Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
20 : Eldania


__ADS_3

Di dalam kamp.


“ Suara itu, berarti pertanda keadan darurat. Apakah jebakannya sudah tidak begitu efektif lagi?. Yah…...jika memang seperti itu, berarti ada kawanan yang berhasil mengontrol untuk menghindari daerah itu. Apakah Fallen juga akan muncul lagi?.  “ Dania bergumam sendiri sembari merapikan pakaiannya. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah itu. [ Lagi pula, disini ada seorang penyihir bersemangat tinggi. Lebih baik aku pergi kesana. ] 


Yang dimaksud Eldania adalah Irine. Dania tahu Irine yang sudah terkenal di kalangan semua ksatria di sini karena kemampuannya dalam membasmi monster dengan kekuatan sihirnya untuk sekali serang, bisa dibilang cukup besar mampu untuk tameng para ksatria.


Jadi dia tidak begitu mempermasalahkan keadaan di sini, karena sebenarnya target utama yang dia punya adalah….


[ ke tempat itu. ] Dania mulai meletakkan kedua pistolnya ke dalam rompi, yaitu sarung pistol yang dia pakai di bawah ketiaknya. Setelah selesai bersiap, walaupun belum mandi, dia akhirnya memutuskan untuk tetap pergi.


Keluar dari tenda, pemandangan pertama yang dia lihat adalah ramainya orang yang berlalu lalang kesana dan kemari. Mereka semua meributkan banyak hal karena serangan yang dilancarkan oleh monster cukup mendadak. 


“ Sialan, kenapa cukup mendadak seperti ini?. “ Satu orang ksatria berlari sambil merapikan pakaiannya.


Ksatria lainnya buru-buru dengan senjata mereka dan lari terbirit-birit.


“Aku belum selesai makan, mereka sudah datang saja. “ Satu orang lagi menyesali nasibnya sedang menikmati makanan sambil bersantai, tetapi tiga peringatan tadi menjadi penghalangnya untuk melanjutkan acara santainya.


Dania celingukan, melihat semua orang nampak terburu-buru. Kehidupan seperti seorang pegawai yang dilimpahkan pekerjaan langsung dari bosnya.


Kejadian yang cukup mirip, membuat Dania mengumbar senyuman geli dan ikut pergi dari sana.


“ Hah...padahal dari kemarin tenang-tenang saja. Kenapa berubah menjadi lebih banyak lagi?. “

__ADS_1


Sebuah racauan dari sumpah serapah terus terdengar di telinganya. [ Aku…., harus mencari pedang untukku sendiri. ] batin Dania.


Dia memang secara sengaja tidak begitu ingin memperlihatkan kemampuannya yang bisa menggunakan sihir untuk memunculkan pedangnya yang sudah dia miliki. Dia cukup ingin melakukan pekerjaan secara normal.


Lima menit kemudian, semua orang sudah berhasil bersiap dan berdiri di depan pintu gerbang utama.


“ Hei...kenapa kau disini?. Bukannya kau bekerja menjadi koki untuk tuan Duke?. “ tanya ksatria ini, melihat perempuan yang biasanya bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan untuk Duke Avrel, tiba-tiba saja sudah berdiri dan ikut berbaris di sampingnya.


Perempuan yang ditanya menoleh ke arah ksatria itu. Dia tidak menoleh untuk melihat wajah pria ini, tetapi yang ingin dia lihat adalah pedang yang dibawa ksatria ini begitulah cantik. 


“ Aku kan ikut bekerja untuk ini juga. “ masih menatap pedang yang berdominan berwarna putih bercampur warna kuning keemasan.


Itu bukanlah pedang biasa, setelah melihatnya lebih dekat. Pedang yang dipakai ksatria di sampingnya Dania adalah pedang yang memiliki kekuatan suci.


“................!.  Bagaimana gadis sepertimu bisa tahu? “ membalas tatapannya. Tinggi perempuan yang lebih pendek dari tinggi bahunya, membuatnya hanya bisa melihat atas kepala dari gadis ini saja.


Tapi belum sempat menunggu untuk mendapatkan jawabannya, pintu gerbang terbuka lebar dan semua orang berbondong-bondong berlari keluar untuk melawan musuh mereka.  


Tetapi diantara mereka semua, hanya Eldania sajalah yang masih berdiri di sana. Dia melihat semua kepergian orang-orang dalam medan tempur untuk melawan monster yang sudah ada di depan mata mereka. 


Secara otomatis orang yang ada di belakangnya hanya berlari menghindari gadis itu. Sehingga Eldania tidak mendapatkan sebuah usikan seperti tabrakan.


“Kau yang ada di bawah! Jangan berdiri di sana saja!“ Teriak seorang ksatria di atas dinding, yang bekerja untuk menjaga pintu. “ Kau menghalangiku menutup pintu!. “ teriaknya lagi, memberikan peringatan kepada gadis di bawah sana. 

__ADS_1


“ Maaf. “ kata maaf menjadi kalimat terakhirnya, sebelum dia melangkah kakinya ke depan dan keluar dari area dinding pertahanan Helion.


“ Dia sudah gila? Malah pergi keluar. “ gerutu ksatria ini dan akhirnya tetap tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. 


Tepat di jarak sepuluh meter lagi, saat kedua pintu hendak tertutup rapat, dari jauh seekor kuda hitam berlari kencang.


“ Hei!...kalian! Apa tidak ada yang bisa menahan kuda itu!“ teriak ksatria ini lagi. Saat beberapa orang yang masih berjalan mondar-mandir malah memberikan kuda itu lewat begitu saja. 


DRAP….DRAP…...DRAP…….


Dengan lari dalam kecepatan tinggi, kuda hitam yang tidak gentar saat dua ksatria sudah berdiri di depan pintu gerbang untuk menahannya dengan dua tombak sudah teracung kearahnya, kuda hitam itu justru langsung melompat tinggi melewati kedua ksatria itu. 


“Apa?“ Dua orang ksatria ini tercengang dengan tingkah kuda barusan bisa melompat setinggi itu.


Dan secara otomatis di detik itu juga, kuda tersebut berhasil melewati dua pintu yang akhirnya tertutup rapat.


BRAKK………


“ B-bagaimana kuda itu, bisa melompat setinggi itu? “ ksatria ini terkejut, karena dia tahu bahwa kuda yang berlarian seenaknya itu adalah kuda baru yang belum dilatih apapun.


Ksatria ini segera berlari ke sisi lain, terlihat kuda hitam tadi sudah berhenti tepat di depan gadis yang dengan nekat baru saja ikut keluar dari dinding pertahanan.


“ Kuda itu…..tidak marah sama sekali saat menyentuhnya! Tidak...bukan itu, tapi kuda itu justru terlihat seperti sedang memohon pada gadis itu!“ ucap ksatria ini dengan wajah terkejutnya. [ Selama ini, belum ada yang berhasil menaklukan kuda ganas itu. Tapi di sini, untuk pertama kalinya aku bisa melihat bahwa kuda hitam itu malah menurut dengan mudah pada gadis asing itu. ]

__ADS_1


__ADS_2