
Di suatu pagi hari.
Sepasang mata Ruby mulai terbuka, awalnya mata itu hanya terlihat warna gelap karena masih dalam keadaan setengah sadar. Tapi seolah otaknya sudah menemukan memori yang dia sempat lupakan, dia buru-buru bangun kemudian turun dari kasur.
Langkah kakinya terlihat buru-buru masuk kedalam kamar mandi, lalu suara air dari shower menandakan kalau dia sedang melakukan ritual paginya yaitu mandi.
".................. " dibawa alat yang membuat dirinya tersiram oleh air dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki, wajah datarnya terus menatap dinding di depannya. [ Kemarin……., putra mahkota itu, kenapa wajahnya sangat berharap bisa bertemu denganku lagi di hari ulang tahunnya?. Dia orang yang aneh. ]
Sampai tidak perlu butuh waktu yang lama, dia akhirnya keluar dari kamar mandi hanya dengan bermodalkan jubah mandi berwarna putih yang membalut tubuhnya.
10 menit kemudian Eldania sudah selesai bersiap untuk berangkat. Menikmati sensasi menghirup udara pagi selagi berjalan menuju Academy adalah hal yang menyenangkan, apa pagi jika masih dalam kondisi sepi.
Namun sebelum ia lakukan tentu saja harus mengisi perutnya dengan sarapan pagi. Kewajiban sebagai makhluk hidup yang ingin menjalankan kesehariannya.
Asrama, baik itu untuk perempuan atau laki-laki, tempat yang disediakan dari Academy adalah suatu keadaan yang berlangsung seperti makan besar di dalam istana kerajaan.
Itulah yang terjadi di ruangan besar dengan dua belas meja panjang berjejer menjadi beberapa baris dan di tengah-tengahnya terbentang karpet merah mewah seperti aula kerajaan.
Hanya saja yang menjadi sebuah perbedaan, di ujung ruang makan ada satu kaca patri lebar 8 meter dengan tinggi 12 meter terpasang dengan megah, membuat kilauan warna warni masuk kedalam ruang makan yang dihias dengan beberapa lampu gantung yang cantik.
Beberapa diantara yang bangunannya terpasang kaca patri itu, kebanyakan mengisahkan sebuah rangkaian kejadian di masa lalu atau pun hanya sebagai hiasan dengan berbagai gambar. Bisa sosok dewa, atau pun kejadian tak terlupakan pada seorang pahlawan kepada iblis, maka akan terpajang di kaca patri tersebut.
Tapi yang tergambar di kaca patri besar itu, adalah dua orang yang saling berhadapan dengan dua pedang saling tertuju ke arah lawannya, sehingga menghasilkan bentuk seperti tanda silang.
"........................." Sesaat saat Eldania masuk kedalam ruang makan, yang dia lihat pertama kali selalunya adalah kaca itu. Entah apa yang terjadi, tiap kali datang, gambaran yang terbentuk di dalam kaca patri itu, terus menarik perhatiannya.
Tapi karena situasinya bercampur dengan ratusan senior, maka sekarang ruang tersebut menjadi tempat paling ramai.
Melirik ke arah kursi yang kebetulan masih kosong, Dania langsung menarik satu kursi itu untuk dia duduki. Tapi siapa yang menyangka, bahwa di paginya kali ini, dia langsung di hadapi dengan orang lain.
" Sebaiknya kamu minggir, ini kursiku. " saat Dania hendak duduk, dia langsung di dahului oleh seorang perempuan berambut orange ini. Manusia bangsawan dari suatu tempat.
Dania beralih ke kursi sebelahnya, namun lagi-lagi kursinya direbut orang lain lagi.
" Siapa cepat dia dapat. " di sambar oleh satu orang lagi, lalu langsung duduk tanpa memperhatikan siapa orang yang sudah menarik kursi itu.
__ADS_1
Satu lagi, saat sudah menarik kursi yang didapatkan, justru lagi-lagi hal yang sama terus menerus terulang. Mereka bertiga berkomplot untuk mengusirnya.
" Terima kasih, sudah memberikan kursi untukku. " dengan sombongnya, perempuan ini duduk merebut kursi yang sudah ditarik Dania.
[ Pojok. ] ada satu tempat lagi yaitu di barisan paling pinggir masih kosong, Dania beralih ke satu kursi tersebut, namun sayangnya, sekali lagi dia kalah sampai. Jadi dia hanya mendapatkan tangannya menggapai angin kosong saja.
" Kenapa kamu masih belum duduk?. " tanya satu wanita ini, seorang bibi yang sedang menyajikan makanan pada tiap murid.
" Kelihatannya semua kursi sudah penuh semua. " jawab Dania melihat semua kursi sudah diisi. Dia sejujurnya tidak begitu peduli mau dapat tempat duduk atau tidak, tapi karena ada yang bertanya kepadanya, jadi dia hanya menjawab seadanya.
" Hah?, bagaimana bisa?. Harusnya lebih satu kan?. " karena sudah menurut jumlah penghuni yang seharusnya, maka sudah pasti masih tersisa satu, kecuali setelah bibi ini menemukan satu gadis berambut orange itu membawa boneka kelincinya dan duduk di sebelahnya.
" Nona Berna, kursi itu untuk duduk orang bukan boneka " peringat bibi ini kepada gadis itu.
Gadis bernama Berna ini langsung menjawab. " Tapi sayangnya, kelinciku ingin duduk disini. Ya kan?. " dan boneka kelinci berwarna abu-abu itu mengangguk iya sambil menatap kearah tuannya.
[ Bonekanya bisa dikendalikan. ] Dania berpikir gadis bernama Berna itu bisa membuat boneka yang seharusnya merupakan benda mati, sekarang berubah menjadi benda hidup.
Bibi tersebut hanya menatap kasihan namun juga tidak bisa membangkang dari pekerjaannya agar tidak memihak satu orang seperti Dania.
" Sudahlah, dimanapun asal bisa makan aku tidak begitu mempermasalahkannya. " ucap Dania, kepada bibi tersebut.
[ Perasaan aku tidak pernah menyinggung anak ini, tapi dilihat dari sorotan matanya, aku tahu itu adalah tatapan benci. ] Dania berjalan menuju sebuah undakan tangga, kemudian dia duduk disitu sambil memangku piring yang sudah dia dapatkan dari bibi barusan.
Ratusan pasang mata menatap Dania dalam diam, meski jaraknya hanya 10 meter, namun aura tatapan mereka tetap saja menusuk wajahnya.
[ Mereka memang tidak ada pekerjaan lain apa?. Tinggal makan saja kenapa masih punya waktu melihat orang lain makan. ] Dania yang tidak peduli lagi dengan tatapan mereka, dia tetap langsung menikmati tiap santapan makanan yang sedang dia makan.
[ Kita lihat, kau pasti akan tersiksa dengan rasanya. ] batin perempuan pemilik dari nama Berna ini, sambil tersenyum sinis melihat perempuan yang sudah dia usir tadi akan makan makanannya.
" Nyamm......Uhuk.. " Matanya seketika membulat lebar, daging ayam yang dimakannya ada bubuk lada yang cukup banyak dan membuatnya jadi tersedak dan merasakan pedas yang cukup membuat tenggorokannya seperti terbakar.
Berna diam-diam menyunggingkan senyuman, bahwa rencananya untuk membuat perempuan miskin itu kepedasan karena dia sudah menaburkan lada dalam jumlah cukup banyak sebelum bibi itu memberikan piring makanan kepada Dania.
" Hihi....dia serasi sekali dengan statusnya. " tertawa mencibir melihat ada satu orang makan namun di atas lantai. Siapapun akan bangga setelah melihat korbannya terjebak dalam kejahilannya.
__ADS_1
" Ukh....... " keringat kepedasan mulai meluncur dari dahinya.
Dania yang masih menatap makananya yang ada di piringnya, dalam hatinya dia merasa sayang jika makananya itu dia buang, bagaimanapun dia bukanlah tipe orang yang akan membuang-buang makanan, maka dari itu, sekalipun dalam balutan rasa yang cukup pedas, dia tetap memakannya.
[ Kau kira aku takut makan pedas?. ] Batin Dania, mengutuk perempuan bernama Berna, karena rencana yang diberikannya sudah gagal total.
[ Apa?!..., dia tidak tersiksa dengan pedasnya itu?. ] Berna merasa tidak puas melihat Dania ternyata masih bisa menikmati makanan nya padahal sudah diberi lada yang banyak, bahkan sampai sekarang dia masih melihatnya sampai piring yang ada di tangan Dania sudah kosong. [ Padahal lada yang aku tabur itu bukanlah bubuk lada sembarangan. Lada yang aku gunakan bisa membuat tenggorokannya seperti terbakar, dan berakhir dengan rusaknya pita suaranya, tapi dia tidak terkena efeknya?. ]
Perempuan ini bernama Berna kleus, dia adalah seorang bangsawan dari keluarga Marquez Kleus. Sejak ia melihat manusia dari golongan rakyat biasa itu bisa bertarung dengan bagus bahkan melawan seorang laki-laki dari ras iblis di ujian masuk itu, Berna merasa tersaingi dengan kemampuannya.
Apa lagi sebagai anak dari keturunan Marques Kleus, Berna punya pendirian untuk bisa menjadi pemimpin di pasukannya.
Namun, tidak ada yang membuatnya puas karena pria bisa kalah dari seorang perempuan. Tapi setelah melihat seorang perempuan bernama Dania bisa mengalahkan iblis, Berna merasa kalau Dania itu adalah saingan ketatnya.
Apa lagi...
Berna sebenarnya iri atau bisa disebut cemburu, dia merasa cemburu melihat Dania dekat dengan iblis bernama Azel yang tampan serta kuat itu, dan murid baru bernama Caster, lalu dari pada itu, Berna melihat Arden mulai mendekati Dania.
Semua rasa cemburu itu pun akhirnya terus meluap, yang pada akhirnya membuat sebuah dendam kecil di dalam hatinya.
[ Padahal apa cantiknya dia?. Aku lebih cantik daripada dia, dan soal sihir, aku dengar dia hanya mendapatkan jumlah angka sedikit di atas rata-rata, berarti aku lebih baik ketimbang dia. ] otaknya Berna mulai membanding-bandingkan antara dirinya dengan Dania. Dia merasa apa yang ada dalam dirinya jauh lebih baik ketimbag Eldania itu.
Sebuah rasa cemburu yang menghasilkan sebuah dendam.
Maka bertambahlah musuh bagi gadis bernama Eldania ini.
[ Satu saja belum selesai, aku sudah menarik musuh baru lagi?. ] Batin Eldania, selagi menyantap satu suapan terakhirnya. [ Bubuk lada ini mengandung racun. Efeknya tidak sampai menyebabkan kematian, tapi cukup merepotkan jika aku terpengaruh dengan efeknya. ]
Meski tahu apa yang ada dalam kandungan apa yang sedang dia makan memiliki sedikit racun, dia tetap memakannya demi memperlihatkan bahwa dia tidak akan terpengaruh dengan racun ringan seperti itu.
[ Kau sendiri yang mulai mengusikku. Jadi aku tunggu apa permainanmu selanjutnya. Berna. ] Dania diam-diam menjeling ke arah Berna.
Dan mulai dari sekarang, mau tidak mau dia memiliki satu kewaspadaan lagi setelah insiden dua hari yang lalu tentang iblis yang menjadi gila, juga dua tatapan kebencian yang dia dapatkan kemarin.
Dia sudah punya beberapa musuh, tapi dia akhirnya dia mempunyai musuh yang baru.
__ADS_1
Padahal Eldania, dia adalah orang yang tidak melakukan apa pun, sampai pada akhirnya mendadak punya musuh baru.