
" Hoamhh....... " tangannya digunakan untuk menutup mulutnya yang sempat terbuka lebar karena menguap.
Sudut matanya ada butiran air mata yang berhenti di sudut matanya, antara orang ini kebanyakan kerja atau memang begadang semalam, gadis ini sebenarnya juga tidak tahu. Karena waktu seperti berjalan lebih cepat dari apa yang dibayangkan.
Terakhir yang diingatnya adalah duduk di atas kasur dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding, tapi tahu-tahu matahari sudah terik dan posisinya sudah di atas.
Lalu dari siang menjelang sore, banyak anak kecil sedang bermain di taman kota Dilshade. Hari minggu untuk bersama keluarga sering dirayakan di tempat yang menyenangkan seperti taman kota, restoran keluarga, atau apa pun itu. Meski sudah lewat dari siang hari, suasananya masih terasa enak karena akhirnya matahari itu terhalangi oleh gumpalan awan.
Kesampingkan hal yang berbau keluarga, karena sejatinya Eldania tidak pernah merasakan keluarga yang sebenarnya, ia jadi sedikit iri dengan mereka?
Tidak juga, sebab untuk beberapa alasan dia bisa menikmati yang namanya kehangatan dari sebuah keluarga sekalipun singkat.
Hari minggu pagi ini ia habiskan hanya untuk menggerakkan kaki sekejap dengan berjalan menyusuri kota Dilshade dan mulai terbawa arus suasana hatinya yang rindu akan taman hijau.
Dan semakin siang, dia seperti biasa akan tiduran di bangku taman, sampai jam dua lebih. Dan di saat itu, dia sudah di suguhkan dengan berbagai acara reuni keluarga yang berkumpul di area taman.
"Apa kamu mau ini? " menawarkan sebuah permen kepada anaknya yang terlihat lelah sebab puas bermain dengan kakaknya?
Itu karena di mata Eldania, mereka berdua seperti kakak beradik.
Eldania mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya karena ia tak tahu harus berkata apa lagi sebab di depannya tiba-tiba saja ada seekor tupai tergeletak di atas rumput.
Dengan kebaikan hatinya bagai malaikat, Eldania mengulurkan tangannya untuk memungut tupai mati?
" ..........?" Eldania sendiri penasaran kenapa tupai hitam tersebut tergeletak di bawah. Dia mengusap perut tupai itu dengan jari telunjuknya. "Kalau sekali remas, tupai ini pasti mati." gumam Eldania di saat tangannya sekarang sudah menggenggam tupai kecil yang sedang dalam kondisi sekarat dengan ekspresi wajah dingin, namun senyumannya seperti senyuman iblis.
Hanya mendengar bualan itu saja, tupai itu membuka matanya lebar-lebar.
CITT...CIT.. CIT! "Dia mau meremasku?! Apa salahku?!" dengan ekspresi wajah terkejutnya.
Niatnya ingin memberontak agar terlepas dari tangan manusia itu, tapi satu hal yang menjadi masalahnya adalah salah satu kakinya patah.
"Dimana yang patah?" meski bertanya begitu, Eldania mulai menjarah tubuh mungil si tupai dengan wajah senangnya, ia mulai menekan-nekan tiap bagian dari tubuh kecil itu hingga suara mungil kembali terdengar.
CIITT..! : "SAKIT!" teriak si tupai, namun hanya bisa pasrah karena sakit di salah satu kakinya membuat tupai ini tidak bisa memberontak.
Senang diatas penderitaan hewan, itulah yang bisa dijadikan pemandangan pertama di mata para pemandang dari orang lewat.
Salah satu anak laki-laki yang kebetulan lewat sempat berhenti sebentar saat melihat pemandangan menarik itu.
"Lihat ibu, kakak itu sedang bermain dengan tupai." tutur bocah kecil itu sambil menarik tangan ibunya yang sedang menggandeng tangannya. "Ibu! Aku ingin main tupai." pinta anak ini, menuntut kepada ibunya agar bisa bermain dengan tupai juga.
"Nak, disini cuma ada tupai liar." jawab sang ibu.
"Tapi kakak disitu bisa main tupai." tidak terima, karena dirinya tidak bisa bermain dengan tupai, padahal sangat jelas kalau kakak perempuan yang dia lihat bisa bermain dengan tupai dengan mudah.
"Ayo, jadi makan di restoran atau mau main dengan tupai?" pujuk sang ibu, memberikan sebuah pilihan yang jelas, mana yang lebih menguntungkan.
KRUYUK~
__ADS_1
Momennya tidak bisa didukung, saat ingin meminta ibunya untuk bisa bermain dengan tupai, mendengar kata restoran dan perut yang sudah protes minta di isi, akhirnya membuat anak kecil ini memilih untuk pergi ke restoran.
"M-makan." jawab anak itu dengan nada sedihnya.
Dengan begitu kedua orang tersebut akhirnya berlalu meninggalkan momen dimana Eldania masih ribut dengan tupai kecil itu.
[Aku jarang pegang hewan sekecil ini, tapi lumayan juga.] Hatinya terasa senang saat mengelus hewan kecil seperti tupai, dari atas kepala hingga ekor, Eldania pegang semua dan di elus-elus lalu dipencet-pencet, bahkan sampai mengintip gigi si kartu AS milik tupai, cukup membuat mood bahagianya bertambah.
TEPLUK!
"Aduh!" Eldania segera mengelus pelipisnya yang sakit akibat terkena timpuk dari bunga pohon cemara.
Siapa pelaku utamanya membuat Eldania menoleh ke samping kiri, dan ia akhirnya menemukan penjahat kecil yang sudah membuat mainan kecilnya kabur.
Si keluarga tupai lah pelakunya, dengan alasan sebagai keluarga, mereka melakukannya untuk melindungi salah satu di antara mereka yang sedang terkena musibah, itulah alasan mereka menimpuk Eldania dengan bunga cemara.
"Hahhh~" Eldania mendesah kecil karena mainannya sudah kabur. Eldania mulai mengusap tengkuknya sambil melanjutkan langkah kakinya ke suatu tempat. [Membosankan. Padahal lagi asyik bisa memegang tupai.] Pikirnya.
Awalnya Eldania hanya ingin bersantai di hari minggu tanpa kegiatan apapun, namun apa jadinya ketika pikiran yang baru saja berkata membosankan, akan mendatangkan hal tak terduga lainnya.
Dari semak yang letaknya persis berada di belakangnya, terdengar bunyi yang membuat orang lain pasti merasa curiga dengan keberadaan di balik semak-semak tersebut.
"Paling cuma kuc-" Kalimatnya seketika menghilang ketika Eldania mendapatkan sosok yang keluar dari semak-semak yaitu bayangan cepat melaju ke arahnya.
"Aku menemukanmu!" teriaknya.
Dari segi suara dan wajahnya, Eldania sangat tahu siapa orang ang tiba-tiba muncul ini, tetapi yang membuatnya tidak mengerti adalah perubahan penampilan yang cukup mengerikan dari pria bernama Zen.
"Bagaimana manusia sepertimu, bisa mengalahkanku?!" Teriak pria ini.
Eldania membelalakkan matanya, sosok seram dari orang di depannya ini seakan dirinya sedang melihat zombie. Mata berwarna merah menyala, lalu tiap berjalan, tubuhnya jelas terlihat kaku seperti robot, ada api biru kehitam hitam keluar dari kedua tangannya.
BUARR......
BUARR....
Eldania diserang oleh api tersebut, namun kenyataan yang ada di depan matanya bahwa sosok pria seperti zombie itu adalah Zen.
Eldania tidak salah mengingat, tapi apa benar apa yang dia lihat sekarang ini benar-benar masih seorang iblis atau sudah berubah menjadi Zombie?
DUARR......
Satu bola api datang lagi dan itu mengarah pada satu orang anak perempuan yang baru saja tersandung dan akhirnya terjatuh.
[Dia sengaja? Anak itu bisa mati!] Eldania langsung mengambil langkah besar. Karena memang dirinya masih amatir dalam penggunaan sihir apalagi sihir pelindung, ia tidak bisa mempertaruhkan dengan menggunakan sihir itu dalam jarak jauh.
Gadis kecil ini, secara naluri berteriak."Ahh!" berteriak ketakutan, karena ada bola api datang ke arahnya, matanya refleks tertutup karena ketakutannya sendiri.
PRAZHHH......
__ADS_1
Tidak terjadi apa-apa, akhirnya anak ini perlahan membuka matanya. Seseorang dengan tubuh tinggi dan pedang yang dibawanya membuat gadis kecil ini terkejut. Ada yang mau melindungi dirinya, meski dia hanyalah seorang anak gelandangan yang kebetulan lewat.
CLINGG......
Kilauan dari pedangnya membuat gadis itu terpukau.
Beberapa detik kemudian, akhirnya gadis kecil ini melihat wajah penolongnya itu menoleh ke arahnya, yaitu seorang perempuan. Seorang yang tinggi, rambut coklat temaram itu lantas memantulkan sinar yang mengagumkan karena memiliki rambut yang bagus, mata merah ruby seperti kristal permata yang langka, dan dia adalah seorang perempuan yang memegang pedang yang juga sama-sama cantik.
[Cantiknya.] gadis ini melongo dengan perwujudan pahlawannya di depannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Eldania kepada gadis kecil tersebut.
Gadis tersebut mengangguk iya.
"Kalau begitu cepat pergi dari sini." perintah Eldania setelah menghalangi bola api tadi daripada membakar gadis tak bersalah di belakangnya itu.
"Bagaimana dengan kakak cantik?" tanya anak perempuan ini, dengan raut wajah khawatir.
[Sejak kapan ada orang yang memanggilku cantik selain dari mulut kecil dari bocah ini?] dan Eldania segera menjawab. "Aku tidak masalah, jika masih ingin hidup sebaiknya kau cepatlah lari dari sini. Karena aku akan kesulitan melawannya, jika ada orang disekitarku." tambahnya.
"I-iya." awalnya hidup terasa tidak ada gunanya dengan statusnya yaitu seorang pengemis. Tapi melihat kakak perempuan ini adalah pahlawannya, ia jadi ingin terus hidup agar bisa kuat dan menjadi sepertinya.
Akhirnya menyingkirkan masalah seorang warga sipil dari terlibat masalah sudah terselesaikan, sekarang yang harus Eldania lakukan membasmi satu masalah ini.
Kenapa dan bagaimana seorang iblis jadi iblis gila seperti itu?
Eldania mengkhawatirkan hal ini, meski bergerak cukup lambat, namun aura dan 'mana' yang dikumpulkannya untuk menyerang sangatlah besar.
‘Mana’ adalah kekuatan yang ada di dalam tubuh sehingga bisa mengeluarkan sebuah kekuatan untuk merubahnya menjadi sebuah fenomena yang disebut sebagai sihir.
Hanya saja, iblis gila itu seperti bom waktu yang sedang berjalan untuk menghancurkan semua apa yang ada di sekitarnya.
Apa yang harus dilakukannya?
[Di tempat umum.] Eldania seolah sedang terjerat dengan sebuah keterikatan yang tidak bisa dijelaskan.
Dia benar-benar tidak ingin bertarung di muka umum seperti itu, tetapi jika di biarkan, justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
[Apa lagi, sepertinya dia memang datang untukku.] Pikir Eldania lagi.
Dengan kata lain, Zen datang hanya untuk memburunya. Lalu, sama saja dengan dia sendiri yang sedang membawa masalah untuk penduduk di sini.
Karena itu, Eldania tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja.
[Kau ingin melawanku lagi di tempat umum seperti ini? Kau akan kalah untuk kedua kalinya.] Pikir Eldania.
Tangannya yang sudah memegang pedang pemberian Everst itu langsung Eldania ayunkan ke samping kanan bawah. Dia kemudian mengangkatnya, hingga sejajar dengan samping telinganya.
[Zen, tidak peduli kau itu siapa, aku akan melawan siapapun yang menghalangiku bersantai seharian!] Dan dalam seketika, Eldania pergi melesat ke arah Zen yang kini sudah mengumbar senyuman lebarnya.
__ADS_1