Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
102 : Eldania


__ADS_3

[Menyukaiku?] Detik hati Everst.


“Kau satu-satunya burung yang aku sukai, Everst.” Tutur gadis ini lagi.


Membuat Everst langsung menghilangkan perasaan terkejutnya itu, karena yang wanita ini sukai adalah karena dirinya yang sedang berwujud burung.


Sambil memeluk burung yang sudah terbujur kaku karena tidak menyangka yang disukai wanita ini adalah wujudnya ini, Everst langsung menyadari kalau Eldania sudah menemukan tempat duduknya.


BRUK....


Sudah duduk di bangku taman, Eldania kemudian melepaskan pelukannya.


Dia kembali menatap Everst, dengan tatapan mata yang perlahan mulai kehilangan cahayanya.


"Masih ada dua jam sampai bel masuk sekolah, dari pada pulang, aku...... " gumaman yang seketika terhenti itu segera beralih dengan tubuh Alinda yang langsung tumbang. 


BRUKK!


___________________________


Matahari pagi perlahan mulai menampakkan wujudnya, dan sinar mentari pagi pun tak luput untuk mampir.


Mentari pagi itu pergi menyinari kilauan dari pemilik rambut pirang yang sedang duduk di bawah salah satu pohon paling rindang di taman kota Dilshade.


Sebuah pohon besar yang sedikit terpelosok, memungkinkan tidak akan banyak yang akan datang ke sana.


Maka dari itu, itu adalah tempat yang tepat untuk mengisi waktu kosongnya, dengan menemani satu wanita yang sudah tertidur ke dalam pangkuannya.


" .................." Telapak tangan yang semula dia letakkan di atas wajah wanita ini segera Caster angkat. Sehingga, akhirnya dia bisa melihat dengan jelas wajah polos Alinda yang sedang tertidur itu.


Dia perhatikan dengan tatapan yang begitu dalam, hingga di satu titik ketika memandang wajah milik Eldania ini, dia seperti menemukan wajah dari masa lalunya.


Apakah dia sedang berhalusinasi?


Caster sejujurnya juga tidak begitu mengerti, padahal di kala waktu itu, saat dia sedang mencari tubuh yang tepat dan dia cari secara acak, dengan mengandalkan batu kristal yang dia miliki untuk memanggil rohnya, dia hanya mengira kalau tubuh yang dia dapat hanyalah gadis biasa, namun memiliki mana sihir kecil.


Tapi untuk saat ini, jika dilihat baik-baik, maka Caster baru menyadarinya, bahwa wajah ini.

__ADS_1


[Kalian ternyata cukup mirip.] Batin Caster, dan itu membuat hatinya jadi tergerak untuk menyentuh sedikit wajah perempuan ini dengan penuh niatan yang sangat dalam. [Apa karena ini, kau mau datang dan memasuki tubuhnya?] 


Caster sudah melakukannya lebih dari ribuan kali, itulah kenapa dia memiliki waktu panjang kesana dan kemari, melakukan hal merepotkan demi seseorang yang sudah lama tiada.


Tidak mudah, tapi itu adalah ujiannya, karena karma dia sendiri tidak mendengarkan ocehan yang berupa peringatan.


TUK......


Sentuhan pertama yang dia lakukan, adalah menyentuh dahi gadis ini dengan jari telunjuknya. Sampai akhirnya dia melihat dahi ini langsung beraksi dengan cara mengernyit.


Caster sedikit mengulas senyuman simpulnya.


Caster tidak begitu mengerti, apakah ini memang sebuah kebetulan ataukah memang sudah takdir?


"Lebih dari sekedar takdir belaka, kau memang ditunjuk untuk tetap memiliki wajah ini. Apa maksudnya agar aku tidak bisa melupakanmu?" Caster berkata dengan akhir nada yang sedikit lirih seolah berbisik. "Yah, kau sudah melakukan itu padaku juga sih." gumamnya lagi, kemudian tangannya mengambil helaian rambut itu dengan lembut. "Bahkan warna rambutmu juga."


Cip...cip.....cip.........


Suara dari kicauan burung itu membuat Caster mendongak ke atas.


Sinar mentari pagi yang kian memaksa masuk menembus antara dedaunan hijau dan menghasilkan varian warna yang berbeda, menjadi pemandangannya tersendiri. 


Walau menyilaukan, bagi Caster pagi ini terasa lebih damai daripada hari-hari manapun yang sudah sering dia lewati.


Sampai angin sepoi-sepoi akhirnya menyapa dari keberadaan mereka berdua. 


Caster tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya, tapi setelah melakukan ini, dia jadi mendapatkan sesuatu.


Hari biasanya, adalah hari yang terus dia lewati dengan kesendirian. Tapi kali ini, sekalipun hanya duduk dan menemani gadis ini tidur dalam pangkuan kepalanya selama satu jam lebih, justru tidak ada yang lebih istimewa dari ini serta kali terakhir dia menemaninya tidur di malam purnama itu.


Caster merasa tidak sendirian lagi di dunia ini, itulah yang dia yakini selama menjalani hidupnya di dunia ini.


"Aku sudah bersabar cukup lama. " Caster kembali menunduk ke bawah, melihat kembali wajah tertidur perempuan ini. [Jika kau tidur dengan ekspresi seperti ini, aku-] kalimat kata di dalam kepalanya pun menghilang seiring jari jempol itu sudah menyentuh bibir yang tertutup rapat ini. Satu niatan yang sudah ingin dilakukannya, segera di urungkan. [Neshka, segeralah ingat siapa aku ini.]


Waktu yang terus kian bergulir, membuat Caster segera menghilang pergi dari sana, meninggalkan gadis itu dalam kesendiriannya lagi.


Tidak ada waktu lagi karena hari semakin cerah, dan Caster tidak begitu ingin melihat Eldania ini kembali membuka matanya dan yang dilihat pertama kali adalah dia.

__ADS_1


Apa alasannya?


Sebab perempuan ini, memang sudah ditakdirkan bereinkarnasi di dunia itu.


Yaitu dunia sebelumnya dan menjadi sosok lain, sehingga dengan kepribadiannya yang berbeda juga punya pelatihan ketat dari kehidupan lalunya, yang sudah menjadi kebiasaannya, maka Caster tahu, kalau tidak lama lagi pengaruh sihir tadi agar gadis ini tertidur kembali efeknya akan segera menghilang.


Itulah kenapa Caster terkadang membuat jarak atau pun memangkas jarak menjadi dekat, hanya untuk memberikannya kebebasan, namun bukan berarti sepenuhnya bebas, karena Caster akan terus mengawasinya.


Bukan.


Lebih tepatnya, Caster ingin lebih sering berada di jarak agar dia bisa melihat dan mengamati perempuan ini terus.


Dengan artian, dia tidak mau kehilangan satu-satunya bawahan yang paling setia dalam kehidupan lalunya, sekaligus tidak ingin kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.


Walaupun tidak begitu berguna, karena gadis ini pada nyatanya sudah berubah menjadi kuat, berkat ingatan masa lalu yang dibawa dari kehidupan sebelumnya, seperti pengetahuannya, kebiasaan hidupnya, kewaspadaannya, maka sudah tidak begitu perlu, namun Caster entahnya memang tidak begitu peduli dengan itu.


Karena Caster hanya tertarik dengan masa-masa waktu itu, di kehidupan yang lebih lampau dari semua ini. Dengan terus terbayang akan ingatan di mana kata terakhir wanita ini sebelum menutup mata selamanya, sangatlah menyakitkan. 


Itulah, yang membuatnya semakin tidak ingin menghapus segala hal yang pernah wanita ini lakukan kepadanya.


Sebagai seorang bawahan kepada atasan, wanita ini pernah mengungkapkan segala pikirannya secara terang-terangan, seperti...


Amarah.


Rasa khawatir.


Penolakan tegas.


Peringatan.


Semua ceramahnya.


Serta...........


'Pengakuan Cinta'


[Karena kau berhasil membuatku menjadi bodoh setelah pengakuan cintamu, melakukan ini itu untukmu selama tidur panjangmu. Sebaiknya ada kalanya, dalam waktu dekat ini kau bisa tahu siapa sebenarnya dirimu dan diriku, Eldania.] Pikirnya.

__ADS_1


Dari sepasang mata seekor burung yang terus menatap ke bawah. Everst kini sedang bertengger di pohon, dan mengamatinya dari sana.


Menggantikan keberadaan pria bersurai emas tadi, mengamati gadis ini dengan cara yang lebih efisien.


__ADS_2