnya di beberapa tempat, yang gila uang pasti akan cepat datang ke sini." Ucap kesatria ini sembari melipat kertas yang dia dapatkan dan menyimpannya ke dalam saku seragamnya.
CKLEK.............
Selepas kepergiannya, pria ini duduk bersandar ke belakang sembari menatap langit-langit ruangan kerja-nya. Tapi belum sempat menghela nafas, pintu ruangannya langsung terbuka dengan keras.
BRAKK.......
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu, Irine?" Tanya Arvel sambil menatap ke depan. Seorang gadis dengan langkah lebar dan tergesa-gesa datang menghampirinya.
__ADS_1
"Maaf Duke!" Panggil gadis berambut putih ini kepada satu-satunya orang yang ada di dalam ruang kerja dan satu-satunya orang yang menjadi penguasa wilayah Helion ini. "Ini kabar darurat!" Ucap Irine lagi.
Keberadaan dari dua orang yang memiliki warna rambut yang sama itu hampir membuat banyak orang salah mengira mereka berdua adalah ayah dan anak. Namun sayangnya sebenarnya salah besar.
Hubungan mereka berdua adalah tidak lain majikan dan bawahan.
"Itu sudah terlihat jelas dari wajahmu yang panik." Ucap Arvel dengan santainya. "Jadi apa kabar darurat yang kau bawa itu?" Tanya Arvel.
"Dinding! Dinding dua tiba-tiba mengalami retak sepanjang dua ratus meter!" Beritahu Irine kepada Duke Avrel.
"Kau kan penyihir, ya tinggal di perbaiki saja kan?" Kata Duke Avrel menuntut gadis ini, mengingat satu-satunya orang yang memiliki jabatan sebagai penyihir di ruangannya adalah Irine.
Tapi Irine segera menyela. "Apa anda tidak tahu? Saya adalah penyihir kelas tempur!, Saya tidak bisa memperbaiki barang atau apa pun kecuali menghancurkan!" Jelas Irine kembali kepada Duke Avrel. "Anda harus kembali ke sana! Perbaikan memang sedang dilakukan, tapi tidak akan bertahan lama karena mereka terus berdatangan!" Tambahnya lagi.
"Terus kenapa kau yang melapor, bukannya orang lain?" Avrel segera berdiri dari singgasananya, mau tidak mau harus kembali ke tempatnya yang penuh dengan suasana yang tidak dapat dia atasi dengan mudah hanya dengan modal kekuatan fisik, tapi juga kekuatan magis.
"Aku baru menyelesaikan pekerjaanku satu jam yang lalu, tapi siapa yang akan menyangka akan terjadi seperti ini. Makannya saya mengajak anda pergi bersama." Kata Irine lagi.
Irine baru saja pulang dari wilayah utara, tapi baru juga pulang dia sudah mendapatkan sebuah kabar tidak mengenakkan itu. Maka dari itu Irine melaporkan informasi yang dia dapat dan mengajak Duke Avrel untuk pergi bersama.
"Baiklah, kita pergi bersama."
Irine mengangguk dan berjalan mengekori pria tinggi besar ini. Sosok yang terlihat seperti ayahnya, karena warna rambut mereka berdua sama, namun dari pada ayah, karena wajahnya yang awet muda padahal baru menginjak awal tiga puluh tahunan, membuatnya berpikir ulang bahwa dia pantas di sebut kakak.
______________________
Kesatria ini kini sedang dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Bukan berarti pekerjaannya adalah pergi ke semua tempat di seluruh wilayah Helion. Dia tidak akan melakukan hal membosankan dan melelahkan seperti itu, karena dia punya caranya sendiri yaitu menyuruh para pekerja guild untuk menyebarkan informasi yang dia punya itu kepada semua orang.
[Tapi......kelihatannya tadi, nona Irine terlihat terburu-buru? Hal mendesak apa yang nona Irine dapat ya?] Pikir kesatria ini. Dia hanya sempat berpapasan saja dan menjawab pertanyaan tentang Duke yang masih berada di ruang kerja saja, jadi dia tidak sempat mengetahui informasi yang dimiliki nona Irine itu.
Dan di tengah perjalanannya, tidak sengaja dia melihat ada satu orang yang sedang dipojokkan oleh beberapa orang laki-laki.
"Hei nona......., kau tidak sepatutnya berada di sini." Peringat pria ini kepada seorang gadis yang hendak masuk ke dalam bar.
"Kenapa tidak boleh? Aku lihat mereka tadi juga masuk ke sini." Gadis berambut coklat ini menjinjit, gara-gara tinggi pria itu menghalangi apa yang ingin melihatnya.
Dan jawaban tadi, membuat pria ini tertawa. "Ahahaha.........apa kau dengar tadi? Dia ingin masuk juga." Ucap pria besar dengan wajah ada satu bekas luka sayat sepanjang mata sebelah kanan ini kepada teman di belakangnya.
Lalu laki-laki yang lainnya datang, memberitahu, "Nona, kau tidak tahu? Mereka bisa masuk karena mereka memang bekerja di sini. Apa kau butuh pekerjaan di sini juga? Pekerjaannya lumayan gampang." Tuturnya, mencoba menawarkan dari tujuan gadis ini tiba-tiba datang dan ingin masuk.
"Apa pekerjaannya?" Tanyanya dengan wajah polos.
[Gadis ini bertanya karena tidak tahu?, Polos sekali. Tapi wajahnya lumayan juga. ] Batin lelaki ini, melihat gadis di depannya itu justru bertanya seolah-olah tidak tahu apa pekerjaan yang biasa dilakukan oleh perempuan ketika di dalam bar. "Kau hanya perlu mengantarkan minuman kepada para pelanggan. Mudah kan?"
Gadis ini memberikan anggukan kecil, lalu bertanya. "Gajinya kira-kira berapa?"
"Itu bisa dibicarakan, jika kau setuju. Lumayan loh, untuk biaya hidup gadis sepertimu. Bisa beli gaun yang bagus untuk mempercantik penampilanmu." Membujuknya lagi.
[Apa yang sedang mereka berdua lakukan pada gadis itu?] Kesatria ini merasakan firasat buruk mengenai perbincangan yang sedang dilakukan mereka bertiga.
__ADS_1
"Juga dapat tempat tinggal. kau pasti tidak akan pernah bisa mendapatkan penawaran seperti ini di tempat lain." Tawarnya lagi. [Tentu saja tempat tinggal yang di dapat di dalam gudang. Bertambah satu gadis cantik, maka aku akan semakin mendapatkan keuntungan yang cukup bagus.] Pikirnya, jika bisa mengajak gadis ini, maka dia akan bisa mendapatkan tambahan uang dari bos-nya.
"A--" Belum sempat menjawab, tiba-tiba sebuah tangan langsung menghalangi pandangannya.
"Berhenti!" Ucap kesatria ini kepada dua lelaki itu. "Sebaiknya anda jangan terima tawaran mereka berdua, mereka punya maksud lain." Memberikan peringatan kepada gadis ini.
[Sialan, dia menghalangi rencanaku!] Mengetahui keberadaan kesatria yang tiba-tiba datang sudah menjadi halangannya, dia yang tidak mau membuat keributan segera bersikutan dengan temannya. "Jika kau mau, tinggal datang saja lagi." Ucapnya, sebelum akhirnya mengajak temannya masuk kembali ke dalam bar.
"Kenapa nona justru berbicara dengan mereka berdua? Dari tampangnya saja, sudah jelas mereka berdua tidak punya maksud yang baik, apalagi dengan tawaran mereka tadi." KEsatria ini justru tidak mengerti kenapa gadis ini justru berani berbicara dengan dua orang yang bahkan dari penampilan dan tampang yang menyeramkan seperti tadi, sudah menjadi bukti bahwa niatnya juga sama dengan penampilan mereka berdua. "Jika mau mencari pekerjaan seba-"
KRUYUKK~~
"......................" Mendengar suara perut yang meminta jatah makan, kesatria ini menatap ke bawah. perempuan ini langsung menunduk ke bawah dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Kesatria ini akhirnya mengerti situasinya, siapa pun akan merasakan malu jika membuat orang lain mendengar suara perutnya, tidak terkecuali gadis ini.
"Sepertinya nona perlu makan dulu." Tuturnya, khawatir melihat gadis ini seperti seorang gadis miskin yang menginginkan sebuah pekerjaan dan satu-satunya yang ada adalah di bar. Tapi karena mencegah adanya kesepakatan di antara dua orang tadi dengan gadis ini, maka hasilnya adalah seperti ini. "Apa nona mau ikut saya?"
"....................."
Mengerti atas keterdiaman gadis ini, menyuruhnya ikut dengan laki-laki asing, kesatria ini berbicara lagi. "Saya tidak ada maksud buruk, saya ingin mengajak anda makan."
"Terima kasih tawarannya, tapi tidak perlu."
Gadis tersebut langsung berbalik menolak tawaran ksatria ini dengan baik. Hanya saja sebab merasa tidak enak sudah menggagalkan kemungkinan gadis itu menerima tawaran bekerja di bar, kesatria tersebut langsung membuat tawaran lain. "Jika nona perlu pekerjaan, anda bisa ikut saya."
Membuat gadis itu, mengurungkan niatnya untuk berjalan lagi.
"Setelah saya mengantarkan kertas ini, anda bisa ikut saya ke tempat dimana pekerjaan itu cocok untuk nona."
"Begitukah?" Berbalik, akhirnya gadis ini bertatap muka dengan kesatria tersebut sekaligus menjawab. " Ayo!"
"...............?!" Kesatria ini sedikit terkejut. [Jika sudah mendengar tawaran bekerja, wajahnya langsung berubah menjadi lebih baik. Tapi dia tidak takut, langsung mengiyakan tawaran orang lain. Padahal aku bisa saja menipunya dan melakukan sesuatu terhadapnya. Dia perempuan yang tidak waspada! Kenapa tidak menanyakan apa dan siapa aku lebih dulu?] Pikirnya.
Mulai dari situ, dua orang ini akhirnya pergi bersama. Dengan tujuannya masing-masing, Eldania cukup senang pada kesatria itu sebab terlihat merasa bersalah dengan tindakannya barusan membuatnya menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya.
Itu merupakan suatu keberuntungan untuk Eldania sendiri. Belum lama sampai di kota itu tapi sudah mendapatkan kebaikan dari orang lain.
[Kira-kira, dia membawa kertas apa?] Eldania cukup penasaran.
"Kalau boleh tahu, nama nona siapa?"
"Saya......., Eld."
"Eld. Cukup bagus." Kesatria ini tiba-tiba tersenyum, setelah mendengar nama dari gadis ini. "Saya Evan, seperti yang nona lihat, saya adalah kesatria dari pasukan Helion."
"Kak Evan?"
"............!" Seketika Ksatria bernama Evan ini menoleh, sekaligus menatap gadis itu dengan wajah sedikit terkejut. "K-kakak?"
__ADS_1