
TAP........
TAP.......
TAP......
Jalanan tidak seramai biasanya karena semua manusia dan iblis sudah mulai melakukan aktivitas rutin mereka untuk menjalani hari mereka dengan sebuah kesibukan.
Ethan atau yang saat ini sedang menyandang nama Nathan, kini dia berjalan sendirian menuju Academy. Jam sudah hampir menunjukkan untuk para murid masuk ke kelas masing-masing, tapi tidak dengan Ethan, dia dengan langkah santainya menikmati waktu kesendiriannya itu.
Dia biasanya tidak pernah seperti ini, karena sering kali berangkat bersama dengan teman-temannya. Tapi hari ini ceritanya tentu berbeda, sebab nama Ethan sudah menghilang dari keberadaan mereka semua, jadi secara otomatis kata 'teman' yang biasa bersama Ethan juga sudah tidak ada lagi.
Yang ada sekarang ini adalah Nathan yang kesepian.
Apa lagi dengan seragam putih yang kini dia pakai, intinya mulai sekarang dia harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang baru.
[ Ajaib sekali, seragamku juga sampai menghilang. Jadi aku terpaksa memakai miliknya dan tinggal di kamarnya juga. ] Ethan memandangi seragam saudaranya yang sekarang sedang dipakainya, dan sangat kebetulan pas dengan tubuhnya.
Tapi bukan seragam dengan warna merah, melainkan seragam berwarna putih. Warna yang melambangkan, status sebagai rakyat jelata.
KWAKK............
“....................” Suara dari burung itu, langsung mengalihkan perhatian Ethan.
Dia mendongak ke atas dan terlihat seekor burung sedang terbang tidak begitu tinggi.
Arahnya adalah ke depan sana, Academy dan secara kebetulan juga terdengar suara derap langkah yang cepat. Ethan kemudian menurunkan pandangannya ke samping kiri, seseorang sedang berlari seperti orang yang tergesa-gesa.
[ Burung itu mengikutinya. ] itulah yang di pikirkan Ethan setelah melihat mereka berdua secara bergantian.
KRIEETT........
".............!. " Ethan seketika tercengang, pintu gerbang sudah mulai di tutup, padahal masiih tersisa 5 menit lagi untuk pintu gerbang di tutup. Tapi kali ini lebih cepat dari dugaan!.
Ethan jadi terpaksa ikut lari, dia tidak mau mendapatkan absen karena, telat sedetikpun akan mempengaruhi poinnya.
Meski bukan poinnya, melainkan poinnya Nathan, tapi Ethan tetap terpaksa bergegas untuk masuk sebelum pintu gerbang benar-benar tertutup. Dan sebenarnya jika dirinya kena absen, maka sama saja dengan mencoreng wajahnya gara-gara wajah saudaranya juga memiliki rupa yang sama dengannya.
[ Ternyata dia!. ] Ethan baru menyadari, kalau yang sedang lari terbirit-birit adalah perempuan itu!. [ Tapi sudah tidak ada hubungannya lagi, dia pasti tidak ingat siapa itu Ethan. ] batin Ethan.
Hanya memikirkan dirinya sendiri sebelum pintu gerbang benar-benar tertutup sepenuhnya Ethan menambah kecepatan larinya, sehingga dia bisa mengimbangi keberadaan dari Eldania.
" Kalau kalian tidak cepat, poin di kurangi 5. " ketus petugas penjaga gerbang ini pada mereka berdua sambil berdecak pinggang.
Dan tinggal satu gerbang lagi yang belum di tutup, kesempatannya cukup kecil jika kini petugas itu sudah mulai mendorong gerbang besi yang sudah di selimuti kekuatan anti sihir.
" Tunggu...!. " Teriak Ethan.
" Ayo....sudah tidak ada waktu lagi bocah. " dengan senyuman jahil.
KRIIEET.........
__ADS_1
Eldania yang tidak mau tinggal diam, ikut menambah kecepatan dan tepat di jarak 3 meter lagi hingga gerbang tertutup rapat, dengan beraninya Eldania mengambil belati yang selalu dia simpan di balik rok-nya, kemudian dia lempar dan...
SYUHHTT............
KLANG...........
Suara belati yang beradu dengan batang besi dan belati tersebut berhasil mencegah detik-detik gerbang besi itu tertutup.
"...........!, Berani juga ya?. " wanita ini mendesis kesal, baru pertama kalinya ada seorang murid melempar belati ke arahnya hanya demi mencegah pintu gerbang ini di tutup.
Setelah berdiri tepat di ambang pintu, Eldania mengambil belatinya lagi dan buru-buru masuk. " Jika tidak, maka aku tidak bisa masuk. " Sebuah jawaban simpel terlontar begiu saja.
Jika tidak membuat gara-gara terlebih dahulu, Eldania juga tidak akan sembarangan melempar benda tajam ke arahnya seperti tadi. Padahal saja waktu untuk menutup pintu gerbang itu sendiri, masih tersisa 1 menit.
" Kamu...cepat masuk lah. " perintahnya, kepada pemuda yang pernah Eldania temui saat ujian masuk waktu itu. Kini dia sedang menahan pintu dengan penjaga gerbang ini, karena sedang beradu kekuatan tarik dan dorong.
"...................." Ethan dengan menurutnya masuk lewat celah pintu yang masih tersisa itu.
KLEK........
Tepat di saat Ethan sudah masuk maka pintu gerbang pun sudah di tutup rapat dan terkunci.
" Jangan di ulangi lagi. " peringat perempuan ini kepada mereka berdua, walaupun sasaran sebenarnya untuk adalah untuk Eldania.
Tap Eldania tidak begitu memperdulikan peringatannya, karena yang terpenting misi selanjutnya adalah pergi ke kelas!.
" S-..........! " Ethan yang hendak menanyakan namanya, langsung ditinggal pergi bergitu saja. [ Ternyata dia.....tidak sesuai dengan penampilannya!. ] Ethan terkecoh dengan penampilan gadis itu yang terlihat lemah lembut, tapi ternyata ada banyak penyimpangan!.
Ke dua, dengan berani dan tidak tahu malu mengangkat rok-nya di depannya demi menyembunyikan kembali senjatanya.
Ke tiga......
[ Dia memerintahku, dan mengabaikanku. ] Ethan tercengang dengan ke tiga hal tersebut. " Apa-apaan dia itu. " Ethan kehilangan kata-kkatanya lagi, karena sekarang dia benar-benar sendirian di depan halaman Academy.
___________
KLEK........
Eldania seketika menjadi pusat perhatian, gara-gara menjadi orang yang terakhir masuk ke kelas.
" Cukup mepet untuk membuatku mengatakan terlambat padamu. " celetuk Millie kepada Eldania.
TAP.......TAP........TAP...........
Millie berjalan ke depan papan tulis dan mulai melakukan pekerjaannya lagi sebagai guru yang baik ( ? ).
" Kalau begitu mari kita lanjutkan materinya. " Tapi tangannya yang terangkat hendak menuliskan sesutu di papan tulis segera terhenti dan melihat lagi tempat dimana gadis itu duduk. " Aku lupa mengingatkanmu, kau di luluskan untuk ikut dalam kompetisi turnamen pedang. " Dan Millie kembali melanjutkan tugasnya itu.
" Lulus?. " Eldania bergumam. Tidak pernah terpikir bahwa ketidaksengajaan yang seperti itu membuatnya bisa lolos.
" Wah.....dia di luluskan, padahal yang di cabut bukannya pedang suci tapi pedang iblis. " bisik seorang perempuan berseragam biru.
__ADS_1
" Siapa dia sebenarnya?. "
" Apa dia adalah darah campuran?. "
" Dania, selamat. Ada kemunginan kita bisa bertarung lagi. " kata Azel, memberikan ucapan selamat kepada Eldania.
" Ya....." Hanya saja, entah kenapa Eldania merasakan keanehan itu sendiri, seperti yang tadi dia dengar ' Darah campuran ' .
“ Apa kau tahu, alasanmu bisa diluluskan sekalipun yang kau cabut adalah pedang iblis adalah, mereka penasaran dengan kekuatanmu.
Kasusmu sebagai yang pertama, jadi kemungkinan besar kau akan menjadi tokoh utama di turnamen nanti. “
“ …………….. “ Eldania hanya tidak punya ekspektasi soal turnamen pedang yang Eldania dapatkan, adalah karena kasus itu. [ Sangat disayangkan. Aku jadi pusat perhatian karena itu. ] Batin Eldania dengan ekspresi wajah masam.
".................... " Caster terdiam setelah mendengar wanita dibelakangnya ternyata lolos untuk ikut turnamen pedang yang akan diadakan beberapa hari lagi. [ Darah campuran……, tepat juga salah… ]
Caster tidak begitu menyukai Iblis, tapi satu-satunya orang yang membuatnya terus dalam segala drama kehidupan ada di belakangnya persis.
TIdak ada yang spesial dari pelajaran yang dia ikuti, karena bagi Caster semua kalimat yang keluar dari mulut Millie sama saja dengan bualan omong kosong belaka.
Caster…
Pria ini sejujurnya tidak memerlukan kegiatan yang namanya sekolah. Itu karena dia adalah pria yang memiliki segala pengetahuan.
Dan dia disini sekarang adalah karena alasan pribadinya sendiri.
Satu-satunya orang yang menjadinya seperti ini adalah…..
[ Dia….. ] Caster kembali menjeling ke belakang. Disanalah Eldania duduk. Setelah itu Caster terus berkutat dalam pikirannya yang semakin dalam ketika dia memperhatikan terus Bu mIllie, [ Begitu ya, kau sedang menyiapkan rencana. ]
Hingga ekspresi wajah caster yang awalnya serius tiba-tiba tersenyum miring.
Millie yang menyadari reaksi wajah Caster yang tiba-tiba berubah, langsung angkat suara di tengah pelajarannya. “ Caster, apa yang membuatmu tiba-tiba tersenyum?. “
Caster merubah posisinya jadi bersandar ke sandaran kursi di belakang, lalu kedua tangannya bersilang di depan dada dan menjawab pertanyaan dari Millie dengan santainya. “ Apa senyumku membuatmu penasaran?. “
“..................!. “ Millie seketika mulai terprovokasi karena ucapan Caster terdengar sedang menghinanya. Tapi demi citranya sendiri, dia harus menahan amarahnya.
Semua murid di kelas juga langsung terpancing karena ucapan Caster yang terdengar sangat angkuh, bahkan pada wali kelasnya sendiri.
“ Simpan saja jawabanmu, aku tidak akan tanya lagi. “ Ucap Millie, segera menarik segala pemikirannya terhadap Caster.
Entah kenapa Millie tidak bisa mengusik manusia berambut pirang emas itu. Millie sejujurnya tahu, kalau latar belakang dari laki-laki remaja itu tidaklah lengkap.
Millie merasa tidak bisa membantah ucapannya, sekalipun Caster tadi berkata demikian yang membuatnya terasa direndahkan di depan semua murid kelasnya.
[ Sebenarnya siapa anak ini?. ] Batin Millie, dia masih melirik ke arah Caster yang terlihat sedang duduk santai tanpa membuka bukunya sendiri.
[ Dia percaya diri sekali bicara seperti itu padanya. Tidak takut dihukum karena statusnya, enak sekali dia. ] Eldania pula, dia terus menatap si kepala emas itu dari atas. Sampai yang ditatap langsung meliriknya sekilas. “................!. “
[..................] Azel tidak berkata apapun selain melirik dua manusia itu secara bergantian. [ Untuk seukuran manusia, dia juga punya nyali besar untuk memprovokasi gurumu sendiri ya. ] Azel tersenyum simpul.
__ADS_1