
ZRASSH……
Air yang mengalir dari kran wastafel langsung membasahi kedua tangannya yang dirasa kotor itu. Tapi ketika pria dari pemilik rambut pirang ini menemukan pantulan wajahnya dari sebuah cermin besar yang terpasang di depannya, membuat pria ini langsung menghentikan aktivitas kecilnya itu.
Caster menatap wajahnya sendiri, lalu dia melirik ke bawah lagi dan menatap kedua tangannya dengan tatapan dinginnya. Tapi tidak lama kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan mendekatkan wajahnya ke lengan tangannya sendiri.
Apa yang dia lakukan adalah, mencium aroma tubuhnya sendiri.
Tapi setelah itu, Caster memperlihatkan wajah pasrah dengan hasil yang dia dapat, Caster langsung menumpukan kedua tangannya di atas wastafel dan menunduk sambil menghela nafas kasar.
" Hahhh~....."
Menjeling ke arah Cermin, Caster kemudian berbalik untuk pergi melangkah keluar setelah mendengar bunyi langkah yang kian mendekat.
CKLEK....
Belum sempat memegang knop pintu, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu. dan disaat itu pula Caster pun berpapasan dengan dua orang.
Sepintas Caster menjeling kedua orang itu dalam diam. Sampai akhirnya, tiba-tiba dia menyunggingkan senyuman tipis yang disertai sorotan mata yang kian dingin.
“ Bagaimana dengan rencanamu hari ini?. “ Tanya pria dengan setelan jas berwarna coklat ini kepada teman sebelahnya yang sedang ikut cuci tangan.
“ Hari ini ak-...... “ Seketika kalimatnya menghilang saat menyadari pria bersurai emas yang tadi berpapasan untuk pergi keluar, justru masih berdiri di ambang pintu yang masih tertutup dengan tatapan yang terus terpaku kepada mereka berdua.
Menyadari hal yang sama dengan temannya, dia akhirnya memutar tubuhnya ke belakang dan mendapati pria berambut pirang emas itu tiba-tiba mengambil satu langkah kedepan.
“ Apa kau ada perlu dengan kami?. “ Tanya pria ini kepada Caster.
“ ……………. “ Tapi balasan Caster atas pertanyaan tersebut adalah wajah datar dengan sorotan mata yang dingin untuk menatap mereka berdua.
______________________
Sedangkan di satu sisi.
" Erich. "
Nama panggilan yang diucapkan dengan nada pelan dan lembut yang keluar dari mulut gadis ini, lantas membuat Erich terfokus kepada bibir itu.
[ Apa yang dia lakukan?. ] Melirik ke arah satu tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya, membuat Eldania langsung mencubit kulitnya Erich dengan keras.
" ...........!. " Kaget dengan sensasi sakit di kulitnya, Erich langsung bertanya dengan nada sedikit tinggi. " Kenapa kau mencubitku?!. " Tanya Erich tiba-tiba dengan wajah tidak puas hati.
" Tanganmu, sedang nyangkut di mana?. " Eldania memperingatkan dengan tiap kalimat penuh dengan penekanan.
[ Memangnya di man-...] Tercengang sendiri ketika melihat tangan kanannya sudah melingkar di pinggangnya Eldania, dia segera melepaskan rangkulannya itu dan berpindah untuk mencengkram tangan Eldania yang masih menyentuh dadanya yang mulai berkeliaran ke sana dan ke sini. " Lalu memangnya tanganmu sendiri sedang berkeliaran dimana?. " Ucap Erich, balik memperingatkan. Karena jika dibiarkan berlama-lama itu akan berubah jadi berbahaya.
Tetapi dengan mudahnya Eldania menyelanya di saat itu juga. " Di dadamu. Dan sayangnya aku tidak bisa berhenti, jika berhenti bisa jadi aku akan terlambat melakukannya. "
" M-melakukan apa?!. " Erich sedikit berteriak selepas mendengar kalimat yang cukup menjadi bahan kesalahpahaman.
Dengan senyuman menghiasi bibirnya, Eldania tetap bersedia menjawabnya. " Mungkin bagimu aku sedang terlihat menggodamu, tapi itu hanya kesalahpahaman mu sendiri, Erich. " Alih-alih tangan kanannya yang masih di cengkram oleh Erich, Eldania justru menggunakannya untuk mendorong tubuh Erich ke belakang dengan kuat.
BRUKK......
Eldania langsung membuka kemeja yang dikenakan Erich dengan cepat, tapi setelah itu kedua tangannya di cegat oleh Erich agar tidak lebih membuat gerakan yang sembarangan lagi selepas saja Eldania sudah duduk di atasnya.
" Apa kau sedang bermain api denganku?!. " Tercekat dengan tindakan wanita di atasnya itu, Erich langsung mendorong bahu Eldania dengan kuat agar cepat menyingkir dari atas tubuhnya.
Eldania yang tidak bergeming dengan kekuatan yang Erich keluarkan untuk mendorong tubuhnya, dia langsung menjawab ucapan Erich barusan. " Kelihatannya memang seperti itu, tapi sebenarnya bukan. Jadi cepat lepaskan. " Linta Eldania, selagi mengurusi pergelangan tangannya yang masih terus di cengkram Erich dengan kuatnya.
" Bagaimana aku bisa melepaskan, jika situasinya terlihat semakin lebih jauh ke arah sana. " Ujar Erich yang sedang menahan situasi tubuhnya sendiri dengan sangat kuat.
" Sudah aku bilang jangan salah paham, aku melakukannya agar aku bisa menemukan sesuatu yang salah di dalam tubuhmu Erich. " Pada akhirnya Eldania menjelaskan maksud dari tujuannya saat ini tangannya menyentuh dada Erich.
Meski memang mengasyikan, tapi dilain sisi sebenarnya dia sedang melakukan sesuatu yang baru saja ditemukannya.
__ADS_1
" Apa? " Tanya Erich linglung. Semua perasaan bergairahnya seketika menghilang setelah mendapatkan jawaban Eldania yang diluar dugaan.
" Di dalam tubuhmu. " Mendapati tangannya sudah terlepas dari cengkraman Erich yang melonggar karena terkejut dengan ucapanya tadi, Eldania kembali menyentuh tubuh Erich yang sudah setengah telanjang itu. " Jika tadi aku tidak menyentuh dadamu, aku mana mungkin tahu kalau kamu...--- "
Eldania akhirnya melihat sesuatu yang baru saja muncul dengan sangat perlahan, tapi pasti.
Di dada bagian kiri Erich tiba-tiba muncul sebuah tato dengan pola seperti lingkaran sihir, namun sedikit berbeda.
" Apa ini?. " Gumam Eldania sambil menyentuh dada yang berlukiskan sebuah tato dengan sentuhan lembut.
Meski tindakannya itu berhasil membuat Erich langsung memejamkan matanya karena merasakan sensasi geli yang bisa membuat mulutnya mengeluarkan suara aneh, jika saja tidak dia tahan dengan benar. Eldania benar-benar menghayati gambar yang baru saja muncul di dadanya Erich dengan sangat serius.
CKLEKK........
Suara pintu yang terbuka itu akhirnya memecah suasana menegangkan untuk Erich sendiri. Sekaligus membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara, untuk melihat siapa orang yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"...................!. " Eldania dan Erich terdiam.
Tanpa sebuah ketukan, pintu yang sudah terbuka itu langsung menghadirkan seseorang dengan wajah sedatar-datarnya bagaikan dinding beton yang keras dan dingin.
" Apa yang sedang kalian berdua lakukan?. " Tanya Caster dengan nada rendah kepada dua orang yang terlihat sedang ada di dunianya sendiri karena terlihat asik bermesraan.
[ Padahal dia sedang berekspresi dingin, tapi kenapa menurutku dia terlihat sedang marah?. ] Eldania bertanya-tanya sendiri melihat kemunculan pria berambut pirang itu, dalam seketika membuat suhu dalam ruangan langsung turun drastis, padahal yang terucap hanyalah sebuah pertanyaan karena salah paham sendiri. “ Aku hanya melakukan pemeriksaan. “ Jawab Eldenda singkat.
Caster yang tidak mendapatkan jawaban yang menjanjikan dari Eldania, menjeling langsung ke arah Erich yang ada dalam posisi berbaring yang kini sedang di duduki oleh Eldania.
Caster pergi menghampiri mereka berdua lebih dekat dan wajah yang semula dingin perlahan menghilang setelah melihat sesuatu yang tergambar di tubuh Erich, dan digantikan dengan tatapan mata penuh tahu.
Tapi sebelum itu, Caster sejujurnya sedikit terusik dengan pemandangan yang ada di depannya itu.
Pria dan wanita, saling tumpang tindih. Dia tahu itu adalah sesuatu yang wajar, hanya saja [ kenapa dia membuat posisi itu dengannya?. ] Berkerut-kerut kening Caster melihat adegan itu sudah ada di depan matanya tapi justru dengan orang lain. [ Dimana sikap sopan santun sebagai wanita yang menjunjung tinggi prinsipmu dengan ketaatanmu itu!?.] Batin Caster dalam diam.
Sedangkan Eldania tetap terpaku pada sebuah gambar yang terlukis di atas kulit tubuhnya Erich.
" Dari mana kau mendapatkan tato ini?. " Eldania langsung mengalihkan pandangannya ke arah Erich lagi.
Tapi belum sempat mendapatkan jawaban dari Erich, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Caster.
" Merepotkan sekali, sebagai wanita apakah kau tidak punya sopan santun. Cepat menyingkir dari sana " Sela Caster sambil mencengkram tangan Eldania dan menyeretnya dengan paksa agar cepat menyingkir dari posisi seperti itu.
" Eh..........?, aku cuma mau memeriksanya. " Eldania terbengong, tiba-tiba diseret oleh Caster yang notabennya hubungan antara dirinya dengannya juga tidak jelas sama sekali. Lalu sudut matanya melirik tajam ke arah Caster, setelah cengkraman di tangannya sudah dilepaskan.
" Memeriksa dengan posisi memalukan diri sendiri atau karena tergoda dengan tubuhnya?. " Tanya Caster dengan nada mengejek.
JLEB........
[ Itu refleks, karena penasaran. ] batin Eldania. "............... sebenarnya kenapa?. " Tanya Dania kepada Caster. Masih mempertahankan tatapannya kepada pria di sampingnya itu. [ Kenapa terus ikut campur. ]
Namun yang di tatap segera mengalihkan pandangannya ke arah Erich yang sudah kembali duduk sambil merapikan bajunya, dan menjawab. " Kenapa dia punya pola itu di tubuhnya adalah karena dia punya ikatan bernama sumpah darah. "
Caster sejujurnya tahu apa maksud dari pertanyaan yang Eldania tanyakan. tapi Caster dengan terang-terangan mengalihkan jawabannya.
[ Dia mengalihkan pertanyaanku!. ] Sadar tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan tadi, Eldania hanya mendengus kesal. Karena motif Caster yang terus ikut campur dalam hidupnya masih tidak dijawab sampai sekarang sekalipun sudah pernah bertanya beberapa kali.
" Dan kelihatannya kau tidak tahu sama sekali tentang keberadaan gambar di tubuhmu. " Tatap Caster kepada Erich.
Caster melihat ekspresi wajah Erich yang terlihat tidak tahu apapun tentang tato di dadanya sendiri yang membuat Eldania benar-benar menguak keberadaan tato itu dengan caranya sendiri yang bagi Caster cukup menjengkelkan.
" Aku memang tidak tahu, karena aku baru pertama kali melihat tato ini ternyata ada di tubuhku. " Erich sengaja menjawabnya dengan jujur, sebab bagaimanapun mau membuat alasan, tapi sorotan mata dari Caster seolah semuanya sudah diketahui olehnya di detik itu juga.
" Apa ayahmu tidak pernah cerita tentang pola itu?. " Tanya Eldania, sama-sama penasaran.
Karena sekarang yang menjadi bahan perbincangan utamanya adalah Erich, secara tidak sadar pikiran Eldania tentang Caster langsung terfokus kembali ke Erich.
" Tidak. " Ketusnya, seolah apa yang terjadi beberapa waktu lalu tidak pernah terjadi. Erich kembali mengancingkan kemejanya.
__ADS_1
" Kau memang manusia rendahan, jika saja banyak belajar, kau bisa mengangkat martabat mu walaupun hanya seujung jariku. " Kata Caster kepada Erich sambil menunjukkan jari telunjuknya untuk menjadi contoh.
Tidak tinggal diam, Erich segera menjawabnya tepat di detik itu juga. " Apa kau tidak berpikir, kata-katamu itu sangat menyakiti hati orang. "
Caster menyeringai " Hati?. Pada dasarnya apa yang aku ucapkan bukan berdasarkan dari hati, tapi berdasarkan logika, apa kau paham?. Jika lawan bicaraku menganggap ucapanku menyakiti hatinya, berarti dia tidak lain adalah anj*ng kampung yang kerjanya hanya cuma menggonggong pada majikannya. " jelasnya.
Sebuah untaian kalimat pedas terus menghujani indera pendengarannya. [ Lidahnya benar-benar tajam. ] batin Erich.
[ Dia memang sudah tidak bisa diobati lagi. Kebiasaannnya untuk menjawab dengan hinaan tidak bisa dirubah. ] Eldania pun menggeleng tidak tahu karena bisa-bisanya disekitarnya punya seseorang yang punya kepribadian yang sombong.
Di kala perbualan yang dilakukan dua orang itu, Eldania sendiri justru terbuai dengan pikirannya yang lain selain kepribadian Caster tadi, yaitu tentang kalimat ' Sumpah Darah ' .
[ Tapi sumpah darah ya?. ] Eldania mulai berpikir serius, anehnya dia ingat dengan pola itu dan arti dari pola yang terdapat di tubuh Erich. [ Aku pernah membacanya, di buku milik.....]
DEG.........
".............." Seketika wajahnya menjadi tegang.
Kilatan ingatan yang memang dia ingat dengan jelas di dalam kepalanya, menunjukkan sebuah buku yang pernah di bacanya. Buku yang tak sengaja dia temukan di perpustakaan pribadi milik orang itu. ‘ Devon ‘
Sebuah buku yang menampilkan gambar dengan berbagai pola, lengkap dengan penjelasannya juga.
Namun sayangnya karena tiap kalimat di jelaskan menggunakan huruf asing, Eldania tidak bisa membacanya sama sekali.
Tapi karena dirinya yang sekarang mendiami tubuh orang lain dengan pengetahuannya sekaranga yang membuat dia punya pemahaman dengan kosa kata di dunia ini, maka semua ingatan apa yang tertulis di dalam buku itu langsung Eldania pahami dengan baik.
Tetapi yang menjadi persoalan penting untuk Eldania adalah tentang, " Devon. " Sebuah gumaman lembut terucap begitu saja dari mulutnya Eldania. [ Dari mana dia mendapatkan buku itu?. ] Pikirnya.
Sebenarnya dari awal Eldania tidak begitu mengerti kenapa ada seseorang yang mempunyai rupa, fisik, dan aura yang begitu berbeda dari kebanyakan orang yang sama-sama punya kualitas yang sama. Tapi meski begitu, tetap ada perbedaan yang menonjol pada diri Devon, meski Eldania masih tidak tahu apa itu.
Dari luar memang terlihat sempurna, tapi didalam hati Eldania tetap ada yang mengganjal tentang keberadaan Devon yang terasa punya kesempurnaan diluar nalar.
Caster dan Erich yang menyadari perubahan ekspresi wajah Eldania yang sangat drastis itu hanya terdiam, selepas mendengar satu nama yang terucap dengan nada lirih oleh Dania sendiri.
[ Dia?. ] Caster menjeling ke arah gadis di sebelahnya, setelah mendengar nama dari orang yang pernah Caster lawan saat itu.
[ Tiap kali aku memikirkannya kembali, aku merasa seperti lagi-lagi terjerat olehnya. ] Eldania mengernyitkan matanya. Dia tidak tahan dengan semua kenangan masa lalunya jika sudah menyangkut orang itu, jadi Eldania menggeleng kepalanya dengan cepat untuk membuang segala pikiran itu dengan digantikan apa yang ada di depannya saat ini.
Yang pertama, Erich. Meskipun banyak tanya, dan mengaitkan hal sensitif padanya, Eldania pikir Erich adalah orang yang baik.
Yang kedua, untuk Caster. Walau mempunyai sikap dan punya kepribadian yang sering membuat orang jengkel, tapi semua itu tetap tidak merubah penilaiannya terhadapnya. Dimata Eldania, dia merasa semua tindakannya adalah benar.
[ Ah..pikiran apalagi ini?. Kenapa aku menilai kalau Caster adalah orang yang baik, padahal mulutnya sering mengeluarkan kalimat yang buruk. ] Eldania jadi tidak paham sendiri dengan penilaiannya terhadap satu orang itu.
“ Jadi...apakah tato ini punya efek sesuatu padaku?. “
Pertanyaan dari Erich langsung memecah keheningan diantara mereka bertiga. Sekaligus sukses membuat Eldania menarik segala pikirannya untuk menatap Erich lagi yang sudah berpakaian rapi seperti sedia kala.
“ Karena kau sudah menyadari keberadaan tato itu di tubuhmu, maka itu akan bereaksi. Kau akan merasakan sakit yang menjalar di tubuhmu di waktu-waktu tertentu. “ Jelas Caster.
Erich langsung berekspresi cemas dengan jawaban yang diucapkan oleh Caster.
“ Karena aku baik hati, aku akan memberikanmu ini. Pelajari itu agar otakmu tidak tumpul. “ Ujar Caster, lalu dalam waktu yang sama sebuah buku sudah berada di telapak tangannya setelah munculnya lingkaran cahaya yang muncul di atas telapak tangannya.
Caster kemudian melempar buku berwarna hitam yang memperlihatkan aura berwarna biru, yang merupakan segel dari buku itu kepada Erich yang ada pada jarak dua meter dari tempatnya berdiri.
Erich langsung menangkap buku yang dilempar Caster.
[ Praktis sekali kekuatannya. ] Eldania dalam diam terpesona dengan kekuatan Caster yang mempunyai ciri khas yang sangat menakjubkan di matanya.
[ Kenapa wajahmu terlihat terpesona dengan kekuatan ku yang dulu sudah membuatku mengeluarkan pedang untuk membunuhmu?. ] Caster jadi sakit hati sendiri melihat saat melihat Eldania sesaat tadi memperlihatkan sorotan mata yang terpesona akan sesuatu yang merupakan asal mula dari semua kematiannya dahulu.
“ Ap-..... “
“ Jika sudah selesai, kembalikan itu padaku. Karena semua apa yang aku miliki memang pada akhirnya harus kembali kepadaku. “ Ucap Caster, memotong segala kalimat yang akan Erich ucapkan.
__ADS_1
[ Semua….?. ] Erich menatap buku yang sudah ada di tangannya dengan wajah datarnya. “.................”