Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
15 : Eldania


__ADS_3

[Kenapa aku jadi bertemu dan bertarung dengan fallen lagi disini? Aku kira anak raja iblis itu sudah membawa semua pasukannya, tapi fallen ini justru mencariku secara langsung untuk bertarung denganku. Dia terlihat bukan seperti memiliki dendam, tapi ingin merasakan kesenangan untuk bertarung. Berarti ada kemungkinan, bahwa bukan hanya mereka bertiga saja.] Eldania akhirnya terus berada di titik untuk terus mencurigai semua kebetulan ini.


Meski pada akhirnya Eldania dituntut untuk bertarung melawan makhluk itu lagi. 


“Hahaha…...manusia yang disebelah sana.“ Menunjuk ke arah Evan yang berdiri di samping mayat monster. “Kau pasti berpikir kenapa para monster terus menyerang manusia. Itu karena manusia adalah makhluk yang menyenangkan saat di buat kacau balau.“


“Kacau balau?“ Tanya Evan.


“Ya….melihat kalian tersiksa, dipenuhi rasa putus asa, dan bermodalkan tekad untuk terus bertahan hidup, menjadi manusia semakin berevolusi dari waktu ke waktu, justru itu memberikan kami kesenangan. Dan menjadi arahan untuk kami semua tetap hidup untuk menghancurkan kalian!“ Jelas monster ini, lalu ke sepuluh kukunya yang tajam itu berubah menjadi lebih panjang. "Apa kau tahu makhluk rendahan. Meski kami mati, tapi keberadaan kami tetap ada untuk mengusik kehidupan kalian."


Dia berlari cepat ke arah Evan, mengayunkan tangan kanannya untuk menggapai tubuh kecil dari sebuah makhluk manusia. Evan segera mundur ke belakang.


“Jadi, mari kita nikmati pertarungan yang sebenarnya.“ Dengan senyuman yang kian mengembang, Fallen ini langsung menghindar ke samping kanan setelah mengetahui dari belakang gadis itu menyerangnya secara cepat.


CTANG…….


Kuku panjangnya saling menyerempet dengan tombak besi yang di gunakan oleh Dania.


[Menikmati ya? Tapi bagiku kau membuang waktuku.] Kata hati Eldania. Dia tidak begitu ingin waktunya dibuang hanya dengan lawan satu makhluk besar ini. Dia memang pada dasarnya tidak begitu punya waktu untuk sekedar melawan Fallen saja, karena dia ingin segera mencari yang lainnya. [Jadi nikmati saja kematianmu.] 


Ksatria Evan kembali bertarung karena sudah mengalahkan tiga monster yang lainnya, maka hal itu membuatnya memiliki kesempatan untuk membantu nona Eld itu.


Setidaknya itu yang diharapkan, yaitu membantu gadis ini bertarung melawan Fallen.


Evan menyerang monster berkepala singa itu dari samping kiri, sedangkan Dania dari samping kanan. Dua senjata itu saling beradu, pedang dan tombak saling membentur kuku tajam bagai besi milik Fallen itu. 


CTANGG……..


[Kukunya keras!] Evan akhirnya tahu itu bukan sekedar kuku biasa. Tapi dengan besarnya tubuh fallen, juga kemampuan dan tekniknya dalam bertarung, apakah Evan dapat mengalahkannya? Atau lebih tepatnya apakah. [Kami berdua bisa mengalahkan makhluk ini?]

__ADS_1


[Sudah pasti dia punya tubuh yang keras seperti batu.] Dania berpikir seperti itu karena sudah pernah mengalahkan Fallen sekali. Jadi sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana cara mudah untuk mengalahkannya.


“Kali ini pasti akan menyenangkan!“ Fallen ini berteriak, lalu kembali beraksi dengan pergi melesat ke arah dimana Dania berdiri.


Dania yang sudah bersiap, ikut berlari ke depan dan hendak beradu senjata dengan Fallen itu. Tombak yang Eldania pegang dia arahkan ke depan, kemudian kedua tangan yang mencengkram gagang besi itu, diam-diam dia menanamkan sedikit kekuatan suci. Dia lakukan sebab itulah kelemahan dari makhluk besar itu. 


“Hyaah….!“ Dari belakang Dania, Evan langsung melompat ke atas berniat menyerang fallen itu dari atas dengan pedang yang dia miliki. Tetapi Fallen langsung menangkap ujung pedang itu dengan kedua jarinya.


Di kesempatan itulah Dania menancapkan tombaknya ke tanah sebagai tumpuan untuk tubuhnya, karena dia langsung mengayunkan tubuhnya untuk menendang pinggang Fallen dengan kakinya.


BHUAKK……


“Akhh.....!” melirik ke samping bawah, pinggangnya benar-benar ditendang. Tapi dia tetap menahan rasa sakit itu. Dan karena kebetulan yang sangat pas kedua jarinya yang berhasil menahan pedang Evan, maka Fallen ini segera ayunkan pedang Evan tepat menuju Dania, yang secara otomatis membuat Evan ikut terlempar juga.


Namun tepat di detik dimana Dania mengayunkan tubuhnya untuk menendang pinggang fallen itu, di saat itu pula tombak yang awalnya tertancap di tanah langsung terbawa oleh tangannya lagi dan posisinya seketika berubah tepat di belakang si Fallen.


Tidak sampai disitu saja, karena senjata yang masih dipegang langsung dihantam tepat ke arah kepala Fallen.


Ujung tombaknya sebenarnya hampir mengenai sasaran, tetapi terburu dihalau oleh tangan kanan dari Fallen ini sehingga serangannya tidak membuahkan hasil.


Evan yang hampir saja menghantam gadis itu akhirnya sudah berhasil mendarat dan langsung merunduk sebelum cakar monster itu mencabik tubuhnya.


Monster itu dalam sekejap mata tangan kirinya kembali diayunkan dari kiri ke kanan dan sasarannya untuk meninju perempuan itu.


Eldania yang tidak ingin terkena bogem mentah, segera mengambil satu-satunya senjata yang dia bawa.


Tidak ada yang lebih bagus ketimbang menembaknya. Maka dari itu ketika tangan kanannya masih memegang tombak, tangan kirinya digunakan untuk mengambil pistol yang diletakkan di pinggang kanannya, lalu.


BUGKHH……..

__ADS_1


Kepalan tangan beradu dengan ujung dari moncong pistol, lalu di detik yang sama pula, Eldania akhirnya menarik pemicunya. 


“.............! Akhh…!“ Teriak sang Fallen, mendapatkan tangan kirinya terasa sangat sakit bersamaan dengan keluarnya darah merah dan kekuatannya yang terasa perlahan berangsur-angsur melemah.


Dan Eldania secepatnya langsung menaruh kembali pistolnya tepat di saat dia berhasil mendarat di atas tanah dengan selamat.


Di kesempatan itu pula lah Eldania mengambil tumpuan hingga akhirnya kembali melesat ke arah makhluk tinggi besar itu dengan membawa tombaknya. 


Jari panjang dan tajamnya hendak menghalangi jalur serangan tombaknya, tetapi Eldania yang sudah tahu bagaimana cara menangani fallen ini, memanfaatkan ujung tombaknya untuk menepis tangan besar itu sekuat tenaga. Setelah itu tombak yang dia bawa benar-benar dilempar ke arah monster itu hingga pada akhirnya meskipun tombaknya berhasil ditangkap, tetapi tidak dengan belati yang sudah berhasil menancap tepat di lehernya.


Tiga serangan dari tiga senjata yang sudah disematkan kekuatan suci miliknya, sukses membawanya dalam kemenangan.


BRUKHH…….


Dan hasil akhir dari pertarungan mereka adalah dengan tumbangnya kesemua Fallen ini. 


Sedangkan Evan, dia berhasil menemukan gadis itu sedang menoleh ke arahnya yang justru bertanya.


“Apa sir Evan terluka?“ tanyanya. 


“Harusnya saya yang tanya, apa anda baik-baik saja?“ Ksatria Evan perlahan berdiri dan menghadap ke arah Eldania.


Dia menatap sosok gadis itu dari atas sampai bawah. Tidak terlihat adanya pakaiannya kotor atau luka, padahal beberapa waktu yang lalu gadis itu sudah berhasil menghantam pohon dengan sangat keras.


Setelah puas menatapnya, Evan beralih memandang monster fallen yang sudah tergeletak di tanah itu. 


Pisau yang menancap ke leher makhluk itu tiba-tiba langsung keluar dan kembali ke tangan gadis itu. 


“Bagaimana anda bisa melakukannya?“ satu pertanyaan pergi menghampiri Eldania.

__ADS_1


Lalu Eldania sendiri akhirnya memutar tubuhnya ke belakang dan menghadap Evan. Kemudian Eldania langsung mengatupkan mulutnya, dan…..


__ADS_2