
“.............” Caster, pada akhirnya pria ini terdiam sembari menatap langit-langit gua yang cukup tinggi itu.
Terdapat cahaya berwarna ungu yang sedikit terpancar dari langit-langit karena adanya batu kristal yang menempel di atas sana.
Cahaya itu pun langsung menarik perhatian Caster untuk terus menatapnya. Sebuah tatapan yang yang berisi kenangan masa lalunya.
Dahulu…..
Tepat di kehidupannya yang lalu, Caster…...dia adalah seseorang yang terus dipenuhi dengan banyak kemewahan yang berlimpah, disuguhkan banyak makanan enak dan dilayani oleh para pelayannya yang cantik ketika dirinya sedang mandi di kolam bersih yang luas dan indah, namun apa yang menjadi perbedaannya kali ini, dia justru berendam sendirian di kolam dengan isi air berwarna merah darah.
Dia hanya terpaksa melakukannya, karena Itu adalah salah satu aturan yang dia miliki untuk mempertahankan wujudnya di dunia ini.
Mungkin terlihat menjijikan, dan hal inilah yang menjadi penyebab tubuhnya mempunyai aroma darah yang cukup kuat untuk mengintimidasi lawannya hanya dengan keberadaannya saja.
Tapi apa dia peduli dengan pandangan orang lain?
Tentu saja tidak.
Itulah dirinya yang sekarang…..
Keadaannya saat ini adalah hasil karena satu peristiwa yang tidak bisa dihindari.
Maka dari itu dia mencoba mengenang kembali masa lalunya yang menyenangkan, walaupun sedikit.
Salah satunya adalah ketika dia dilayani oleh satu orang wanita bercadar tipis yang notabene nya adalah seorang pendeta, untuk memijat kepalanya ketika dia sedang mandi berendam.
Segala pelayanannya selalu dikerjakan dengan sangat baik dan membuatnya terus dalam sebuah kepuasan, terlepas dari pekerjaan asli dari wanita yang sering dia panggil ‘ Neshka ‘ itu. Itulah masa yang bagi dia sendiri cukup menyenangkan.
Namun yang menjadi perbedaannya sekarang..?
[ Dengan kepribadiannya yang berbeda jauh itu, dia bukan lagi wanita yang bisa disuruh dengan mudah tanpa imbalan. ] Caster kemudian memikirkan satu hal lagi, dimana saat kedua tangannya terangkat dengan sedikit mengambil air darah itu, dia kembali mendapatkan ingatan nostalgia yang cukup menyakitkan. [ Dan mau bereinkarnasi ratusan kali pun, aku tidak bisa melupakan kesalahanku sendiri. ]
Tiba-tiba Caster mengernyitkan matanya dan mengepalkan salah satu tangannya dengan kuat, sehingga dia sudah berhasil membuat sebuah bogem.
Terlepas dari matanya yang mengernyit tajam membuat pandangan yang cukup menusuk mata, bibirnya ikut memberikan reaksi tajamnya dengan mengembangkan senyuman tipis layaknya iblis.
Apa yang sebenarnya sedang terpikirkan sampai membuat ekspresi wajahnya menjadi seperti itu, tidak lain karena didalam dirinya dia tetap tidak merasakan kepuasan serta rasa kesal ketika dia sudah membunuh banyaknya wanita dengan wajah yang sama dengan wanita yang menjadi tersangka atas takdir dari dirinya bersama dengan ‘ Neshka ‘.
Penyebab dari takdirnya berada didunia ini dengan semua kisah baru yang sudah dia jalani selama ini, adalah karena hasil dari satu peristiwa dimana Caster membunuh dia’ Neshka’ dengan kekuatannya sendiri.
‘ Neshka ‘
Dia adalah teman, sekaligus asisten pribadinya…..
Wanita paling baik hati dan pekerja keras yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun, dia bunuh hanya karena sebuah hubungan sepele karena terpengaruh dengan sebuah sihir dari seorang wanita asing.
Dan segala ingatan tentang kenangan masa lalunya, langsung membuatnya tertawa lepas. “ Hahahaha……., yah...setidaknya sekarang keberadaan wanita seperti itu tidak lain adalah bagian dari salah satu tumbal untukku. Mau ribuan atau jutaan kali dia bereinkarnasi, wanita seperti itu sudah ditakdirkan untuk aku lenyapkan. “ Dan sepersekian detik itu juga Caster membatin. [ Salahkan sendiri memancing sifat asliku, Olethea. ]
Di dalam dirinya tertanam sebuah dendam yang bisa dia lampiaskan berapa banyak pun dia mau, karena Caster tahu kalau wanita rubah...bernama Olethea di masa lalunya, sudah di berikan satu kutukan oleh seorang ahli sihir. Dimana sihir yang diterima oleh Olethea akan membuat wanita tersebut terus bereinkarnasi dalam ketidaktahuan.
Takdir dari wanita dengan nama yang sama di tiap reinkarnasinya itu adalah untuk menjadi dendam pelampiasan Caster selama ribuan tahun ini dia hidup.
Itulah, bogem yang berisi rasa amarah dan diselimuti penyesalannya selama ini.
Rasa kesal yang ada pada dirinya sendiri karena seorang wanita yang bagi Caster cukup merepotkan.
Namun Itu adalah perasaan dulu yang perlahan kian berlalu, karena sekarang setelah segala penantian panjang yang sudah banyak dia lewati sendirian, dia akhirnya sudah menemukan seseorang itu.
Orang yang selama ini membuatnya terus hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah.
SPLASHH…….
Dia kembali mengambil satu langkah demi satu langkah kedepan, hal tersebut membuat separuh tubuh telanjangnya terendam air.
Caster….
Dia adalah seseorang dengan kepribadian angkuh yang memiliki dendam, membuatnya menjadi sosok yang langsung dihindari orang yang sama buruknya. Karena aroma tubuhnya yang berbau darah selalu sukses untuk mengusik sebagian besar orang yang baik dia hampiri maupun yang mendatanginya, namun tidak tercium oleh satu orang 'itu' .
Itu adalah satu hal yang menjadi sebuah perbedaan besar untuk satu orang yang masa lalunya memberikan hati untuknya…
Seseorang yang menjadi pengecualian karena tidak terusik dengan aroma tubuhnya, baik ‘dia’ maupun Caster sendiri.
Siapa lagi kalau bukan….
___________
Eldania.
__ADS_1
"...............! " Gadis ini pun perlahan membuka matanya setelah tidur untuk beberapa waktu.
Dengan dalam kondisi separuh sadar, dia sudah disambut oleh satu sosok yang ada di sampingnya.
[...............? Siapa? ] detik hati Eldania saat merasakan keberadaan seseorang di dekatnya.
Apa yang ada di depan matanya, dia melihat punggung dari seseorang sedang duduk di samping tempat tidurnya. Tetapi setelah dia mengedipkan matanya, yang dia lihat justru adalah punggung dari seekor burung yang sangat dia kenali?
[ Apa aku salah lihat? Aku kira tadi punggung laki-laki, tapi ternyata punggung Everst. Ah….bisa-bisanya aku salah mengira punggung seekor burung sebagai punggung milik laki-laki, apa karena aku terlalu lelah?] Pikir Eldania yang merasa pikirannya kacau balau.
Entah karena terlalu lelah, gadis ini menganggap apa yang tadi dia lihat adalah karena efek lelah dari tubuhnya yang sudah bekerja seharian penuh.
Dia menepis segala pemikiran itu dan langsung menyapanya.
“ Hei… “ Panggilnya dengan nada lirih, namun tangan kanannya yang tidak diam itu sedikit menarik ujung bulu sayap milik Everst, yang lantas membuat si pemilik bulu itu langsung bereaksi dengan membalikkan tubuhnya ke arah Eldania yang sedang berbaring menghadap ke arahnya.
Bagi Eldania, tiap melihat burung ini ada di dekatnya, dia terus merasakan hatinya tergugah untuk mendekapnya dalam pelukan, mengendus aromanya, dan mencium bulu coklat yang lembut itu.
Tapi apa yang di depannya, dia adalah burung yang mempunyai pikiran layaknya manusia. Itu membuatnya terkadang berusaha untuk menahan hasr*t tersembunyinya itu?
Dia sebenarnya sadar, jika awal-awal bertemu dalam banyak momen yang tidak terduga, burung ini selalunya membuatnya terusik dan lumayan membenci kejahilannya yang tidak tanggung-tanggung itu.
Namun kini...dia merasa ada yang terbalik.
Eldania merasa dia ingin melakukan sebaliknya, melakukan apa yang pernah Everst dulu perbuat kepadanya dengan banyak keusilannya, dan kini ingin dia lampiaskan dengan banyaknya pelukan dan ciuman untuk burung ini.
[ Tidak-tidak...aku harus menahan diriku melakukan itu semua. Ya…. Aku tidak boleh….. ] Dalam pikirannya, Eldania dituntut untuk menekan semua perasaan itu dulu.
Namun….., dia terus terusik dengan aromanya, dan keinginannya untuk menyentuh lebih banyak bulu yang menempel di tubuh hewan ini.
[ Tapi aku tidak bisa tahan!] apalagi saat Everst malah menatapnya balik dengan tatapan tajamnya, hal tersebut membuat Eldania semakin tidak bisa menahan dirinya untuk…
GHREPP…..
Eldania langsung menarik tubuh burung itu dengan sekali tarikan, dan berakhir…
".............! " Sebuah pelukan langsung dirasakan oleh Everst.
Eldania langsung menghirup nafasnya secara dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan sekuat tenaga, karena dia ingin merasakan aroma tubuh burung ini kembali.
“ Apa yang sedang kau lakukan? “ tanyanya dengan sepasang mata masih membulat lebar saat di depan matanya tiba-tiba terpampang dengan jelas leher gadis ini.
Burung ini kembali mengingat di awal-awal pertemuannya dengan perempuan ini.
Dia lebih sering mendapatkan banyak penolakan saat ingin memeluknya, dan saat menjahili, maka yang dia dapatkan adalah balasan yang sama telaknya.
Tetapi, setelah kepulangan dari hutan kelam itu, dia mendapatkan banyaknya perubahan. Dan diantaranya adalah sebuah pelukan yang cukup ekstrim.
Bagaimana tidak ekstrim, jika gadis yang sedang memeluknya ini sering kali mencium-cium wajahnya, mengendus tubuhnya, memanjakan bagian bawah lehernya dengan sebuah elusan lembut, membenamkan wajahnya masuk ke dalam sayapnya, dan yang terakhir adalah…
“ Sebenarnya apa saja yang kau makan hari ini, sampai berat seperti ini?“ Tanya Eldania lewat telepatinya, saat mengangkat tubuh Everst layaknya anak kecil yang ingin di angkat tinggi-tinggi seolah terbang.
“ ………….. “ Everst menatap Eldania dengan tatapan malas. “ Aku hanya makan apa yang biasanya manusia makan. “ jawabnya dengan ketus. [ Karena aku aslinya memang manusia, aku mana mungkin makan-makanan mentah. ] pikir Everst.
Eldania tersenyum cerah meskipun baru saja terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum senang karena meskipun sekarang berada di negeri orang, bertemu dengan banyak orang asing dan hidup dengan beradaptasi lagi karena wilayahnya yang cukup dingin, ternyata tetap ada yang menemaninya hingga di detik ini juga, dan bukti nyatanya ada di depannya.
Eldania masih terbaring di tempat tidurnya, namun hewan yang sedang dia angkat di atasnya itu adalah satu-satunya sosok yang terus berada di sampingnya, kapanpun dan dimanapun berada.
Everst….
Dialah sosok yang selama ini berada di sampingnya, entah apapun kondisi yang sedang dia alami, Everst tidak pernah berpaling darinya.
Dia benar-benar mendapatkan teman sejati yang sudah berhasil mengisi separuh kekosongan hatinya selama ini.
“ Terima kasih. “ kata Eldania dengan tiba-tiba, di barengi dengan mata dan senyuman yang cerah.
Sedangkan Everst, dia langsung mematung setelah mendapatkan ucapan terima kasih secara tiba-tiba dengan ekspresi wajah Dania yang begitu senang.
“ Untuk apa? “ tanya Everst.
“ Karena kau mau menemaniku sampai detik ini, terlepas apapun kondisi yang sedang aku alami. “ Jawab Eldania, tetap saja dia tidak pernah berpikir bahwa akan ada yang menemani jalan apapun yang dia lalui hingga detik ini.
Itu membuatnya merasa bahwa, berteman dengan hewan adalah pilihan yang lebih baik ketimbang berteman dengan manusia sungguhan.
“ Bukannya itu hal yang wajar, karena kau sudah menjalin kontrak denganku?“ kata Everst, melalui telepatinya.
“ ………! “ Sesaat, Eldania merasa terkejut karena baru ingat bahwa yang dia jalin dengan burung ini adalah karena kontrak. “ Meskipun dibilang kontrak, tapi selama ini tidak banyak keuntungan yang kau dapatkan dariku kan? Ah...justru tidak. Malah sebaliknya, aku mendapatkan banyak keuntungan setelah menjalin kontrak denganmu. “
__ADS_1
Main suruh sana dan sini, mendapatkan bantuan saat bertarung dengan musuh dan masih banyak lagi. Eldania justru mendapatkan semua keuntungan yang melampaui ekspektasinya setelah membuat burung coklat ini menjadi rekannya.
“ Tapi aku sudah mendapatkannya. “ ucap Everst sambil merentangkan sayap kanannya ke depan, yang artinya menunjuk ke bawah, dan ujung bulu sayapnya tepat menunjuk tepat ke wajah Eldania.
Salah satu alisnya terangkat, dia bingung apa yang Everst dapatkan dari dirinya padahal selama ini dia tidak pernah memberikan apapun kepada burung ini.
“ Apa itu?“ tanyanya karena penasaran.
‘ Dirimu ‘
“ Kau. “ Ucap Everst dalam artian yang berbeda, lalu Everst kembali menyatakan, “ Manusia yang mempunyai sisi guna dalam berbagai hal adalah hal yang patut diberi penghargaan. “ kemudian ujung bulu sayapnya pun menyentuh wajah Dania dan mengusap pipinya dengan lembut. “ Seseorang yang terus berjuang karena ingin hidup di dunia yang keras. Manusia bodoh yang selalu memandang rendah kau sebelah mata, padahal tidak tahu seberapa banyak keahlian yang kau miliki, kau adalah manusia yang layak mendapatkan sosok sepertiku Eldania. Semua pengetahuan dan segala hal yang kau miliki adalah harta terbaik dibandingkan semua yang ada didunia ini. Itulah yang aku dapatkan dari kontrak yang sudah kita buat. “
“..................” Eldania lantas diam sejenak setelah mendengar jawaban Everst. [ Kenapa dia seperti sedang mengungkapkan perasaan padaku? T-tapi….jika dipikirkan dari sudut pandang dia, maksudnya pasti adalah kalau semua yang aku miliki, dari pengetahuan, kemampuan, aku memang yang yang paling banyak tahu. Apa itu artinya dia menyukai orang yang mempunyai banyak ilmu sepertiku karena aku punya segala pengetahuan dari kehidupan laluku?]
Eldania masih berpikir keras, karena kesimpulan dari apa yang burung tersebut katakan kepadanya hanyalah itu saja.
Bahwa harta yang ada pada diri Eldania adalah pengetahuan, serta kemampuan yang tidak banyak dimiliki oleh banyak orang.
“ Apakah jawabanku memuaskan? “
“ Hmm… “ Dengan deheman kecil, Eldania terus menurunkan ketinggian Everst hingga akhirnya burung Elang ini dia letakkan di sebelahnya lagi. “ Tapi dari sudut pandangku, kau tetap tidak mendapatkan apapun dariku. “
[ Aku sudah mendapatkan imbalannya, dan itu berada disisimu. ] Batin Everst yang sebenarnya.
Dia sudah memiliki alasan tersendiri menjadi seekor burung adalah agar dia bisa berada di dekat perempuan ini, seseorang yang menjadi penyesalannya selama ini.
“....................” Eldania memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan, sehingga dia menghadap Everst yang dia baringkan di sisi kanannya. “ Sebenarnya aku masih mempunyai rasa penasaran, tapi kau pasti punya alasan lain dibalik semua ucapanmu tadi kan?“ tanyanya lagi.
[ Dia memang cukup pintar aku masih mempunyai arti lain dari ucapanku tadi, tapi aku tidak akan memberitahumu. ] Everst hanya terdiam saja, apalagi saat melihat wajah polos Eldania yang ingin kembali tidur itu. Hal tersebut membuatnya menerima uluran tangan ramping gadis itu saat jari-jari lentiknya itu kembali mengusik bulunya, dan sukses membuatnya dalam posisi nyamannya.
“ Bagiku, terlepas dari kontrak itu, aku justru merasa kau adalah hewan yang sengaja mendekatiku dengan dalih kontrak, karena kau tahu aku adalah orang yang menyukai hewan sepertimu. “ kata Eldania dengan terus terang.
DEG…..
Hal itu membuat Everst sedikit terkejut. “................”
“ Hahaha...kau menelan saliva mu sendiri. Apa ucapanku tadi benar?“ ucap Eldania sekali lagi sambil menahan tawa geli saat melihat dia merasakan leher tenggorokan Everst bergerak, seolah sedang menelan sesuatu yang tidak salah lagi adalah air liurnya sendiri.
[ Dia memang wanita yang berbahaya. Bisa menebak seperti itu, sampai membuatku tanpa sengaja menelan salivaku sendiri. ] Pikirnya.
“ Walah-walah….jangan menatapku seperti itu jika rahasiamu tanpa sengaja ketahuan olehku. Aku akan anggap aku tidak mengatakan apapun. “ Bujuk Eldania, saat melihat sorotan mata burung di depannya itu menatapnya dengan cukup tajam. Jadi dia sengaja mengelus lagi bulu lehernya dengan manja, agar burung ini segera menghapus tatapan tajamnya itu. “ Aku sudahi ucapanku. Malam ini sebaiknya kau tidur disini. “ tambahnya.
Eldania dengan sengaja memberikan tawaran yang cukup bagus, karena selama beberapa hari ini Everst sering kali tidur di luar. Jadi untuk malam ini dia menawarkan diri untuk burung ini agar tidur bersama, dan kalau bisa, Eldania inginnya adalah setiap hari.
“ Ya.. “ Ketus Everst, sambil membaringkan kepalanya ke atas kasur.
“................” Dania menatap cara burung ini tidur. [ Dia semakin menggemaskan jika tidur dalam posisi seperti itu. Bagaimana ini? Padahal biasanya burung akan tidur dalam posisi berdiri maupun duduk, tapi dia…… ] Dan lagi-lagi Eldania mengangkat satu jari telunjuknya, dan perlahan dia gerakan untuk mendekat ke arah wajah Everst.
Namun belum sempat menyentuh paruh tajamnya, dia langsung diberikan sorotan tajam oleh Everst.
“ Apa lagi? Aku kira tadi sudah puas memeluk dan menyentuhku. “ ucapnya dengan nada datar.
[ Karena kau seekor burung, maka aku tidak akan pernah puas untuk menyentuhmu. ] pikir Dania, merasa gemas dalam diam. Tetapi yang pasti, apa yang keluar dari mulutnya itu adalah, “ Sebenarnya…. aku suka sorotan matamu yang seperti ini. “ tuturnya.
“.................?! “ Saat hendak menarik sudut mulutnya karena merasa bangga diri, Everst justru langsung disentil.
CTAK…
Membuatnya refleks, membuat suara protesnya.
KWAKK…… ! \= " Ah…! "
Sebuah senyuman paksa Eldania lakukan, sambil berkata. “ Bukannya aku sudah memberitahumu, agar tidak tersenyum dengan wajah burungmu itu? “ Ungkap Eldania sekali lagi, memberikan peringatan jelas pada burung kesayangannya itu.
Dia benar-benar merasa tersinggung jika melihat sudut mulut burung ini terangkat. Karena di mata Eldania, hal tersebut membuatnya merasakan seram sejuk melihat seekor burung mengembangkan senyuman yang terlihat keji, dan itu akan menghilangkan sisi keren Everst dari berbagai sisi.
" Apa kau sedang mengambil hak ku untuk tersenyum?"
" Aku ini Tuanmu, turuti saja perintahku! " ucap Eldania dan segera berbalik menunggu keberadaan Everst yang ada di belakang punggungnya.
"................" Everst terdiam, tetapi apa yang ada di pikirannya adalah, [ D-dia….dia benar-benar menganggap dirinya tuan?! Nyalinya ternyata memang sudah besar dari sebelumnya. Padahal selama ini dia menolak untuk dipanggil tuan, maupun master, dan justru ingin di panggil namanya. Aku turuti saja sekarang, memanggil namanya dengan lengkap, tapi sekarang dia sedang menggunakan otoritasnya padaku?!]
Hanya saja kemarahan dari rasa kesalnya tadi, perlahan sirna saat melihat punggung gadis ini dengan dekat.
".................." dia jadi seolah kembali mengingat masa lalunya yang buruk itu.
Hal tersebut membuatnya mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh lagi pada gadis ini, dan memilih untuk tidur.
__ADS_1
Menikmati tidur di sisinya...