Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
100 : Eldania


__ADS_3

Berdiri di tengah di antara hamparan mayat yang tergeletak di lantai, wanita ini kemudian menjeling ke arah samping belakang.


Dimana Liam dan kedua anak yang dibawa oleh pria itu, sudah pergi masuk ke dalam gedung lewat pintu darurat.


Mereka bertiga pergi ke atap gedung, dimana disana ada helikopter yang menunggunya, untuk membawa mereka bertiga.


Sedangkan dirinya, entah akan ikut atau tidak, tergantung situasi yang ada.


Jika masih saja ada musuh yang datang untuk menyerang mereka, maka Alinda memilih untuk ditinggal.


"....................." Alinda terus melirik ke belakang, sampai akhirnya dia menghela nafas pelan. "Hahh~ Liam” Panggil Alinda dengan nada lirih. “Aku tahu alasanmu tiba-tiba ikut dalam misi ini. Walaupun aku tidak bertanya, tapi aku sudah tahu. Kalau dua anak itu memang anakmu. Itulah kenapa aku memprioritaskan kalian bertiga untuk pergi dari sini lebih dulu." gumam Alinda dengan nada yang begitu lirih, namun suara miliknya itu sebenarnya masih bisa didengar oleh Ethan dan Nathan yang keberadaannya masih berdiri di samping Alinda.


"Jadi dia benar-benar ayah dari dua anak itu?!" Teriak Nathan, kejutan lagi untuk sebuah pemandangan dan dua anak kembar yang kenyataannya memang sangat mirip dengan mereka, ternyata benar-benar anak dari pria muda yang terlihat seperti baru berumur 20 tahunan itu.


Ethan yang tertarik dengan reaksi saudaranya itu, membuatnya angkat bicara. "Apa kau sedang penasaran kapan dia membuatnya?"


Nathan langsung terperangah mendengar ucapannya Ethan yang sedemikian rupa.


Dia tahu, saudaranya ini bukanlah tipe yang bisa bercanda, tapi tidak dengan yang saat ini. Karena sekarang entah dari mana itu berasal, kakaknya sekarang sudah punya kemampuan untuk bercanda.


"Kau yang penasaran! Kenapa tanya itu padaku?" Marah Nathan, tidak mengerti lagi kenapa kakaknya bisa punya pikiran untuk bertanya seperti itu kepadanya.


"Kenapa tidak?" Meski masih memasang wajah datar, tapi senyuman kecil milik Ethan yang sempat timbul tadi menjadi penjelas kalau Ethan sedang berbasa-basi dengan cara menggoda saudaranya itu.

__ADS_1


Ethan menyukai reaksi adiknya yang pemarah, seperti kucing jantan yang kebelet kawin.


"Dari umurnya yang terlihat seumuran dengan kita, tapi sudah punya dua anak yang sudah sebesar itu. Kau benar-benar tidak punya pemikiran kapan kedua anak itu dibuat?”


"Berhenti-"


"Tapi apakah wanita itu memang benar-benar ibunya?" Kata Ethan lagi.


"Kau bukannya sudah mendengarnya tadi? Dia masih 19 tahun, bagaimana mungkin 6 tahun yang lalu saat masih berumur 13 tahun dia sudah berhubungan deng-" Seketika Nathan terdiam. Dia baru sadar, baru saja dirinya termakan pancingannya Ethan.


Nathan langsung melirik Ethan dengan tatapan tajam.


".............." Ethan hanya tersenyum simpul, melihat reaksi Nathan yang mudah terpancing emosi itu.


Tapi langsung Nathan tahan setelah sebuah suara, berhasil menarik perhatian mereka bertiga.


"Hei wanita, sepertinya kau melupakan ini." tiba-tiba suara yang berasal dari pria yang tadi Alinda ajak bicara, berhasil membuat Alinda melihat apa yang sedang di pegang di tangan kanan orang itu. Remot kecil dengan satu tombol merah menjadi titik fokus utamanya. "Kau kira aku tidak mempersiapkan ini?"


Itu adalah sebuah detonator, remot kontrol untuk mengendalikan bom!


Ketika mendongak ke atas, di antara pipa panjang yang merupakan saluran air, di balik barisan pipa itu sudah ada beberapa bom yang terikat di sana.


"Mereka sudah mempersiapkan semua ini hanya karena dua anak itu?" Nathan kembali ngoceh, setelah melihat keberadaan kotak hitam yang menempel di berbagai pipa besar di atasnya itu, ternyata ada lampu kecil yang sudah berkelap-kelip.

__ADS_1


Sekalipun dia tidak bisa melakukan apapun terhadap situasi yang sedang di lihatnya itu, tapi Ethan benar-benar merasa ingin membunuh pria yang terbaring sekarat di lantai itu, sebab sudah menggunakan cara licik, tatkala melihat seorang perempuan sedang bersusah payah menyelamatkan dua anak kembar tadi dan si pria bernama Liam tadi, akan hancur berantakan, karena adanya alat peledak.


"Aku sudah menjinakkan semua bomnya." jawab Alinda dengan begitu lugas.


"Wah! Bagus juga. Tidak seperti yang terlihat, ternyata dia jeli untuk menjinakkan semua bom nya." tiba-tiba Nathan memuji setelah mendengar ucapannya Alinda, yang ternyata lebih cekatan.


"Hahaha! Kau memang cekatan untuk ukuran gadis di usia sepertimu, tapi apakah kau tahu, aku tidak hanya memasang bom di sini, tapi juga di tempat lain." dengan sebuah seringaian licik di bibirnya, sekalipun tubuhnya sudah terluka parah akibat beberapa tembakan yang sudah bersarang di dalam tubuhnya, ternyata tidak membuat pria ini langsung mati begitu saja.


'Sangat tersiksa dan menyakitkan.'


Sepatah kata untuk kondisi yang masih bisa sadar, di bawah tekanan penderitaan seperti itu.


"..................!" Ethan dan Nathan yang tercengang dengan penuturan dari pria itu, langsung mendongak ke atas.


"Jangan-jangan! Drone?!" Alinda langsung mengangkat kembali senjatanya, dan menembak tepat ke arah tangan itu sebelum menekan tombol detonator.


Tapi Alinda terlambat.


KLIK....


DORR.......!


Alinda justru kalah cepat dengan ujung jari yang sudah menekan tombol detonator itu. Dan tepat di detik berikutnya, suara ledakan berhasil mengguncang gedung itu.

__ADS_1


DHUARRR..........!


__ADS_2